Showing posts with label Tribute To. Show all posts
Showing posts with label Tribute To. Show all posts
Monday, December 17, 2012
Rider Jancuk!
Sebelum hari ini pun saya memang tidak terlalu
suka dengan kumpulan rider, geng motor atau apalah namanya orang-orang
yang berkelompok memenuhi jalan raya dengan motor berisik mereka. Saya
tahu, off the road, ada kegiatan positif dr sebagian mereka. Tapi on
the road they're just simply ARROGANTLY ANNOYING. Penilaian yang
akhirnya semakin kuat setelah serempetan hari ini. Dunia lebih baik
tanpa arogansi di jalanan...
Thursday, April 12, 2012
W.I.L.L
Sore kemarin istri saya membacakan 'cerita pengantar tidur'
yang rupanya memiliki pesan tentang beberapa kejadian setelahnya.
Adalah cerita Sunaryo Adhiatmoko tentang Misno dan Sikem, sepasang suami
istri yang tinggal di sebuah desa pegunungan selatan Jawa Timur yang
masyarakatnya masih mengkonsumsi tiwul sebagai makanan pokok.
Kehidupan
sederhana mereka jalani dengan menjejakkan telapak kaki tanpa alas,
diatas jalan berbatu dan aspal yang panas saat matahari membakar setiap
kali mereka berdua berjalan kaki menuju pasar yang jaraknya tigapuluh
kilometer dari desa mereka. Misno dan Sikem adalah penjual rinjing
(kerajinan dari bambu). Rinjing-rinjing tersebut bukanlah buatan Misno
dan Sikem, melainkan produk apara tetangganya. Mereka berdua hanyalah
perantara yang membantu keluarga-keluarga miskin tersebut mendapat
penghasilan.
"..Tidak usah berhitung kalau mau membantu orang.
Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur).."
Begitulah
filosofi mereka tentang aktivitas berangkat berjalan kaki sejak pukul
tiga pagi hingga tiba di pasar jam sebelas malam, lalu tidur di emperan
pasar sembari menunggu pembeli yang berniat membeli dagangan tetangga
mereka itu. Barang-barang yang setelah seharian untungnya tak lebih
dari dua puluh ribu perak. Dan sebagian keuntungan itu, sepulang dari
pasar, disisihkannya untuk membeli tulang-tulang sisa daging racikan
dari warung-warung soto sepanjang jalan. Mereka membelinya di banyak
tempat agar tak terlalu malu. Ini oleh-oleh mewah untuk dimakan
bersama tetangga mereka katanya. Begitu terus berulang selama dua puluh
tahun.

Dini
harinya, ribuan kilometer di barat desa tempat tinggal Misno dan Sikem,
di belahan dunia dan kisah lain, muncul sebuah semangat yang sama
besar. Dalam suasana DW Stadium yang dipenuhi 18 ribuan penduduk kota
kecil tersebut, dipimpin Roberto Martinez, sebuah tim kecil melakoni
misi mustahil yang seringkali dipadangkan dengan alur cerita The Great
Escape.
Pasca
kekalahan kontroversial di Stamford Bridge, ditambah rekor 14 kali
pertemuan sebelumnya yang tak pernah sekalipun menghasilkan angka,
kualitas individu yang kalah jauh, tertekan situasi di jurang klasemen
dan rentetan pertandingan berat yang menguras energi membuat hampir
semua pengamat menghapus peluang mereka untuk menang.
Tapi
sepakbola adalah pertandingan sebelas manusia lawan sebelas manusia.
Semua angka statistik pertemuan masa lalu yang kadung terekam di atas
kertas bisa tak lagi berarti ketika bola mulai digulirkan. Hanya mereka
yang menihilkan diri sendiri akan harapan peluang yang masih terbilang.
Dan Roberto Martinez jelas bukan salah satunya. Pria Spanyol pecinta passing football
ini, rupanya mengerti betul bagaimana Athletic Bilbao dan Basel
berhasil mengeksploitasi kelemahan cara bertahan United menghadapi
formasi yang fluid dan terus menekan sepanjang pertandingan. Karenanya,
Shaun Maloney, James McCarthy, Victor Moses dan Mohamed Diame
difungsikannya begitu mobil. Toh semua strategi butuh sesuatu yang lain
untuk bisa dieksekusi. Dan Shaun Maloney dkk pagi tadi memiliki apa
yang dibutuhkan untuk mewujudkan skema permainannya, ENERGI. Tujuh
tembakan harus diterima De Gea, satu diantaranya melengkung indah ke
pojok kiri atas mengakhiri catatan clean sheetnya yang sudah terentang
lima pertandingan.
Sebaliknya, tak siap dengan bagaimana lawan
mereka bermain, para pengejar gelar tertampar. Bahkan Ryan Giggs yang
kenyang pengalaman pun tak luput dari serangkaian kesalahan umpan.
Hanya dua tembakan sepanjang pertandingan melawan sebuah tim papan bawah
jelas tidak bisa diterima oleh perfeksionis seperti Alex Ferguson.
Fergie
seusai pertandingan berujar bahwa ini hanyalah satu dari sedikit malam
dimana segalanya menjadi buruk. Namun lebih dari itu, kentara sekali
bahwa jika United nantinya benar-benar meraih gelar, maka tanggal 8
januari 2012 lalu akan dikenang sebagai salah satu tanggal terpenting
yang mengubah peta persaingan juara musim ini. Paul Scholes kembali
dari pensiunnya hari minggu itu dan dua belas pertandingan setelah ia
kembali, Manchester United meraup 11 kemenangan dan 1 kali imbang. Pagi
tadi, tanpa Scholes yang diistirahatkan, Carrick tak mampu sendirian
mengontrol ritme dan persaingan gelar juara yang tiga hari lalu seperti
tinggal sebuah prosesi, kini kembali meninggi. Pagi tadi juga sekali
lagi sebuah alarm yang akan menghantui Fergie jika di musim panas nanti
ia tak bisa menemukan sosok muda pengganti setara sang pangeran jahe.
Tapi
lupakan dulu tentang gelar dan ambisi tinggi lainnya yang terdampak
situasi pagi tadi. Sejenak biarlah kesempatan ini ada lebih untuk
mengapresiasi permainan Wigan. Benar, dengan QPR menuai hasil positif
juga semalam, hasil ini belum tentu membuat Wigan bertahan di liga
primer. Benar, bahwa jadwal tandang berat selanjutnya di Emirates
Stadium bisa jadi akan kembali menghempaskan mereka ke jurang
degradasi. Toh untuk satu malam mereka telah memberi penonton pelajaran
tentang perjuangan. Menggali jauh kedalam batas-batas normal, Wigan
menemukan energi yang bisa jadi timbul dari rasa ingin berkorban untuk
orang-orang yang mencintai klub kecil yang tak banyak ambisi ini.
Sama
seperti apa yang menjadi landasan Misno dan Sikem merelakan diri
melakoni peran Mbah Rinjing tanpa mimpi tinggi untuk menjadi pahlawan
perbaikan perekonomian. Sekedar pemahaman bahwa begitu berarti
keuntungan kecil yang bisa didapat keduanya bagi para tetangga sehingga
jika Misno dan Sikem tak berjualan sekali saja, maka tetangganya tak
bisa makan, Gaplek!
Pernah dalam sebuah kesempatan mereka sakit
dan tak bisa berjualan, lalu datanglah seorang tetangganya yang kala
itu bermaksud meminjam gaplek...
"..sudah ambil saja, kasihan anak-anakmu kalo tidak makan.."
Demikian kata Sikem pada tetangganya itu walau ia sendiri sebenarnya tak memiliki cukup persediaan untuk keluarganya.
Mengerti situasi, sedikit segan, sang tetangga balik bertanya "..lha sampeyan bagaimana nanti?.."
"..Tidak usah dipikir, biar Gusti Allah yang mikirin saya..",
tandas Sikem bernas. Ia memenuhi pesan Tuhan untuk mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai diri sendiri.
Kekuatan
hati semacam itu telah membuat Sikem bertahan, bahkan ketika ia hampir
saja runtuh menghadapi kepergian Misno-nya tercinta. Hanya untuk
kemudian ia bangkit bersama wasiat Misno untuk terus berjualan demi
tetangganya. Sendirian ia susuri kembali jalan-jalan panas yang dulu
dilaluinya berdua seakan Misno tak pernah pergi dari sampingnya.
Enam
tahun kemudian, Sikem pulang untuk berkumpul kembali dengan Misno-nya
tercinta. Tak ada lagi Mbah Rinjing, tapi apa yang dilakukannya tetap
ada dan dikenang mereka yang tersentuh karenanya. Istri saya pun hampir
menangis membaca cerita pengantar tidur ini. Dalam dunia yang berbeda,
kemenangan bersejarah Wigan atas United juga suatu saat bisa jadi tak
lagi berarti banyak menghadapi kerasnya persaingan. Namun sikap dan
cara mereka berjuang akan lekang bagi penduduk kota kecil mereka.
Misno, Sikem, Roberto Martinez dan para pemain Wigan menemukan hal yang
sama....
KEKUATAN KEINGINAN, ADALAH PINTU HARAPAN UNTUK BERTAHAN...
#NOWPLAYING : HIDUP ADALAH PERJUANGAN/DEWA
Thursday, February 2, 2012
Moneyball, Ketika Hidup Tak Sekedar Memenangkan Persaingan
Pada tahun 2002, seorang General Manajer sebuah institusi
dari kota kecil ‘terpaksa’ kehilangan tiga orang 'petugas' terbaiknya karena
tawaran yang lebih menggiurkan dari para kompetitor dari kota-kota
metropolitan. Tak terelakkan memang jika melihat bujet institusinya yang
hanya seperempatnya. Sebuah tantangan pelik karena besarnya tuntutan
publik akan perbaikan kinerja institusinya yang menjadi simbol kebanggaan
lokal.
Dalam kegalauannya, entah di kantor atau di rumah, tak
jarang ia diam. Pencarian solusinya terkadang berakhir pada cuplik-cuplik
rekaman jalan hidup yang telah ia pilih sendiri sejak usia 18 tahun itu.
Cuplik itu ‘menawarkan’ penyesalan akan kegagalan berkelanjutan ketimbang
keberhasilan. Potensi yang dimilikinya dan membuatnya mengesampingkan
pilihan studi di Universitas ternama, ternyata tak berbuah manis. Belum
lagi kegagalan rumah tangga yang akhirnya membatasi interaksinya dengan sang
putri.
Masa muda pria itu, Billy Beane, adalah sebuah contoh
afirmasi bahwa potensi pada akhirnya memang sebuah konsep samar-samar. Sebagian
menyadarinya. Sebagian tidak. Bahwa potensi akan tergerus bersama waktu, entah
berkembang atau menghilang. Bahwa bisa menjadi anugerah, beban, atau
keduanya.
Digadang-gadang sebagai anak muda dengan potensi besar
sebagai salah satu pemain baseball paling komplit di generasinya, rupanya
tekanan besar tak sanggup ia tanggung dan akhirnya Beane hanya tumbuh sebagai
pemain medioker. Beruntung bahwa ia bukanlah seorang yang pantang
menyerah. Sadar bahwa ia tak lagi mampu berkompetisi, ia meniti jenjang
karir baru di bidang yang sama. Ia terlanjur jatuh cinta pada
baseball. Dan akhirnya setelah beberapa tahun, jadilah ia General Manajer
A’s, sebuah klub baseball berbujet kecil, namun juga salah satu institusi
kebanggaan Oakland.
Setelah serangkaian kegagalan, tahun 2002 itu ia bertemu
dengan seorang pria bernama Bill James. Pria tambun berkacamata itu
tak memiliki latar belakang sebagai pemain baseball. Ia ‘hanyalah’
seorang sarjana ekonomi yang memiliki teori luar biasa unik tentang model
statistik dan baseball (kala itu). Keunikan cara pandang Bill James-lah
akhirnya membuat Beane yakin bahwa ia telah menemukan cara untuk memperpendek
jurang kesenjangan antara tim kecil semacam A’s dengan tim raksasa semacam
Yankees dan Red Sox.
Berdua, mereka meninggalkan patron tradisional.
Dicerabutnya segala romantisme tentang seleksi pemain berdasarkan pada
kecepatan kaki atau otot besar, untuk secara sederhana berpulang menilik
mekanika dasar tubuh seseorang. Sesuatu yang beruntungnya dalam dunia
baseball tercatat lengkap dalam statistik setiap pemain. Sebuah paradigma
yang lantas dikenal sebagai Moneyball.
Moneyball terdengar sederhana, tetapi pada saat itu
memberikan tim Beane suatu jenis keuntungan yang selalu dicari pebisnis,
efisiensi biaya. Sementara klub lain mengincar pemain glamour, mereka
justru mencari pemain gendut, pemain tua atau pemain cedera – tipe-tipe pemain
berharga murah namun masih bisa melakukan fungsi yang konon terpenting penting
dalam Baseball, yakni mencapai base pertama. Taktik ini mentransformasi
A’s dari sebuah tim papan bawah hingga menjadi kuda hitam liga. Hingga
pada suatu waktu, John W Henry, pemilik Boston Red Sox tertarik dan menyodorkan
kontrak GM terbesar kepadanya.
Kelanjutan ceritanya sudah jelas dan lengkap
terpublikasi. Red Sox meraih dua gelar World Series semenjak 2003 dan
Billy Beane masih saja berkutat dengan obsesinya untuk memenangkan pertandingan
terakhir musim.
Kesuksesan Oakland A’s di musim 2002 membuktikan bahwa sains
bisa menjadi jalan alternatif bagi institusi yang tak memiliki anggaran untuk
membeli nama besar. Dan implikasi metode Moneyball bukan hanya terasa di
dunia baseball.
John W Henry, sang pemilik Red Sox, semenjak perhatiannya
beralih ke sepak bola Inggris, mencoba meletakkan basis perekrutan pemain
Liverpool pada teknik yang sama. Downing, Henderson dan Adam, adalah 3
dari 12 gelandang dengan statistik tertinggi di Liga Primer. Sementara
Gareth Bale dan Luka Modric adalah beberapa transfer yang terjadi di era Damien
Comolli, direktur olahraga Spurs waktu itu, yang bersahabat dan masih sepaham
dengannya tentang analisis sibermetrik semacam moneyball.
Menilik lebih jauh, Arsene Wenger, the Professor, tidak
mengejutkan, adalah salah satu manajer yang paling awal dan sering
mengintegrasikan informasi statistik kedalam strateginya. Pada awal
2000-an ia seringkali mengganti Dennis Bergkamp di atas menit ke-70 karena ia
percaya data statistik yang memperlihatkan tren penurunan kecepatan sprint sang
striker legendaris itu pada seperempat akhir pertandingan.
"Jika saya tahu bahwa seorang pemain rata-rata
membutuhkan waktu 3,2 detik untuk menerima bola dan lalu mengumpankannya, lalu
secara tiba-tiba waktunya bertambah hingga 4.5 detik, maka saya bisa mengatakan
padanya, 'Dengar, Anda terlalu banyak memegang bola'. " (Arsene Wenger)
Namun rasanya tak seorang pun di sepak bola Inggris
keranjingan dan meletakkan prioritas tertinggi akan penggunaan teknologi dan
informasi ilmiah seperti Sam Allardyce (kini melatih West Ham). Tahun
2001 ia secara langsung menemui Billy Beane dan dibawanya pelajaran dari
Amerika itu kedalam delapan tahun era kepelatihannya di Stadion Reebok.
Allardyce lantas membawa tim medioker itu menempati
peringkat keenam, kedelapan dan dan ketujuh di Liga Premier. Mereka juga
mencapai Final Piala Carling dan berlaga di Eropa. Dan ia melakukannya
dengan merekrut veteran. Youri Djorkaeff, Ivan Campo, Fernando Hierro, dan
Jay-Jay Okocha, adalah contoh pemain-pemainnya yang dinilai rendah oleh pasar,
namun secara statistik memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan tentu saja berada
dalam bujet Bolton kala itu. Persis seperti apa yang dilakukan Beane di
Oakland A’s.
Tapi dengan semua kemiripan aplikasi tersebut, apakah
statistik dalam sepakbola telah mampu memberikan dasar utama sebagaimana apa
yang bisa disajikan data pemain bisbol?
Jawaban singkat terhadap pertanyaan di bagian atas
pembicaraan ini adalah, Tidak..
Tidak sekarang.....
Pertama karena baseball adalah mimpi statistik.
Jumlah data untuk setiap pemain terekam begitu banyak, lengkap dan
rapi tersusun. Seorang General Manager klub Baseball seperti Beane,
asisten atau para scout-nya bisa melihat juara potensial dari data yang
diposting pemain sejak bermain di perguruan tinggi atau liga bisbol yang lebih
rendah.
Dia tidak perlu melakukannya dengan pergi menonton mereka,
seperti yang terjadi di masa lalu, namun dengan sekedar menghitung rasio
langkah hingga data strikeout, atau angka-angka yang seringkali terpendam,
kedalam model-model kalkulasi potensi.
Kedua, dibanding baseball, sepakbola adalah olahraga yang
lebih rancu untuk dianalisis, walaupun tidak berarti hal tersebut tidak mungkin
dilakukan.
Di Liga Premier misalnya, pengenalan perangkat lunak pelacak
pemain seperti Opta dan Prozone, terdengar seperti lonceng kematian untuk
pemain Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne, yang secara statistik dapat
diketahui bahwa keterampilan olah bolanya tidak diimbangi dengan etos kerja
mereka.
Sekarang, tersembunyi dalam setiap pertandingan, deretan
kamera milik Prozone atau Opta yang disewa setiap klub melacak setiap unsur
gerakan pemain, jarak yang ditempuh, bertenaga tinggi berjalan dan posisi
defensif. Jarak tempuh keseluruhan pemain tidak lagi menjadi statistik
kunci untuk orang-orang yang mencoba menemukan beberapa persen tambahan peluang
antara menang dan menjadi yang kedua. Melihat data-data tersebut, anda
mungkin akan terkejut tentang siapa-siapa saja pemain yang berstatistik tinggi
dan sebaliknya kemahalan di liga primer inggris. Saya mencari data serupa
terkait pemain indonesia, namun rupanya tak ada yang ditemukan tertera di mesin
pencari...
Baseball adalah permainan yang bagi saya tidak memiliki
variasi perubahan strategi sebanyak sepakbola dan karenanya lebih mudah
menetapkan cara untuk mencapai tujuan. Pukul sejauh-jauhnya, atau Lempar
secepat dan sesulit mungkin. Itu saja rasanya. Statistik
sepakbola mungkin saja akan menjadi sangat efektif ketika suatu saat nanti,
model analisis permainan telah mencapai level real time analisis dan bukannya
pre/post match. Ketika seorang asisten pelatih bisa membuka pc-tablet nya
dan langsung melihat perubahan data pemain di bangku cadangan dari menit ke
menit saat pertandingan dimainkan.
Dan lagi, tidak seperti baseball yang relatif ‘olahraga
lokal’ amerika, sepakbola adalah permainan paling digemari di seluruh
dunia. Ia melintasi batas geografis yang karenanya lantas menciptakan
perbedaan budaya, karakter individu pemain, dan tentu saja kemampuannya
beradaptasi dengan gaya permainan di negara lain. Ada batas-batas budaya
yang bisa jadi mereduksi beberapa statistik menonjol seorang pemain impor.
Dukungan pengetahuan psikologis, insting talenta atau
pelajaran pengalaman menghadapi situasi-situasi kritis yang tak semuanya
terdokumentasi dalam angka akan menjadi luar biasa ketika disandingkan dengan
statistik dan sains terapan.
Beane dan moneyball-nya, dalam aspek kompetitif mungkin saja
telah kehilangan keuntungannya sebagai pioneer. Seperti halnya klub-klub
sepakbola kecil yang harus bersaing dengan besarnya dana klub besar yang kini
juga dialokasikan untuk pengembangan statistik pemain. Dalam
kacamata kemenangan di lapangan, Beane memang masih saja gagal mencapai gelar
tertentu. Tapi rasanya ia adalah salah satu stereotip persona sebagaimana
kriteria quote ini...
“Innovation distinguishes between a leader and a
follower.” (Steve Jobs)
Dan terlepas dari keputusannya terhadap tawaran Red Sox, ia
telah membuatnya memenangkan perjuangan lain. Sebuah romantisme seorang
bapak terhadap kerinduan akan suara indah sang putri...
After all, Life isn’t always about winning
competition, right....??
*****
|
|
|
|
Billy Beane, suatu ketika pemuda yang ambisius,
kini ayah
yang memilih anaknya atas uang dan pencapaian pribadi
|
gambar diambil dari wikipedia.com
Wednesday, February 1, 2012
Syi'ir Abdurrahman Wahid
Astaghfirullooh robbal barooya...
astaghfirullooh minal
hothooya..
Robbi zidni ilman naafi’a...
wawaafiqnii amalan
shooliha...
Ya rosuulallooh salaamun alaik...
ya rofi’i a
syayaa ni waddaroji...
Athfata yaaji rotalaalami...
ya uhailaljuudi wal karomi…
Ngawiti ingsun nglaras syi'iran
Kelawan
muji maring pengeran
Kang
paring rohmat lan kanikmatan
Rino
wengine tanpo pitungan
Mulai saya membuat syairanDengan memuji kepada AllohYang memberi rakhmat dan kenikmatanSiang malam tanpa perhitungan
Duh
bolo konco priyo wanito
Ojo
mung ngaji syariat bloko
Gur
pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe
mburine bakal sangsoro
Duh para teman pria dan wanitajangan hanya mengaji syariat sajaCuma pandai bercerita ,nulis dan bacaNanti belakangan akan sengsara
Akeh
kang apal Quran Hadise
Seneng
ngafirke marang liyane
Kafire
dewe dak digatekke
Yen
isih kotor ati akale
Banyak yang hafal Quran dan hadistsenang meng-kafirkan pada lainnyaKafirnya sendiri nggak diperhatikanJika masih kotor hati akalnya
Gampang
kabujuk nafsu angkoro
Ing
pepahese gebyareng dunyo
Iri
lan meri sugihe tonggo
Mulo
atine peteng lan nisto
Mudah terbujuk nafsu angkarapada gemerlapnya duniaIri dan dengki pada harta tetanggamaka hatinya gelap dan nista
Ayuh
sedulur jo nglaleake
Wajibe
ngaji sa’pranatane
nggo
ngandelake iman tauhide
Baguse
sangu mulyo matine
Ayo saudaraku jangan melupakanwajibnya ngaji dan pranatanyaagar tebal iman dan tauhidnyauntuk bekal mati yang mulia
Kang
aran sholeh bagus atine
Kerono
mapan sari ngelmune
Laku
torikot lan ma’rifate
Ugo
hakikot manjing rasane
Yang namanya sholeh bagus hatinyaKarena mantap sari pati ilmunyaMelakukan thoriqoh dan makrifatjuga hakikat yang merasuk rasanya
Al
Quran qodim wahyu minulyo
Tanpo
tinulis iso diwoco
Iku
wejangan guru waskito
Den
tanjebake ing jero dodo
Alquran qodim wahyu yang muliatanpa tertulis bisa dibacaItulah pelajaran guru waskitaYang ditancapkan di dalam dada
Kumantil
ati lan pikiran
Ngrasuk
ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat
rosul dadi pedoman
Minongko
dalan manjinge iman
Terbawa ke dalam hati dan pikiranMerasuk ke badan dan seisinyaMukjizak rosul jadi pedomanSebagai jalan masuknya iman
Kelawan
Alloh kang moho suci
Kudu
rangkulan rino lan wengi
Ditirakati
diriyadlohi
Dzikir
lan suluk jog nganti lali
Menuju Alloh yang Maha SuciHarus mendekat pagi dan malamMelalui tirakat dan perjuanganDzikir dan suluk jangan sampai lupa
Uripe
ayem rumongso aman
Dununge
roso tondo yen iman
Sabar
narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran
Hidupnya tentram merasa amanDatangnya ilham tanda bila imanSabar menerima walau pas pasanSemua takdir dari Tuhan
Kelawan
konco dulur lan tonggo
Podo
rukuno ojo ngesiyo
Iku
sunnahe rosul kang mulyo
Nabi
Muhammad panutan kito
Terhadap teman saudara dan tetanggaJagalah kerukunan dan jangan menyia-nyiakanItu sunnah rasul yang muliaNabi muhammad panutan kita
Ayuh
ngelakoni sekabehane
Alloh
kang bakal ngangkat drajate
Senadjan
asor toto dzohire
Ananging
mulyo makom drajat
Ayo lakukan semuanyaAlloh yang akan angkat derajatnyaWalaupun terlihat rendah hidup dhohirnyanamun mulia maqom derajatnya
Lamon
palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese
Bila sampai di akhirnya kehidupan
Takkan tersesat ruh dan sukmanya
Di terima Alloh surga tempatnya
Utuh mayitnya juga kafannya
***
Tuesday, October 4, 2011
THE PROPOSAL (1)
Baik dan buruk. Kadang, repetisi pengalaman buruk masa lalu yang
masif itu mengendap menjadi memori, untuk tanpa sadar kita menyusun
definisi. Laki-laki itu begini. Perempuan itu begitu. Kita semua
memilikinya. Tak hanya kamu. Tak hanya aku. Dan karenanya sungguh tak
pantas aku menggugat apapun tentangnya, siapapun karenanya...
Lihat bahwa aku menemuimu dalam diriku yang kau lihat sekarang. Kamu ingat bukan, sejak awal pun, aku tidak banyak menjanjikan untuk membelikanmu pakaian setiap bulan, karena itu akan terasa berat bagiku. Pun mengajakmu memuaskan hasrat mencicipi ragam rasa penganan, tak akan mungkin terjadi setiap hari. Belum lagi rumah indah. Setidaknya sekarang, entah nanti....
Lebih buruk lagi dari soal materi, aku juga dingin (mungkin), Not too good looking? jelas. Posesif? Mungkin aku memang sudah terlalu banyak kehilangan...
"...Lalu apa hak-ku menilai diri lebih baik darimu?.."
Pertanyaan itu yang terus terngiang di kepalaku pada pagi setelah malam panjang kita itu. Pagi itu menyesal. Menyesal bahwa aku harus menunggu sampai pagi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu dan segala tentangmu adalah sama.
Tak ada yang berhak menilai dirinya lebih baik, tidak aku, tidak kamu, tidak siapapun di dunia. Dan karena itu pula aku meyakinkan diri untuk menyodorkan proposal ini.
Aku sudah mengenal perempuan yang (dianggap) sempurna, pun dia yang menafikan semua definisi kesempurnaan. Denganmu, aku merasa, aku percaya bisa kita saling memberi untuk membuat masing-masing dari kita lebih baik...
Pada akhirnya memenuhi kriteria pria sempurna, a prince charming, jelas tidak akan ada dalam proposal ini. Menjadi lebih bersih diri dan wangi? itu aku bisa. Menguras keringatku untuk mencoba menafkahimu dan anak-anak kita? itu pun tak usah kau ragu. Mengurangi dengkur di tidurku? akan kucoba. Menjadi tak terlalu posesif? yakinlah bahwa, kita selalu bisa bersama menetapkan batas-batasnya...
Menjadi lelaki yang lebih baik, lelaki yang berbeda dari semua lelaki yang kau kenal sebelumnya, itu saja yang aku bisa janjikan....
"...Selain tentunya menjadi lucu, hangat dan mempesona seperti biasanya..."
With all my kind and my bad, this is who i am,
equal, as i accept you for what you are...
And the sole purpose of this proposal is you..
as a friend, as a lover, as the mother of our childs...
So, Would you put your trust on me...?
Lihat bahwa aku menemuimu dalam diriku yang kau lihat sekarang. Kamu ingat bukan, sejak awal pun, aku tidak banyak menjanjikan untuk membelikanmu pakaian setiap bulan, karena itu akan terasa berat bagiku. Pun mengajakmu memuaskan hasrat mencicipi ragam rasa penganan, tak akan mungkin terjadi setiap hari. Belum lagi rumah indah. Setidaknya sekarang, entah nanti....
Lebih buruk lagi dari soal materi, aku juga dingin (mungkin), Not too good looking? jelas. Posesif? Mungkin aku memang sudah terlalu banyak kehilangan...
"...Lalu apa hak-ku menilai diri lebih baik darimu?.."
Pertanyaan itu yang terus terngiang di kepalaku pada pagi setelah malam panjang kita itu. Pagi itu menyesal. Menyesal bahwa aku harus menunggu sampai pagi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu dan segala tentangmu adalah sama.
Tak ada yang berhak menilai dirinya lebih baik, tidak aku, tidak kamu, tidak siapapun di dunia. Dan karena itu pula aku meyakinkan diri untuk menyodorkan proposal ini.
Aku sudah mengenal perempuan yang (dianggap) sempurna, pun dia yang menafikan semua definisi kesempurnaan. Denganmu, aku merasa, aku percaya bisa kita saling memberi untuk membuat masing-masing dari kita lebih baik...
Pada akhirnya memenuhi kriteria pria sempurna, a prince charming, jelas tidak akan ada dalam proposal ini. Menjadi lebih bersih diri dan wangi? itu aku bisa. Menguras keringatku untuk mencoba menafkahimu dan anak-anak kita? itu pun tak usah kau ragu. Mengurangi dengkur di tidurku? akan kucoba. Menjadi tak terlalu posesif? yakinlah bahwa, kita selalu bisa bersama menetapkan batas-batasnya...
Menjadi lelaki yang lebih baik, lelaki yang berbeda dari semua lelaki yang kau kenal sebelumnya, itu saja yang aku bisa janjikan....
"...Selain tentunya menjadi lucu, hangat dan mempesona seperti biasanya..."
With all my kind and my bad, this is who i am,
equal, as i accept you for what you are...
And the sole purpose of this proposal is you..
as a friend, as a lover, as the mother of our childs...
So, Would you put your trust on me...?
Wednesday, August 17, 2011
Paskibra
Sejak saya kecil ibu selalu senang mengajak saya menonton upacara pengibaran bendera pusaka di Istana Negara setiap tanggal 17 Agustus. Sepertinya, para anak muda hebat itulah salah satu stereotip ganteng dan membanggakan versi ibu. Karenanya ibu pernah cerita ingin sekali melihat anaknya jadi pengibar bendera seperti di tipi. Sayang, kombinasi antara faktor ketinggian tubuh dan keberuntungan akhirnya menunda mimpi ibu itu. Sampai akhirnya 17 Agustus 2011, penantian itu berakhir...
Ibu, saya jadi paskibra, versi lokal memang, tapi yang penting paskibra bukan...?!
Dan oh ya, uang lelah paskibra lokal itu 20.000 perak dan emblem garudanya ternyata dibalikin... siall...
Ibu, saya jadi paskibra, versi lokal memang, tapi yang penting paskibra bukan...?!
Dan oh ya, uang lelah paskibra lokal itu 20.000 perak dan emblem garudanya ternyata dibalikin... siall...
Friday, August 5, 2011
Matematika Tuhan
Ramadhan tahun lalu saya kehilangan benda senilai 14 juta rupiah, lalu sebulan setelahnya Tuhan 'menggantinya' dengan pendapatan 1,6 juta per bulan selama setahun dan insyaallaah nilai 2,2 juta per bulan, dengan angka pertumbuhan 10% per tahun hingga 25 tahun ke depan...
14.000.000 = (1.600.000 x 12 ) + (2.200.000 + (0,1 x 2.200.000) ^25 x 12 )) + ( n x 12 x 25)
Matematika Tuhan memang luar biasa, datang dari rumus yang tak disangka-sangka...
Dan hari ini saya belajar satu rumus matematika lagi, dari ustad pengajian tadi pagi....
Uakeh tenan yoo, nggarai kudu ngaji maneh...!!! :D
Tapi kata pak ustad, yang lebih baik lagi jangan dipikirin rumusnya, Tuhan aja ga pake itungan kalo ngasi napas .. :D
14.000.000 = (1.600.000 x 12 ) + (2.200.000 + (0,1 x 2.200.000) ^25 x 12 )) + ( n x 12 x 25)
Matematika Tuhan memang luar biasa, datang dari rumus yang tak disangka-sangka...
Dan hari ini saya belajar satu rumus matematika lagi, dari ustad pengajian tadi pagi....
1 jam mendengarkan tausiyah = 1000 rakaat shalat sunnah
1 rakaat shalat sunnah di bulan ramadhan = 700 kali lipat shalat sunnah di bulan lain
1 rakaat shalat sunnah = 3 menit
1 jam mendengarkan tausiyah di bulan ramadhan = 1000 x 700 = 700.000 rakaat
dan atau....
ibadah 60 menit = ibadah 2.100.000 menit
Uakeh tenan yoo, nggarai kudu ngaji maneh...!!! :D
Tapi kata pak ustad, yang lebih baik lagi jangan dipikirin rumusnya, Tuhan aja ga pake itungan kalo ngasi napas .. :D
Wednesday, August 3, 2011
Soeparso - Zainuddin
Terletak di tengah perumahan kecil tersebut, jelas bahwa Masjid Soeparso-Zainuddin diposisikan sebagai sentral kehidupan lingkungan di Perumahan Puri Kendedes. Nuansa warna coklat kental terasa ketika menelusuri lekuk-lekuk Masjid ini, lantai kayu, kayu pembatas ruang pria dan wanita, serta dinding ruang imam. Elemen kayu tersebut selain bermakna estetis juga memberikan efek hangat dan nyaman di malam hari. Dipadu dengan pualam hitam yang menghiasi pilar dan lampu-lampu futuris yang memendarkan warna putih, maka jadilah Masjid kecil ini yang terbaik sejauh yang pernah saya singgahi di Kota Malang.
Sayang, letak masjid ini mungkin memang terlalu eksklusif bagi orang luar perumahan, sehingga tarawih pertama semalam pun cuma terisi empat shaf. Atau mungkin seperti kata orang bijak, Masjid adalah Rumah Tuhan, dan seperti halnya setiap rumah, hanya Sang pemilik lah yang berhak menentukan siapa yang boleh bertamu dan siapa yang tak tidak. Subhanallaah, semoga kita termasuk yang selalu tergerak bertamu ke rumah-Nya...
Sayang, letak masjid ini mungkin memang terlalu eksklusif bagi orang luar perumahan, sehingga tarawih pertama semalam pun cuma terisi empat shaf. Atau mungkin seperti kata orang bijak, Masjid adalah Rumah Tuhan, dan seperti halnya setiap rumah, hanya Sang pemilik lah yang berhak menentukan siapa yang boleh bertamu dan siapa yang tak tidak. Subhanallaah, semoga kita termasuk yang selalu tergerak bertamu ke rumah-Nya...
Saturday, July 16, 2011
Sya'ban, 15
Malam-malam istimewa seperti malam jum'at, malam hari raya, malam awal bulan rajab dan lainnya rasanya selain penuh hikmah, juga mengandung tantangan. Apakah kita mengikuti alur perbaikan diri progresif atau sporadis layaknya cinta satu malam. Selamat datang nisfu sya'ban, semoga terhapus kebencian serta tersambung persaudaraan....
Friday, July 15, 2011
Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan Itu
***
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur,
namun aku mencatatmu,
untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
***
Taufiq Ismail
Sajak Ladang Jagung
.1973.
Sunday, June 12, 2011
Siami, Kita dan Nurani
Beberapa hari lalu saya menuliskan sebuah status di fesbuk, "..memaafkan, mengakui kesalahan, mengiyakan, berkata tidak, memulai perubahan, dan menjaga lisan. Banyak hal yang sebenarnya mudah diwujudkan, tapi kita memperumitnya dengan beragam alasan...".
Saya menuliskannya setelah mengalami satu hari atau katakanlah serangkaian peristiwa di kantor yang membuat saya tidak habis pikir dengan 'keengganan' kita untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang walaupun tidak sepele, tapi secara kasat mata kita tahu jalan keluarnya.
Saya lalu menuduh alasan sebagai biang keladi yang memperumit penyelesaian permasalahan. Persis seperti pepatah jawa, "..sak ombo-ombone segoro, sik luwih ombo alesan.." (red: seluas luasnya lautan, masih lebih luas alasan). Sembari terdiam, saya lalu berusaha mencari pembenaran bahwa dengan sekedar tidak ikut campur itu cukup.
Sehari setelahnya saya jadi teringat tentang sesuatu yang ada dibalik banyak alasan. Freud mendefinisikannya sebagai "...Such mechanisms put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may re-emerge...". Kita biasa menyebutnya mekanisme pertahanan diri. Mekanisme yang karena kekhawatiran akan beban kesalahan lalu atau keraguan pada masa depan, seringkali membuat kita menyerahkan kekuasaan diri pada ego pribadi, ketika seharusnya kita berhenti 'menolak' kesalahan yang sudah terjadi. Sesuatu yang terlintas ketika membaca sebuah berita tentang mahalnya kejujuran di negeri ini.
Cuplikan satu paragraf berita itu saya tuliskan disini...
Sekilas membaca berita itu dan banyak dari kita akan berpikir bahwa Nyonya Siami, sang penjahit, istri seorang buruh pasti telah melakukan sebuah kesalahan diluar hati nurani sehingga tuntutan hukuman moral berat dari warga harus diterimanya. Tapi ia bukanlah pezina, pencuri atau penipu.
Nyonya Siami dianggap 'berdosa' karena ia adalah individu, minoritas yang bersuara tentang sebuah ketidakadilan, ketidakjujuran yang telah terlebur dalam kehidupan sosial mayoritas disekitarnya sebagai sebuah hal yang wajar. Ia hanya ingin menolak pendidikan yang dimenangkan dengan contekan. Sama remehnya dengan antrian, urusan salip-salipan motor di jalan, dan buang plastik es teh di taman bukan?
Dan saya serasa tertampar...
Mengingat-ingat sejarah contek-contekan dalam masa sekolah saya dulu, saya mungkin adalah salah satu orang yang tidak layak dan naif jika menuliskan 'pembelaan' bagi sang minoritas. Maka saya menuliskan ini tanpa bermaksud memposisikan Nyonya Siami sebagai sosok sempurna hanya dengan kegigihannya tentang perkara remeh bernama contekan itu, lalu menganggap masyarakat tak punya nurani. Saya yakin kita semua masih punya itu. Hal-hal yang membuat hati kita sebenarnya bergetar dan mengakui bahwa sesuatu yang bathil itu memang bathil, dan yang haq itu memang haq.
Tuhan melahirkan manusia dalam fitrah yang sama. Tapi manusia adalah makhluk yang akhirnya ditentukan oleh segumpal daging didalam tubuhnya. Segumpal daging yang diberi makan lewat pengalaman hidup. Makanan itulah yang kemudian membuat kita berbeda dalam kebiasaan. Lalu hadirlah sejumlah tindakan yang berlawanan. Seperti ketika sebagian dari kita menganggap contekan itu adalah cara yang tepat untuk menghadapi kebijakan cacat bernama Ujian Nasional. Sementara sebagian lagi menganggap hal-hal sekecil perkara antrian adalah kunci mengembalikan karakter bangsa.
Bangsa ini memang tidak dibangun dengan Bushido. Tapi karakter bangsa ini juga seharusnya tinggi. Mana mungkin membuang sampah sembarangan adalah warisan leluhur kita? Mana mungkin berpangku tangan melihat orang kesusahan adalah ciri Indonesia? Mana mungkin kejujuran bukan bagian dari kehidupan di nusantara? Mana mungkin mencari jalan pintas menjadi identitas?
Nyonya Siami dan potret situasi di Balai RW Gadel adalah gambaran bagaimana individu-indivudu dalam masyarakat beradaptasi terhadap situasi mati surinya perangkat hukum yang seharusnya menjadi jawaban akan carut marut korupsi, inefisiensi pemerintahan dan lunturnya kepribadian.
Masyarakat melegitimasi contekan sebagai jalan keluar tekanan harus lulus ujian yang formatnya terus dipertanyakan. Masyarakat pun tak berhenti membeli kendaraan pribadi sebagai cara mereka beradaptasi terhadap sistem transportasi yang macet lagii.. macet lagi. Mereka harus bertahan menghadapi kehidupan dan akan secara beragam memberikan perlawanan ketika kesepakatan cara bertahan oleh mayoritas itu diusik oleh cara pertahanan diri yang berbeda seperti Nyonya Siami.
"..Wong (ing) kang sholeh kumpulono..", lihatlah betapa indahnya salah satu bait Tombo Ati tentang apa yang sebenarnya harus diwarisi bangsa ini. Bahwa kita adalah bangsa yang mengakui pentingnya sosok-sosok yang bisa di-gugu dan di-tiru disaat kita dihadapkan pada situasi seperti ini. Tapi dimanakah beliau-beliau yang kita rindu itu?
Entahlah, rasanya mereka masih ada, tapi kita yang mungkin telah terlalu lama tenggelam ditelan kebijakan pencitraan, sinetron dan kubangan informasi yang tak bermutu.
Ketika kita tak menemukan guru sebagai pegangan. Ketika kita lalu berusaha mencari jawaban sendiri dan akhirnya menemukan pembenaran untuk mempertahankan diri. Walau kita tahu kita tergetar, ketika pembelaan diri itu dikembalikan pada jawaban nurani....
Saya menuliskannya setelah mengalami satu hari atau katakanlah serangkaian peristiwa di kantor yang membuat saya tidak habis pikir dengan 'keengganan' kita untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang walaupun tidak sepele, tapi secara kasat mata kita tahu jalan keluarnya.
Saya lalu menuduh alasan sebagai biang keladi yang memperumit penyelesaian permasalahan. Persis seperti pepatah jawa, "..sak ombo-ombone segoro, sik luwih ombo alesan.." (red: seluas luasnya lautan, masih lebih luas alasan). Sembari terdiam, saya lalu berusaha mencari pembenaran bahwa dengan sekedar tidak ikut campur itu cukup.
Sehari setelahnya saya jadi teringat tentang sesuatu yang ada dibalik banyak alasan. Freud mendefinisikannya sebagai "...Such mechanisms put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may re-emerge...". Kita biasa menyebutnya mekanisme pertahanan diri. Mekanisme yang karena kekhawatiran akan beban kesalahan lalu atau keraguan pada masa depan, seringkali membuat kita menyerahkan kekuasaan diri pada ego pribadi, ketika seharusnya kita berhenti 'menolak' kesalahan yang sudah terjadi. Sesuatu yang terlintas ketika membaca sebuah berita tentang mahalnya kejujuran di negeri ini.
Cuplikan satu paragraf berita itu saya tuliskan disini...
"...Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. (surya.co.id)..."
Sekilas membaca berita itu dan banyak dari kita akan berpikir bahwa Nyonya Siami, sang penjahit, istri seorang buruh pasti telah melakukan sebuah kesalahan diluar hati nurani sehingga tuntutan hukuman moral berat dari warga harus diterimanya. Tapi ia bukanlah pezina, pencuri atau penipu.
Nyonya Siami dianggap 'berdosa' karena ia adalah individu, minoritas yang bersuara tentang sebuah ketidakadilan, ketidakjujuran yang telah terlebur dalam kehidupan sosial mayoritas disekitarnya sebagai sebuah hal yang wajar. Ia hanya ingin menolak pendidikan yang dimenangkan dengan contekan. Sama remehnya dengan antrian, urusan salip-salipan motor di jalan, dan buang plastik es teh di taman bukan?
Dan saya serasa tertampar...
Mengingat-ingat sejarah contek-contekan dalam masa sekolah saya dulu, saya mungkin adalah salah satu orang yang tidak layak dan naif jika menuliskan 'pembelaan' bagi sang minoritas. Maka saya menuliskan ini tanpa bermaksud memposisikan Nyonya Siami sebagai sosok sempurna hanya dengan kegigihannya tentang perkara remeh bernama contekan itu, lalu menganggap masyarakat tak punya nurani. Saya yakin kita semua masih punya itu. Hal-hal yang membuat hati kita sebenarnya bergetar dan mengakui bahwa sesuatu yang bathil itu memang bathil, dan yang haq itu memang haq.
Tuhan melahirkan manusia dalam fitrah yang sama. Tapi manusia adalah makhluk yang akhirnya ditentukan oleh segumpal daging didalam tubuhnya. Segumpal daging yang diberi makan lewat pengalaman hidup. Makanan itulah yang kemudian membuat kita berbeda dalam kebiasaan. Lalu hadirlah sejumlah tindakan yang berlawanan. Seperti ketika sebagian dari kita menganggap contekan itu adalah cara yang tepat untuk menghadapi kebijakan cacat bernama Ujian Nasional. Sementara sebagian lagi menganggap hal-hal sekecil perkara antrian adalah kunci mengembalikan karakter bangsa.
Bangsa ini memang tidak dibangun dengan Bushido. Tapi karakter bangsa ini juga seharusnya tinggi. Mana mungkin membuang sampah sembarangan adalah warisan leluhur kita? Mana mungkin berpangku tangan melihat orang kesusahan adalah ciri Indonesia? Mana mungkin kejujuran bukan bagian dari kehidupan di nusantara? Mana mungkin mencari jalan pintas menjadi identitas?
Nyonya Siami dan potret situasi di Balai RW Gadel adalah gambaran bagaimana individu-indivudu dalam masyarakat beradaptasi terhadap situasi mati surinya perangkat hukum yang seharusnya menjadi jawaban akan carut marut korupsi, inefisiensi pemerintahan dan lunturnya kepribadian.
Masyarakat melegitimasi contekan sebagai jalan keluar tekanan harus lulus ujian yang formatnya terus dipertanyakan. Masyarakat pun tak berhenti membeli kendaraan pribadi sebagai cara mereka beradaptasi terhadap sistem transportasi yang macet lagii.. macet lagi. Mereka harus bertahan menghadapi kehidupan dan akan secara beragam memberikan perlawanan ketika kesepakatan cara bertahan oleh mayoritas itu diusik oleh cara pertahanan diri yang berbeda seperti Nyonya Siami.
"..Wong (ing) kang sholeh kumpulono..", lihatlah betapa indahnya salah satu bait Tombo Ati tentang apa yang sebenarnya harus diwarisi bangsa ini. Bahwa kita adalah bangsa yang mengakui pentingnya sosok-sosok yang bisa di-gugu dan di-tiru disaat kita dihadapkan pada situasi seperti ini. Tapi dimanakah beliau-beliau yang kita rindu itu?
Entahlah, rasanya mereka masih ada, tapi kita yang mungkin telah terlalu lama tenggelam ditelan kebijakan pencitraan, sinetron dan kubangan informasi yang tak bermutu.
Ketika kita tak menemukan guru sebagai pegangan. Ketika kita lalu berusaha mencari jawaban sendiri dan akhirnya menemukan pembenaran untuk mempertahankan diri. Walau kita tahu kita tergetar, ketika pembelaan diri itu dikembalikan pada jawaban nurani....
Friday, June 3, 2011
Mudik, as Always
Pagi ini saya mendapat berita duka tentang ibunda seorang teman. Teman yang buat saya istimewa. Dalam setahunan kedekatan persahabatan kami, tak sekalipun rasanya saya melihat dia kesulitan mengeluarkan senyum. Bahkan dalam situasi terjepit keperluan pribadi pun ia selalu terlihat ceria dan sulit menolak permintaan tolong dari kawannya, termasuk saya.
Saya tidak mengenal ibunya selain tentang penyakit yang dideritanya cukup lama hingga 'kepulangannya' hari ini. Tapi saya yakin orang yang telah melahirkan dan mendidik anak sebaik teman saya itu pastilah ibu yang istimewa pula.
Maka saya lalu membalas pesan pendek berita duka itu dengan doa. Lalu kadang ada situasi dimana kalimat '..innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...' itu tidak semudah mengetiknya dan setelah tombol send tertekan, saya terdiam...
Saya sedang mudik dua hari. Tapi ketimbang mericuhkan perkara lain yang mencegah saya untuk tinggal di rumah lebih lama dalam long wiken kali ini, apa yang terjadi pagi ini membuat saya mencermati kembali tentang esensi mudik....
Bagian terbaik dari mudik adalah mencium tangan orang tua, yang ekspresi excited-nya selalu maksimal, tak terpengaruh oleh panjang pendeknya skala waktu kepergian kita. Dan saya sungguh bersyukur masih bisa merasakan suasana itu kemarin pagi. Bagian tentang bisa mencecap lagi kenikmatan soto terenak sedunia, gorengan tempe paling maknyus, dan manisnya gudeg jogja pada akhirnya hanyalah bonus.
..
Sementara bagian terburuknya adalah ketika dalam malam hujan deras, mereka melambaikan tangan ke kita yang kembali tersekat jendela kereta. Tangan yang baru kemarin mengusap kepala anaknya, sesaat lalu semakin samar sebelum akhirnya hilang tertinggal dibelakang ular besi yang kembali berlari.
Saya tahu mereka sebenarnya belum rela ritual mudik empat bulanan itu berakhir begitu cepat, begitu pula saya yang harus kembali merantau.
Merantau memang panggilan lelaki. Tapi untuk pulang pada mereka yang menjadi definisi terbaik tentang kata sayang, adalah juga sebuah kewajiban.
Kita, adalah anak-anak yang kadang memperumitnya dengan rasa malu pada pertanyaan kesuksesan di perantauan atau ledekan tentang kehidupan percintaan. Sementara ibu dan ayah hanya ingin melihat tangan kita, para perantau yang tak cukup waktu untuk bertemu disetiap pagimu.
Maka pulanglah teman, lakukanlah sesering sempatmu mereguk rizki Tuhan yang menetes dari tangan mereka, karena tak semua seberuntung kita, tak selamanya pula kita bisa....

sayur tempe buatan ibu, makanan nomer satu di dunia
Saya tidak mengenal ibunya selain tentang penyakit yang dideritanya cukup lama hingga 'kepulangannya' hari ini. Tapi saya yakin orang yang telah melahirkan dan mendidik anak sebaik teman saya itu pastilah ibu yang istimewa pula.
Maka saya lalu membalas pesan pendek berita duka itu dengan doa. Lalu kadang ada situasi dimana kalimat '..innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...' itu tidak semudah mengetiknya dan setelah tombol send tertekan, saya terdiam...
Saya sedang mudik dua hari. Tapi ketimbang mericuhkan perkara lain yang mencegah saya untuk tinggal di rumah lebih lama dalam long wiken kali ini, apa yang terjadi pagi ini membuat saya mencermati kembali tentang esensi mudik....
Bagian terbaik dari mudik adalah mencium tangan orang tua, yang ekspresi excited-nya selalu maksimal, tak terpengaruh oleh panjang pendeknya skala waktu kepergian kita. Dan saya sungguh bersyukur masih bisa merasakan suasana itu kemarin pagi. Bagian tentang bisa mencecap lagi kenikmatan soto terenak sedunia, gorengan tempe paling maknyus, dan manisnya gudeg jogja pada akhirnya hanyalah bonus.
..
Sementara bagian terburuknya adalah ketika dalam malam hujan deras, mereka melambaikan tangan ke kita yang kembali tersekat jendela kereta. Tangan yang baru kemarin mengusap kepala anaknya, sesaat lalu semakin samar sebelum akhirnya hilang tertinggal dibelakang ular besi yang kembali berlari.
Saya tahu mereka sebenarnya belum rela ritual mudik empat bulanan itu berakhir begitu cepat, begitu pula saya yang harus kembali merantau.
Merantau memang panggilan lelaki. Tapi untuk pulang pada mereka yang menjadi definisi terbaik tentang kata sayang, adalah juga sebuah kewajiban.
Kita, adalah anak-anak yang kadang memperumitnya dengan rasa malu pada pertanyaan kesuksesan di perantauan atau ledekan tentang kehidupan percintaan. Sementara ibu dan ayah hanya ingin melihat tangan kita, para perantau yang tak cukup waktu untuk bertemu disetiap pagimu.
Maka pulanglah teman, lakukanlah sesering sempatmu mereguk rizki Tuhan yang menetes dari tangan mereka, karena tak semua seberuntung kita, tak selamanya pula kita bisa....
sayur tempe buatan ibu, makanan nomer satu di dunia
Subscribe to:
Posts (Atom)






