Showing posts with label Stories. Show all posts
Showing posts with label Stories. Show all posts

Saturday, May 12, 2012

Ken

Membersihkan kucing itu tidak mudah.  Pengalaman buruk setelah memandikan Zoey kapan hari membuat saya ragu-ragu dan menunggu.  Ada yang bilang anak seumuran mereka terlalu rentan jika dimandikan.  Tapi pada akhirnya saya tidak tahan juga melihat si Ken yang makin bulukan.  Rekor periode tak mandi si mata biru yang bahkan sudah melampaui catatan istimewa sejarah beberapa teman saya dari alumni indikator dalam konteks sejenis, harus dihentikan.... 

Maka pagi tadi saya pergi ke rumah perawatan hewan.  Empat puluh ribu sekali mandi dan melihat bagaimana hasil Ken setelah mandi, membuat istri saya berpikir untuk memandikannya setiap minggu.  Nah, untuk bagian ini saya masih belum setuju.  Lhaa, tagihan air pdam saya sebulan saja tak sampai 25 ribu.....




Thursday, April 12, 2012

W.I.L.L

Sore kemarin istri saya membacakan 'cerita pengantar tidur' yang rupanya memiliki pesan tentang beberapa kejadian setelahnya.  Adalah cerita Sunaryo Adhiatmoko tentang Misno dan Sikem, sepasang suami istri yang tinggal di sebuah desa pegunungan selatan Jawa Timur yang masyarakatnya masih mengkonsumsi tiwul sebagai makanan pokok.

Kehidupan sederhana mereka jalani dengan menjejakkan telapak kaki tanpa alas, diatas jalan berbatu dan aspal yang panas saat matahari membakar setiap kali mereka berdua berjalan kaki menuju pasar yang jaraknya tigapuluh kilometer dari desa mereka.  Misno dan Sikem adalah penjual rinjing (kerajinan dari bambu).  Rinjing-rinjing tersebut bukanlah buatan Misno dan Sikem, melainkan produk apara tetangganya. Mereka berdua hanyalah perantara yang membantu keluarga-keluarga miskin tersebut mendapat penghasilan.

"..Tidak usah berhitung kalau mau membantu orang.  

Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur).."

Begitulah filosofi mereka tentang aktivitas berangkat berjalan kaki sejak pukul tiga pagi hingga tiba di pasar jam sebelas malam, lalu tidur di emperan pasar sembari menunggu pembeli yang berniat membeli dagangan tetangga mereka itu.  Barang-barang yang setelah seharian untungnya tak lebih dari dua puluh ribu perak.  Dan sebagian keuntungan itu, sepulang dari pasar, disisihkannya untuk membeli tulang-tulang sisa daging racikan dari warung-warung soto sepanjang jalan.  Mereka membelinya di banyak tempat agar tak terlalu  malu.  Ini oleh-oleh mewah untuk dimakan bersama tetangga mereka katanya.  Begitu terus berulang selama dua puluh tahun.



Dini harinya, ribuan kilometer di barat desa tempat tinggal Misno dan Sikem, di belahan dunia dan kisah lain, muncul sebuah semangat yang sama besar.  Dalam suasana DW Stadium yang dipenuhi 18 ribuan penduduk kota kecil tersebut, dipimpin Roberto Martinez, sebuah tim kecil melakoni misi mustahil yang seringkali dipadangkan dengan alur cerita The Great Escape.



Pasca kekalahan kontroversial di Stamford Bridge, ditambah rekor 14 kali pertemuan sebelumnya yang tak pernah sekalipun menghasilkan angka, kualitas individu yang kalah jauh, tertekan situasi di jurang klasemen dan rentetan pertandingan berat yang menguras energi membuat hampir semua pengamat menghapus peluang mereka untuk menang.

Tapi sepakbola adalah pertandingan sebelas manusia lawan sebelas manusia. Semua angka statistik pertemuan masa lalu yang kadung terekam di atas kertas bisa tak lagi berarti ketika bola mulai digulirkan.  Hanya mereka yang menihilkan diri sendiri akan harapan peluang yang masih terbilang.

Dan Roberto Martinez jelas bukan salah satunya.   Pria Spanyol pecinta passing football ini, rupanya mengerti betul bagaimana Athletic Bilbao dan Basel berhasil mengeksploitasi kelemahan cara bertahan United menghadapi formasi yang fluid dan terus menekan sepanjang pertandingan.  Karenanya, Shaun Maloney, James McCarthy, Victor Moses dan Mohamed Diame difungsikannya begitu mobil.  Toh semua strategi butuh sesuatu yang lain untuk bisa dieksekusi.  Dan Shaun Maloney dkk pagi tadi memiliki apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan skema permainannya, ENERGI.  Tujuh tembakan harus diterima De Gea, satu diantaranya melengkung indah ke pojok kiri atas mengakhiri catatan clean sheetnya yang sudah terentang lima pertandingan.

Sebaliknya, tak siap dengan bagaimana lawan mereka bermain, para pengejar gelar tertampar.  Bahkan Ryan Giggs yang kenyang pengalaman pun tak luput dari serangkaian kesalahan umpan.  Hanya dua tembakan sepanjang pertandingan melawan sebuah tim papan bawah jelas tidak bisa diterima oleh perfeksionis seperti Alex Ferguson.

Fergie seusai pertandingan berujar bahwa ini hanyalah satu dari sedikit malam dimana segalanya menjadi buruk.  Namun lebih dari itu, kentara sekali bahwa jika United nantinya benar-benar meraih gelar, maka tanggal 8 januari 2012 lalu akan dikenang sebagai salah satu tanggal terpenting yang mengubah peta persaingan juara musim ini.  Paul Scholes kembali dari pensiunnya hari minggu itu dan dua belas pertandingan setelah ia kembali, Manchester United meraup 11 kemenangan dan 1 kali imbang.  Pagi tadi, tanpa Scholes yang diistirahatkan, Carrick tak mampu sendirian mengontrol ritme dan persaingan gelar juara yang tiga hari lalu seperti tinggal sebuah prosesi, kini kembali meninggi.  Pagi tadi juga sekali lagi sebuah alarm yang akan menghantui Fergie jika di musim panas nanti ia tak bisa menemukan sosok muda pengganti setara sang pangeran jahe.

Tapi lupakan dulu tentang gelar dan ambisi tinggi lainnya yang terdampak situasi pagi tadi.  Sejenak biarlah kesempatan ini ada lebih untuk mengapresiasi permainan Wigan.  Benar, dengan QPR menuai hasil positif juga semalam, hasil ini belum tentu membuat Wigan bertahan di liga primer.  Benar, bahwa jadwal tandang berat selanjutnya di Emirates Stadium bisa jadi akan kembali menghempaskan mereka ke jurang degradasi.  Toh untuk satu malam mereka telah memberi penonton pelajaran tentang perjuangan.  Menggali jauh kedalam batas-batas normal, Wigan menemukan energi yang bisa jadi timbul dari rasa ingin berkorban untuk orang-orang yang mencintai klub kecil yang tak banyak ambisi ini.

Sama seperti apa yang menjadi landasan Misno dan Sikem merelakan diri melakoni peran Mbah Rinjing tanpa mimpi tinggi untuk menjadi pahlawan perbaikan perekonomian.  Sekedar pemahaman bahwa begitu berarti keuntungan kecil yang bisa didapat keduanya bagi para tetangga sehingga jika Misno dan Sikem tak berjualan sekali saja, maka tetangganya tak bisa makan, Gaplek!

Pernah dalam sebuah kesempatan mereka sakit dan tak bisa berjualan, lalu  datanglah seorang tetangganya yang kala itu bermaksud meminjam gaplek...

"..sudah ambil saja, kasihan anak-anakmu kalo tidak makan.."

Demikian kata Sikem pada tetangganya itu walau ia sendiri sebenarnya tak memiliki cukup persediaan untuk keluarganya.

Mengerti situasi, sedikit segan, sang tetangga balik bertanya "..lha sampeyan bagaimana nanti?.."

"..Tidak usah dipikir, biar Gusti Allah yang mikirin saya..",
 
tandas Sikem bernas. Ia memenuhi pesan Tuhan untuk mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai diri sendiri.

Kekuatan hati semacam itu telah membuat Sikem bertahan, bahkan ketika ia hampir saja runtuh menghadapi kepergian Misno-nya tercinta.  Hanya untuk kemudian ia bangkit bersama wasiat Misno untuk terus berjualan demi tetangganya.  Sendirian ia susuri kembali jalan-jalan panas yang dulu dilaluinya berdua seakan Misno tak pernah pergi dari sampingnya.

Enam tahun kemudian, Sikem pulang untuk berkumpul kembali dengan Misno-nya tercinta.  Tak ada lagi Mbah Rinjing, tapi apa yang dilakukannya tetap ada dan dikenang mereka yang tersentuh karenanya.  Istri saya pun hampir menangis membaca cerita pengantar tidur ini.  Dalam dunia yang berbeda, kemenangan bersejarah Wigan atas United juga suatu saat bisa jadi tak lagi berarti banyak menghadapi kerasnya persaingan.  Namun sikap dan cara mereka berjuang akan lekang bagi penduduk kota kecil mereka.  Misno, Sikem, Roberto Martinez dan para pemain Wigan menemukan hal yang sama....

KEKUATAN KEINGINAN, ADALAH PINTU HARAPAN UNTUK BERTAHAN...




#NOWPLAYING : HIDUP ADALAH PERJUANGAN/DEWA

Saturday, July 2, 2011

CRASH!

Biyen tau ndelok CRASH ga? Lek durung, nonton'o...

Iku CRASH.. film'e Paul Haggis sing kiro-kiro maksude ate ngirim pesen
Each different life is in some way personally affected, changed, damaged, or victimized by something which then connect through coincidence, feeding one into another, crashing into each other’s lives... Tapi intine film iki abot tur apik, dikongkon memahami banyak hal sing terkoneksi ndek ndunyo iki.

Aku dhewe moro-moro eling goro-goro uripku dino iki...





Sak umur-umur urip sing lek tak pikir-pikir lumayan akeh entek nang ndalan, alhamdulillah aku jarang pwol sampek tibo-tibo ngono. Lek tak eling-eling sih mek ping telu....

Pertama iku pas aku kelas siji SMP...

Lagi penak-penak mulih sepedaan moro-moro mak-grobyakkk ditabrak becak tekok mburi. Anjrit tenan, tapi mergo krasaku ra enek sing luka, yo wes ra perlu urusan suwe. Lah nyampe omah iku tas sadar lek'e tangan kiriku bengkok lumayan. Akhire yo dikon pijet ndek kenalane tonggoku. Sek ping pindo paling, trus tak pikir-pikir tukang pijete rodok mencurigakan tur ganok nduduhi sertifikat. Yowes, akhire dipijet dhewe ambek ibukku,
alhamdulillah waras masio ga mbalik 100 persen.

Kecelakaan sing nomer loro iku ora loro blas, tapi justru ngisin-isini....

Iku critane pas kuliah aku goncengan ate survey nang kelurahan ambek koncoku, sing sepurane ae ancen rodo pengalaman soal tibo-tiboan. Dadi mulai pertama digonceng wis moco dungo ping sewidhak jaran aku jes. Tapi yo dasar nasib, sampek ndek dalan ngarepe kampus STAIN Malang sing rame wong nyebrang, koncoku ucul kontrol.

Koyoke awal-awale koncoku iku kesengsem ambek mahasiswa jilbaban sing ndek pinggir ndalan. Ancen ayu areke, aku yo ndelok, kiro-kiro koyok wedok sing gelem-geleme moco tulisan iki lah... hehe.... Nah, untunge koncoku sik sempet banting stir kiri pas ngindari angkot ambek wong nyebrang iku. Motore mlintir, koncoku tibo, aku mencolot nang urugan pasir sing dinggo mbangun ruko pinggir ndalan iku. Akhire yo ditulungi karo mbak-mas mahasiswa kono, karo enek sing mesam-mesem nulungine.

Lorone ga blas, Isine nemen bro...!! Ga iso kenalan pisan... Tapi tetep,
Alhamdulillaah...

Sing nomer telu iki sing paling nemen...

Critane Ate budal PKL ndek suroboyo bareng koncoku loro. Biasane iku kene mesti numpak patas, tapi mbuh dino iku koyoke lagi kere kabeh akhire numpak Bis ekonomi jenenge Tentrem sing tekok budal gak nggarai Tentrem blas... Jyann, LIAAAR....!! pokoke supire. Yo, koyoke pancen ngene iki terus transportasi massal kelas murah ndek indonesia lek e modele kejar setoran ambek kakehan persaingan operator. Opo ojok-ojok iki salahe sing nggawe istilah TIME IS MONEY?

lak luwih enak lek
TIME IS OPPORTUNITY hare...?!

Oh yo, tak terusno critane, sak tekane iku bis ndek daerah Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan ndilalah kok yo enek wong lanang wedok goncengan banter trus kepleset ndek tengah ndalan. Supir bisku - jare koncoku jenenge Joni, aku ga sempet croscek - mbanting kanan, metu jalur, melbu jalure bis teko arah Surabaya. Yo wes, akhire iku enek Bis Medali Mas, patas jeh, disruduk sampe nyempung sawah. Bis ku dewe malang ndek tengah dalan.

Mari tabrakan aku kroso raiku akeh kocone, tapi mbuh sing kepikiran pertama aku wedi bis'e mbledhug koyok ndek film-film india-ne ibukku. Akhire yo jenggirat mlayu balapan mudun. Ga mikir luka tah opo, pokok sadar sik urip ae..

Koncoku loro akhir-akhiree iku bengeb, tapi pas iku ga sadar, ganok luka luar dadi yo akeh nulungi aku sing sirahe bocor sampek entek koran telung lembar tambah tisu sak bungkus wek'e Asongan apikan sing nulungi ngelapi getihku.

Yo iku tabrakan sing paling medeni tak alami sak umur-umur. Ngono iku yo sik onok untunge. Tekok budal feeling elek nggarai kene wong telu pindah lungguhan tekok ngarep dhewe dadi lungguhan nomer telu. Ga mbayangno lek e kene dadi sing kejepit ndek deretan kursi pertama ambek kedua. Dadi tetep...
Alhamdulillaahh...

Yo wes iku seh catatan tabrakan ndek uripku. Enek sing podo diantara ketiga kejadian iku, aku ga tau ndek posisi setir....

Mbuh yo, mergo aku lek pas dadi supir ga tau tabrakan ngono, nggarai aku ancen sering ga percoyoan lek e digonceng opo disupiri sembarang konco kecuali sing wis jelas gaya setirane podo ambek aku. Jare wong bule,
Seeing is Believing...

Mangkane pas iki mau awan aku nyetir nggonceng konco ate ndek Waduk Selorejo trus keprusut goro-goro oli ndek tengah dalan sekitar Pujon, rodo shock sediluk ngono. Mlayu mek 40 km/jam, sepeda gress teko servisan, ambek fisik fit, tapi lek jenengane apes yo akhire tibo pisan.

"..Sepandai-pandai Panda berguling, akhire nggeblak pisan..."

Sing tak pikir pertama mau koncoku.
Alhamdulillah waras. Trus ndelok tas kameraku, wadooohh kejepit sepeda tapi mari tak bukak ga popo yo wes, ora sido stress iki... hehe... Trus sepeda motorku yo mek lecet-lecet ringan. Alhamdulillah maning...!!!

Kesimpulane 'kenang-kenangane' mek hape ku mbeset kabeh ambek dengkulku mlocot siji.. iki tak duduhi fotone....






"..hapeku mbese kabehh..."


"..dengkulku sing mlocot.."

Mbalike iki sore mau alhamdulillah wes iso normal nyetirku. Ora tegang neh malah semangat ate nulis ndek blog... pamer kok tabrakan yo...?? hehe... Masio ngono yo pancet mikir seh. Everything jare happen for a reason. And i think i know what the reason was, selain yo sebab langsunge oli pick-up asemm iku mau...

Dadi akhire, Sabtu, 2 Juli 2011 bakal tak eling-eling, iki pertama kali'e dan mugo-mugo terakhir kaline aku ngalami tabrakan...

Di-Amiiinn-in bukan sodara-sodara..???

Suwun yo wis moco dhuuoowwooo, ora niat pamer mutlak..

Tapi yo mugo" dadi peng-eling"-e awakku ben luwih ati-ati ndek ndalan....

Lek sing moco melu terinspirasi yo alhamdulillah....

Trus lek enek sing urun komen opo jempol yo wis sewajarnya...

Ate Melu mijeti opo maneh, langsung di-call ae iku nomerku lek enek ndek hapene sampeyan...

Wes yoo... aku tak nerusno mikir iki piye carane sikil ga iso ditekuk tapi kudu Ngising ndek jeding model ndodhok....


*****



NB:
Oh iyo, siji maneh alhamdulillah'o sing akeh rek, mumpung sya'ban pisan...
urip iku masio kadang soro, akeh sing sering lali disyukuri..


*****

*maaf pake bahasa jawa mostly, translate ke bahasa indonesia tersedia di penulis...

Thursday, June 30, 2011

Sanctum

Pada kisaran tahun delapan puluhan, konsep bioskop multi layar belum banyak berkembang, dan The President adalah sebuah bioskop terbesar di Purwokerto. Halamannya luas, terdiri dari beberapa pulau taman dan sebuah jalur paving ditengahnya yang mengarah langsung menuju lobi gedung.

Gedungnya bercat putih-hitam dan dari luar terlihat banyak didominasi kaca hitam besar. Di bagian kanan kiri gedung, temboknya tidaklah tertutup rapat, melainkan memakai desain pilar-pilar beton yang berjajar rapat. Rasanya pilar-pilar tersebut memang dimaksudkan dalam memperlancar sirkulasi udara bagi para pengunjung. Tapi beberapa anak menemukan 'manfaat' lainnya. Dan saya adalah salah satunya...



President Theatre, Dulu....

Hari itu, ayah masih ada di antrian panjang penonton Saur Sepuh ketika saya berkejaran dengan beberapa teman masa kecil yang juga diajak menonton bersama oleh ayah ibu mereka yang bertetangga dengan kami. Lalu saya melihat pilar-pilar itu sebagai sebuah jalan pintas menuju halaman, lepas dari kejaran. Maka masuklah saya di sela-sela pilar tersebut tanpa berpikir panjang. Baru setelah berada di tengah-tengah pilar itu saya sadar, saya terjebak!!

Maka acara nonton itu pun berubah menjadi sedikit kepanikan. Saya setelah beberapa waktu mencoba dan gagal keluar mulai menangis. Pun ibu yang begitu khawatir bahwa jalan satu-satunya mungkin dengan membongkar sebagian pilar gedung itu. Sesuatu yang tentunya akan berimbas pada biaya tinggi bagi keluarga kami yang tidak kaya harta. Beruntung ayah dan beberapa tetangga tetap tenang mencari jalan keluar. Dan setelah mencoba menata sejumlah posisi tubuh anaknya, akhirnya ia berhasil mendorong saya keluar.

Pengalaman terjepit itu rasanya tidak lama, hanya sekitar lima belas menitan, dan saya tidak tahu seberapa banyak pengaruhnya. Yang jelas saya menghadapi masalah dengan ruangan sempit setelahnya, seperti ketika kemarin seorang teman meminta saya mengantarnya pulang melewati sebuah gang seukuran lebar motor.

Toh tidak dalam kesengajaan mengurangi Claustrophobia jika akhir-akhir ini saya banyak menonton film petualangan yang banyak menyuguhkan ketegangan di ruangan sempit seperti 127 Hours, Buried, dan terakhir Sanctum.

Dipasarkan dengan embel-embel James Cameron sebagai executive produser, jelas bahwa ekspektasi pasar terhadap jalan cerita Sanctum tersebut akan tinggi sebagaimana karyanya di Piranha Part II: The Spawning, The Abyss, Titanic dan Avatar.

Tapi berbeda dengan Titanic yang memanggungkan salah satu adegan cinta paling dikenang banyak orang - tidak termasuk saya - atau Avatar yang membawa pesan berat tentang manusia dan lingkungan, Sanctum mencoba menawarkan cerita tentang tensi yang terbangkitkan dalam sesuatu yang seharusnya membawa efek "suci" bagi penikmatnya.

Diluar tempat ibadah sebagai sebuah hal yang pasti, biasanya masing-masing orang memiliki tempat yang "disucikan" untuk menemukan ketenangan atau sekedar berdiam diri menikmati sekeliling. Ada teman saya bilang ia selalu merasa damai ketika berhasil mencapai puncak gunung yang didakinya. Mantan calon istri saya menyukai bau pasir dan bunyi ombak di pantai. Exist bisa jadi memang menemukan suci dalam debu. Sementara saya seringkali menikmati kesendirian di dalam toilet...

Bagi Frank, salah satu tokoh utama Sanctum, tempat suci itu adalah Gua. Begitu "suci" nya sehingga ia akhirnya tak mampu menjadi suami dan ayah yang baik. Hingga akhirnya tibalah sebuah kesempatan memperbaiki hubungan dengan anaknya, Josh. Kesempatan yang hadir ketika Carl, seorang miliuner ambisius memintanya menguak rahasia dibalik Esa'ala, sebuah gua di Papua Nugini yang dalam dialog pengantar diberi tag "mother of all cave". Lucunya, gambar gua yang dipakai di film ini bukanlah Esa'ala, tapi Sótano de las Golondrinas. Sebuah gua di San Luis, Mexico dengan lebar 160-205 kaki dan kedalam 1220 kaki dari permukaan tanah.


Gua yang dijadikan pembuka cerita

Dan yang menarik lagi, Sótano de las Golondrinas hanyalah ada di peringkat 11 soal kedalamannya. Adalah Gua Han Son Doong di Vietnam yang terdalam di dunia, pernah dieksplorasi oleh tim peneliti gua dari Inggris hingga kedalaman 4,5 kilometer sebelum akhirnya tim tersebut harus berhenti karena terhadang banjir di sungai bawah tanah.


Han Son Doong, The Real "Mother Of All Caves"

Kembali ke alur cerita. Setelah penelitian berbulan-bulan, tibalah saat eksplorasi yang dinanti itu. Segalanya berjalan lancar hingga akhirnya sebuah badai siklon terjadi dan Esa'ala pun dibanjiri air dengan tim pimpinan Frank terjebak didalamnya. Lalu dimulailah pertunjukkan tentang batas tegangan kemanusiaan ketika sejumlah manusia diuji pada situasi ekstrem didalam gua.


Ekspedisi Yang 'Menginspirasi' Sanctum

Selanjutnya adalah tentang bagaimana Frank, sang pemimpin ekspedisi yang berpengalaman namun sering ditentang oleh lainnya, termasuk sang anak, Josh yang nampaknya tidak pernah merasakan kehadiran Frank sebagai ayah yang baik. Egoisme dan kerjasama terus berbenturan setiap kali orang-orang yang terjebak itu dihadapkan pada pengambilan keputusan.

Sayang, pengenalan tentang karakter-karakter yang terlibat didalamnya terlalu minim. Lalu muncul pula pertanyaan akan tujuan dari film ini selain suguhan pemandangan manusia yang terjepit diantara batu dan air.

Terlebih jika anda telah menyaksikan 127 Hours. James Franco sungguh berhasil menghadirkan horor yang indah dan mampu berkembang seiring alur ketimbang Sanctum yang ketegangannya lama-lama terlihat seperti repetisi yang sulit ter-eskalasi dengan konflik ayah-anak yang kekurangan sejarah. Seperti masih ada yang mengganjal jika memang Sanctum ingin memenuhi makna yang saya tangkap dalam judul itu, Suci dalam Batu.

Toh sekali lagi positifnya, Sanctum cukup menghibur -jika tidak sesekali mencekam-. Dan tidak salah jika anda yang mengalami Claustrophobia seperti saya menikmati film ini sebagai sebuah terapi ringan... :D

****


Frank dan Josh, Dua Orang Yang Saling Mencari


gambar diambil dari:
banjoemas.co.cc, squidoo.com dan imdb