Showing posts with label Percakapan Hati. Show all posts
Showing posts with label Percakapan Hati. Show all posts

Friday, September 14, 2012

Kemenyek


Jika pun ente benar ttg suatu hal, jangan bertindak seakan-akan ente adalah yang paling benar dalam segala hal. Apalagi jika ente cuma setengah benar atau salah. "..Daripodo kisinan...", kata orang jawa. Control yourself, diam dan berpikirlah masak-masak sebelum ente menyesal karena telah bertindak berlebihan hanya karena merasa benar, lalu gagal mencapai tujuan hidup yang lebih prinsip atau tak menemukan keberanian untuk meminta maaf atas cara kita bersikap. Kita adalah makhluk yang hidup dalam kasih sayang tuhan yang masih menutupi aib kita, jika anda percaya....

Saturday, September 8, 2012

Desir

hai...

aku tak cukup mengerti masa

mungkin kelak, ketika seseorang,

sekonyong-konyong, meracau namamu

dan tengkuk ku tak lagi berdesir,

lalu kita akan kembali saling menyitir.

sesekali, sewajarnya,

seharusnya....

Tuesday, May 29, 2012

Jatuh Cinta, Sekali Lagi....

Dua hari yang lalu, dalam sabtu yang cerah, saya mudah marah.  Skedul kegiatan yang padat, Lembur tak terjadwal, rapat yang berbelit, inefisiensi kerja rekan setim, jebakan macet dalam cuaca yang terik karena ada serombongan orang bayaran dalam kampanye jangkrik!, dan mata saya pun gampang mendelik.  Istri saya, yang sama-sama lelah setelah lomba juga kena dampaknya dan ia ingin balik mendelik namun akhirnya memilih diam.  Lalu di rumah, ketika amarah mulai merendah, ia baru berkata..

"...ketika kita dikecewakan orang lain, lucunya memang justru lebih mudah ke pasangan ketimbang orang lain itu ya pa..." 

saya tersedak sembari mencerna, lalu jatuh cinta padanya, sekali lagi... ^^

****

Thursday, February 9, 2012

Jam Tiga Sore, Sembilan Februari

Bukit berkabut dihadapanku...
Debur sendang biru di sudut matamu...

Kita duduk berlawan tengkuk.... 

Nafas kita masih saling peluk


Lalu entah kapan...

Setahuku Jam Tiga Sore...

Matahari menghabis di cakrawala

Menelanmu bersamanya

Setahuku Sembilan Februari

Ketika kutahu pasir pantai tuntas mengubur

Lima huruf pemberian ibuku...





Wednesday, December 28, 2011

MELANCHOLIA

Akhir tahun sedang menjelang.  Pertokoan besar dan kecil berlomba merebut hati pelanggan yang datang. 20%, 50%, 50+20, "Beli 1 Dapat 2", atau 70%.  Label-label 'menggiurkan' itu melekat erat di setiap rak dagangan, layaknya seorang gadis yang menggoda kekasih pujaan. 

Di kasir, deretan pembeli, kebanyakan perempuan berpenampilan kelas menengah, menggenggam nota-nota pembelian yang membahagiakan.  Sebagian mulai resah, dalam situasi riuh seperti ini, antrian dan kesabaran memang dua kutub yang sulit disatukan.

Ya, sore itu saya menemani istri mencari beberapa keperluan rumah tangga.  Sedikit rizki lebih yang kami peroleh, akhirnya kami belikan pula beberapa potong pakaian dan beberapa keping DVD untuk menghabiskan malam hari.

Melancholia adalah salah satu judul keping DVD yang kami beli.  Lars Von Trier sebenarnya bukan sosok sutradara yang 100% meyakinkan.  Karyanya seperti The Antrichist mengundang kerut banyak orang.  Tapi saya tertarik membeli karena ingin melihat akting Kirsten Dunst yang dihargai aktris terbaik di Cannes karena perannya sebagai Justine film ini.

Justine adalah kakak dari Claire, seorang wanita yang sukses secara finansial dan menjalani rumah tangga yang terlihat bahagia dengan seorang Astronom dan anak lelaki mereka.  Sebaliknya, Justine adalah seorang perempuan yang mengalami depresi.  Tersiksa dengan keadaan Justine, Claire dan suaminya pun merancang sebuah pesta pernikahan untuk kakaknya.  Mereka pikir pernikahan akan membawakan Justine sebuah hidup yang lebih normal.

Dilatari dengan sebuah pemandangan tak normal sebuah bintang biru terang di langit, pernikahan itu pun terjadi.  Tapi seperti halnya sang bintang yang kehadirannya menyimpan misteri, pernikahan yang dipaksakan itu pun lebih mirip tragedi ketimbang selebrasi.


Mungkin Lars Von Trier ingin mengkritik dunia barat yang terlihat hipokrit akhir-akhir ini seperti halnya pesta pernikahan yang berusaha mengubur luapan kepedihan.  Atau Melancholia memang menyimpan misi untuk kita menjadi lebih awas akan hal-hal yang lebih luas ketimbang isi rak pakaian seukuran 1,5 x 2 meter yang berjajar didalam pertokoan. 

Ya, sementara kita sibuk merencana selebrasi pergantian angka di tanggalan, di bagian dunia lain, dua kutub kekuatan politik dunia yang terlihat adem ayem rupanya juga sedang menguji kesabaran masing-masing. 

Amerika Serikat dan Israel terus menerus mencari celah untuk 'menghalalkan' rencana mereka menyerang Iran.  Cuma Iran, penghalang mereka dari kekayaan timur tengah yang mereka pikir sanggup  untuk memberikan jawaban atas hutang ratusan triliun dollar sang polisi dunia.

Sama seperti Irak, tidak ada senjata pemusnah masal milik Iran.  Secara militer, kedua negara itu tak punya apa-apa untuk melawan hulu ledak nuklir Amerika dan Israel, meriam EMP (Elektro Magnetik Pulse), bahkan rencana perang biologis keji Amerika dengan menyebarkan mutasi kelima virus Avian Influensa ke udara Iran. 

Jika benar temuan Ron Fouchier, ahli virologi belanda, tentang pengembangan virus ini, maka ini berarti dunia barat sekali lagi ingin mengulangi tragedi Flu Spanyol yang disebarkan di akhir perang dunia I dan membunuh sekitar 50-100 juta orang, 3-6% populasi kala itu.

Terusik dengan perilaku Amerika Serikat dan sekutunya yang makin liar, Russia dan China belakangan telah menginstruksikan pasukan militernya untuk bersiaga penuh.  Kasus penembakan duta besar Rusia untuk Syria yang diduga didalangi oleh CIA dan M16 menambah runyam situasi.

Mirip dengan cerita agen rahasia di film bukan? Hanya saja berkebalikan dengan propaganda Holywood, sang protagonis mungkin saja mereka yang ada di sisi lain dari sang tokoh utama.

Ada banyak versi tentang bagaimana dunia akan berakhir.  Serangan makhluk luar angkasa berteknologi tinggi yang butuh sistem pendukung kehidupan baru bagi planet mereka yang mati.  Merebaknya virus yang membuat semua orang terinfeksi dan menjadi zombie.  Juga tumbukan bumi dengan meteor sebagaimana diyakini telah membuat dinosaurus punah dan divisualkan oleh banyak sineas asing.  Armageddon, Deep Impact, The Happening, Knowing, dan terakhir adalah Melancholia.     

Tapi jika kita mau melirik kenyataan yang lebih rasional, adalah kita dan tindak tanduk kita yang lebih mengkhawatirkan ketimbang faktor-faktor eksternal itu.  Polusi yang kita timbun akan mematikan kehidupan pelan-pelan.  Toh, keserakahan finansial yang potensial ujungnya akan memicu perang nuklir akhir zaman, tampak lebih nyata bukan? 

Dalam islam, salah satu riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda menjelang kiamat adalah terlalu menjamurnya pertokoan dan perniagaan.
Dan lucunya, apa yang berusaha ditutup-tutupi Amerika saat ini sudah lama diramal oleh Thomas Jefferson, pendiri mereka sendiri, yang kata-kata ramalannya dua ratus tahun lalu kini terasa lebih hebat ketimbang bualan Nostradamus... 

"..I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies.  If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around will deprieve the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered.."

Ya, begitu banyak yang sudah merasakan krisis finansial.  Bukti kegagalan ekonomi liberal yang tanpa sadar menjajah kebebasan hidup kita lewat beragam contoh, bahkan yang sesederhana kartu kredit dan diskon. 

Pada akhirnya kiamat, bagaimanapun versi yang anda percayai, pada akhirnya adalah tentang memperbaiki diri di setiap sisa hari hidup.  Dan beruntungya, tak seperti Claire dan Justine yang harus menata diri menghadapi kenyataan yang tak diinginkan, kita tak pernah akan tahu kapan itu terjadi.  Kecuali bagi anda yang percaya kalender Maya 2012, maka sebaiknya bergegaslah menunaikan apa yang perlu ditunaikan.  Waktu anda tak sampai 3 jam lagi akan berakhir....

Selamat Tahun Baru, Live Positively... 







Tuesday, October 4, 2011

THE PROPOSAL (1)

Baik dan buruk.  Kadang, repetisi pengalaman buruk masa lalu yang masif itu mengendap menjadi memori, untuk tanpa sadar kita menyusun definisi.   Laki-laki itu begini.  Perempuan itu begitu.  Kita semua memilikinya.  Tak hanya kamu.  Tak hanya aku.  Dan karenanya sungguh tak pantas aku menggugat apapun tentangnya, siapapun karenanya... 

Lihat bahwa aku menemuimu dalam diriku yang kau lihat sekarang.  Kamu ingat bukan, sejak awal pun, aku tidak banyak menjanjikan untuk membelikanmu pakaian setiap bulan, karena itu akan terasa berat bagiku.  Pun mengajakmu memuaskan hasrat mencicipi ragam rasa penganan, tak akan mungkin terjadi setiap hari.  Belum lagi rumah indah.  Setidaknya sekarang, entah nanti....  

Lebih buruk lagi dari soal materi, aku juga dingin (mungkin), Not too good looking? jelas.  Posesif?  Mungkin aku memang sudah terlalu banyak kehilangan...  

"...Lalu apa hak-ku menilai diri lebih baik darimu?.."


Pertanyaan itu yang terus terngiang di kepalaku pada pagi setelah malam panjang kita itu.  Pagi itu menyesal.  Menyesal bahwa aku harus menunggu sampai pagi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu dan segala tentangmu adalah sama.  

Tak ada yang berhak menilai dirinya lebih baik, tidak aku, tidak kamu, tidak siapapun di dunia.  Dan karena itu pula aku meyakinkan diri untuk menyodorkan proposal ini.

Aku sudah mengenal perempuan yang (dianggap) sempurna, pun dia yang menafikan semua definisi kesempurnaan.  Denganmu, aku merasa, aku percaya bisa kita saling memberi untuk membuat masing-masing dari kita lebih baik...

Pada akhirnya memenuhi kriteria pria sempurna, a prince charming, jelas tidak akan ada dalam proposal ini.  Menjadi lebih bersih diri dan wangi? itu aku bisa.  Menguras keringatku untuk mencoba menafkahimu dan anak-anak kita? itu pun tak usah kau ragu.  Mengurangi dengkur di tidurku? akan kucoba.  Menjadi tak terlalu posesif? yakinlah bahwa, kita selalu bisa bersama menetapkan batas-batasnya...

Menjadi lelaki yang lebih baik, lelaki yang berbeda dari semua lelaki yang kau kenal sebelumnya, itu saja yang aku bisa janjikan.... 

"...Selain tentunya menjadi lucu, hangat dan mempesona seperti biasanya..."

With all my kind and my bad, this is who i am,

equal, as i accept you for what you are...


And the sole purpose of this proposal is you..


as a friend, as a lover, as the mother of our childs...


So, Would you put your trust on me...?


Wednesday, September 28, 2011

What You Give, You Get Back

atas nama tanggung jawab kolektif, aku mempercayakanmu tentang detil. maka menjadi mengecewakan ketika kita telah sejauh ini, dan akhirnya harus kembali, menakar ulang tentang detilmu. Dan tak kusangkal, aku kini meragukanmu lebih dari sekedar detil.  Pada detik yang tak jauh berbeda, aku juga mengerti bahwa ada bagian masa laluku yang membawamu dan segalanya tentangmu.  Karena sekali lagi aku tak menyangkal, kita pernah berada pada posisi yang sama dalam waktu yang berbeda.  Respon kita setelah kesalahan itu yang akan menyelamatkan masa depan kita....

Tuesday, September 6, 2011

Genre

There were many great stories we've seen.  I was having fun with The Transformers, thoughtfull about Inception, laughed a lot along with Panda.  In the end,  there's a thing stood out.  And its 'Viktor Novorski' which sums it up.  True, it might not be the best.  Perhaps, it's just our genre, Amelia... 

Friday, July 15, 2011

Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan Itu


***

Engkau campur-baur

dan seringkali kabur,

namun aku mencatatmu,

untuk rindu dan lalu kucoba,

melupakanmu


***



Taufiq Ismail
Sajak Ladang Jagung
.1973.

Saturday, May 21, 2011

It's Been A Week, Standin' On Top Of My Playlist

You only stay with me in the morning
You only hold me when I sleep

I was meant to tread the water

But now I've gotten in too deep


For every piece of me that wants you

Another piece backs away


You give me something

That makes me scared alright

This could be nothing

But I'm willing to give it a try

Please give me something

Because someday I might know my heart


You only waited up for hours

Just to spend a little time alone with me

And I can say I've never bought you flowers

I can't work out what they mean


I never thought that I'd love someone

That was someone else's dream

But it might be a second too late
And the words that I could never say

Are gonna come out anyway


You give me something

That makes me scared alright

This could be nothing

But I'm willing to give it a try

Please give me something


Know my heart, know my heart, know my heart




-jamesmorison-

Sunday, May 1, 2011

Dear God

Mendengar orang tua menangis adalah salah satu cobaan terberat bagi kami. Mengetahui bahwa beberapa hal-hal yang kami rencanakan untuk mereka ternyata tidak berjalan sesuai rencana membuat kami sadar. Menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tua sepenuhnya tidak mudah. Kami masih belajar kesana dengan segala kemunduran dan kemajuan. Kami ingin sekali kesana ya Rabb.

Maka terangilah, tunjukilah kami arah yang benar ya Rabb. Agar kami bisa memilih dan melakukan langkah yang tepat untuk memenuhi definisi bakti seorang putra dan putri.

Lapangkanlah hati kedua orang tua kami, angkat beban yang mungkin ada dipikiran ibu dan bapak kami.

Jangan biarkan mereka menderita sedetikpun ya Rabb....

dan jagalah hati kami agar tak larut dan luntur dalam cobaan MU....


#sore ini, dari saya dan adik saya yang luar biasa mulia hatinya...

Wednesday, April 27, 2011

Mata Dibalik Kaca

Sesosok perempuan muda dalam baju merah berkerah tegak yang membungkus tubuh rampingnya yang berwarna cerah. Ia sekitar sepuluh senti lebih rendah dariku, dengan bahu kaku dan rambut yang dikuncir sederhana. Kedua tangannya menenteng tas laptop dan map berisi materi seminar hari ini. Pelan dia berjalan.... dua meter... satu meter.... lalu lima puluh senti lagi kami akan segera berpapasan di lobi hotel.

*..Sebatang pulpen kit seminar berwarna biru yang meluncur turun dari sela map yang digenggamnya....*

Dalam pariwara atau sinema, kadang hal-hal yang hanya berlangsung beberapa detik itu memainkan peran terpenting terhadap hasil akhir. Sebagian menamakannya momen, beberapa orang lain menjulukinya kesempatan. Saya biasa menjuluki waktu itu persilangan.


"...
di luar negeri, hal sesimpel ini biasanya menjadikan saya mengerti bagaimana cara menghubungi anda selanjutnya..."
*tangan saya terjulur ke arahnya, pulpen itu tergolek di telapak...


perempuan itu tersenyum...


"...kali ini sepertinya hanya terimakasih, reward saya untuk refleks anda..."

*rahang kakunya mencair, lekukan kecil di kiri wajahnya hadir..


Saya tersenyum dan mengangguk. lalu membiarkan dia berjalan kembali...


Lalu satu meter setelah saya berjalan menjauh,


"..Aviani, Devi Aviani.."


Logat a'la Bond yang lucu dari mulutnya, saya dan perempuan itu berbalik untuk berbagi senyum sekali lagi. Lalu pintu kaca lobi bergerak menutup pelan,
menguarkan kesadaran bahwa ada kaca diantara mata kami. Ah, sensornya sungguh tepat waktu....



****


#Do you remember the time, When they were the simple things, Where I just looked in to your eyes, Then we’ll be connected. Still I don’t even see, Why we can’t stay this time, So let me remember the shape of the evening, Cause when the day’s over who knows when I’ll see you again.#carnival-aditya sofyan


Monday, January 17, 2011

Muhammad '2

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?"

Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Thursday, December 23, 2010

Muhammad '1

Mengapa Rasulullah SAW mampu menjadi seorang komunikator yang baik?

Ada tiga rahasia kesuksesan komunikasi beliau.

Pertama, adanya kefasihan dan bicara (fashahah) yang bersumber dari kecerdasan beliau sebagai utusan Allah (fathanah).

Rasulullah SAW diutus pada suatu kaum yang sangat mengagungkan kehebatan merangkai kata. Rasulullah SAW pun diutus tidak pada satu golongan manusia. Beliau diutus pada suatu kaum yang memiliki latar belakang ilmu, status sosial, dan spesialisasi yang berbeda-beda. Di antara mereka ada tokoh agama, ahli politik, ahli ekonomi, ahli hikmah, pedagang, peternak, orang kaya, fakir miskin, budak belian, dan lainnya. Semuanya harus diberi argumen agar bisa menerima Islam. Jika Rasulullah SAW bukan manusia paling cerdas, paling luas wawasannya, dan paling jelas juga paling fasih bicaranya, tidak mungkin beliau bisa melakukan semua itu.


Kedua, karena bayan atau ajaran yang Beliau sampaikan mengandung kebenaran mutlak.

Secerdas apa pun orang dan sefasih apa pun ia berbicara, tidak akan bernilai dan tahan lama bila yang diungkapkannya tidak mengandung kebenaran. Salah satu kesuksesan dakwah Rasulullah SAW adalah kesempurnaan ajaran yang dibawanya. Ajaran yang tidak benar (tidak sempurna), argumennya tidak akan jelas, lemah, dan selalu mentah.


Ketiga, semua kata-kata Rasulullah SAW keluar dari hati yang bersih (qalbun saliim); hati yang penuh kasih sayang, hati yang damai, dan bersih dari kotoran dosa.

Tak heran bila kata-kata beliau memiliki "ruh" yang bisa melembutkan hati sekeras batu. Kepintaran, kefasihan bicara, dan kebenaran ajaran, hanya akan menyentuh aspek akal. Hati hanya bisa disentuh dengan kata-kata yang keluar dari hati yang bersih pula. "Bersihkan dengan segala apa yang kamu bisa, karena Allah telah mendirikan Islam ini di atas kebersihan, dan tidak akan masuk syurga melainkan orang-orang yang bersih," demikian Rasulullah SAW yang mulia berpesan kepada kita.



Wallahu a'lam bish-shawab.
dari ustad tetangga

Friday, December 3, 2010

Friday Night Effect

Nobody knows
Just why we're here
Could it be fate
Or random circumstance
At the right place
At the right time
Two roads intertwine

And if the universe conspired
To meld our lives
To make us
Fuel and fire
Then know
Where ever you will be
So too shall I be

-rivermaya-

Tuesday, October 5, 2010

It Is More About The Manner, Not The Result!!!

Aku tidak punya masalah dengan kekalahan, ini hidup pada akhirnya.

Tapi caramu menyerah yang membuatku terganggu.

Dimana energi yang kucintai?....

Mengapa yang tampak hanya letargi?....


"...kamu terlalu jauh dariku untuk bisa mengambil kesimpulan secepat itu..." , katamu


Kamu tahu? Aku sungguh berharap kamu benar

Bahwa aku yang salah menafsirkan keadaanmu

Bahwa aku yang ternyata tak mengerti sepenuhnya siapa dirimu

Tapi kita bukan lagi kawan kemarin sore

Bukan lagi rasa yang tertimbang dari satu dua adu pandang

dan Kita telah jauh-jauh hari mengerti dengan ekspektasi tinggi.

Ini takdir kita. Yang seharusnya membedakan aku dan kamu dengan lainnya.


Lalu kenapa kamu menjadi biasa?

Aku mau kau yang sempurna,

yang kadang dibenci karenanya...


"...see my limitation!!!.." , you said


Sekarang aku mulai melihatnya memang...

walau sekali lagi aku berharap aku yang salah

dan kamu belum luntur, hanya sekedar kabur...

Monday, July 19, 2010

153

Minggu sore, setelah satu persatu teman berpamitan, saya sendirian (lagi) pergi ke kantor. Saya ini makhluk yang sering menikmati kesendirian, tapi tidak terhadap sepi. Dan lembur di kantor pada hari libur (sayangnya) adalah salah satu cara terbaik untuk menemukan kesepian.

Modem yang saya bawa tidak juga mampu mereduksi senyap dalam ruangan 3 x 3 meter yang pengap. Saya sebenarnya tahu sebabnya, tahu juga jawabannya, hanya belum menemukan cara untuk menuliskan jawaban itu. Hampir gila, saya sempat terpikir membuka pembicaraan dengan tiga gentong besar berwarna biru dan seperangkat alat pertukangan yang teronggok di sudut ruangan kantor. Beruntung saya tidak menemukan kapur untuk membuat gambar wajah di ketiga gentong tadi. Still I'm casting away....

Tapi Tuhan memang Maha Baik, digerakkan-Nya hati saya untuk menemuinya di masjid sebelah. Lalu lewat kajian ba'da maghrib itu, diberikan-Nya setetes ilmu yang terkandung dalam sebuah ayat yang indah:

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ ÙˆَالصَّÙ„َاةِ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ù…َعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. 2:153)


So Thank you God

Untuk hari yang kembali mengingatkan bahwa saya masih makhluk lemah yang sama.
Yang Kau jadikan dari pertemuan sperma dan ovum yang lalu Kau tempatkan di tempat yang kokoh... Hari dimana saya rupanya masih laki-laki biasa yang kadang merasakan ketakutan akan sepi.

Dan terimakasih pula untuk kejadian menjelang tengah malam. Yang mengingatkan bahwa saya masih seorang sarjana yang sangat biasa saja. Seorang perencana yang rupanya keyboard saja tidak cukup untuknya. Yang bisa begitu saja lumpuh tanpa mouse biru di tangan kanannya, yang tak tergantikan oleh shortcut, tidak pula keberadaan touch pad....


Tapi setidaknya saya ingat kembali

bahwa saya tidak sendiri...

saat belajar bersabar menjalani hari...






When shadows fill our day
Lead us to a place
Guide us with your grace
Give us faith so we'll be safe

-the prayer-

Sunday, July 18, 2010

disclosure

Duhai Sang Maha pembolak-balik hati...

boleh saya bicara lagi...???

ummm..... nggg.....

ahh..

Tak jadi Tuhan...

Untuk apa merangkai banyak kata

Jika Engkau sudah tahu segalanya

Tolong Ya Rabb...






Wednesday, July 14, 2010

SURAT UNTUK TUHAN

Life is like a gift they say
Wrapped up for you everyday
Open up and find a way
To give some of your own

Isnt it remarkable?
Like every time a raindrop falls
Its just another ordinary miracle today

(ordinary miracle - Sarah McLachlan)

Tuhan, saya menemuimu, agak istimewa hari ini…

Engkau Maha segalanya bukan? Jadi salahkah jika saya juga menganggap-Mu Maha Lucu?

Engkau memang memberi kami kemampuan untuk memilih bagaimana kami akan menjalani jalani hari demi hari, tapi cuma Engkau yang bisa menuntun hati ini. Dan kadang cara-Mu menuntun hati kami memang sungguh lucu dan tak terduga. Persis sebagaimana Engkau seringkali mencurahkan rizkimu lewat pintu yang tak disangka-sangka.

Maka terimakasih Tuhan…

Untuk bahu indah dan rambut kuncir sederhana yang Kau pertemukan denganku desember dua tahun lalu. Benar bahwa waktu itu saya tidak tahu seberapa besar pengaruh kontak fisik beberapa menit itu. Bukan cinta rasanya. Tapi hati yang Kau titipkan begitu saja mengerti bahwa hari itu saya akan mengalami sesuatu yang tidak biasa.

Terimakasih juga Tuhan...

Karena kami akhirnya mengalami kesempatan yang mempertemukan, perpisahan yang menentukan, dan kecocokan yang menyenangkan setelah sore itu. Sore dimana saya menemukan my serendipity, another ordinary miracle. Siapa lagi jika bukan Kau yang mengumpulkan yang terserak diantara kami.

Dan terakhir, terimakasih juga untuk selasa yang, uhmmm….. istimewa??!.

Selasa, 13 Juli 2010 yang akan saya (dan dia) simpan sebagai hari dimana kami menyadari apa arti pertemuan kami dulu dan kenapa Kau memerangkap kami dalam lingkaran kecil yang menyenangkan ini. Hari dimana Kau ijinkan saya memainkan pertandingan futsal terbaik hingga saat ini. Hari dimana Engkau juga membuat saya tertawa saat tanpa request, Kau perintahkan sound system di lapangan futsal memutar lirik yang unexpectedly funny ini…

"....Nyanyikan lagu indah

Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali

Nyanyikan lagu indah

Tuk melepasku pergi dan tak kembali

Nikmati detik demi detik

yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi

Hirup aroma tubuhku

yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu..."


Cuma Engkau yang bisa memilihkan lagu selucu itu tanpa kuminta...


Its seems so exceptional
Things just work out after
all
Its just another ordi
nary miracle today


Sekali lagi, Terimakasih Tuhan.....

Tuntun saya, tuntun dia, agar selalu di jalan-Mu yang indah (dan lucu)...













*Dan tolong, mudahkan bagi mereka, orang-orang baik yang sedang kau uji kesehatannya…*