Showing posts with label Tribute To. Show all posts
Showing posts with label Tribute To. Show all posts

Monday, December 17, 2012

Rider Jancuk!

Sebelum hari ini pun saya memang tidak terlalu suka dengan kumpulan rider, geng motor atau apalah namanya orang-orang yang berkelompok memenuhi jalan raya dengan motor berisik mereka. Saya tahu, off the road, ada kegiatan positif dr sebagian mereka. Tapi on the road they're just simply ARROGANTLY ANNOYING. Penilaian yang akhirnya semakin kuat setelah serempetan hari ini. Dunia lebih baik tanpa arogansi di jalanan...

Thursday, April 12, 2012

W.I.L.L

Sore kemarin istri saya membacakan 'cerita pengantar tidur' yang rupanya memiliki pesan tentang beberapa kejadian setelahnya.  Adalah cerita Sunaryo Adhiatmoko tentang Misno dan Sikem, sepasang suami istri yang tinggal di sebuah desa pegunungan selatan Jawa Timur yang masyarakatnya masih mengkonsumsi tiwul sebagai makanan pokok.

Kehidupan sederhana mereka jalani dengan menjejakkan telapak kaki tanpa alas, diatas jalan berbatu dan aspal yang panas saat matahari membakar setiap kali mereka berdua berjalan kaki menuju pasar yang jaraknya tigapuluh kilometer dari desa mereka.  Misno dan Sikem adalah penjual rinjing (kerajinan dari bambu).  Rinjing-rinjing tersebut bukanlah buatan Misno dan Sikem, melainkan produk apara tetangganya. Mereka berdua hanyalah perantara yang membantu keluarga-keluarga miskin tersebut mendapat penghasilan.

"..Tidak usah berhitung kalau mau membantu orang.  

Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur).."

Begitulah filosofi mereka tentang aktivitas berangkat berjalan kaki sejak pukul tiga pagi hingga tiba di pasar jam sebelas malam, lalu tidur di emperan pasar sembari menunggu pembeli yang berniat membeli dagangan tetangga mereka itu.  Barang-barang yang setelah seharian untungnya tak lebih dari dua puluh ribu perak.  Dan sebagian keuntungan itu, sepulang dari pasar, disisihkannya untuk membeli tulang-tulang sisa daging racikan dari warung-warung soto sepanjang jalan.  Mereka membelinya di banyak tempat agar tak terlalu  malu.  Ini oleh-oleh mewah untuk dimakan bersama tetangga mereka katanya.  Begitu terus berulang selama dua puluh tahun.



Dini harinya, ribuan kilometer di barat desa tempat tinggal Misno dan Sikem, di belahan dunia dan kisah lain, muncul sebuah semangat yang sama besar.  Dalam suasana DW Stadium yang dipenuhi 18 ribuan penduduk kota kecil tersebut, dipimpin Roberto Martinez, sebuah tim kecil melakoni misi mustahil yang seringkali dipadangkan dengan alur cerita The Great Escape.



Pasca kekalahan kontroversial di Stamford Bridge, ditambah rekor 14 kali pertemuan sebelumnya yang tak pernah sekalipun menghasilkan angka, kualitas individu yang kalah jauh, tertekan situasi di jurang klasemen dan rentetan pertandingan berat yang menguras energi membuat hampir semua pengamat menghapus peluang mereka untuk menang.

Tapi sepakbola adalah pertandingan sebelas manusia lawan sebelas manusia. Semua angka statistik pertemuan masa lalu yang kadung terekam di atas kertas bisa tak lagi berarti ketika bola mulai digulirkan.  Hanya mereka yang menihilkan diri sendiri akan harapan peluang yang masih terbilang.

Dan Roberto Martinez jelas bukan salah satunya.   Pria Spanyol pecinta passing football ini, rupanya mengerti betul bagaimana Athletic Bilbao dan Basel berhasil mengeksploitasi kelemahan cara bertahan United menghadapi formasi yang fluid dan terus menekan sepanjang pertandingan.  Karenanya, Shaun Maloney, James McCarthy, Victor Moses dan Mohamed Diame difungsikannya begitu mobil.  Toh semua strategi butuh sesuatu yang lain untuk bisa dieksekusi.  Dan Shaun Maloney dkk pagi tadi memiliki apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan skema permainannya, ENERGI.  Tujuh tembakan harus diterima De Gea, satu diantaranya melengkung indah ke pojok kiri atas mengakhiri catatan clean sheetnya yang sudah terentang lima pertandingan.

Sebaliknya, tak siap dengan bagaimana lawan mereka bermain, para pengejar gelar tertampar.  Bahkan Ryan Giggs yang kenyang pengalaman pun tak luput dari serangkaian kesalahan umpan.  Hanya dua tembakan sepanjang pertandingan melawan sebuah tim papan bawah jelas tidak bisa diterima oleh perfeksionis seperti Alex Ferguson.

Fergie seusai pertandingan berujar bahwa ini hanyalah satu dari sedikit malam dimana segalanya menjadi buruk.  Namun lebih dari itu, kentara sekali bahwa jika United nantinya benar-benar meraih gelar, maka tanggal 8 januari 2012 lalu akan dikenang sebagai salah satu tanggal terpenting yang mengubah peta persaingan juara musim ini.  Paul Scholes kembali dari pensiunnya hari minggu itu dan dua belas pertandingan setelah ia kembali, Manchester United meraup 11 kemenangan dan 1 kali imbang.  Pagi tadi, tanpa Scholes yang diistirahatkan, Carrick tak mampu sendirian mengontrol ritme dan persaingan gelar juara yang tiga hari lalu seperti tinggal sebuah prosesi, kini kembali meninggi.  Pagi tadi juga sekali lagi sebuah alarm yang akan menghantui Fergie jika di musim panas nanti ia tak bisa menemukan sosok muda pengganti setara sang pangeran jahe.

Tapi lupakan dulu tentang gelar dan ambisi tinggi lainnya yang terdampak situasi pagi tadi.  Sejenak biarlah kesempatan ini ada lebih untuk mengapresiasi permainan Wigan.  Benar, dengan QPR menuai hasil positif juga semalam, hasil ini belum tentu membuat Wigan bertahan di liga primer.  Benar, bahwa jadwal tandang berat selanjutnya di Emirates Stadium bisa jadi akan kembali menghempaskan mereka ke jurang degradasi.  Toh untuk satu malam mereka telah memberi penonton pelajaran tentang perjuangan.  Menggali jauh kedalam batas-batas normal, Wigan menemukan energi yang bisa jadi timbul dari rasa ingin berkorban untuk orang-orang yang mencintai klub kecil yang tak banyak ambisi ini.

Sama seperti apa yang menjadi landasan Misno dan Sikem merelakan diri melakoni peran Mbah Rinjing tanpa mimpi tinggi untuk menjadi pahlawan perbaikan perekonomian.  Sekedar pemahaman bahwa begitu berarti keuntungan kecil yang bisa didapat keduanya bagi para tetangga sehingga jika Misno dan Sikem tak berjualan sekali saja, maka tetangganya tak bisa makan, Gaplek!

Pernah dalam sebuah kesempatan mereka sakit dan tak bisa berjualan, lalu  datanglah seorang tetangganya yang kala itu bermaksud meminjam gaplek...

"..sudah ambil saja, kasihan anak-anakmu kalo tidak makan.."

Demikian kata Sikem pada tetangganya itu walau ia sendiri sebenarnya tak memiliki cukup persediaan untuk keluarganya.

Mengerti situasi, sedikit segan, sang tetangga balik bertanya "..lha sampeyan bagaimana nanti?.."

"..Tidak usah dipikir, biar Gusti Allah yang mikirin saya..",
 
tandas Sikem bernas. Ia memenuhi pesan Tuhan untuk mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai diri sendiri.

Kekuatan hati semacam itu telah membuat Sikem bertahan, bahkan ketika ia hampir saja runtuh menghadapi kepergian Misno-nya tercinta.  Hanya untuk kemudian ia bangkit bersama wasiat Misno untuk terus berjualan demi tetangganya.  Sendirian ia susuri kembali jalan-jalan panas yang dulu dilaluinya berdua seakan Misno tak pernah pergi dari sampingnya.

Enam tahun kemudian, Sikem pulang untuk berkumpul kembali dengan Misno-nya tercinta.  Tak ada lagi Mbah Rinjing, tapi apa yang dilakukannya tetap ada dan dikenang mereka yang tersentuh karenanya.  Istri saya pun hampir menangis membaca cerita pengantar tidur ini.  Dalam dunia yang berbeda, kemenangan bersejarah Wigan atas United juga suatu saat bisa jadi tak lagi berarti banyak menghadapi kerasnya persaingan.  Namun sikap dan cara mereka berjuang akan lekang bagi penduduk kota kecil mereka.  Misno, Sikem, Roberto Martinez dan para pemain Wigan menemukan hal yang sama....

KEKUATAN KEINGINAN, ADALAH PINTU HARAPAN UNTUK BERTAHAN...




#NOWPLAYING : HIDUP ADALAH PERJUANGAN/DEWA

Thursday, February 2, 2012

Moneyball, Ketika Hidup Tak Sekedar Memenangkan Persaingan

Pada tahun 2002, seorang General Manajer sebuah institusi dari kota kecil ‘terpaksa’ kehilangan tiga orang 'petugas' terbaiknya karena tawaran yang lebih menggiurkan dari para kompetitor dari kota-kota metropolitan.  Tak terelakkan memang jika melihat bujet institusinya yang hanya seperempatnya.  Sebuah tantangan pelik karena besarnya tuntutan publik akan perbaikan kinerja institusinya yang menjadi simbol kebanggaan lokal.   

Dalam kegalauannya, entah di kantor atau di rumah, tak jarang ia diam.  Pencarian solusinya terkadang berakhir pada cuplik-cuplik rekaman jalan hidup yang telah ia pilih sendiri sejak usia 18 tahun itu.  Cuplik itu ‘menawarkan’ penyesalan akan kegagalan berkelanjutan ketimbang keberhasilan.  Potensi yang dimilikinya  dan membuatnya mengesampingkan pilihan studi di Universitas ternama, ternyata tak berbuah manis.  Belum lagi kegagalan rumah tangga yang akhirnya membatasi interaksinya dengan sang putri.   

Masa muda pria itu, Billy Beane, adalah sebuah contoh afirmasi bahwa potensi pada akhirnya memang sebuah konsep samar-samar. Sebagian menyadarinya. Sebagian tidak. Bahwa potensi akan tergerus bersama waktu, entah berkembang atau menghilang. Bahwa bisa menjadi anugerah, beban, atau keduanya.   

Digadang-gadang sebagai anak muda dengan potensi besar sebagai salah satu pemain baseball paling komplit di generasinya, rupanya tekanan besar tak sanggup ia tanggung dan akhirnya Beane hanya tumbuh sebagai pemain medioker.   Beruntung bahwa ia bukanlah seorang yang pantang menyerah.  Sadar bahwa ia tak lagi mampu berkompetisi, ia meniti jenjang karir baru di bidang yang sama.  Ia terlanjur jatuh cinta pada baseball.  Dan akhirnya setelah beberapa tahun, jadilah ia General Manajer A’s, sebuah klub baseball berbujet kecil, namun juga salah satu institusi kebanggaan Oakland.

Setelah serangkaian kegagalan, tahun 2002 itu ia bertemu dengan seorang pria bernama Bill James.   Pria tambun berkacamata itu tak memiliki latar belakang sebagai pemain baseball.  Ia ‘hanyalah’ seorang sarjana ekonomi yang memiliki teori luar biasa unik tentang model statistik dan baseball (kala itu).  Keunikan cara pandang Bill James-lah akhirnya membuat Beane yakin bahwa ia telah menemukan cara untuk memperpendek jurang kesenjangan antara tim kecil semacam A’s dengan tim raksasa semacam Yankees dan Red Sox. 

Brad pitt memainkan peran sebagai Billy Beane dalam MoneyBall

Berdua, mereka meninggalkan patron tradisional.   Dicerabutnya segala romantisme tentang seleksi pemain berdasarkan pada kecepatan kaki atau otot besar, untuk secara sederhana berpulang menilik mekanika dasar tubuh seseorang.  Sesuatu yang beruntungnya dalam dunia baseball tercatat lengkap dalam statistik setiap pemain.  Sebuah paradigma yang lantas dikenal sebagai Moneyball.

Moneyball terdengar sederhana, tetapi pada saat itu memberikan tim Beane suatu jenis keuntungan yang selalu dicari pebisnis, efisiensi biaya.  Sementara klub lain mengincar pemain glamour, mereka justru mencari pemain gendut, pemain tua atau pemain cedera – tipe-tipe pemain berharga murah namun masih bisa melakukan fungsi yang konon terpenting penting dalam Baseball, yakni mencapai base pertama.  Taktik ini mentransformasi A’s dari sebuah tim papan bawah hingga menjadi kuda hitam liga.  Hingga pada suatu waktu, John W Henry, pemilik Boston Red Sox tertarik dan menyodorkan kontrak GM terbesar kepadanya.

Kelanjutan ceritanya sudah jelas dan lengkap terpublikasi.  Red Sox meraih dua gelar World Series semenjak 2003 dan Billy Beane masih saja berkutat dengan obsesinya untuk memenangkan pertandingan terakhir musim.

Kesuksesan Oakland A’s di musim 2002 membuktikan bahwa sains bisa menjadi jalan alternatif bagi institusi yang tak memiliki anggaran untuk membeli nama besar.  Dan implikasi metode Moneyball bukan hanya terasa di dunia baseball.

John W Henry, sang pemilik Red Sox, semenjak perhatiannya beralih ke sepak bola Inggris, mencoba meletakkan basis perekrutan pemain Liverpool pada teknik yang sama.  Downing, Henderson dan Adam, adalah 3 dari 12 gelandang dengan statistik tertinggi di Liga Primer.  Sementara Gareth Bale dan Luka Modric adalah beberapa transfer yang terjadi di era Damien Comolli, direktur olahraga Spurs waktu itu, yang bersahabat dan masih sepaham dengannya tentang analisis sibermetrik semacam moneyball.

Menilik lebih jauh, Arsene Wenger, the Professor, tidak mengejutkan, adalah salah satu manajer yang paling awal dan sering mengintegrasikan informasi statistik kedalam strateginya.  Pada awal 2000-an ia seringkali mengganti Dennis Bergkamp di atas menit ke-70 karena ia percaya data statistik yang memperlihatkan tren penurunan kecepatan sprint sang striker legendaris itu pada seperempat akhir pertandingan.  

"Jika saya tahu bahwa seorang pemain rata-rata membutuhkan waktu 3,2 detik untuk menerima bola dan lalu mengumpankannya, lalu secara tiba-tiba waktunya bertambah hingga 4.5 detik, maka saya bisa mengatakan padanya, 'Dengar, Anda terlalu banyak memegang bola'. " (Arsene Wenger)

Namun rasanya tak seorang pun di sepak bola Inggris keranjingan dan meletakkan prioritas tertinggi akan penggunaan teknologi dan informasi ilmiah seperti Sam Allardyce (kini melatih West Ham).  Tahun 2001 ia secara langsung menemui Billy Beane dan dibawanya pelajaran dari Amerika itu kedalam delapan tahun era kepelatihannya di Stadion Reebok.   

    Big Sam, Pelatih Penggemar Teknologi

Allardyce lantas membawa tim medioker itu menempati peringkat keenam, kedelapan dan dan ketujuh di Liga Premier. Mereka juga mencapai Final Piala Carling dan berlaga di Eropa.  Dan ia melakukannya dengan merekrut veteran. Youri Djorkaeff, Ivan Campo, Fernando Hierro, dan Jay-Jay Okocha, adalah contoh pemain-pemainnya yang dinilai rendah oleh pasar, namun secara statistik memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan tentu saja berada dalam bujet Bolton kala itu.  Persis seperti apa yang dilakukan Beane di Oakland A’s.

Tapi dengan semua kemiripan aplikasi tersebut, apakah statistik dalam sepakbola telah mampu memberikan dasar utama sebagaimana apa yang bisa disajikan data pemain bisbol?

Jawaban singkat terhadap pertanyaan di bagian atas pembicaraan ini adalah, Tidak..

Tidak sekarang.....

Pertama karena baseball adalah mimpi statistik.   Jumlah data untuk setiap pemain terekam begitu banyak, lengkap dan rapi tersusun.  Seorang General Manager klub Baseball seperti Beane, asisten atau para scout-nya bisa melihat juara potensial dari data yang diposting pemain sejak bermain di perguruan tinggi atau liga bisbol yang lebih rendah.

Dia tidak perlu melakukannya dengan pergi menonton mereka, seperti yang terjadi di masa lalu, namun dengan sekedar menghitung rasio langkah hingga data strikeout, atau angka-angka yang seringkali terpendam, kedalam model-model kalkulasi potensi.

Kedua, dibanding baseball, sepakbola adalah olahraga yang lebih rancu untuk dianalisis, walaupun tidak berarti hal tersebut tidak mungkin dilakukan.  

Di Liga Premier misalnya, pengenalan perangkat lunak pelacak pemain seperti Opta dan Prozone, terdengar seperti lonceng kematian untuk pemain Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne, yang secara statistik dapat diketahui bahwa keterampilan olah bolanya tidak diimbangi dengan etos kerja mereka.  

Sekarang, tersembunyi dalam setiap pertandingan, deretan kamera milik Prozone atau Opta yang disewa setiap klub melacak setiap unsur gerakan pemain, jarak yang ditempuh, bertenaga tinggi berjalan dan posisi defensif.  Jarak tempuh keseluruhan pemain tidak lagi menjadi statistik kunci untuk orang-orang yang mencoba menemukan beberapa persen tambahan peluang antara menang dan menjadi yang kedua.  Melihat data-data tersebut, anda mungkin akan terkejut tentang siapa-siapa saja pemain yang berstatistik tinggi dan sebaliknya kemahalan di liga primer inggris.  Saya mencari data serupa terkait pemain indonesia, namun rupanya tak ada yang ditemukan tertera di mesin pencari...

  
data pemain termahal dan pemain berstatistik terbaik ala prozone (dailymail.co.uk)
   

Baseball adalah permainan yang bagi saya tidak memiliki variasi perubahan strategi sebanyak sepakbola dan karenanya lebih mudah menetapkan cara untuk mencapai tujuan.  Pukul sejauh-jauhnya, atau Lempar secepat dan sesulit mungkin.  Itu saja rasanya.   Statistik sepakbola mungkin saja akan menjadi sangat efektif ketika suatu saat nanti, model analisis permainan telah mencapai level real time analisis dan bukannya pre/post match.  Ketika seorang asisten pelatih bisa membuka pc-tablet nya dan langsung melihat perubahan data pemain di bangku cadangan dari menit ke menit saat pertandingan dimainkan.

Dan lagi, tidak seperti baseball yang relatif ‘olahraga lokal’ amerika, sepakbola adalah permainan paling digemari di seluruh dunia.  Ia melintasi batas geografis yang karenanya lantas menciptakan perbedaan budaya, karakter individu pemain, dan tentu saja kemampuannya beradaptasi dengan gaya permainan di negara lain.  Ada batas-batas budaya yang bisa jadi mereduksi beberapa statistik menonjol seorang pemain impor.

Dukungan pengetahuan psikologis, insting talenta atau pelajaran pengalaman menghadapi situasi-situasi kritis yang tak semuanya terdokumentasi dalam angka akan menjadi luar biasa ketika disandingkan dengan statistik dan sains terapan.  




Beane dan moneyball-nya, dalam aspek kompetitif mungkin saja telah kehilangan keuntungannya sebagai pioneer.  Seperti halnya klub-klub sepakbola kecil yang harus bersaing dengan besarnya dana klub besar yang kini juga dialokasikan untuk pengembangan statistik pemain.   Dalam kacamata kemenangan di lapangan, Beane memang masih saja gagal mencapai gelar tertentu.  Tapi rasanya ia adalah salah satu stereotip persona sebagaimana kriteria quote ini...

“Innovation distinguishes between a leader and a follower.”  (Steve Jobs)

Dan terlepas dari keputusannya terhadap tawaran Red Sox, ia telah membuatnya memenangkan perjuangan lain.  Sebuah romantisme seorang bapak terhadap kerinduan akan suara indah sang putri...  

 After all, Life isn’t always about winning competition, right....??   


*****

Billy Beane, suatu ketika pemuda yang ambisius, 
kini ayah yang memilih anaknya atas uang dan pencapaian pribadi

gambar diambil dari wikipedia.com

Wednesday, February 1, 2012

Syi'ir Abdurrahman Wahid

Astaghfirullooh robbal barooya... 
astaghfirullooh minal hothooya..
Robbi zidni ilman naafi’a... 
wawaafiqnii amalan shooliha...

Ya rosuulallooh salaamun alaik... 
ya rofi’i a syayaa ni waddaroji...
Athfata yaaji rotalaalami...
ya uhailaljuudi wal karomi… 

Ngawiti ingsun nglaras syi'iran
Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kanikmatan
Rino wengine tanpo pitungan
Mulai saya membuat syairan
Dengan memuji kepada Alloh
Yang memberi rakhmat dan kenikmatan
Siang malam tanpa perhitungan
 
Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syariat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro
Duh para teman pria dan wanita
jangan hanya mengaji syariat saja
Cuma pandai bercerita ,nulis dan baca
Nanti belakangan akan sengsara
Akeh kang apal Quran Hadise
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale
Banyak yang hafal Quran dan hadist
senang meng-kafirkan pada lainnya
Kafirnya sendiri nggak diperhatikan
Jika masih kotor hati akalnya
Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepahese gebyareng dunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto
Mudah terbujuk nafsu angkara
pada gemerlapnya dunia
Iri dan dengki pada harta tetangga
maka hatinya gelap dan nista
Ayuh sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sa’pranatane
nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine
Ayo saudaraku jangan melupakan
wajibnya ngaji dan pranatanya
agar tebal iman dan tauhidnya
untuk bekal mati yang mulia
Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan sari ngelmune
Laku torikot lan ma’rifate
Ugo hakikot manjing rasane
Yang namanya sholeh bagus hatinya
Karena mantap sari pati ilmunya
Melakukan thoriqoh dan makrifat
juga hakikat yang merasuk rasanya
Al Quran qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tanjebake ing jero dodo
Alquran qodim wahyu yang mulia
tanpa tertulis bisa dibaca
Itulah pelajaran guru waskita
Yang ditancapkan di dalam dada
Kumantil ati lan pikiran
Ngrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman
Terbawa ke dalam hati dan pikiran
Merasuk ke badan dan seisinya 
Mukjizak rosul jadi pedoman
Sebagai jalan masuknya iman
Kelawan Alloh kang moho suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi
Dzikir lan suluk jog nganti lali
Menuju Alloh yang Maha Suci
Harus mendekat pagi dan malam
Melalui tirakat dan perjuangan
Dzikir dan suluk jangan sampai lupa
Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran
Hidupnya tentram merasa aman
Datangnya ilham tanda bila iman
Sabar menerima walau pas pasan
Semua takdir dari Tuhan
Kelawan konco dulur lan tonggo
Podo rukuno ojo ngesiyo
Iku sunnahe rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito
Terhadap teman saudara dan tetangga
Jagalah kerukunan dan jangan menyia-nyiakan
Itu sunnah rasul yang mulia
Nabi muhammad panutan kita
Ayuh ngelakoni sekabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire
Ananging mulyo makom drajat
Ayo lakukan semuanya
Alloh yang akan angkat derajatnya
Walaupun terlihat rendah hidup dhohirnya
namun mulia maqom derajatnya
Lamon palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese
Bila sampai di akhirnya kehidupan
Takkan tersesat ruh dan sukmanya
Di terima Alloh surga tempatnya
Utuh mayitnya juga kafannya


***

Tuesday, October 4, 2011

THE PROPOSAL (1)

Baik dan buruk.  Kadang, repetisi pengalaman buruk masa lalu yang masif itu mengendap menjadi memori, untuk tanpa sadar kita menyusun definisi.   Laki-laki itu begini.  Perempuan itu begitu.  Kita semua memilikinya.  Tak hanya kamu.  Tak hanya aku.  Dan karenanya sungguh tak pantas aku menggugat apapun tentangnya, siapapun karenanya... 

Lihat bahwa aku menemuimu dalam diriku yang kau lihat sekarang.  Kamu ingat bukan, sejak awal pun, aku tidak banyak menjanjikan untuk membelikanmu pakaian setiap bulan, karena itu akan terasa berat bagiku.  Pun mengajakmu memuaskan hasrat mencicipi ragam rasa penganan, tak akan mungkin terjadi setiap hari.  Belum lagi rumah indah.  Setidaknya sekarang, entah nanti....  

Lebih buruk lagi dari soal materi, aku juga dingin (mungkin), Not too good looking? jelas.  Posesif?  Mungkin aku memang sudah terlalu banyak kehilangan...  

"...Lalu apa hak-ku menilai diri lebih baik darimu?.."


Pertanyaan itu yang terus terngiang di kepalaku pada pagi setelah malam panjang kita itu.  Pagi itu menyesal.  Menyesal bahwa aku harus menunggu sampai pagi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu dan segala tentangmu adalah sama.  

Tak ada yang berhak menilai dirinya lebih baik, tidak aku, tidak kamu, tidak siapapun di dunia.  Dan karena itu pula aku meyakinkan diri untuk menyodorkan proposal ini.

Aku sudah mengenal perempuan yang (dianggap) sempurna, pun dia yang menafikan semua definisi kesempurnaan.  Denganmu, aku merasa, aku percaya bisa kita saling memberi untuk membuat masing-masing dari kita lebih baik...

Pada akhirnya memenuhi kriteria pria sempurna, a prince charming, jelas tidak akan ada dalam proposal ini.  Menjadi lebih bersih diri dan wangi? itu aku bisa.  Menguras keringatku untuk mencoba menafkahimu dan anak-anak kita? itu pun tak usah kau ragu.  Mengurangi dengkur di tidurku? akan kucoba.  Menjadi tak terlalu posesif? yakinlah bahwa, kita selalu bisa bersama menetapkan batas-batasnya...

Menjadi lelaki yang lebih baik, lelaki yang berbeda dari semua lelaki yang kau kenal sebelumnya, itu saja yang aku bisa janjikan.... 

"...Selain tentunya menjadi lucu, hangat dan mempesona seperti biasanya..."

With all my kind and my bad, this is who i am,

equal, as i accept you for what you are...


And the sole purpose of this proposal is you..


as a friend, as a lover, as the mother of our childs...


So, Would you put your trust on me...?


Wednesday, August 17, 2011

Paskibra

Sejak saya kecil ibu selalu senang mengajak saya menonton upacara pengibaran bendera pusaka di Istana Negara setiap tanggal 17 Agustus. Sepertinya, para anak muda hebat itulah salah satu stereotip ganteng dan membanggakan versi ibu. Karenanya ibu pernah cerita ingin sekali melihat anaknya jadi pengibar bendera seperti di tipi. Sayang, kombinasi antara faktor ketinggian tubuh dan keberuntungan akhirnya menunda mimpi ibu itu. Sampai akhirnya 17 Agustus 2011, penantian itu berakhir...

Ibu, saya jadi paskibra, versi lokal memang, tapi yang penting paskibra bukan...?!

Dan oh ya, uang lelah paskibra lokal itu 20.000 perak dan emblem garudanya ternyata dibalikin... siall...




Friday, August 5, 2011

Matematika Tuhan

Ramadhan tahun lalu saya kehilangan benda senilai 14 juta rupiah, lalu sebulan setelahnya Tuhan 'menggantinya' dengan pendapatan 1,6 juta per bulan selama setahun dan insyaallaah nilai 2,2 juta per bulan, dengan angka pertumbuhan 10% per tahun hingga 25 tahun ke depan...

14.000.000 = (1.600.000 x 12 ) + (2.200.000 + (0,1 x 2.200.000) ^25 x 12 )) + ( n x 12 x 25)

Matematika Tuhan memang luar biasa, datang dari rumus yang tak disangka-sangka...

Dan hari ini saya belajar satu rumus matematika lagi, dari ustad pengajian tadi pagi....

1 jam mendengarkan tausiyah = 1000 rakaat shalat sunnah

1 rakaat shalat sunnah di bulan ramadhan = 700 kali lipat shalat sunnah di bulan lain

1 rakaat shalat sunnah = 3 menit

1 jam mendengarkan tausiyah di bulan ramadhan = 1000 x 700 = 700.000 rakaat

dan atau....

ibadah 60 menit = ibadah 2.100.000 menit



Uakeh tenan yoo, nggarai kudu ngaji maneh...!!! :D

Tapi kata pak ustad, yang lebih baik lagi jangan dipikirin rumusnya, Tuhan aja ga pake itungan kalo
ngasi napas .. :D

Wednesday, August 3, 2011

Soeparso - Zainuddin

Terletak di tengah perumahan kecil tersebut, jelas bahwa Masjid Soeparso-Zainuddin diposisikan sebagai sentral kehidupan lingkungan di Perumahan Puri Kendedes. Nuansa warna coklat kental terasa ketika menelusuri lekuk-lekuk Masjid ini, lantai kayu, kayu pembatas ruang pria dan wanita, serta dinding ruang imam. Elemen kayu tersebut selain bermakna estetis juga memberikan efek hangat dan nyaman di malam hari. Dipadu dengan pualam hitam yang menghiasi pilar dan lampu-lampu futuris yang memendarkan warna putih, maka jadilah Masjid kecil ini yang terbaik sejauh yang pernah saya singgahi di Kota Malang.

Sayang, letak masjid ini mungkin memang terlalu eksklusif bagi orang luar perumahan, sehingga tarawih pertama semalam pun cuma terisi empat shaf. Atau mungkin seperti kata orang bijak, Masjid adalah Rumah Tuhan, dan seperti halnya setiap rumah, hanya Sang pemilik lah yang berhak menentukan siapa yang boleh bertamu dan siapa yang tak tidak. Subhanallaah, semoga kita termasuk yang selalu tergerak bertamu ke rumah-Nya...


Saturday, July 16, 2011

Sya'ban, 15

Malam-malam istimewa seperti malam jum'at, malam hari raya, malam awal bulan rajab dan lainnya rasanya selain penuh hikmah, juga mengandung tantangan. Apakah kita mengikuti alur perbaikan diri progresif atau sporadis layaknya cinta satu malam. Selamat datang nisfu sya'ban, semoga terhapus kebencian serta tersambung persaudaraan....

Friday, July 15, 2011

Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan Itu


***

Engkau campur-baur

dan seringkali kabur,

namun aku mencatatmu,

untuk rindu dan lalu kucoba,

melupakanmu


***



Taufiq Ismail
Sajak Ladang Jagung
.1973.

Sunday, June 12, 2011

Siami, Kita dan Nurani

Beberapa hari lalu saya menuliskan sebuah status di fesbuk, "..memaafkan, mengakui kesalahan, mengiyakan, berkata tidak, memulai perubahan, dan menjaga lisan. Banyak hal yang sebenarnya mudah diwujudkan, tapi kita memperumitnya dengan beragam alasan...".

Saya menuliskannya setelah mengalami satu hari atau katakanlah serangkaian peristiwa di kantor yang membuat saya tidak habis pikir dengan 'keengganan' kita untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang walaupun tidak sepele, tapi secara kasat mata kita tahu jalan keluarnya.

Saya lalu menuduh alasan sebagai biang keladi yang memperumit penyelesaian permasalahan. Persis seperti pepatah jawa, "..sak ombo-ombone segoro, sik luwih ombo alesan.." (red: seluas luasnya lautan, masih lebih luas alasan). Sembari terdiam, saya lalu berusaha mencari pembenaran bahwa dengan sekedar tidak ikut campur itu cukup.

Sehari setelahnya saya jadi teringat tentang sesuatu yang ada dibalik banyak alasan. Freud mendefinisikannya sebagai "...Such mechanisms put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may re-emerge...". Kita biasa menyebutnya mekanisme pertahanan diri. Mekanisme yang karena kekhawatiran akan beban kesalahan lalu atau keraguan pada masa depan, seringkali membuat kita menyerahkan kekuasaan diri pada ego pribadi, ketika seharusnya kita berhenti 'menolak' kesalahan yang sudah terjadi. Sesuatu yang terlintas ketika membaca sebuah berita tentang mahalnya kejujuran di negeri ini.

Cuplikan satu paragraf berita itu saya tuliskan disini...

"...Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. (surya.co.id)..."


Sekilas membaca berita itu dan banyak dari kita akan berpikir bahwa Nyonya Siami, sang penjahit, istri seorang buruh pasti telah melakukan sebuah kesalahan diluar hati nurani sehingga tuntutan hukuman moral berat dari warga harus diterimanya. Tapi ia bukanlah pezina, pencuri atau penipu.

Nyonya Siami dianggap 'berdosa' karena ia adalah individu, minoritas yang bersuara tentang sebuah ketidakadilan, ketidakjujuran yang telah terlebur dalam kehidupan sosial mayoritas disekitarnya sebagai sebuah hal yang wajar. Ia hanya ingin menolak pendidikan yang dimenangkan dengan contekan. Sama remehnya dengan antrian, urusan salip-salipan motor di jalan, dan buang plastik es teh di taman bukan?

Dan saya serasa tertampar...

Mengingat-ingat sejarah contek-contekan dalam masa sekolah saya dulu, saya mungkin adalah salah satu orang yang tidak layak dan naif jika menuliskan 'pembelaan' bagi sang minoritas. Maka saya menuliskan ini tanpa bermaksud memposisikan Nyonya Siami sebagai sosok sempurna hanya dengan kegigihannya tentang perkara remeh bernama contekan itu, lalu menganggap masyarakat tak punya nurani. Saya yakin kita semua masih punya itu. Hal-hal yang membuat hati kita sebenarnya bergetar dan mengakui bahwa sesuatu yang bathil itu memang bathil, dan yang haq itu memang haq.

Tuhan melahirkan manusia dalam fitrah yang sama. Tapi manusia adalah makhluk yang akhirnya ditentukan oleh segumpal daging didalam tubuhnya. Segumpal daging yang diberi makan lewat pengalaman hidup. Makanan itulah yang kemudian membuat kita berbeda dalam kebiasaan. Lalu hadirlah sejumlah tindakan yang berlawanan. Seperti ketika sebagian dari kita menganggap contekan itu adalah cara yang tepat untuk menghadapi kebijakan cacat bernama Ujian Nasional. Sementara sebagian lagi menganggap hal-hal sekecil perkara antrian adalah kunci mengembalikan karakter bangsa.

Bangsa ini memang tidak dibangun dengan Bushido. Tapi karakter bangsa ini juga seharusnya tinggi. Mana mungkin membuang sampah sembarangan adalah warisan leluhur kita? Mana mungkin berpangku tangan melihat orang kesusahan adalah ciri Indonesia? Mana mungkin kejujuran bukan bagian dari kehidupan di nusantara? Mana mungkin mencari jalan pintas menjadi identitas?

Nyonya Siami dan potret situasi di Balai RW Gadel adalah gambaran bagaimana individu-indivudu dalam masyarakat beradaptasi terhadap situasi mati surinya perangkat hukum yang seharusnya menjadi jawaban akan carut marut korupsi, inefisiensi pemerintahan dan lunturnya kepribadian.

Masyarakat melegitimasi contekan sebagai jalan keluar tekanan harus lulus ujian yang formatnya terus dipertanyakan. Masyarakat pun tak berhenti membeli kendaraan pribadi sebagai cara mereka beradaptasi terhadap sistem transportasi yang macet lagii.. macet lagi. Mereka harus bertahan menghadapi kehidupan dan akan secara beragam memberikan perlawanan ketika kesepakatan cara bertahan oleh mayoritas itu diusik oleh cara pertahanan diri yang berbeda seperti Nyonya Siami.

"..Wong (ing) kang sholeh kumpulono..", lihatlah betapa indahnya salah satu bait Tombo Ati tentang apa yang sebenarnya harus diwarisi bangsa ini. Bahwa kita adalah bangsa yang mengakui pentingnya sosok-sosok yang bisa di-gugu dan di-tiru disaat kita dihadapkan pada situasi seperti ini. Tapi dimanakah beliau-beliau yang kita rindu itu?

Entahlah, rasanya mereka masih ada, tapi kita yang mungkin telah terlalu lama tenggelam ditelan kebijakan pencitraan, sinetron dan kubangan informasi yang tak bermutu.

Ketika kita tak menemukan guru sebagai pegangan. Ketika kita lalu berusaha mencari jawaban sendiri dan akhirnya menemukan pembenaran untuk mempertahankan diri. Walau kita tahu kita tergetar, ketika pembelaan diri itu dikembalikan pada jawaban nurani....

Friday, June 3, 2011

Mudik, as Always

Pagi ini saya mendapat berita duka tentang ibunda seorang teman. Teman yang buat saya istimewa. Dalam setahunan kedekatan persahabatan kami, tak sekalipun rasanya saya melihat dia kesulitan mengeluarkan senyum. Bahkan dalam situasi terjepit keperluan pribadi pun ia selalu terlihat ceria dan sulit menolak permintaan tolong dari kawannya, termasuk saya.

Saya tidak mengenal ibunya selain tentang penyakit yang dideritanya cukup lama hingga 'kepulangannya' hari ini. Tapi saya yakin orang yang telah melahirkan dan mendidik anak sebaik teman saya itu pastilah ibu yang istimewa pula.

Maka saya lalu membalas pesan pendek berita duka itu dengan doa. Lalu kadang ada situasi dimana kalimat '..innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...' itu tidak semudah mengetiknya dan setelah tombol send tertekan, saya terdiam...

Saya sedang mudik dua hari. Tapi ketimbang mericuhkan perkara lain yang mencegah saya untuk tinggal di rumah lebih lama dalam long wiken kali ini, apa yang terjadi pagi ini membuat saya mencermati kembali tentang esensi mudik....

Bagian terbaik dari mudik adalah mencium tangan orang tua, yang ekspresi excited-nya selalu maksimal, tak terpengaruh oleh panjang pendeknya skala waktu kepergian kita. Dan saya sungguh bersyukur masih bisa merasakan suasana itu kemarin pagi. Bagian tentang bisa mencecap lagi kenikmatan soto terenak sedunia, gorengan tempe paling maknyus, dan manisnya gudeg jogja pada akhirnya hanyalah bonus.
..

Sementara bagian terburuknya adalah ketika dalam malam hujan deras, mereka melambaikan tangan ke kita yang kembali tersekat jendela kereta. Tangan yang baru kemarin mengusap kepala anaknya, sesaat lalu semakin samar sebelum akhirnya hilang tertinggal dibelakang ular besi yang kembali berlari.
Saya tahu mereka sebenarnya belum rela ritual mudik empat bulanan itu berakhir begitu cepat, begitu pula saya yang harus kembali merantau.

Merantau memang panggilan lelaki. Tapi untuk pulang pada mereka yang menjadi definisi terbaik tentang kata sayang, adalah juga sebuah kewajiban.

Kita, adalah anak-anak yang kadang memperumitnya dengan rasa malu pada pertanyaan kesuksesan di perantauan atau ledekan tentang kehidupan percintaan. Sementara ibu dan ayah hanya ingin melihat tangan kita, para perantau yang tak cukup waktu untuk bertemu disetiap pagimu.

Maka pulanglah teman, lakukanlah sesering sempatmu mereguk rizki Tuhan yang menetes dari tangan mereka, karena tak semua seberuntung kita, tak selamanya pula kita bisa....


sayur tempe buatan ibu, makanan nomer satu di dunia