Showing posts with label I Love Movies. Show all posts
Showing posts with label I Love Movies. Show all posts

Tuesday, January 1, 2013

Flight

Sudah lama sejak terakhir kali Denzel Washington memerankan karakter yang memiliki implikasi lebih dari sekedar baku tembak.  Dan FLIGHT rupanya jawaban untuk kerinduan saya. 

Saturday, November 17, 2012

Looper

Katakan, apa yang ingin kau lakukan pertama kali jika suatu saat perjalanan waktu bukan lagi sekedar dongeng dari laci nobita?

Mencegah pernikahan perempuan yang kau pikir seharusnya menjadi pendampingmu? Memilih hidup vegetarian untuk memperbaiki catatan kesehatan masa depan yang memvonis sisa umurmu? Mengubah kata "ya" menjadi "tidak"?

Semua orang akan punya jawaban yang menarik. Dan Joe, seorang mantan pembunuh bayaran yang di masa pensiunnya menemukan kedamaian di pedalaman Shanghai, memilih untuk memasuki mesin waktu dan kembali ke masa lalunya, demi mengubah jalan hidup yang tak bisa ia terima.  Maka kembalilah ia ke tahun 2044 dan perjumpaan dengan versi muda dirinya, yang justru ditugasi membunuhnya.

Yang terjadi selanjutnya, seperti halnya kisah-kisah pelintas waktu lainnya, benturan dua masa pun terjadi dan tentu saja bukan hanya tentang Joe muda dan Joe tua, tapi juga orang-orang lain yang ada disekitar mereka. Alih-alih menampilkan benturan itu dalam format adegan hancur-hancuran macam terminator, kisah Joe mengulas lebih dalam pada pergulatan intens sosok-sosok manusia yang terus mengalami perjuangan antara sisi positif dan negatif dalam dirinya.  Karenanya sulit menebak begitu saja siapa sebenarnya yang menjadi protagonis maupun antagonis dalam kisah ini.

Yang mungkin identik dengan kisah-kisah pelintas waktu sebelumnya, adalah bahwa dunia di masa depan digambarkan sebagai ruang yang dipenuhi teknologi, yang mempermudah aktivitas, namun menggiring manusianya menjadi semakin tersentral pada dirinya sendiri.  Institusi hukum serta pemerintahan tinggal simbol tanpa makna dan orang-orang, termasuk Joe tua, dalam pencariannya akan perubahan dunia, lantas rentan terjebak pada hasrat menumpahkan kesalahan pada orang lain dan lupa bahwa perjuangan terbesar dalam hidup sejatinya adalah ketika kita harus mengalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan akan muncul dan memberi kita kesempatan untuk memikirkan jawaban akan seberapa besar penghargaan kita akan persahabatan? Sejauh mana cinta layak diperjuangkan?  Apakah benar kasih sayang lingkungan sekitar bisa mengubah jalan hidup sebuah individu?  Bagaimana kita menghadapi kesalahan hidup?


Maka padamu, anakku akan kuceritakan bahwa, adam membuat kesalahan.  Ayah dan ibumu telah berkali-kali melakukannya.  Engkau juga kelak akan melakukan kesalahan dalam hidupmu nak.  Kadang kupikir malah engkau membutuhkannya.   Jadi, anakku, janganlah berlebihan memikirkannya, tak perlu kau menuntut diri menjadi manusia yang tak bercacat.  Jika suatu saat di masamu kelak, pelintas waktu bukan lagi mimpi, maka janganlah kau menaiki mesin waktu jika kau hanya berpikir kembali untuk menyalahkan masa lalu.

Jadilah saja kesatria yang berzirahkan pengendalian nafsu dalam dirimu, yang bertamengkan kemampuan untuk mengakui kesalahan dan bersenjatakan pedang yang kau tempa dari pelajaran-pelajaran terbaik dan terpahit dalam hidupmu.  Masa depanmu bukan terletak di masa lalumu....

Friday, May 25, 2012

S O E G I J A

Jika anda, seperti saya, sudah lelah melihat segala macam perdebatan (terutama di media itu-itu aja) tentang gaga dan norma yang terkadang dikaitkan dengan soal agama, be prepared for another in the mould of SOEGIJA.  Berhubung saya belum melihatnya secara langsung, tentu saya tidak tahu kenapa film yang dibuat berdasarkan catatan harian Mgr. Soegijapranata, uskup pribumi pertama indonesia yang memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan ini menjadi masalah, bahkan ketika belum diputar di bioskop.  Kalau ada yang merasa keimanannya akan terganggu karena film ini, tentu jawabannya simpel, tak usah menonton.  Kalau ingin memutuskan setuju tidak setuju, tentu ada baiknya menontonnya dulu.    Saya sejauh ini juga masih berminat menonton karena alasan itu.  Nanti kalau sudah, baru akan saya putuskan pendapat saya pribadi, apakah SOEGIJA itu biasa saja seperti ketika kita menonton CHE GUEVARA, atau tidak.  Sejauh ini, adalah lebih penting untuk mereduksi peredaran film-film hantu yang sudah jelas-jelas tak terarah dan merusak akidah dan film-film action atau spionase holywood yang didalamnya penuh propaganda anti-Islam....

Wednesday, March 7, 2012

One Day

Beberapa hari lalu, istri saya, diantara cengkerama kami, meminta saya mendefinisikannya dalam tiga kata.  Saya menjawabnya dengan REAKTIF, PERSISTEN dan MUDAH TERSENTUH.  Satu penggal situasi dalam One day, tadi malam, adalah contoh paling akhir tentang bagaimana ia, dibalik kengototan prinsip yang seringkali diperlihatkannya, adalah tetap saja wanita yang mudah tersentuh dengan visualisasi. ^^




Thursday, February 2, 2012

Moneyball, Ketika Hidup Tak Sekedar Memenangkan Persaingan

Pada tahun 2002, seorang General Manajer sebuah institusi dari kota kecil ‘terpaksa’ kehilangan tiga orang 'petugas' terbaiknya karena tawaran yang lebih menggiurkan dari para kompetitor dari kota-kota metropolitan.  Tak terelakkan memang jika melihat bujet institusinya yang hanya seperempatnya.  Sebuah tantangan pelik karena besarnya tuntutan publik akan perbaikan kinerja institusinya yang menjadi simbol kebanggaan lokal.   

Dalam kegalauannya, entah di kantor atau di rumah, tak jarang ia diam.  Pencarian solusinya terkadang berakhir pada cuplik-cuplik rekaman jalan hidup yang telah ia pilih sendiri sejak usia 18 tahun itu.  Cuplik itu ‘menawarkan’ penyesalan akan kegagalan berkelanjutan ketimbang keberhasilan.  Potensi yang dimilikinya  dan membuatnya mengesampingkan pilihan studi di Universitas ternama, ternyata tak berbuah manis.  Belum lagi kegagalan rumah tangga yang akhirnya membatasi interaksinya dengan sang putri.   

Masa muda pria itu, Billy Beane, adalah sebuah contoh afirmasi bahwa potensi pada akhirnya memang sebuah konsep samar-samar. Sebagian menyadarinya. Sebagian tidak. Bahwa potensi akan tergerus bersama waktu, entah berkembang atau menghilang. Bahwa bisa menjadi anugerah, beban, atau keduanya.   

Digadang-gadang sebagai anak muda dengan potensi besar sebagai salah satu pemain baseball paling komplit di generasinya, rupanya tekanan besar tak sanggup ia tanggung dan akhirnya Beane hanya tumbuh sebagai pemain medioker.   Beruntung bahwa ia bukanlah seorang yang pantang menyerah.  Sadar bahwa ia tak lagi mampu berkompetisi, ia meniti jenjang karir baru di bidang yang sama.  Ia terlanjur jatuh cinta pada baseball.  Dan akhirnya setelah beberapa tahun, jadilah ia General Manajer A’s, sebuah klub baseball berbujet kecil, namun juga salah satu institusi kebanggaan Oakland.

Setelah serangkaian kegagalan, tahun 2002 itu ia bertemu dengan seorang pria bernama Bill James.   Pria tambun berkacamata itu tak memiliki latar belakang sebagai pemain baseball.  Ia ‘hanyalah’ seorang sarjana ekonomi yang memiliki teori luar biasa unik tentang model statistik dan baseball (kala itu).  Keunikan cara pandang Bill James-lah akhirnya membuat Beane yakin bahwa ia telah menemukan cara untuk memperpendek jurang kesenjangan antara tim kecil semacam A’s dengan tim raksasa semacam Yankees dan Red Sox. 

Brad pitt memainkan peran sebagai Billy Beane dalam MoneyBall

Berdua, mereka meninggalkan patron tradisional.   Dicerabutnya segala romantisme tentang seleksi pemain berdasarkan pada kecepatan kaki atau otot besar, untuk secara sederhana berpulang menilik mekanika dasar tubuh seseorang.  Sesuatu yang beruntungnya dalam dunia baseball tercatat lengkap dalam statistik setiap pemain.  Sebuah paradigma yang lantas dikenal sebagai Moneyball.

Moneyball terdengar sederhana, tetapi pada saat itu memberikan tim Beane suatu jenis keuntungan yang selalu dicari pebisnis, efisiensi biaya.  Sementara klub lain mengincar pemain glamour, mereka justru mencari pemain gendut, pemain tua atau pemain cedera – tipe-tipe pemain berharga murah namun masih bisa melakukan fungsi yang konon terpenting penting dalam Baseball, yakni mencapai base pertama.  Taktik ini mentransformasi A’s dari sebuah tim papan bawah hingga menjadi kuda hitam liga.  Hingga pada suatu waktu, John W Henry, pemilik Boston Red Sox tertarik dan menyodorkan kontrak GM terbesar kepadanya.

Kelanjutan ceritanya sudah jelas dan lengkap terpublikasi.  Red Sox meraih dua gelar World Series semenjak 2003 dan Billy Beane masih saja berkutat dengan obsesinya untuk memenangkan pertandingan terakhir musim.

Kesuksesan Oakland A’s di musim 2002 membuktikan bahwa sains bisa menjadi jalan alternatif bagi institusi yang tak memiliki anggaran untuk membeli nama besar.  Dan implikasi metode Moneyball bukan hanya terasa di dunia baseball.

John W Henry, sang pemilik Red Sox, semenjak perhatiannya beralih ke sepak bola Inggris, mencoba meletakkan basis perekrutan pemain Liverpool pada teknik yang sama.  Downing, Henderson dan Adam, adalah 3 dari 12 gelandang dengan statistik tertinggi di Liga Primer.  Sementara Gareth Bale dan Luka Modric adalah beberapa transfer yang terjadi di era Damien Comolli, direktur olahraga Spurs waktu itu, yang bersahabat dan masih sepaham dengannya tentang analisis sibermetrik semacam moneyball.

Menilik lebih jauh, Arsene Wenger, the Professor, tidak mengejutkan, adalah salah satu manajer yang paling awal dan sering mengintegrasikan informasi statistik kedalam strateginya.  Pada awal 2000-an ia seringkali mengganti Dennis Bergkamp di atas menit ke-70 karena ia percaya data statistik yang memperlihatkan tren penurunan kecepatan sprint sang striker legendaris itu pada seperempat akhir pertandingan.  

"Jika saya tahu bahwa seorang pemain rata-rata membutuhkan waktu 3,2 detik untuk menerima bola dan lalu mengumpankannya, lalu secara tiba-tiba waktunya bertambah hingga 4.5 detik, maka saya bisa mengatakan padanya, 'Dengar, Anda terlalu banyak memegang bola'. " (Arsene Wenger)

Namun rasanya tak seorang pun di sepak bola Inggris keranjingan dan meletakkan prioritas tertinggi akan penggunaan teknologi dan informasi ilmiah seperti Sam Allardyce (kini melatih West Ham).  Tahun 2001 ia secara langsung menemui Billy Beane dan dibawanya pelajaran dari Amerika itu kedalam delapan tahun era kepelatihannya di Stadion Reebok.   

    Big Sam, Pelatih Penggemar Teknologi

Allardyce lantas membawa tim medioker itu menempati peringkat keenam, kedelapan dan dan ketujuh di Liga Premier. Mereka juga mencapai Final Piala Carling dan berlaga di Eropa.  Dan ia melakukannya dengan merekrut veteran. Youri Djorkaeff, Ivan Campo, Fernando Hierro, dan Jay-Jay Okocha, adalah contoh pemain-pemainnya yang dinilai rendah oleh pasar, namun secara statistik memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan tentu saja berada dalam bujet Bolton kala itu.  Persis seperti apa yang dilakukan Beane di Oakland A’s.

Tapi dengan semua kemiripan aplikasi tersebut, apakah statistik dalam sepakbola telah mampu memberikan dasar utama sebagaimana apa yang bisa disajikan data pemain bisbol?

Jawaban singkat terhadap pertanyaan di bagian atas pembicaraan ini adalah, Tidak..

Tidak sekarang.....

Pertama karena baseball adalah mimpi statistik.   Jumlah data untuk setiap pemain terekam begitu banyak, lengkap dan rapi tersusun.  Seorang General Manager klub Baseball seperti Beane, asisten atau para scout-nya bisa melihat juara potensial dari data yang diposting pemain sejak bermain di perguruan tinggi atau liga bisbol yang lebih rendah.

Dia tidak perlu melakukannya dengan pergi menonton mereka, seperti yang terjadi di masa lalu, namun dengan sekedar menghitung rasio langkah hingga data strikeout, atau angka-angka yang seringkali terpendam, kedalam model-model kalkulasi potensi.

Kedua, dibanding baseball, sepakbola adalah olahraga yang lebih rancu untuk dianalisis, walaupun tidak berarti hal tersebut tidak mungkin dilakukan.  

Di Liga Premier misalnya, pengenalan perangkat lunak pelacak pemain seperti Opta dan Prozone, terdengar seperti lonceng kematian untuk pemain Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne, yang secara statistik dapat diketahui bahwa keterampilan olah bolanya tidak diimbangi dengan etos kerja mereka.  

Sekarang, tersembunyi dalam setiap pertandingan, deretan kamera milik Prozone atau Opta yang disewa setiap klub melacak setiap unsur gerakan pemain, jarak yang ditempuh, bertenaga tinggi berjalan dan posisi defensif.  Jarak tempuh keseluruhan pemain tidak lagi menjadi statistik kunci untuk orang-orang yang mencoba menemukan beberapa persen tambahan peluang antara menang dan menjadi yang kedua.  Melihat data-data tersebut, anda mungkin akan terkejut tentang siapa-siapa saja pemain yang berstatistik tinggi dan sebaliknya kemahalan di liga primer inggris.  Saya mencari data serupa terkait pemain indonesia, namun rupanya tak ada yang ditemukan tertera di mesin pencari...

  
data pemain termahal dan pemain berstatistik terbaik ala prozone (dailymail.co.uk)
   

Baseball adalah permainan yang bagi saya tidak memiliki variasi perubahan strategi sebanyak sepakbola dan karenanya lebih mudah menetapkan cara untuk mencapai tujuan.  Pukul sejauh-jauhnya, atau Lempar secepat dan sesulit mungkin.  Itu saja rasanya.   Statistik sepakbola mungkin saja akan menjadi sangat efektif ketika suatu saat nanti, model analisis permainan telah mencapai level real time analisis dan bukannya pre/post match.  Ketika seorang asisten pelatih bisa membuka pc-tablet nya dan langsung melihat perubahan data pemain di bangku cadangan dari menit ke menit saat pertandingan dimainkan.

Dan lagi, tidak seperti baseball yang relatif ‘olahraga lokal’ amerika, sepakbola adalah permainan paling digemari di seluruh dunia.  Ia melintasi batas geografis yang karenanya lantas menciptakan perbedaan budaya, karakter individu pemain, dan tentu saja kemampuannya beradaptasi dengan gaya permainan di negara lain.  Ada batas-batas budaya yang bisa jadi mereduksi beberapa statistik menonjol seorang pemain impor.

Dukungan pengetahuan psikologis, insting talenta atau pelajaran pengalaman menghadapi situasi-situasi kritis yang tak semuanya terdokumentasi dalam angka akan menjadi luar biasa ketika disandingkan dengan statistik dan sains terapan.  




Beane dan moneyball-nya, dalam aspek kompetitif mungkin saja telah kehilangan keuntungannya sebagai pioneer.  Seperti halnya klub-klub sepakbola kecil yang harus bersaing dengan besarnya dana klub besar yang kini juga dialokasikan untuk pengembangan statistik pemain.   Dalam kacamata kemenangan di lapangan, Beane memang masih saja gagal mencapai gelar tertentu.  Tapi rasanya ia adalah salah satu stereotip persona sebagaimana kriteria quote ini...

“Innovation distinguishes between a leader and a follower.”  (Steve Jobs)

Dan terlepas dari keputusannya terhadap tawaran Red Sox, ia telah membuatnya memenangkan perjuangan lain.  Sebuah romantisme seorang bapak terhadap kerinduan akan suara indah sang putri...  

 After all, Life isn’t always about winning competition, right....??   


*****

Billy Beane, suatu ketika pemuda yang ambisius, 
kini ayah yang memilih anaknya atas uang dan pencapaian pribadi

gambar diambil dari wikipedia.com

Wednesday, December 28, 2011

MELANCHOLIA

Akhir tahun sedang menjelang.  Pertokoan besar dan kecil berlomba merebut hati pelanggan yang datang. 20%, 50%, 50+20, "Beli 1 Dapat 2", atau 70%.  Label-label 'menggiurkan' itu melekat erat di setiap rak dagangan, layaknya seorang gadis yang menggoda kekasih pujaan. 

Di kasir, deretan pembeli, kebanyakan perempuan berpenampilan kelas menengah, menggenggam nota-nota pembelian yang membahagiakan.  Sebagian mulai resah, dalam situasi riuh seperti ini, antrian dan kesabaran memang dua kutub yang sulit disatukan.

Ya, sore itu saya menemani istri mencari beberapa keperluan rumah tangga.  Sedikit rizki lebih yang kami peroleh, akhirnya kami belikan pula beberapa potong pakaian dan beberapa keping DVD untuk menghabiskan malam hari.

Melancholia adalah salah satu judul keping DVD yang kami beli.  Lars Von Trier sebenarnya bukan sosok sutradara yang 100% meyakinkan.  Karyanya seperti The Antrichist mengundang kerut banyak orang.  Tapi saya tertarik membeli karena ingin melihat akting Kirsten Dunst yang dihargai aktris terbaik di Cannes karena perannya sebagai Justine film ini.

Justine adalah kakak dari Claire, seorang wanita yang sukses secara finansial dan menjalani rumah tangga yang terlihat bahagia dengan seorang Astronom dan anak lelaki mereka.  Sebaliknya, Justine adalah seorang perempuan yang mengalami depresi.  Tersiksa dengan keadaan Justine, Claire dan suaminya pun merancang sebuah pesta pernikahan untuk kakaknya.  Mereka pikir pernikahan akan membawakan Justine sebuah hidup yang lebih normal.

Dilatari dengan sebuah pemandangan tak normal sebuah bintang biru terang di langit, pernikahan itu pun terjadi.  Tapi seperti halnya sang bintang yang kehadirannya menyimpan misteri, pernikahan yang dipaksakan itu pun lebih mirip tragedi ketimbang selebrasi.


Mungkin Lars Von Trier ingin mengkritik dunia barat yang terlihat hipokrit akhir-akhir ini seperti halnya pesta pernikahan yang berusaha mengubur luapan kepedihan.  Atau Melancholia memang menyimpan misi untuk kita menjadi lebih awas akan hal-hal yang lebih luas ketimbang isi rak pakaian seukuran 1,5 x 2 meter yang berjajar didalam pertokoan. 

Ya, sementara kita sibuk merencana selebrasi pergantian angka di tanggalan, di bagian dunia lain, dua kutub kekuatan politik dunia yang terlihat adem ayem rupanya juga sedang menguji kesabaran masing-masing. 

Amerika Serikat dan Israel terus menerus mencari celah untuk 'menghalalkan' rencana mereka menyerang Iran.  Cuma Iran, penghalang mereka dari kekayaan timur tengah yang mereka pikir sanggup  untuk memberikan jawaban atas hutang ratusan triliun dollar sang polisi dunia.

Sama seperti Irak, tidak ada senjata pemusnah masal milik Iran.  Secara militer, kedua negara itu tak punya apa-apa untuk melawan hulu ledak nuklir Amerika dan Israel, meriam EMP (Elektro Magnetik Pulse), bahkan rencana perang biologis keji Amerika dengan menyebarkan mutasi kelima virus Avian Influensa ke udara Iran. 

Jika benar temuan Ron Fouchier, ahli virologi belanda, tentang pengembangan virus ini, maka ini berarti dunia barat sekali lagi ingin mengulangi tragedi Flu Spanyol yang disebarkan di akhir perang dunia I dan membunuh sekitar 50-100 juta orang, 3-6% populasi kala itu.

Terusik dengan perilaku Amerika Serikat dan sekutunya yang makin liar, Russia dan China belakangan telah menginstruksikan pasukan militernya untuk bersiaga penuh.  Kasus penembakan duta besar Rusia untuk Syria yang diduga didalangi oleh CIA dan M16 menambah runyam situasi.

Mirip dengan cerita agen rahasia di film bukan? Hanya saja berkebalikan dengan propaganda Holywood, sang protagonis mungkin saja mereka yang ada di sisi lain dari sang tokoh utama.

Ada banyak versi tentang bagaimana dunia akan berakhir.  Serangan makhluk luar angkasa berteknologi tinggi yang butuh sistem pendukung kehidupan baru bagi planet mereka yang mati.  Merebaknya virus yang membuat semua orang terinfeksi dan menjadi zombie.  Juga tumbukan bumi dengan meteor sebagaimana diyakini telah membuat dinosaurus punah dan divisualkan oleh banyak sineas asing.  Armageddon, Deep Impact, The Happening, Knowing, dan terakhir adalah Melancholia.     

Tapi jika kita mau melirik kenyataan yang lebih rasional, adalah kita dan tindak tanduk kita yang lebih mengkhawatirkan ketimbang faktor-faktor eksternal itu.  Polusi yang kita timbun akan mematikan kehidupan pelan-pelan.  Toh, keserakahan finansial yang potensial ujungnya akan memicu perang nuklir akhir zaman, tampak lebih nyata bukan? 

Dalam islam, salah satu riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda menjelang kiamat adalah terlalu menjamurnya pertokoan dan perniagaan.
Dan lucunya, apa yang berusaha ditutup-tutupi Amerika saat ini sudah lama diramal oleh Thomas Jefferson, pendiri mereka sendiri, yang kata-kata ramalannya dua ratus tahun lalu kini terasa lebih hebat ketimbang bualan Nostradamus... 

"..I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies.  If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around will deprieve the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered.."

Ya, begitu banyak yang sudah merasakan krisis finansial.  Bukti kegagalan ekonomi liberal yang tanpa sadar menjajah kebebasan hidup kita lewat beragam contoh, bahkan yang sesederhana kartu kredit dan diskon. 

Pada akhirnya kiamat, bagaimanapun versi yang anda percayai, pada akhirnya adalah tentang memperbaiki diri di setiap sisa hari hidup.  Dan beruntungya, tak seperti Claire dan Justine yang harus menata diri menghadapi kenyataan yang tak diinginkan, kita tak pernah akan tahu kapan itu terjadi.  Kecuali bagi anda yang percaya kalender Maya 2012, maka sebaiknya bergegaslah menunaikan apa yang perlu ditunaikan.  Waktu anda tak sampai 3 jam lagi akan berakhir....

Selamat Tahun Baru, Live Positively... 







Wednesday, December 21, 2011

Ghost Protocol

Walaupun belum lama ini Rusia merilis rencana pengembangan rudal balistik baru -oleh NATO diberi nama sandi rudal "Satan" (setan). R-36M2- yang mampu membawa hingga 10 hulu ledak nuklir dengan jarak jelajah maksimum 11.000 kilometer, namun tetap saja, memunculkan teori krisis nuklir antara Rusia dan Amerika sejatinya terasa sedikit 'over-imaginated'.   

Kuba sudah tak penting lagi, Vietnam sudah memilih jalannya sendiri, Tembok Berlin sudah runtuh, Soviet sudah tercerai.  Rambo, Chuck Norris dan rekan-rekannya tak punya lahan lagi di masa kini.  Masa ketika Amerika Serikat (dan Israel bangsat!) itu sudah menciptakan 'musuh' baru dalam wujud Saddam, Osama dan Ahmadinejad.

Tapi mungkin seperti kata John F. Kennedy, “A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on. Ideas have endurance without death.”   Maka ide tentang krisis nuklir kini berani kembali diangkat Bird dalam sekuel agen rahasia amerika milik Tom Cruise.  Beruntungnya, kue krisis nuklir ini berhasil dibalut dengan bumbu drama yang jauh lebih baik ketimbang tiga sekuel pendahulunya.


Mission Impossible adalah sebuah produk atau katakanlah obsesi Tom Cruise untuk 'menjawab' James Bond milik Ian Flemming.   Dan sampai sekuel ketiganya lalu, memang masih sulit untuk mengatakan bahwa MI lebih baik ketimbang James Bond.  Lalu kehadiran trilogi Jason Bourne yang terasa begitu kelam dan tajam semakin menghimpit lakon Ethan Hunt, sang agen rahasia dengan gadget dan kemampuan yang 'almost impossible' itu.


Dan untuk sebuah film yang empat sekuelnya kini terentang dalam usia 16 tahun semenjak edisi perdananya, muncul tanda tanya baru yang dimunculkan di scene-scene awal Ghost Protocol.

Adalah sebuah kewajaran ketika kita memiliki ekspektasi akan sebuah kontinuitas cerita dalam film yang membawa embel-embel sekuel.   Dan ketika J.J Abrams menyisakan rasa penasaran tentang 'Rabbit Foot' di akhir Mission Impossible III, maka menjadi logis jika penonton akan mengernyitkan wajah kala mengikuti alur awal di Ghost Protocol.

Ya,pasca MI-III pertanyaan terbesar yang awalnya ingin saya temukan jawabannya adalah bagaimana akhirnya Ethan menjalani fase kehidupan rumah tangga setelah rahasianya sebagai agen IMF dibuka terus terang pada sang istri.  Apakah mereka bisa hidup normal layaknya keluarga superhero dalam Incredibles, atau mereka harus menghilangkan diri agar tidak berakhir seperti kisah cinta Jason Bourne dan istrinya.


Namun rupanya sekuel keempat Mission Impossible ini samasekali tak memberikan tanda-tanda akan keberlanjutan cerita sebelumnya.  Termasuk tanda tanya besar tentang hilangnya penceritaan tentang istri Ethan Hunt.


Maka jelas sebagai kompensasinya, Ethan butuh lebih dari sekadar BMW i8, aksi lompat di gedung tinggi dengan sarung tangan ala spiderman, dan cerita (sedikit usang) tentang potensi konflik nuklir antara Blok Barat-(Eks) Timur.   Beruntungnya, Cruise kali ini memilih sosok yang tidak keliru.

Mobil Ethan Hunt di Ghost Protocol (ganbar diambil dari www.bmw-i.com)

Ghost Protocol boleh jadi film aksi pertama karya Brad Bird yang lebih terkenal sebagai sosok dibalik film animasi istimewa macam Ratatouille dan Incredibles , toh nyatanya pria itu sanggup memadukan sebuah aksi nyata manusia yang terus menerus memacu adrenalin dengan jalinan cerita yang membuat penontonnya sering bertanya-tanya.   Dan sebagai bonus, sisipan lelucon terasa pas diantara para tokohnya dengan sejumlah dialog yang mampu sedikit mencairkan wajah kaku Cruise.

Catat salah satu dialog sindiran berbau politis yang disisipkan Bird dalam adegan pembicaraan Ethan dengan seorang pedagang senjata gelap.   Sang pedagang yang kala itu diminta membantu gerak agen rahasia paling hebat milik amerika itu lantas bertutur sedikit menolak pada Ethan, "For your country, a potential terrorist, is a terrorist".   Sedikit saja, namun jelas mengindikasikan kenyataan yang disadari dunia tentang kelakukan Amerika Serikat dan sekali lagi, Israel bangsat itu...

diambil dari filmcritic.com

Jadi, jika dulu saya dan teman saya masih sering beradu argumen tentang kualitas tiga sekuel MI terdahulu, maka seharusnya kehadiran Ghost Protocol bisa membuat kami tak terlalu sulit menentukan mana sekuel terbaik diantara keempatnya, sejauh ini.  Dan personally, saya suka sekali gadget contact lens yang punya kemampuan photo, transfer data dan rekognisi wajah itu... :D







Saturday, November 19, 2011

Breaking Dawn, Bukti Sahih Tuhan Maha Adil

Usia pernikahan saya belum genap satu bulan.  Perlahan saya mengerti bahwa ada jauh lebih banyak hal yang akan kita 'nikmati' ketimbang bayangan indah bercinta semata.  Perbedaan yang mulai tak malu-malu menampakkan diri.  Pun attitude demand yang mendorong masing-masing penyumbang saham dalam pernikahan itu untuk beradaptasi.  Ya, pernikahan merubah banyak hal karena kami sama-sama tidak sempurna.  Maka saya, tanpa pengalaman menjadi suami, mencoba memulainya dengan menjadi lebih communicatively decisive.  Laki-laki pada akhirnya adalah imam, pemimpin, pelindung...


Maka menjadi lucu sebenarnya ketika hari kedua puluh pernikahan kami 'rayakan' dengan menonton sebuah film adaptasi novel laris yang ternyata memberi banyak pelajaran hal identik.  Akan ada banyak orang, perempuan muda kebanyakan, yang menganggap film ini adalah tentang menikmati sajian fisik aktor-aktor yang bermain didalamnya.  Sementara bagi kebanyakan pria, membaca novelnya saja sudah cukup untuk menjadi skeptikal terhadap film ini.  Saya salah satunya....

Stephanie Meyer sebenarnya memberikan cukup banyak ruang untuk menjadikan film adaptasi ini mengambil porsi fantasi yang lebih galak.  Tapi rupanya sang sutradara memilih untuk menyerahkan lebih dari dua puluh menit pertama hanya untuk memvisualkan romantisme Edward Cullen dan Bella Swan, sepasang pengantin baru.  Mulai dari detil persiapan pernikahan hingga liputan live bulan madu mereka di sebuah pulau terpencil di Brazil.

Detilnya luar biasa (membosankan maksudnya), sampai-sampai saya berpikiran bahwa jangan-jangan sang sutradara dulunya adalah seorang wedding organizer atau kemungkinan lain, a lonely person dreaming of a great wedding,  Tidak sering saya membaca blog via HP ketika sedang ada di dalam bioskop, tapi itulah yang terjadi kemarin.  I'm bored and my wife thought so.

Tapi untunglah, adegan preparasi dan selebrasi itu lalu bergeser pada cerita bulan madu yang lama-lama membuat saya sedikit terhibur.  Bukan karena tubuh telanjang pasangan vampir dan manusia itu, tapi lebih pada rasa syukur bahwa saya tidak sebodoh Edward.  Dia adalah seorang laki-laki yang digambarkan hampir sempurna, kecuali fakta bahwa dia adalah pria bodoh.   Edward seharusnya menjadi lebih laki-laki ketimbang mematung diam dan ketakukan kala seorang perempuan, istri sah-nya, setengah telanjang, harus sampai memohon-mohon untuk sebuah hak, nafkah batin yang dibutuhkannya....

Ketika cerita kemudian bergeser ke situasi kehamilan Bella, saya justru tak lagi berfokus pada alur scene pembangun eskalasi ketegangan setelahnya.  Rentetan cerita yang melibatkan Edward, Bella dan Jacob, tiga orang yang berperan sebagai suami, istri dan mantan gebetan nan 'mbulet', akhirnya meyakinkan bahwa langkah saya, untuk memulai pernikahan dengan menjadi lebih communicatively decisive terasa benar.  Edward, si vampir (hampir) sempurna itu rupanya bukan cuma bodoh, tapi juga tervisualisasikan lemah.  Tak ada cerita seorang suami yang tegas dan bertanggung jawab, hanya berdiri, membiarkan mantan gebetan istrinya memeluk istrinya yang kesakitan dalam hamilnya.  Di hadapannya pula.  Sempat saya berpikir, ah mungkin ini efek kurang pengalamannya edward menghadapi situasi pasca menjomblo 100 tahun, walaupun akhirnya saya kembali pada kesimpulan awal.  He's so lame....

Sementara di sisi lain, pada scene yang sama, saya menyadari bahwa karakter Jacob, bagi saya adalah visualisasi laki-laki bodoh.  Dia adalah laki-laki yang tak lagi memiliki kesempatan bersama orang yang dicintainya, tapi masih saja, melakukan begitu banyak hal dan setengah berharap bahwa pernikahan orang yang dicintainya tak berhasil.   Entahlah, bagi saya, seeorang serigala jadi-jadian seharusnya lebih bijak dan cerdas ketimbang apa yang dipertontonkan.  Mungkin akan ada banyak yang membela, begitulah cinta.  Bagi saya, cinta sekalipun, membutuhkan porsi logika yang cukup.

Maka dalam situasi sedikit menertawakan Bella yang 'terpaksa' harus memilih antara seorang vampir lemah dan seorang serigala bodoh, saya pun bersyukur dan semakin yakin, tidak ada manusia yang sempurna.  Tidak Jacob, apalagi Edward.  Dan ya, TUHAN ITU MAHA ADIL....

Maka pikiran skeptis perlahan saya buang.  Karena toh dalam cerita yang tidak terpikirkan seperti Breaking Dawn  - yang kemungkinan besar terpengaruh oleh konsep penyajian dua bagian ala edisi pungkasan Harry Potter, sehingga dilabeli Part 1 -, walaupun memang akhirnya tidak keluar dari khitahnya sebagai film fantasi perempuan, toh tetap ada beberapa lelucon dan pelajaran yang pantas disimak, khususnya untuk para lelaki yang 'wajib' menemani perempuannya menghabiskan waktu di bioskop. .

Tentang menetapkan batas-batas dan beradaptasi dengan tanggung jawab baru akan ikatan janji dihadapan Tuhan yang telah kami ucapkan.  Tentang menjadi laki-laki yang decisive dan istri yang supportive.  Tentang mengendalikan cinta dunia dengan logika agar kami tak melebihi kewajiban mencintai Dzat yang memang seharusnya mendapat prioritas pertama.

Atau sederhananya, pelajaran tentang Breaking Dawn, khususnya karakter utama Edward, Bella dan Jacob, naga-naganya bisa dirangkum dalam tag...

"DONT TRY THOSE AT HOME" ....:p




   


Saturday, September 17, 2011

Everything Must Go



Mata lelahnya menatap kosong ke kaca depan.  Antrian panjang sore ini terasa seperti tamparan ringan saja baginya.   Kaleng Budweiser yang tinggal setengah ada di genggamannya.  Baginya, isi kaleng itulah yang sekarang ini paling bisa menemaninya mengingat pahitnya pemecatan mendadak oleh direksi kantor pemasaran tempat ia enambelas tahun terakhir ini mengais rejeki.  Dan tentang isi kaleng itu pula yang mengikis habis kesabaran mereka yang mempekerjakannya.  Ia tak peduli, sama seperti ketidakpeduliannya akan kemacetan yang menjebaknya itu.  Ia telah terlalu lama berteman dengan sang kaleng....  

Kemacetan pun menyerah dan akhirnya melepaskannya pergi....

Ford Taurus itu kembali ia kemudikan pelan, sampai akhirnya mobil pinjaman kantor itu diparkirnya di depan rumah.  Lalu, setengah tak percaya ia menatap pemandangan baru di halaman rumahnya.  Begitu banyak barang berserakan di halaman, semuanya barang-barang pribadinya.  Dalam pikirannya yang setengah mabuk, ia masih bisa mencerna, harinya baru saja bertambah buruk.

Dengan gontai ia berjalan menuju pintu rumah.  Sepucuk surat di daun pintu mengafirmasi apa yang sudah diperkirakannya.  Dan sepucuk surat itu saja yang ditinggalkan sang istri.  Kunci rumah telah diganti, demikian pula sandi pintu samping rumah.  Ia tertolak di rumahnya sendiri.

Ia akhirnya berjalan kembali ke halaman, menemui benda-benda yang dikenalnya dan dipahaminya betul sebagai bagian sejarah hidupnya.    Diraihnya sebuah bola baseball yang penuh tandatangan pemain tim favoritnya, lalu dipandanginya setumpuk Piringan Hitam milik sang ayah sebelum ia melangkah menuju kursi malasnya.  Tiga benda itu adalah hal-hal yang paling menarik perhatiannya.   Benda-benda yang sedikit banyak telah dan nantinya akan menentukan kehidupannya. 


Menyerah dengan apa yang dihadapinya hari ini, dihempaskannya tubuh lelah itu ke kursi malas kesayangannya.  Kaleng budweiser baru diletakkannya dekat.  Tak ingin rasanya ia jauh sedetikpun dari benda yang dipikirnya memainkan peran sebagi sahabat terbaiknya.  Ia pun terlelap begitu saja bersamanya, berharap esok akan membangunkannya dari hal-hal yang dipikirnya sekedar mimpi buruk ini...

Harapannya tidak terwujud.  Semprotan air dari kran otomatis di taman rumah  membangunkannya di hari berikutnya.  Ia masih di halaman, jobless, dan tak lama kemudian mendapati telepon dan kartu kreditnya telah diblokir oleh sang istri.   Hal yang berbeda adalah bahwa hari itu ia dipertemukan dengan dua orang baru.  Pertama, seorang tetangga baru, perempuan yang tengah hamil muda dan baru saja pindah dari sebuah kota metropolitan.  Yang kedua, adalah seorang anak kulit hitam tambun yang ingin sekali bisa bermain baseball.  Dua orang itulah yang rupanya akan terlibat banyak dalam hidupnya tiga hari ke depan. 


Ya, tiga hari kedepan itu saja yang dimilikinya untuk 'menyelesaikan' masalah ia dan barang-barangnya yang berserakan.  Hukum di kotanya memang menilai ketidak mampuan mengelola barang pribadi sebagai sebuah gangguan ketertiban umum.    Sebuah puncak kekacauan hidup yang menghampirinya, semenjak tujuh tahun lalu ia menerima sang kaleng sebagai pasangannya.


Walaupun bukan berasal dari keluarga santri, ayah dan ibu berhasil mendidik saya untuk menjauhkan diri dari setetespun minuman yang tidak hanya akan membuat Shalat seorang muslim tidak diterima hingga 40 hari setelahnya, namun juga mendorong banyak cerita tersesatnya orang-orang dalam hidup.  Lingkaran pertemanan saya pun tidak cukup jauh menjangkau hingga dunia mereka yang menderita karena salah mempercayakan hidupnya pada gelas-gelas berisi air bening atau merah.   Maka bisa dikatakan bahwa saya sejauh ini tidak pernah memiliki cukup pengalaman personal terhadap situasi ketergantungan alkohol seperti apa yang dialami Nick Halsey itu. 

Tapi pelajaran yang saya bawa dari Nick Halsey akhirnya menuntun saya pada refleksi yang lebih luas.  Refleksi yang seperti biasa, sebagian diantaranya terpikirkan di kamar mandi.  Bahwa banyak hal yang sama memabukkannya di dunia selain khammr.   Saya telah melihat bagaimana game online mempengaruhi hidup teman saya, konsumsi rokok yang berlebihan membuat sejumlah orang yang saya kenal mengalami kesulitan finansial, dan riuh rendah media sosial seringkali menjebak saya dan banyak kawan untuk berdiam terlalu lama didalamnya. Saya masih sering lupa aplikasi bahwa sesungguhnya manusia akan berada dalam aktivitas merugikan kecuali mereka yang memahami pesan-pesan kebenaran dan bersabar didalamnya..

Tentang Nick, ia pada akhirnya ia masih beruntung.... 

"....Even lost is tend to be a good place to find ourself.... "

Pertemuannya dengan kedua orang baru dalam hidupnya adalah katalis yang membuatnya mengingat masa-masa kecilnya yang bahagia.  Kecerian bersama kedua orang tuanya yang bisa dipandanginya lagi lewat sebuah proyektor tua yang ia temukan diantara tumpukan barang di halaman rumahnya.  Ia juga beruntung, ia hidup sebagai seorang lelaki bermasalah namun sejatinya tidak kehilangan modal kebaikan dalam dirinya.  Kebaikan yang terlihat nyata dari bagaimana ia mengerti makna setiap barang yang dipunyainya.  Ia menghargai benar setiap sejarah pencapaiannya.  Dan ketika tiba saatnya, barang-barang itu rupanya akan memberikan imbal balik yang tak ternilai baginya.   ..

Saya jadi ingat bahwa kadang saya terlalu malas mencuci motor, membersihkan rumah ~ kontrakan tentu saja :D ~, dan merawat benda-benda lain yang bisa saya dapatkan baik dari keringat sendiri ataupun pemberian orang lain.   Hal-hal yang seringkali baru saya sadari ketika benda-benda itu rusak ketika dibutuhkan, atau bahkan lepas karena mungkin Tuhan tidak lagi menganggap saya sebagai yang paling laik untuk memilikinya...

Memang benar pepatah, don't get too attached to things, tapi selama hal-hal titipan itu ada di kamar, di badan atau di rumah, maka sudah seharusnya saya memperlakukannya lebih baik. 

Because when Everything Must Go, It might save my life someday...   


   

*****

Friday, August 26, 2011

Beautiful Boy

Suatu malam, dalam sebuah pertengkaran di hotel, jerat basa-basi yang membebat fakta sesungguhnya tentang kondisi rumah tangga Bill dan Kate, akhirnya lepas juga. Bagi Kate, perasaan terdalamnya adalah bahwa Bill ternyata lelaki yang "such an emotionally absent cliche of a father". Bill membalas bahwa ia tak tahan dengan cara Kate mengatur rumah tangga, bahwa ia adalah "a mother who pick every and everything he had".

Pernikahan -kata teman-teman saya yang sudah menikah tentunya- adalah persoalan menyatukan dua karakter yang terbentuk dalam dua dunia yang berbeda. Dan akan menjadi rumit ketika keduanya tidak dapat mencapai konsensus mengenai bagaimana rumah tangga, termasuk pendidikan anak nantinya dijalankan.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan ditanya akan kepemimpinannya” (Muttafaq ‘alaih).

Saya misalnya, dilahirkan dan dididik oleh seorang ayah dan ibu yang jangankan main tangan, mengeluarkan kata-kata kotor pun tak pernah. ayah saya adalah seorang yang irit bicara, sementara ibu saya walaupun lebih vokal, toh tak pernah nyaman berbincang terlalu lama dengan sesama ibu-ibu di lingkungan rumah misalnya. Teman saya yang lain, dididik dalam lingkungan yang lebih keras -Ayah yang kelewat tegas dan ibu yang banyak ingin tahu anaknya-, kadang merasa iri dan berpikir skema keluarga saya lebih ideal. Saya tidak menolak bahwa Ayah dan Ibu saya memang juara dunia, tapi toh seiring bertambahnya usia, saya lambat laun memiliki konsep yang sama namun akan dieksekusi dengan cara berbeda tentang keluarga dan pendidikan anak nantinya. Ya, benar, masih konsep, karena saya belum 'sah' laku. :D

Sementara itu, Bill dan Kate adalah contoh sepasang orang tua yang karena kesibukan dan karakter, lamat-lamat tak sadar bahwa mereka tidak sepenuhnya mengerti siapa Sammy, anak semata wayang mereka. Maka akhirnya, Sammy tumbuh sebagai seorang anak yang sangat pemalu dan pendiam. Sedang Bill dan Kate terlalu sibuk dengan versi masing-masing tentang ayah dan ibu, lalu tidak mengerti bahwa anak-anak pendiam berpotensi mewakili kesulitan ekspresi emosi. Sesuatu yang jika dipendam bisa meledak menjadi tindakan ekstrim diluar dugaan.

Yang tersisa selanjutnya adalah bahwa dalam situasi mulai meruaknya kerenggangan rumah tangga, mereka harus menghadapi salah satu skenario terburuk. Sammy, "their sole beautiful boy", menjadi pelaku penembakan mahasiswa dan dosen di kampusnya. Sebanyak tujuh belas orang tewas dalam peristiwa itu , termasuk Sammy menembak kepalanya sendiri.

Beautiful Boy memang secara eksplisit menjadi sebuah gugahan bahwa dalam sebuah situasi buruk, ada pihak lain selain korban yang kadang terlupakan untuk dimengerti. Kita terfokus berempati pada korban, padahal ada pihak-pihak lain yang kadang terjebak didalamnya dan harus menghadapi tekanan yang tak kalah berat.

Toh sepanjang durasi, kita akan melihat sesuatu yang lebih dari sekedar itu. Ini adalah tentang bagaimana efek kualitas interaksi orang tua-anak dan betapa Bill dan Kate harus menghadapi konsekuensi kebimbangan yang lazim terjadi pada orang tua ketika seorang anak memilih jalan yang salah. Kadang, mereka hanya bisa terus bertanya mengapa, sekadar karena mereka ingin mencari seseorang yang memberikan jawaban "kalian sudah melakukan yang terbaik, kejadian ini bukan kesalahan kalian. Pada kesempatan lain lagi, mereka justru memilih menghindar dan tidak bertanya, hanya karena mereka berasumsi kejadian ini memang kesalahan dan tanggung jawab orang tua.

Sebagian penonton mungkin akan kesulitan merasuk dalam emosi yang diapungkan Beautiful Boy. Adegan penembakan seperti yang dilakukan Sammy memang terkesan jauh dari angan-angan masyarakat di Indonesia. Lain soal misalnya jika kasus yang diambil adalah anak-anak yang keliru menafsirkan makna jihad dalam wujud bom-bom bunuh diri. Toh ada stereotip yang sama, bahwa kita seringkali tidak sempat mengamati situasi perilaku keluarga kita yang terdiri dari beragam karakter. Atau kita mengerti jika ada 'keunikan' dalam salah satu anggota keluarga, namun tidak mampu berbuat sesuatu karena kita tidak membekali diri dengan cukup pengetahuan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah telah menyatakan tentang besarnya tanggung jawab mendidik anak, yaitu : “Barang siapa yang melalaikan pendidikan anaknya, yakni dengan tidak mengajarkan hal-hal yang bermanfaat, membiarkan mereka terlantar, maka sesungguhnya dia telah berbuat buruk yang teramat sangat”. Mayoritas anak yang jatuh dalam kerusakan tidak lain karena kesalahan orang tuanya dan tidak adanya perhatian terhadap anak-anak tersebut. Juga tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya, mereka terlantarkan anak semenjak kecil, sehingga mereka tidak dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang tuanya.

Lucu memang seorang bujang lapuk membicarakan pendidikan anak. Tapi kadang pelajaran datang disaat kita tidak sedang berada dalam situasi yang memungkinkan pengalaman serupa. Maka pelajaran itu akhirnya tersimpan menjadi sebuah pengetahuan untuk masa depan. Jadi walaupun 'pahit', Beautiful Boy adalah salah satu contoh manis itu untuk saya, bujang bahagia ini... :D



*******

"...Hai orang-orang yang beriman; peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ?..."
(QS. At-Tahriim: 6)


Monday, August 15, 2011

Last Chance Harvey: Menyoal Usia dan Hubungan Kedua

"....Do you really think that the older you get,
the more you understand love?..."

********



********

Freud mengatakan bahwa dasar kepribadian seseorang dibentuk pada masa lima tahun pertama dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu masa balita ini adalah masa yang sangat penting. Kejadian-kejadian yang dialami pada masa kecil seorang individu akan menjadi bagian dari ketidaksadaran dan mempengaruhi tahap-tahap selanjutnya dalam kehidupan individu. Sebaliknya, Jung lebih menekankan pentingnya tahap usia dewasa pertengahan (40-60 tahun) daripada tahap-tahap lainnya. Pada masa-masa ini mulai terjadi transisi dan perubahan yang banyak. Kehidupan seseorang menurut Jung, sangat ditentukan bagaimana ia mengatasi midlife crises-nya ini.

Pada usia paruh baya, banyak peristiwa besar yang dapat menimbulkan masa-masa penuh stress dan depresi seperti meninggalnya orang yang dicintai (orang tua ataupun pasangan hidup), kemunduran dalam karir, anak-anak yang mulai meninggalkan rumah (untuk hidup mandiri), gejala penuaan secara umum (munculnya keriput, uban, kulit berkurang elastisitasnya, berkurangnya vitalitas, menopause, dan lain-lain). Akibatnya, menurut satu kajian, 15% dari mereka akan mengalami “midlife turnmoil” yang mungkin saja berupa keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan seperti karir, perkawinan, atau hubungan romantis.

Ada banyak contoh kegamangan ketika orang-orang yang sudah tak bisa lagi dikatakan muda, didorong atau menghadapi situasi dimana mereka harus menjalin hubungan serius kedua dalam hidup. Cerita lucu antara Bang Jack dan Mama-nya Azzam yang selama bulan puasa ini tayang di sebuah televisi swasta adalah salah satu skema dan eksekusi yang paling menarik. Sementara kemarin, saya melihat versi lain tentang pasangan seumuran yang dimainkan dengan apik oleh Dustin Hoffmann dan Emma Thompson.

Terjepit schedule rapat penting yang menentukan kelangsungan karirnya, Harvey memilih tetap terbang ke London agar bisa menghadiri pernikahan putrinya. Susan, putri cantiknya itu kini memang tinggal bersama Jean, ibunya dan Brian, ayah tirinya. Begitu terburu-buru, ia sampai bertindak kurang sopan pada seorang perempuan paruh baya sesaat sesampainya di bandara.

Setibanya di London, Harvey harus menghadapi kekecewaan berat, menghadapi kenyataan pahit bahwa setelah peluk cium sambutan selamat datang yang hangat, Susan nyatanya mengutarakan keputusan memilih Brian sebagai wali nikah dan orang pertama yang memberikan sambutan dalam acara resepsi pernikahannya. Plot pernikahan putrinya yang sempat terbayang indah, buyar dalam satu bagian awal saja.

Di sudut London yang lain, di sebuah bar, seorang perempuan single berumur empat puluhan sedang berurusan dengan tekanan lingkungan yang mendorongnya untuk menjalin rumah tangga. Selalu ada rasa canggung ketika seseorang yang sudah terlalu lama hidup mandiri mendadak harus berkomunikasi dengan tujuan yang jelas mengarah pada hubungan percintaan. Kate pun tidak jauh berbeda. Lalu acara kencan dengan teman pria sahabatnya makin kacau dengan telpon berkali-kali dari sang ibu yang begitu yakin bahwa tetangga mereka adalah seorang pembunuh berantai dari Ceko.

Lalu takdir pun bekerja. Harvey, yang sekuat tenaga berusaha menyembunyikan kekecewaannya, akhirnya memutuskan untuk kembali ke New York lebih awal agar bisa mengikuti rapat penting di perusahaan tempat ia bekerja. Tapi ia ketinggalan pesawat dan diberhentikan saat itu juga ketika ia berusaha menjelaskan duduk permasalahannya pada sang boss. Sementara Kate yang tidak lagi merasa nyaman dengan acara kencan memilih kembali ke Heathrow, bandara tempatnya bekerja.

Wajah kusut keduanya akhirnya bertemu di sebuah kantin bandara. Dan itu adalah pertemuan kedua mereka. Ya, Harvey ingat betul perempuan dihadapannya adalah sosok yang sama yang dimakinya di Bandara kemarin.

Setelahnya adalah tentang rentetan dialog dan pencocokan diri yang menarik antar dua orang yang sudah tak muda lagi itu, tak saling kenal, namun sekali lagi menunjukkan betapa menyenangkannya menjadi pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik. Tidak sebaik Before Sunrise memang, tapi dialog cerdas di Last Chance Harvey memang memberinya kekuatan tersendiri. Ada banyak dialog dalam film ini, tapi memang favorit saya adalah dialog di kantin bandara itu walaupun dialog dalam acara resepsi pernikahan Susan rasanya sama menariknya.

Dalam kekuatan dialognya, toh Last Chance Harvey mau tidak mau memang terlihat lebih cocok untuk segmentasi kelompok 'pasca muda'. Sebagian besar dipengaruhi oleh setting usia tokoh utamanya. Lain soal jika kita mengesampingkan faktor tersebut dan hanya murni menilik jalan ceritanya dan bagaimana ia diceritakan, maka sebenarnya kita akan bisa melihat fenomena replikasi layaknya cerita romantis yang tersegmentasi untuk kelompok usia lebih muda.

Ya, ada banyak replikasi sebagai bukti sebuah situasi seringkali 'menjebak' orang-orang untuk bereaksi terhadapnya. Salah satu contoh nyatanya adalah ketika kita sering mendapati fotografi berita tentang antrian BBM atau bahan pokok. Jika kita jeli, akan sering ditemukan bahwa banyak fotografer 'terjebak' untuk mengambil point of interest yang identik semacam ekspresi wajah anak kecil atau mata sayu orang tua renta yang kelelahan terhimpit diantara antrian tersebut. Memang situasi tersebut memberikan drama yang sempurna, tapi menghadirkan sesuatu yang tak serupa sejatinyalah afirmasi untuk kelas yang berbeda.

Replikasi yang sama seringkali terjadi dalam sebuah film drama. Berapa banyak petualangan cinta yang kemudian berujung di simpul transportasi berbagai moda. Stasiun, Terminal dan tentu saja, yang paling banyak dipakai sebagai set, Bandara. Last Chance Harvey adalah sebuah kisah cinta yang tak muda, dimulai dengan indah, namun sayang, diakhiri terburu-buru dalam stereotip yang tak jauh beda.



Pada akhirnya ini adalah cerita satu dari sekian banyak masalah yang dihadapi dalam perjalanan usia kita. Tak peduli berapapun, setiap usia memiliki tantangannya tersendiri. Toh sesungguhnya masalahnya adalah bagaimana kita menghadapi masalah tersebut dan menjadi lebih bijak, lebih dewasa dan lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan selama ini. Dengan begitu, kita dapat meneruskan perjalanan hidup kita dengan lebih bermakna....


2008, Dustin Hoffmann, Emma Thompson
Picture taken from:media.theiapolis.com

Friday, July 8, 2011

Rabbit Hole

Ketika setahun lalu saya mendapat kabar dari dokter tentang penyakit yang diderita ayah saya beserta segala macam konsekuensinya. Beberapa waktu kemudian, saya menyarankan ayah untuk juga mengisi waktu luangnya dengan mengikuti sebuah grup terapi.

Tujuan dari keberadaan sebuah grup terapi biasanya adalah untuk memberikan referensi bagi para anggotanya bahwa mereka tidaklah sendiri dalam menghadapi suatu situasi. Ada orang lain yang memiliki pengalaman hidup serupa dengan mereka. Dan dengan berbagi diantara mereka, akan ada kesempatan untuk saling menguatkan.

Hal yang menjadi masalah biasanya adalah perbedaan karakter asli individu tersebut yang akhirnya berujung pada cara mereka menyikapi suatu cerita berbau solusi yang disodorkan oleh individu lain dalam grup terapi tersebut. Perbedaan karakter juga akhirnya akan membawa perbedaan visi dan pengharapan mereka terhadap grup terapi tersebut.

Bapak saya adalah orang yang lebih banyak diam ketimbang bercerita dan karenanya terus ngotot untuk memilih cara lain menghadapi penyakitnya. Bapak saya memilih untuk melanjutkan bekerja ketimbang pensiun dan menghabiskan waktu untuk berkeliling dan berbagi cerita dengan sesamanya. Bapak saya ingin memilih cara yang sama dengan Sir Alex Ferguson, Pelatih Manchester United yang usianya 70 tahun itu yang pernah berkata bahwa alasan ia masih melanjutkan karir adalah bahwa ia memiliki ketakutan terbesar bahwa pensiun akan membuatnya kehilangan yang dicintainya, lalu tak lama kemudian ia akan mati sebagai seorang pensiunan...

Pilihan itu tentu saja terus menjadi perdebatan dalam keluarga kami, terlebih bagi ibu dan adik saya karena dokter memang sudah mewanti-wanti agar bapak untuk mengurangi aktivitas pekerjaan, bahkan kalau bisa pensiun. Benak kami terisi oleh perasaan was-was akan kehilangan sosok yang luar biasa itu. Sementara ayah lebih khawatir pada kehilangan kemampuannya untuk menjadi pemimpin keluarga dan pemberi nafkah yang baik.

Situasi kehilangan dan grup terapi juga yang dialami Becca dan Howie ketika mereka harus menghadapi kenyataan Danny, putra kecil mereka meninggal karena kecelakaan. Setelah beberapa waktu mengikuti grup terapi, Becca mulai merasakan kesia-siaan. Apalah artinya dikuatkan oleh orang yang pada dasarnya juga belum mampu menguatkan dirinya sendiri? Penilaian yang dikuatkan dengan fakta bahwa ia menemui Gaby dan Kevin, pasangan yang sudah delapan tahun ikut berbagi di grup curhat, tapi tak jua bisa menaklukkan kesedihan dan rasa kehilangan mereka.

Maka sementara Howie masih berusaha terus datang dan saling berbagi, Becca pun berusaha mencari cara lain. Lalu pada sosok yang tak diduga-duga, Becca menemukan jalan menuju dunia paralel.

Mengenal konsep dunia paralel entah mengapa membuatnya merasa nyaman. Bahwa ia dan kehilangan yang harus dihadapinya hanyalah salah satu versi kehidupan. Sementara di dunia lain, ia adalah Seorang ibu yang hidup bahagia dengan anak laki-laki yang tumbuh besar di sisinya.

Lucu memang bahwa dunia paralel ternyata memberikan Becca alternatif cara menjalani hidup yang berbeda ketimbang situasi penuh ingatan-ingatan buruk yang terus menghantuinya ketika ia ada di rumah. Bagaimanapun, Becca seperti hidup dalam dua dunia. Ia terkadang terlihat sangat normal dan telah mampu melanjutkan hidup. Lalu bisa dengan mudah meledak ketika ia berada dalam situasi yang melibatkan anak-anak.

Becca dan Howie mewakili naluri manusia yang memang akan selalu sulit menghadapi situasi kehilangan. Grup Terapi atau Dunia Paralel akhirnya memang sama saja, hanya sebuah upaya duniawi yang ditawarkan pada masing-masing dari mereka. Mereka sejatinya hanyalah juga obat luar. Dan karenanya masih mensyaratkan penggunanya untuk tidak menafikan ketetapan Tuhan dalam setiap peristiwa agar penerimaan itu sejati dan tidak bias.

Dari situ pula saya lamat-lamat belajar mengerti bahwa pilihan ayah untuk terus bekerja juga patut dihormati selain selama mampu kami menyepakati batasan-batasan yang logis. Saya tak lagi memaksanya berhenti. Secara sepihak memaksa seseorang untuk mengikuti jalan yang menurut kita tepat hanya akan membuatnya terdorong masuk kedalam lubang kelinci nan gelap dan pekat. Kehilangan dan kunci menghadapinya pada akhirnya memang sebuah perkara personal...


*****

#Merriam Webster : a bizarre or difficult state or situation —usually used in the phrase down the rabbit hole

*****



#gambar diambil dari wikipedia