It's been one hundreed and fifty days, and this is what i think of you sir....
1. improving public welfare ? - finger crossed -
2. improving public health ? - we hear a thing or two -
3. take education to the next level ? - still try to reach the moon with the same old rocket? -
5. on religiousness, tolerance ? - fulfill prediction of many -
6. any public transport project or idea ? - never heard -
7. on reaching the minimum standard of green open space? - sidewalk -
8. dare to rejuvenate the bureaucracy ? - flapping like 'that bird' -
9. on spreading a new optimism ? - the clock is ticking, and still i couldn't find you on my timeline -
10. improving staff's welfare ? - wake me up when september ends -
so... here's how i define you now...
Even moyes deserve time, so yes, i also believe that you deserve to be given enough time to show that you're not only a man with heart and vision, but also action.
Yet, with every seconds passed, every defeat felt, every encouraging tweet from other city filtered through the timeline, every decision bad managed, you'll lose the momentum and i'm afraid, my trust, too, Sir...
Showing posts with label Inside My Mind. Show all posts
Showing posts with label Inside My Mind. Show all posts
Sunday, February 9, 2014
Thursday, August 8, 2013
1434
Pada masa ketika interaksi sebagian besar kita berputar dalam lingkup dan kecepatan lokal, lebaran adalah waktunya berkeliling sembari mencicipi kue demi kue yang disajikan empunya rumah. Mereka yang cukup dekat kadang tinggal lebih lama untuk menikmati opor atau sroto sambil bertukar kisah setelah saling meminta maaf.
Lalu nyaris bersamaan dengan dimulainya ledakan ketertarikan kita pada kendaraan pribadi, datanglah telepon genggam yang menawarkan penawar kemacetan mudik yang menyebalkan dan lebaran pun berlalu meninggalkan kue-kue kering yang tak tandas dalam toples gelas.
Menumpuknya jumlah nomer telepon yang tersimpan membuat sementara pemiliknya memilih memanfaatkan kecanggihan teknologi dan harga promo pesan singkat operator seluler untuk mengetik untaian maaf nan indah dan seragam, lalu mengirimnya ke berpuluh tujuan di satu waktu, layaknya jenderal yang mengirimkan bala tentaranya ke medan laga. Waktu menjadi terlalu singkat untuk satu persatu pesan singkat itu. Beberapa waktu lalu seorang teman saya yang jengah berkeluh kesah tentang hal itu. "..saya tak mau membalas sms seperti itu..". Saya tertawa dalam diam karena saya juga melakukannya lebaran tahun itu, hanya kebetulan saja saya lupa mengirimkan pesan serupa padanya.
Ketika layanan seluler pemintas jarak itu makin tersedak oleh media sosial yang 'seolah' tak menyoal ongkos berbual, sementara kita mulai menemukan lagi cara lain menyucikan diri dari kesalahan antara kita. Prosedur "ketik maaf-cari buku telepon-tambahkan penerima-kirim" masihlah terlalu inefisien. Maka berduyun-duyun sosialita (mungkin kita diantaranya) mulai mengecat permohonan maaf di tembok-tembok biru yang nyaris seragam itu. Tinggal "ketik-post" saja maka sontak ada peluang ratusan atau ribuan sahabat dan kerabat yang melintas di depan tembok rumah akan sempat membaca permohonan maaf itu, lalu menerima lalu berkomentar atau membalas kicauan kita. Keyakinan yang barangkali lahir karena pikir kita, pada dasarnya sang pelintas sependapat bahwa ketulusan memang harus menemukan cara untuk beradaptasi terhadap dunia yang bergerak lebih cepat dalam seratus empat puluh karakter dan bencana hobi transportasi pribadi yang kini membuat dunia terlalu naif untuk dikatakan hanya selebar celana kolor. Saya sungguh ingin tahu pendapat kawan saya tadi, tentang itu...
Bagi yang mengalami, mungkin ini adalah masa dimana kunjungan lebaran menjadi terlalu mahal untuk sekedar meminta maaf dan beberapa biji kue kering. Toples gelas di rumah makin tak terjamah karena makin banyak tamu yang memilih menjadi tuan rumah.
Hari ini kita lebaran lagi. Beberapa kawan sudah mengirimkan pesan singkat lewat telepon seluler. Saya sendiri belum membalas atau menghaturkan maaf kemana-mana hingga saat ini kecuali pada orang tua dan mertua. Malam takbiran terlanjur berlalu saya habiskan menunggui si kecil yang sedikit kembung dan rewel menjelang lebaran kali pertamanya, namanya juga bayi. Tapi saya telah berjanji untuk membalas mereka satu persatu walau mungkin tak dalam satu waktu. Karena lebaran, barangkali memang bukan sekedar memuaskan hasrat meminta maaf. Ada hubungan yang tak ingin tertinggal diantaranya.
Selamat berlebaran. semoga kita didekatkan pada ramadhan tahun depan, menemukan cara terbaik untuk saling memaafkan dan mempererat persaudaraan, dan dijauhkan dari keinginan menyimpan buruk sangka...
Karena dunia sudah terlalu pengap dengan metana dan karbondioksida....
Purwokerto, 8 Agustus 2013
Lalu nyaris bersamaan dengan dimulainya ledakan ketertarikan kita pada kendaraan pribadi, datanglah telepon genggam yang menawarkan penawar kemacetan mudik yang menyebalkan dan lebaran pun berlalu meninggalkan kue-kue kering yang tak tandas dalam toples gelas.
Menumpuknya jumlah nomer telepon yang tersimpan membuat sementara pemiliknya memilih memanfaatkan kecanggihan teknologi dan harga promo pesan singkat operator seluler untuk mengetik untaian maaf nan indah dan seragam, lalu mengirimnya ke berpuluh tujuan di satu waktu, layaknya jenderal yang mengirimkan bala tentaranya ke medan laga. Waktu menjadi terlalu singkat untuk satu persatu pesan singkat itu. Beberapa waktu lalu seorang teman saya yang jengah berkeluh kesah tentang hal itu. "..saya tak mau membalas sms seperti itu..". Saya tertawa dalam diam karena saya juga melakukannya lebaran tahun itu, hanya kebetulan saja saya lupa mengirimkan pesan serupa padanya.
Ketika layanan seluler pemintas jarak itu makin tersedak oleh media sosial yang 'seolah' tak menyoal ongkos berbual, sementara kita mulai menemukan lagi cara lain menyucikan diri dari kesalahan antara kita. Prosedur "ketik maaf-cari buku telepon-tambahkan penerima-kirim" masihlah terlalu inefisien. Maka berduyun-duyun sosialita (mungkin kita diantaranya) mulai mengecat permohonan maaf di tembok-tembok biru yang nyaris seragam itu. Tinggal "ketik-post" saja maka sontak ada peluang ratusan atau ribuan sahabat dan kerabat yang melintas di depan tembok rumah akan sempat membaca permohonan maaf itu, lalu menerima lalu berkomentar atau membalas kicauan kita. Keyakinan yang barangkali lahir karena pikir kita, pada dasarnya sang pelintas sependapat bahwa ketulusan memang harus menemukan cara untuk beradaptasi terhadap dunia yang bergerak lebih cepat dalam seratus empat puluh karakter dan bencana hobi transportasi pribadi yang kini membuat dunia terlalu naif untuk dikatakan hanya selebar celana kolor. Saya sungguh ingin tahu pendapat kawan saya tadi, tentang itu...
Bagi yang mengalami, mungkin ini adalah masa dimana kunjungan lebaran menjadi terlalu mahal untuk sekedar meminta maaf dan beberapa biji kue kering. Toples gelas di rumah makin tak terjamah karena makin banyak tamu yang memilih menjadi tuan rumah.
Hari ini kita lebaran lagi. Beberapa kawan sudah mengirimkan pesan singkat lewat telepon seluler. Saya sendiri belum membalas atau menghaturkan maaf kemana-mana hingga saat ini kecuali pada orang tua dan mertua. Malam takbiran terlanjur berlalu saya habiskan menunggui si kecil yang sedikit kembung dan rewel menjelang lebaran kali pertamanya, namanya juga bayi. Tapi saya telah berjanji untuk membalas mereka satu persatu walau mungkin tak dalam satu waktu. Karena lebaran, barangkali memang bukan sekedar memuaskan hasrat meminta maaf. Ada hubungan yang tak ingin tertinggal diantaranya.
Selamat berlebaran. semoga kita didekatkan pada ramadhan tahun depan, menemukan cara terbaik untuk saling memaafkan dan mempererat persaudaraan, dan dijauhkan dari keinginan menyimpan buruk sangka...
Karena dunia sudah terlalu pengap dengan metana dan karbondioksida....
Purwokerto, 8 Agustus 2013
Monday, April 1, 2013
Dengar Kami Malang
Empat belas tahun yang lalu saya jatuh cinta
dengan kota ini, yang dinginnya membuat saya tidak harus mandi sebelum
kuliah pagi. Sesuatu yang sekarang sulit terjadi. Suhu bumi meningkat
dan yang kita lakukan setiap harinya di Kota ini bisa jadi berkontribusi
terhadapnya. Barangkali suatu hari saya akan menjadi apatis, tapi
untuk sekarang, berpikir positif dan berbuat nyata untuk kota ini masih yang
terbaik. Berada di lingkaran pemerintahan, walau di level bawah, saya
bisa melihat masih banyak birokrat yang menjadikan perubahan sebagai
tekad. Sementara di luar, saya tahu ada banyak kekuatan dalam ragam
komunitas hijau yang ingin menyelamatkan ruang hidup yang layak. Malang
yang lestari itu memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin....
Dirgahayu Kotaku, semoga engkau segera mendapatkan transportasi publik
yang layak, RTH yang memberi nilai tambah kehidupan, dan kemajuan
ekonomi yang bersahabat dengan bumi...
Saturday, March 16, 2013
Antri Obat
Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir saya jarang butuh berobat dan sebagai konsekuensinya, saya juga tidak punya cukup banyak pengalaman personal tentang pelayanan kesehatan. Tapi namanya manusia, akhirnya ada juga saatnya harus pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk kasus saya, adalah istri yang memaksa pergi karena batuk yang saya alami ketika kedinginan dan dimulai dari sejak terekspos blower AC bus di perjalanan luar kota terakhir telah seminggu ini mengganggu.
Jujur, saya terkesan dengan kecepatan pengurusan administrasi di Puskesmas yang saya datangi. Sistem yang digunakan masih manual dan sebagai seorang yang baru pernah memeriksakan diri di tempat tersebut, saya sempat khawatir akan ditanya macem-macem data dan fotokopi ini itu. Tapi tidak, hanya butuh waktu lima menit untuk sang ibu mencatat data yang dibutuhkan and thats it. Saya bisa mengantri pemeriksaan dokter.
Pemeriksaan dokter juga berjalan cukup lancar dan komunikatif. Saya baru mengernyitkan dahi ketika sejam setelah pemeriksaan dokter tersebut, saya masih saja duduk di bangku antrian penukaran resep dengan obat gratis. Saya adalah antrian nomor dua dan setelah saya, masih banyak lagi yang menunggu. Beberapa remaja yang menemani neneknya dan ibu muda yang mengantri obat untuk anaknya mulai tidak sabar dan beberapa kali bangkit dari bangku antrian, melongok ke jendela layanan yang diatasnya ditempel kalimat ini...
Tak ada yang salah dengan kalimat itu. Rasa ingin tahu saya adalah apa benar butuh selama itu untuk memproses resep yang sempat saya baca terdiri dari tiga macam obat generik standar, bukan racikan kapsul?
Hari itu hari Jumat. Puskesmas seperti halnya instansi pemerintahan lainnya, sepertinya terjebak dengan situasi pagi hari yang diisi aktivitas olahraga untuk stafnya. Pengalaman pribadi di kantor saya menunjuk angka 9 sebagai waktu jam pelayanan baru efektif dimulai di hari Jumat.
Inilah kultur yang perlu dirubah. Dan saya pikir mempercepat pelayanan tidak sulit, barangkali hanya dengan mengukur ulang waktu olahraga staf dan menata kembali jumlah petugas yang menangani satu tugas tertentu. Terlalu banyaknya petugas di ruang pelayanan resep membuat potensi mereka untuk menghabiskan waktu bersama makin tinggi.
Menunggu petugas meracik obat itu memang wajar bersabar. Tapi sabar jelas kata yang sulit, ketika melihat dari balik kaca bahwa para petugasnya bercengkrama dengan asyik dan panjang lebar sementara membiarkan resep menumpuk?
Jujur, saya terkesan dengan kecepatan pengurusan administrasi di Puskesmas yang saya datangi. Sistem yang digunakan masih manual dan sebagai seorang yang baru pernah memeriksakan diri di tempat tersebut, saya sempat khawatir akan ditanya macem-macem data dan fotokopi ini itu. Tapi tidak, hanya butuh waktu lima menit untuk sang ibu mencatat data yang dibutuhkan and thats it. Saya bisa mengantri pemeriksaan dokter.
Pemeriksaan dokter juga berjalan cukup lancar dan komunikatif. Saya baru mengernyitkan dahi ketika sejam setelah pemeriksaan dokter tersebut, saya masih saja duduk di bangku antrian penukaran resep dengan obat gratis. Saya adalah antrian nomor dua dan setelah saya, masih banyak lagi yang menunggu. Beberapa remaja yang menemani neneknya dan ibu muda yang mengantri obat untuk anaknya mulai tidak sabar dan beberapa kali bangkit dari bangku antrian, melongok ke jendela layanan yang diatasnya ditempel kalimat ini...
MERACIK OBAT
Membutuhkan
Waktu dan Ketelitian
Mohon kesabarannya
Untuk menunggu
Hari itu hari Jumat. Puskesmas seperti halnya instansi pemerintahan lainnya, sepertinya terjebak dengan situasi pagi hari yang diisi aktivitas olahraga untuk stafnya. Pengalaman pribadi di kantor saya menunjuk angka 9 sebagai waktu jam pelayanan baru efektif dimulai di hari Jumat.
Inilah kultur yang perlu dirubah. Dan saya pikir mempercepat pelayanan tidak sulit, barangkali hanya dengan mengukur ulang waktu olahraga staf dan menata kembali jumlah petugas yang menangani satu tugas tertentu. Terlalu banyaknya petugas di ruang pelayanan resep membuat potensi mereka untuk menghabiskan waktu bersama makin tinggi.
Menunggu petugas meracik obat itu memang wajar bersabar. Tapi sabar jelas kata yang sulit, ketika melihat dari balik kaca bahwa para petugasnya bercengkrama dengan asyik dan panjang lebar sementara membiarkan resep menumpuk?
Saturday, February 23, 2013
Sama Rasa
Awan-awan keabuan pengantar hujan mulai bergerak pelan menepikan nuansa biru dan putih di langit. Sisa terik sabtu siang bercampur angin kencang menerjang jalanan yang padat kendaraan. Kemacetan di jalur utama kota memang sudah beberapa bulan terakhir menjadi rutinitas akhir pekan. Potret kemajuan ekonomi dan daya tarik kota kilah sementara pembesar. Sedang orang-orang yang mengalaminya seringkali berpendapat berbeda. Terlebih jika orang-orang yang terjebak dalam kemacetan itu menemui situasi dimana persamaan hak mereka di jalan raya ditantang beberapa orang yang ingin diutamakan.
Saya adalah salah satu yang sangat terganggu dengan pengutamaan segelintir orang tadi siang. Terjebak macet sejak di bawah Fly Over A Yani, saya tiba-tiba mendengar sirene dari arah belakang yang meraung mendekat. Terpikir awalnya bahwa ada ambulans mendekat, orang-orang yang terjebak macet disekitar saya pun sepertinya berpikiran sama, bergerak mencoba memberi jalan. Namun ketika suara itu semakin dekat dan tercampur dengan bunyi klakson khas, saya tahu itu mobil polisi yang biasa melakukan pengawalan.
Ketika itu posisi saya berada di samping sebuah dump truck kuning pengangkut material, persis di bibir jalan sehingga sebenarnya sejak awal tidak ada lagi kemungkinan memberi jalan. Maka menjadi sangat tidak menyenangkan ketika mobil polisi dan rombongan yang dikawalnya itu terus menyeruak, mencoba memaksa truk di samping saya bergeser. Menyadari bahwa ada beberapa pengendara motor di sisi kirinya, si pengemudi truk awalnya enggan segera meminggirkan kendaraannya. Tapi bunyi klakson keras dan berulang dari mobil polisi akhirnya memaksanya mengalah, yang tentu saja membuat saya dan antrian sepeda motor dibelakang semakin terdesak dan susah payah berhenti diantara jepitan truk dan mobil-mobil dibelakangnya.
Setelah berhasil memposisikan motor di belakang truk, saya melihat salah satu polisi itu dari dalam mobil menunjuk-nunjuk dan mengumpat berkali-kali pada sopir truk sebelum akhirnya bergerak melaju mendesak kendaraan lain di depannya yang masih terjebak antrian satu kilometer-an. Di belakangnya mengular beberapa kendaraan mewah, plat merah luar kota dengan sedikit angka, khas kendaraan pejabat dengan strata beberapa tingkat diatas pegawai biasa seperti saya.
Berusaha melanjutkan perjalanan, saya terkejut dengan tingkah salah satu dari kendaraan rombongan itu, sebuah toyota landcruiser hitam mengkilat yang membuka kaca kiri depannya. Dari kaca itu, sang penumpang dengan setelan jas, mengeluarkan tripod kamera, separuh panjangnya.
Entah apa maksudnya, mungkin mereka pikir bahan metal tripod itu akan memaksa kendaraan-kendaraan di depannya memberi lebih lebar jalan. Pikiran memberi jalan pada saat itu telah hilang sepenuhnya dalam benak saya. Dan ketika pada beberapa saat kemudian kecepatan rombongan itu kembali terhambat kemacetan dan saya berhasil meliukkan motor bersisian dengan fortuner tadi, saya melihat empat orang didalamnya. Satu orang berpakaian batik dan tiga orang bersetelan jas sedang tertawa-tawa sambil terus mengacungkan tripod itu di samping saya.
Beberapa detik kemudian secara resmi saya kirimkan beberapa umpatan dan kutukan untuk mereka. Lega rasanya saat itu walau perasaan menyesal timbul setelah saya sampai di rumah dan menyadari bahwa umpatan itu adalah sebuah kesia-siaan....
Di rumah saya mencoba mencari dasar dan menemukan bahwa dalam Peraturan Pemerintah No 43/1992, disebutkan bahwa semua orang adalah setara dalam hak dan kewajiban memanfaatkan jalan. Sebuah pernyataan yang seharusnya menjadikan kita equal, sama rasa ketika ada di jalan raya. Rombongan arogan siang tadi rasanya jauh dari kategori pengecualian kendaran yang wajib didahulukan, sebagaimana disebutkan dalam pasal 65 ayat 1 :
Maka semoga anda semua yang masuk rombongan arogan tadi dijauhkan dari jabatan dan kemampuan mempengaruhi negara serta anda diberikan kesempatan sebesar-besarnya menikmati macet seperti saya dan warga negara lainnya rasakan.... Karena ketidakmampuan para pejabat dalam memahami hal-hal 'remeh' seperti inilah yang membuat Indonesia kesulitan memenuhi potensinya.
Saya adalah salah satu yang sangat terganggu dengan pengutamaan segelintir orang tadi siang. Terjebak macet sejak di bawah Fly Over A Yani, saya tiba-tiba mendengar sirene dari arah belakang yang meraung mendekat. Terpikir awalnya bahwa ada ambulans mendekat, orang-orang yang terjebak macet disekitar saya pun sepertinya berpikiran sama, bergerak mencoba memberi jalan. Namun ketika suara itu semakin dekat dan tercampur dengan bunyi klakson khas, saya tahu itu mobil polisi yang biasa melakukan pengawalan.
Ketika itu posisi saya berada di samping sebuah dump truck kuning pengangkut material, persis di bibir jalan sehingga sebenarnya sejak awal tidak ada lagi kemungkinan memberi jalan. Maka menjadi sangat tidak menyenangkan ketika mobil polisi dan rombongan yang dikawalnya itu terus menyeruak, mencoba memaksa truk di samping saya bergeser. Menyadari bahwa ada beberapa pengendara motor di sisi kirinya, si pengemudi truk awalnya enggan segera meminggirkan kendaraannya. Tapi bunyi klakson keras dan berulang dari mobil polisi akhirnya memaksanya mengalah, yang tentu saja membuat saya dan antrian sepeda motor dibelakang semakin terdesak dan susah payah berhenti diantara jepitan truk dan mobil-mobil dibelakangnya.
Setelah berhasil memposisikan motor di belakang truk, saya melihat salah satu polisi itu dari dalam mobil menunjuk-nunjuk dan mengumpat berkali-kali pada sopir truk sebelum akhirnya bergerak melaju mendesak kendaraan lain di depannya yang masih terjebak antrian satu kilometer-an. Di belakangnya mengular beberapa kendaraan mewah, plat merah luar kota dengan sedikit angka, khas kendaraan pejabat dengan strata beberapa tingkat diatas pegawai biasa seperti saya.
Berusaha melanjutkan perjalanan, saya terkejut dengan tingkah salah satu dari kendaraan rombongan itu, sebuah toyota landcruiser hitam mengkilat yang membuka kaca kiri depannya. Dari kaca itu, sang penumpang dengan setelan jas, mengeluarkan tripod kamera, separuh panjangnya.
Entah apa maksudnya, mungkin mereka pikir bahan metal tripod itu akan memaksa kendaraan-kendaraan di depannya memberi lebih lebar jalan. Pikiran memberi jalan pada saat itu telah hilang sepenuhnya dalam benak saya. Dan ketika pada beberapa saat kemudian kecepatan rombongan itu kembali terhambat kemacetan dan saya berhasil meliukkan motor bersisian dengan fortuner tadi, saya melihat empat orang didalamnya. Satu orang berpakaian batik dan tiga orang bersetelan jas sedang tertawa-tawa sambil terus mengacungkan tripod itu di samping saya.
Beberapa detik kemudian secara resmi saya kirimkan beberapa umpatan dan kutukan untuk mereka. Lega rasanya saat itu walau perasaan menyesal timbul setelah saya sampai di rumah dan menyadari bahwa umpatan itu adalah sebuah kesia-siaan....
Di rumah saya mencoba mencari dasar dan menemukan bahwa dalam Peraturan Pemerintah No 43/1992, disebutkan bahwa semua orang adalah setara dalam hak dan kewajiban memanfaatkan jalan. Sebuah pernyataan yang seharusnya menjadikan kita equal, sama rasa ketika ada di jalan raya. Rombongan arogan siang tadi rasanya jauh dari kategori pengecualian kendaran yang wajib didahulukan, sebagaimana disebutkan dalam pasal 65 ayat 1 :
- Pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
- Ambulans yang mengangkut orang sakit
- Kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas
- Kendaraan Kepala Negara (Presiden dan Wakil Presiden) atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara
- Iring-iringan pengantar jenazah, konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat
- Kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.
Maka semoga anda semua yang masuk rombongan arogan tadi dijauhkan dari jabatan dan kemampuan mempengaruhi negara serta anda diberikan kesempatan sebesar-besarnya menikmati macet seperti saya dan warga negara lainnya rasakan.... Karena ketidakmampuan para pejabat dalam memahami hal-hal 'remeh' seperti inilah yang membuat Indonesia kesulitan memenuhi potensinya.
Sunday, February 17, 2013
Menjual Mimpi
Setiap kali nonton tsubasa, setiap itu pula terpikir bahwa saya kekurangan cerita lokal yang 'menarik sekaligus menjual' mimpi untuk anak-anak. Legenda dan dongeng semacam si kancil, unyil, sangkuriang, dan roro jonggrang, walaupun penuh nilai, namun rasanya miskin proses dan tujuan. Atau setidaknya demikianlah kisah tersebut diceritakan turun temurun...
***
Saturday, January 26, 2013
Messenger
Its been a while since i used messenger as a daily social media. Since that time, facebook, twitter and whatsapp have been more effective. Yet, today, after reading a few writings about 'old fashioned way of communications' i suddenly miss my messenger along with its stories which became history. And so i installed it again to check if its still there, my friend, my contact. So far, i found one contact still on the line. the other fifty three are offline. Well, i'll wait them for a while....
Get online 'old mates'! And let us found each other again! :D
Get online 'old mates'! And let us found each other again! :D
Friday, November 23, 2012
Sore di Fried Chicken
Rumah
makan cepat saji jalan kawi itu tak terlalu ramai. Kami mengantri
tenang, hanya berjarak dua orang dari meja sang kasir. Ada dua alat
pembayaran, namun hanya satu yang beroperasi.
Tak berapa lama antrian itu sedikit bertambah. Dua orang laki-laki paruh baya berdiri di belakang kami. Lalu pria paling belakang, seorang berperawakan ekstra tambun tinggi besar dan kemeja rapi menyalak sengak,...
"..Woy, buka dong kasir satunya, pegawai banyak, yang peka dong kalau banyak antrian..."
Tak berapa lama antrian itu sedikit bertambah. Dua orang laki-laki paruh baya berdiri di belakang kami. Lalu pria paling belakang, seorang berperawakan ekstra tambun tinggi besar dan kemeja rapi menyalak sengak,...
"..Woy, buka dong kasir satunya, pegawai banyak, yang peka dong kalau banyak antrian..."
Tergopoh, terlihat sedikit kesal, seorang pelayan restoran yang sedang membersihkan lemari datang dan menyalakan mesin kasir satunya. Ia mempersilahkan kami maju dan membuat antrian baru, yang kini berisi dua orang, dengan laki-laki ekstra tambun itu kini persis dibelakang kami. Selepas membayar, istri saya yang tak begitu memperhatikan sosoknya, menggumam, "...sapa sih yang tadi ga sabaran banget...?"
Ah, barangkali dia memang terlalu lapar dan waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam antrian...
Saturday, November 17, 2012
Looper
Katakan, apa yang ingin kau lakukan pertama kali jika suatu saat perjalanan waktu bukan lagi sekedar dongeng dari laci nobita?
Mencegah pernikahan perempuan yang kau pikir seharusnya menjadi pendampingmu? Memilih hidup vegetarian untuk memperbaiki catatan kesehatan masa depan yang memvonis sisa umurmu? Mengubah kata "ya" menjadi "tidak"?
Semua orang akan punya jawaban yang menarik. Dan Joe, seorang mantan pembunuh bayaran yang di masa pensiunnya menemukan kedamaian di pedalaman Shanghai, memilih untuk memasuki mesin waktu dan kembali ke masa lalunya, demi mengubah jalan hidup yang tak bisa ia terima. Maka kembalilah ia ke tahun 2044 dan perjumpaan dengan versi muda dirinya, yang justru ditugasi membunuhnya.
Yang terjadi selanjutnya, seperti halnya kisah-kisah pelintas waktu lainnya, benturan dua masa pun terjadi dan tentu saja bukan hanya tentang Joe muda dan Joe tua, tapi juga orang-orang lain yang ada disekitar mereka. Alih-alih menampilkan benturan itu dalam format adegan hancur-hancuran macam terminator, kisah Joe mengulas lebih dalam pada pergulatan intens sosok-sosok manusia yang terus mengalami perjuangan antara sisi positif dan negatif dalam dirinya. Karenanya sulit menebak begitu saja siapa sebenarnya yang menjadi protagonis maupun antagonis dalam kisah ini.
Yang mungkin identik dengan kisah-kisah pelintas waktu sebelumnya, adalah bahwa dunia di masa depan digambarkan sebagai ruang yang dipenuhi teknologi, yang mempermudah aktivitas, namun menggiring manusianya menjadi semakin tersentral pada dirinya sendiri. Institusi hukum serta pemerintahan tinggal simbol tanpa makna dan orang-orang, termasuk Joe tua, dalam pencariannya akan perubahan dunia, lantas rentan terjebak pada hasrat menumpahkan kesalahan pada orang lain dan lupa bahwa perjuangan terbesar dalam hidup sejatinya adalah ketika kita harus mengalahkan diri sendiri.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan akan muncul dan memberi kita kesempatan untuk memikirkan jawaban akan seberapa besar penghargaan kita akan persahabatan? Sejauh mana cinta layak diperjuangkan? Apakah benar kasih sayang lingkungan sekitar bisa mengubah jalan hidup sebuah individu? Bagaimana kita menghadapi kesalahan hidup?
Maka padamu, anakku akan kuceritakan bahwa, adam membuat kesalahan. Ayah dan ibumu telah berkali-kali melakukannya. Engkau juga kelak akan melakukan kesalahan dalam hidupmu nak. Kadang kupikir malah engkau membutuhkannya. Jadi, anakku, janganlah berlebihan memikirkannya, tak perlu kau menuntut diri menjadi manusia yang tak bercacat. Jika suatu saat di masamu kelak, pelintas waktu bukan lagi mimpi, maka janganlah kau menaiki mesin waktu jika kau hanya berpikir kembali untuk menyalahkan masa lalu.
Jadilah saja kesatria yang berzirahkan pengendalian nafsu dalam dirimu, yang bertamengkan kemampuan untuk mengakui kesalahan dan bersenjatakan pedang yang kau tempa dari pelajaran-pelajaran terbaik dan terpahit dalam hidupmu. Masa depanmu bukan terletak di masa lalumu....
Mencegah pernikahan perempuan yang kau pikir seharusnya menjadi pendampingmu? Memilih hidup vegetarian untuk memperbaiki catatan kesehatan masa depan yang memvonis sisa umurmu? Mengubah kata "ya" menjadi "tidak"?
Semua orang akan punya jawaban yang menarik. Dan Joe, seorang mantan pembunuh bayaran yang di masa pensiunnya menemukan kedamaian di pedalaman Shanghai, memilih untuk memasuki mesin waktu dan kembali ke masa lalunya, demi mengubah jalan hidup yang tak bisa ia terima. Maka kembalilah ia ke tahun 2044 dan perjumpaan dengan versi muda dirinya, yang justru ditugasi membunuhnya.
Yang terjadi selanjutnya, seperti halnya kisah-kisah pelintas waktu lainnya, benturan dua masa pun terjadi dan tentu saja bukan hanya tentang Joe muda dan Joe tua, tapi juga orang-orang lain yang ada disekitar mereka. Alih-alih menampilkan benturan itu dalam format adegan hancur-hancuran macam terminator, kisah Joe mengulas lebih dalam pada pergulatan intens sosok-sosok manusia yang terus mengalami perjuangan antara sisi positif dan negatif dalam dirinya. Karenanya sulit menebak begitu saja siapa sebenarnya yang menjadi protagonis maupun antagonis dalam kisah ini.
Yang mungkin identik dengan kisah-kisah pelintas waktu sebelumnya, adalah bahwa dunia di masa depan digambarkan sebagai ruang yang dipenuhi teknologi, yang mempermudah aktivitas, namun menggiring manusianya menjadi semakin tersentral pada dirinya sendiri. Institusi hukum serta pemerintahan tinggal simbol tanpa makna dan orang-orang, termasuk Joe tua, dalam pencariannya akan perubahan dunia, lantas rentan terjebak pada hasrat menumpahkan kesalahan pada orang lain dan lupa bahwa perjuangan terbesar dalam hidup sejatinya adalah ketika kita harus mengalahkan diri sendiri.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan akan muncul dan memberi kita kesempatan untuk memikirkan jawaban akan seberapa besar penghargaan kita akan persahabatan? Sejauh mana cinta layak diperjuangkan? Apakah benar kasih sayang lingkungan sekitar bisa mengubah jalan hidup sebuah individu? Bagaimana kita menghadapi kesalahan hidup?
Maka padamu, anakku akan kuceritakan bahwa, adam membuat kesalahan. Ayah dan ibumu telah berkali-kali melakukannya. Engkau juga kelak akan melakukan kesalahan dalam hidupmu nak. Kadang kupikir malah engkau membutuhkannya. Jadi, anakku, janganlah berlebihan memikirkannya, tak perlu kau menuntut diri menjadi manusia yang tak bercacat. Jika suatu saat di masamu kelak, pelintas waktu bukan lagi mimpi, maka janganlah kau menaiki mesin waktu jika kau hanya berpikir kembali untuk menyalahkan masa lalu.
Jadilah saja kesatria yang berzirahkan pengendalian nafsu dalam dirimu, yang bertamengkan kemampuan untuk mengakui kesalahan dan bersenjatakan pedang yang kau tempa dari pelajaran-pelajaran terbaik dan terpahit dalam hidupmu. Masa depanmu bukan terletak di masa lalumu....
Wednesday, May 9, 2012
Tentang Anak, Orang Tua dan (mungkin) Pernikahan
Pernikahan, teman, salah satu artinya adalah bertambahnya anggota keluarga. Orang tua baru jelas ada di pucuk silsilahnya. Dan karenanya, teman, pernikahan adalah bertambahnya kegiatan. Sebagian, pada awalnya, akan mendefinisikannya sebagai kewajiban. Sebagian lagi merasakan sebagai tuntutan. Bagi sebagian yang terakhir, pertanyaan standar pasca pernikahan semacam soal keturunan, pengelolaan keuangan, rencana tempat tinggal dan pengambilan keputusan akan memiliki potensi berujung pada perselisihan.Bagi saya, ada tiga hal yang selalu saya tanam dalam-dalam di kepala setiap kali berinteraksi dengan orang tua.
Pertama, saya belum pernah jadi orang tua. Setiap orang tua, pada dasarnya, ketika anak-anaknya memasuki masa pernikahan, saya pikir mengalami sindrom "takut ditinggalkan". Sesuatu yang seorang anak belum rasakan dan karenanya saya pikir harus menjadi landasan ketika kita berbincang atau sekedar diam menerima nasehat dari orang tua. Karena bahkan semua harta di dunia tidak sanggup menggantikan setetes air susu ibu. Dengan menanamkan pikiran bahwa saya belum merasakan sulitnya jadi orang tua, saya jadi lebih mudah menerima ketika orang tua melakukan tugas mereka, menasehati. Menjadi pendengar yang baik itu mudah kok, kita yang terkadang mempersulitnya dengan memasukkan perasaan berlebihan dan keinginan untuk diakui dalam diskusi yang kadang tak harus dimenangkan.
Kedua, orang tua tak selalu benar. Sebagian besar orang tua mengerti sebenarnya bahwa terkadang mereka salah. Tapi persoalan memberi contoh untuk mengakui kesalahan bukan sesuatu yang bisa dilakukan semua orang tua. Sebagian terlalu khawatir anaknya menjadi jumawa ketika merasa lebih benar ketimbang para orang tua dan akhirnya memilih mengambil posisi sebagai acuan. Menikah, memang seharusnya membuat pria dan wanita menjadi lebih diiewasa dari sebelumnya. Dan ini termasuk dalam membaca kapan waktu yang tepat untuk diam dan menyimpan saja kebenaran yang kita yakini tanpa perlu mendebat pendapat. Mengalah tak sama dengan kalah. Mengalah dalalm diskusi dengan orang tua seharusnya salah satu yang termudah. Tak perlu lah senantiasa membuat orang tua merasa salah dan kita benar. Walau memang, mengajak orang tua berdiskusi dengan santun tentang perbedaan yang tak perlu disamakan adalah pilihan yang harus selalu diusahakan.
Ketiga, setiap anak berhak dan akan membuat kesalahan dan wajib belajar darinya. . Inilah pokok yang perlu didiskusikan ketika kita berhasil menemukan waktu yang pas dengan orang tua atau ketika para orang tua kita rasakan menuntut segala sesuatunya harus sesuai dengan pengalaman hidup mereka. Setiap orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya. Sebagian menginginkan anaknya tumbuh sebagai orang-orang yang tanpa cacat yang bisa dimanfaatkan menjadi celah 'serangan' orang lain. Agar mereka tidak membuat kesalahan-kesalahan. Tapi sejujurnya, jika memang waktu diskusi itu ada, makaa yang perlu kita sampaikan kepada mereka adalah bahwa setiap anak berhak dan butuh untuk melakukan kesalahan dalam hidup. Mereka butuh belajar dari kesalahan tersebut untuk mencapai apa yang diinginkan orang tua mereka, a better person in a better living.....
Tiga hal itu yang saya yakini bisa membuat saya melewati masa aklimatisasi sebelum sepenuhnya hubungan semua bagian dalam keluarga yang membesar ini lebih bergerak pada konsep kasih sayang dan empati....
Pertama, saya belum pernah jadi orang tua. Setiap orang tua, pada dasarnya, ketika anak-anaknya memasuki masa pernikahan, saya pikir mengalami sindrom "takut ditinggalkan". Sesuatu yang seorang anak belum rasakan dan karenanya saya pikir harus menjadi landasan ketika kita berbincang atau sekedar diam menerima nasehat dari orang tua. Karena bahkan semua harta di dunia tidak sanggup menggantikan setetes air susu ibu. Dengan menanamkan pikiran bahwa saya belum merasakan sulitnya jadi orang tua, saya jadi lebih mudah menerima ketika orang tua melakukan tugas mereka, menasehati. Menjadi pendengar yang baik itu mudah kok, kita yang terkadang mempersulitnya dengan memasukkan perasaan berlebihan dan keinginan untuk diakui dalam diskusi yang kadang tak harus dimenangkan.
Kedua, orang tua tak selalu benar. Sebagian besar orang tua mengerti sebenarnya bahwa terkadang mereka salah. Tapi persoalan memberi contoh untuk mengakui kesalahan bukan sesuatu yang bisa dilakukan semua orang tua. Sebagian terlalu khawatir anaknya menjadi jumawa ketika merasa lebih benar ketimbang para orang tua dan akhirnya memilih mengambil posisi sebagai acuan. Menikah, memang seharusnya membuat pria dan wanita menjadi lebih diiewasa dari sebelumnya. Dan ini termasuk dalam membaca kapan waktu yang tepat untuk diam dan menyimpan saja kebenaran yang kita yakini tanpa perlu mendebat pendapat. Mengalah tak sama dengan kalah. Mengalah dalalm diskusi dengan orang tua seharusnya salah satu yang termudah. Tak perlu lah senantiasa membuat orang tua merasa salah dan kita benar. Walau memang, mengajak orang tua berdiskusi dengan santun tentang perbedaan yang tak perlu disamakan adalah pilihan yang harus selalu diusahakan.
Ketiga, setiap anak berhak dan akan membuat kesalahan dan wajib belajar darinya. . Inilah pokok yang perlu didiskusikan ketika kita berhasil menemukan waktu yang pas dengan orang tua atau ketika para orang tua kita rasakan menuntut segala sesuatunya harus sesuai dengan pengalaman hidup mereka. Setiap orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya. Sebagian menginginkan anaknya tumbuh sebagai orang-orang yang tanpa cacat yang bisa dimanfaatkan menjadi celah 'serangan' orang lain. Agar mereka tidak membuat kesalahan-kesalahan. Tapi sejujurnya, jika memang waktu diskusi itu ada, makaa yang perlu kita sampaikan kepada mereka adalah bahwa setiap anak berhak dan butuh untuk melakukan kesalahan dalam hidup. Mereka butuh belajar dari kesalahan tersebut untuk mencapai apa yang diinginkan orang tua mereka, a better person in a better living.....
Tiga hal itu yang saya yakini bisa membuat saya melewati masa aklimatisasi sebelum sepenuhnya hubungan semua bagian dalam keluarga yang membesar ini lebih bergerak pada konsep kasih sayang dan empati....
Tuesday, March 27, 2012
Stop Bikin Bingung Masyarakat
| [ Demo yang tepat teman, negeri ini butuh kepercayaan, bukan kerusuhan ] |
Pada saat saya menulis ini, saya yakin polemik mengenai rencana kenaikan harga bahan bakar minyak sudah menjadi isu politik, bukan lagi semata soal perekonomian negara. Ada orang-orang yang semula menyarankan agar harga bbm dinaikkan, kini berbalik 100%, dan sebaliknya. Ada orang yang awalnya diam saja, tiba-tiba muncul dengan segepok pengetahuan tentang seluk beluk anggaran nan penuh kebohongan. Ada juga orang-orang yang membela kenaikan BBM dengan argumen yang justru memicu pertanyaan. Entahlah, saya terlalu jauh dari data-data untuk bisa menganalisa.
Yang jelas terlintas, saya yakin pada akhirnya bahan bakar minyak yang ujung-ujungnya selalu bikin bingung masyarakat memang harus ditinggalkan. Sudah terlalu sering kita menghabiskan energi untuk hal ini. Setiap presiden pada akhirnya juga dihadapkan pada situasi yang serupa, dilema tentang harga.
Energi baru yang terbarukan jangan lagi dijadikan mimpi jangka panjang karena rakyat butuh solusi cepat. Tingginya tekanan harga minyak dunia harus menjadi titik kesadaran. Kesempatan bagi mereka yang sudah bosan membolak-balik angka anggaran untuk menyesuaikan. Karenanya investasikan sumber daya manusia dan modal dalam jumlah yang berlipat dibanding sebelumnya. Negeri ini saya yakin punya lebih dari cukup otak-otak cerdas yang bisa mewujudkannya. Negara harus menjalankan fungsi fasilitasinya dengan lebih baik dalam hal ini.
Dan tentang urgensitas anggaran dan ekonomi jangka pendek, saya berpendapat bahwa seharusnya jika pun harus naik, apakah tidak mungkin BBM yang dinaikkan sementara adalah yang diperuntukkan bagi konsumsi mobil pribadi saja...??
Mereka yang menggunakan mobil pribadi, saya yakin bukan orang yang pantas mengaku tersedak karena harga minyak. Jangankan 6000, saya pikir mereka yang menggunakan mobil pribadi malah justru harus dilarang sekaligus untuk membeli BBM bersubsidi. With greater power, comes greater responsibility, tutur Paman Ben pada keponakannya, Peter Parker.
Sedang sepeda motor, walaupun memang pertumbuhan jumlah dan prosentase konsumsi BBM bersubsidi-nya makin besar, pada akhirnya memang masih menjadi jalan bertahan bagi sebagian besar strata masyarakat menengah ke bawah di negeri ini. Iya, menengah ke bawah yang berpotensi menjadi miskin ketika salah satu aset terbesar mereka terlumpuhkan karena kenaikan biaya operasional dan efek dominonya pada harga-harga bahan pokok yang praktis juga akan terpengaruh karenanya. Maka jikapun nantinya tetap harus naik, seyogyanya lakukan secara bertahap dan janganlah terlalu tinggi besarannya.
Bagaimana dengan kendaraan umum?
Mereka seyogyanya ada di peringkat terakhir pihak yang harus mengalami kenaikan harga bahan bakar minyak.
Tak kalah penting dengan ide menaikkan harga BBM bersubsidi, saya pikir efisiensi anggaran di tingkat pusat dan daerah yang banyak dituntut mereka yang kontra terhadap rencana pemerintah tentang minyak ini memang sesuatu yang nyata bisa dilakukan. Permasalahannya, mau tidak para birokrat yang memegang kendali anggaran di Pusat dan Daerah repot-repot untuk mengevaluasi anggarannya. Dalam kacamata awam nan sempit saya di kedinasan, memang masih banyak kok kegiatan yang bisa ditunda pelaksanannya. Jika 1 SKPD di 1 Daerah bisa menghemat 50 s.d 100 juta, bayangkan total anggaran yang bisa dihemat di seluruh Indonesia. Bayangkan lagi jika kita bisa menyetop kebocoran-kebocoran anggaran di banyak pos pengeluaran.
Selain dua hal itu, saya pikir orang-orang yang memiliki cukup pengetahuan, semacam Mahasiswa dan Pegawai Negeri harus pula berkontribusi nyata dalam mengurangi konsumsi energi minyak negeri. Sungguh seringkali terheran saya ketika melihat kampus-kampus dan perkantoran penuh sesak dengan kendaraan pribadi, dan kemacetan timbul di sekitar lokasi yang seharusnya menjadi pelopor masa depan.
Jika memang, dan memang transportasi publik saat masih belum bisa diharapkan kehandalannya, kenapa tidak mahasiswa menginisiasi gerakan berangkat ke kampus bersama. Carter kendaraan umum untuk dinaiki sesama rekan satu almamater. Selain melatih disiplin waktu, siapa tahu ketemu jodoh di dalam angkot itu? Hal serupa juga seharusnya dapat dicontohkan dalam sistem berangkat berkantor bagi pegawai negeri. Reduksi kesulitan transportasi massal dalam komunitas-komunitas. Sementara para pimpinan bisa mengembangkan dengan 'sedikit' paksaan atau insentif positif. Jika perlu, tambah porsi berjalan kaki. Berangkat bersama-sama pasti lebih romantis. Toh kos-kosan pasti tak jauh dari pusat pendidikan bukan...?
Saya menamainya transportasi komunitas. Entah apa sebenarnya nama yang tepat... ^^
Thursday, February 23, 2012
A Bright Day For Laundrymen, A Cloudy Day For Openspace
Bayangkan, saya baru saja membeli sebuah rumah, lunas walau sertifikat masih diurus. Rumah yang karena sederhana maka sisa uang yang saya miliki sekarang saya alokasikan untuk menuntaskan pondasi taman dan jemuran di sisa lahan belakang rumah. Lantas siang hari ini seseorang asing, akunya orang penting, datang mengetuk pintu, dan menunjukkan sertifikat tanah saya, hanya saja atas nama dia. Sertifikat yang dibelinya dari mantan seseorang, suatu waktu sering dipanggil yang terhormat. Maka bisakah anda perkirakan perasaan saya sekarang?
Thursday, January 26, 2012
(Supposed To Be) An Easy Call
".....Januari adalah tentang tahun baru. Januari adalah bulan ulang tahun saya. Januari adalah Angin....."
Ibu saya menelpon siang ini. Masih terbatuk-batuk karena radang tenggorokan, beliau mengabarkan beberapa lembar seng garasi di rumah yang hampir terlepas. Purwokerto, rumah kami, seperti halnya banyak daerah di Indonesia memang sedang diterpa angin kencang. Kata orang ini bawaan Imlek. Ibu saya tidak peduli sebabnya, hanya mencemaskan rumah sederhana kami dan penghuninya...
Saya berusaha sedikit menenangkannya dengan kabar bahwa angin yang timbul karena tekanan di ketinggian rendah ini tak akan lama terjadi. BMG memprediksi dua hari . Saya berharap semoga hanya satu hari. Hidup dalam kecemasan tidak menyenangkan dan lebih tidak menyenangkan ketika saya tidak mampu berbuat banyak....
Saya bekerja di lembaga yang terkait langsung dengan salah satu aspek penanganan bencana angin semacam ini, pengelolaan pepohonan kota. 16 pohon tumbang di hari pertama masuk kerja setelah libur panjang imlek, sebuah kondisi yang merusakkan banyak fasilitas, mengganggu aktivitas, dan memaksa para petugas pemotong pohon di lembaga tempat saya bekerja, bertugas lembur sampai malam. Hari rabu kemarin, angin datang lebih besar, dan banyak orang kembali harus bekerja ekstra keras demi mengantisipasi situasi.
Tahun lalu, dalam situasi yang serupa, saya mengalami sendiri beratnya bekerja di lapangan. Tahun ini, dengan distribusi job desk berbeda yang diterima, saya tidak berkeringat sedikitpun. Tugas saya, dalam hal ini cuma administratif. Dan ya, begitu banyak laporan pohon tumbang masuk dalam dua hari ini. Sesuatu yang sempat saya bicarakan dengan teman-teman, bisa jadi akan menjadi alasan segelintir pihak untuk mengubah jenis tanaman besar penyerap polutan dan peneduh yang banyak tumbuh di kota ini menjadi tanaman yang bernilai estetis dan dipandang lebih aman bagi manusia, walaupun sama sekali tak bermanfaat bagi lingkungan.
Di akhir sore tadi, kami bisa merekapitulasi jumlah masyarakat yang mengajukan permohonan penebangan/pengurangan dahan pohon yang mereka pikir mengancam keselamatan keluarga mereka. Sangat Banyak!!. Semua ingin aman, semua ingin cepat.
Prihatin dan merasa bahwa saya pun akan mengadukan hal yang sama, dalam prakteknya petugas di lembaga saya harus benar-benar berhati-hati memberikan jaminan penanganan yang cepat tentang pengaduan masyarakat. Lembaga ini cuma memiliki dua tim dengan keahlian dan pengalaman untuk menjalankan SOP Penebangan/pengurangan dahan secara aman. Tim-tim lain yang ikut diterjunkan beberapa hari ini lebih berfungsi support.
Pada dasarnya, Standar Operasional Prosedur penebangan pohon/pengurangan dahan di lembaga saya sebenarnya mudah namun memang (dibuat) tidak cepat. Dibuat tidak cepat salah satu dasarnya adalah karena para penyusun prosedur itu ingin tidak banyak pohon ditebang tanpa alasan yang jelas. Tanpa prosedur itu dan sistem denda yang berat bagi mereka yang menebang pohon kota tanpa ijin, bisa jadi kota ini makin jauh dari mimpi kota hijau.
Namun sayang memang, saya belum menemukan SOP untuk kejadian khusus semacam bencana angin kencang seperti ini sebagai penjelas prosedur Mitigasi Bencana di dokumen tata ruang yang masih bersifat global. SOP Khusus yang rasanya perlu disusun sebagai salah satu alternatif untuk menjawab permintaan layanan cepat bagi masyarakat. SOP Khusus yang bisa mengantisipasi keterbatasan tim dan peralatan yang dimiliki lembaga ini dalam menghadapi keluhan serupa di tahun-tahun mendatang.
Hasil diskusi singkat dengan pimpinan sore tadi membuat saya yakin bahwa tentang beberapa hal:
Pertama. Sebenarnya masih ada potensi sumber daya manusia dan peralatan yang bisa dimaksimalkan dan di-redistribusi-kan dalam situasi semacam ini. Bukan cuma di lembaga saya ini, karena sejumlah lembaga lain pun kapabel untuk memberikan andil yang jauh lebih berarti.
Kedua. Kebijakan yang membuat lembaga saya memiliki tanggung jawab penuh terkait pohon-pohon kota, memang harus ditunjang dengan penambahan armada kendaraan operasional khusus dan tim spesialisasi perawatan pohon tambahan. Tuntutan masyarakat makin berat, mereka sungguh berhak meminta layanan cepat. Dan dua mobil untuk sebuah kota sebesar ini dengan ribuan pohon yang perlu ditangani perawatannya sungguh terlalu demanding.
Ketiga. para anggota tim perawatan pohon dari lembaga kami, rata-rata hanyalah petugas golongan I dan II. Dedikasi yang mereka tunjukkan dalam situasi seperti ini sungguh luar biasa. Keamanan diri seringkali menjadi sekunder dalam situasi semacam ini. Dan skema pendapatan mereka rasanya terlalu berat jika harus dibebani lagi dengan asuransi jiwa. Sesuatu yang rasanya sangat perlu dipertimbangkan di tahun depan.
Tiga hal yang saya pikir tak hanya mudah dikatakan, namun juga sangat mampu diwujudkan oleh jajaran pimpinan yang sangat berpengalaman. It (supposed to be) an easy call. Hanya perlu sedikit sentuhan manajerial lagi....
Dari saya, staf minim pengalaman.
Saya berusaha sedikit menenangkannya dengan kabar bahwa angin yang timbul karena tekanan di ketinggian rendah ini tak akan lama terjadi. BMG memprediksi dua hari . Saya berharap semoga hanya satu hari. Hidup dalam kecemasan tidak menyenangkan dan lebih tidak menyenangkan ketika saya tidak mampu berbuat banyak....
Saya bekerja di lembaga yang terkait langsung dengan salah satu aspek penanganan bencana angin semacam ini, pengelolaan pepohonan kota. 16 pohon tumbang di hari pertama masuk kerja setelah libur panjang imlek, sebuah kondisi yang merusakkan banyak fasilitas, mengganggu aktivitas, dan memaksa para petugas pemotong pohon di lembaga tempat saya bekerja, bertugas lembur sampai malam. Hari rabu kemarin, angin datang lebih besar, dan banyak orang kembali harus bekerja ekstra keras demi mengantisipasi situasi.
Tahun lalu, dalam situasi yang serupa, saya mengalami sendiri beratnya bekerja di lapangan. Tahun ini, dengan distribusi job desk berbeda yang diterima, saya tidak berkeringat sedikitpun. Tugas saya, dalam hal ini cuma administratif. Dan ya, begitu banyak laporan pohon tumbang masuk dalam dua hari ini. Sesuatu yang sempat saya bicarakan dengan teman-teman, bisa jadi akan menjadi alasan segelintir pihak untuk mengubah jenis tanaman besar penyerap polutan dan peneduh yang banyak tumbuh di kota ini menjadi tanaman yang bernilai estetis dan dipandang lebih aman bagi manusia, walaupun sama sekali tak bermanfaat bagi lingkungan.
Di akhir sore tadi, kami bisa merekapitulasi jumlah masyarakat yang mengajukan permohonan penebangan/pengurangan dahan pohon yang mereka pikir mengancam keselamatan keluarga mereka. Sangat Banyak!!. Semua ingin aman, semua ingin cepat.
Prihatin dan merasa bahwa saya pun akan mengadukan hal yang sama, dalam prakteknya petugas di lembaga saya harus benar-benar berhati-hati memberikan jaminan penanganan yang cepat tentang pengaduan masyarakat. Lembaga ini cuma memiliki dua tim dengan keahlian dan pengalaman untuk menjalankan SOP Penebangan/pengurangan dahan secara aman. Tim-tim lain yang ikut diterjunkan beberapa hari ini lebih berfungsi support.
Pada dasarnya, Standar Operasional Prosedur penebangan pohon/pengurangan dahan di lembaga saya sebenarnya mudah namun memang (dibuat) tidak cepat. Dibuat tidak cepat salah satu dasarnya adalah karena para penyusun prosedur itu ingin tidak banyak pohon ditebang tanpa alasan yang jelas. Tanpa prosedur itu dan sistem denda yang berat bagi mereka yang menebang pohon kota tanpa ijin, bisa jadi kota ini makin jauh dari mimpi kota hijau.
Namun sayang memang, saya belum menemukan SOP untuk kejadian khusus semacam bencana angin kencang seperti ini sebagai penjelas prosedur Mitigasi Bencana di dokumen tata ruang yang masih bersifat global. SOP Khusus yang rasanya perlu disusun sebagai salah satu alternatif untuk menjawab permintaan layanan cepat bagi masyarakat. SOP Khusus yang bisa mengantisipasi keterbatasan tim dan peralatan yang dimiliki lembaga ini dalam menghadapi keluhan serupa di tahun-tahun mendatang.
Hasil diskusi singkat dengan pimpinan sore tadi membuat saya yakin bahwa tentang beberapa hal:
Pertama. Sebenarnya masih ada potensi sumber daya manusia dan peralatan yang bisa dimaksimalkan dan di-redistribusi-kan dalam situasi semacam ini. Bukan cuma di lembaga saya ini, karena sejumlah lembaga lain pun kapabel untuk memberikan andil yang jauh lebih berarti.
Kedua. Kebijakan yang membuat lembaga saya memiliki tanggung jawab penuh terkait pohon-pohon kota, memang harus ditunjang dengan penambahan armada kendaraan operasional khusus dan tim spesialisasi perawatan pohon tambahan. Tuntutan masyarakat makin berat, mereka sungguh berhak meminta layanan cepat. Dan dua mobil untuk sebuah kota sebesar ini dengan ribuan pohon yang perlu ditangani perawatannya sungguh terlalu demanding.
Ketiga. para anggota tim perawatan pohon dari lembaga kami, rata-rata hanyalah petugas golongan I dan II. Dedikasi yang mereka tunjukkan dalam situasi seperti ini sungguh luar biasa. Keamanan diri seringkali menjadi sekunder dalam situasi semacam ini. Dan skema pendapatan mereka rasanya terlalu berat jika harus dibebani lagi dengan asuransi jiwa. Sesuatu yang rasanya sangat perlu dipertimbangkan di tahun depan.
Tiga hal yang saya pikir tak hanya mudah dikatakan, namun juga sangat mampu diwujudkan oleh jajaran pimpinan yang sangat berpengalaman. It (supposed to be) an easy call. Hanya perlu sedikit sentuhan manajerial lagi....
Dari saya, staf minim pengalaman.
Wednesday, December 28, 2011
MELANCHOLIA
Akhir tahun sedang menjelang. Pertokoan besar dan kecil berlomba merebut hati pelanggan yang datang. 20%, 50%, 50+20, "Beli 1 Dapat 2", atau 70%. Label-label 'menggiurkan' itu melekat erat di setiap rak dagangan, layaknya seorang gadis yang menggoda kekasih pujaan.
Di kasir, deretan pembeli, kebanyakan perempuan berpenampilan kelas menengah, menggenggam nota-nota pembelian yang membahagiakan. Sebagian mulai resah, dalam situasi riuh seperti ini, antrian dan kesabaran memang dua kutub yang sulit disatukan.
Ya, sore itu saya menemani istri mencari beberapa keperluan rumah tangga. Sedikit rizki lebih yang kami peroleh, akhirnya kami belikan pula beberapa potong pakaian dan beberapa keping DVD untuk menghabiskan malam hari.
Melancholia adalah salah satu judul keping DVD yang kami beli. Lars Von Trier sebenarnya bukan sosok sutradara yang 100% meyakinkan. Karyanya seperti The Antrichist mengundang kerut banyak orang. Tapi saya tertarik membeli karena ingin melihat akting Kirsten Dunst yang dihargai aktris terbaik di Cannes karena perannya sebagai Justine film ini.
Justine adalah kakak dari Claire, seorang wanita yang sukses secara finansial dan menjalani rumah tangga yang terlihat bahagia dengan seorang Astronom dan anak lelaki mereka. Sebaliknya, Justine adalah seorang perempuan yang mengalami depresi. Tersiksa dengan keadaan Justine, Claire dan suaminya pun merancang sebuah pesta pernikahan untuk kakaknya. Mereka pikir pernikahan akan membawakan Justine sebuah hidup yang lebih normal.
Dilatari dengan sebuah pemandangan tak normal sebuah bintang biru terang di langit, pernikahan itu pun terjadi. Tapi seperti halnya sang bintang yang kehadirannya menyimpan misteri, pernikahan yang dipaksakan itu pun lebih mirip tragedi ketimbang selebrasi.
Mungkin Lars Von Trier ingin mengkritik dunia barat yang terlihat hipokrit akhir-akhir ini seperti halnya pesta pernikahan yang berusaha mengubur luapan kepedihan. Atau Melancholia memang menyimpan misi untuk kita menjadi lebih awas akan hal-hal yang lebih luas ketimbang isi rak pakaian seukuran 1,5 x 2 meter yang berjajar didalam pertokoan.
Ya, sementara kita sibuk merencana selebrasi pergantian angka di tanggalan, di bagian dunia lain, dua kutub kekuatan politik dunia yang terlihat adem ayem rupanya juga sedang menguji kesabaran masing-masing.
Amerika Serikat dan Israel terus menerus mencari celah untuk 'menghalalkan' rencana mereka menyerang Iran. Cuma Iran, penghalang mereka dari kekayaan timur tengah yang mereka pikir sanggup untuk memberikan jawaban atas hutang ratusan triliun dollar sang polisi dunia.
Sama seperti Irak, tidak ada senjata pemusnah masal milik Iran. Secara militer, kedua negara itu tak punya apa-apa untuk melawan hulu ledak nuklir Amerika dan Israel, meriam EMP (Elektro Magnetik Pulse), bahkan rencana perang biologis keji Amerika dengan menyebarkan mutasi kelima virus Avian Influensa ke udara Iran.
Jika benar temuan Ron Fouchier, ahli virologi belanda, tentang pengembangan virus ini, maka ini berarti dunia barat sekali lagi ingin mengulangi tragedi Flu Spanyol yang disebarkan di akhir perang dunia I dan membunuh sekitar 50-100 juta orang, 3-6% populasi kala itu.
Terusik dengan perilaku Amerika Serikat dan sekutunya yang makin liar, Russia dan China belakangan telah menginstruksikan pasukan militernya untuk bersiaga penuh. Kasus penembakan duta besar Rusia untuk Syria yang diduga didalangi oleh CIA dan M16 menambah runyam situasi.
Mirip dengan cerita agen rahasia di film bukan? Hanya saja berkebalikan dengan propaganda Holywood, sang protagonis mungkin saja mereka yang ada di sisi lain dari sang tokoh utama.
Ada banyak versi tentang bagaimana dunia akan berakhir. Serangan makhluk luar angkasa berteknologi tinggi yang butuh sistem pendukung kehidupan baru bagi planet mereka yang mati. Merebaknya virus yang membuat semua orang terinfeksi dan menjadi zombie. Juga tumbukan bumi dengan meteor sebagaimana diyakini telah membuat dinosaurus punah dan divisualkan oleh banyak sineas asing. Armageddon, Deep Impact, The Happening, Knowing, dan terakhir adalah Melancholia.
Tapi jika kita mau melirik kenyataan yang lebih rasional, adalah kita dan tindak tanduk kita yang lebih mengkhawatirkan ketimbang faktor-faktor eksternal itu. Polusi yang kita timbun akan mematikan kehidupan pelan-pelan. Toh, keserakahan finansial yang potensial ujungnya akan memicu perang nuklir akhir zaman, tampak lebih nyata bukan?
Dalam islam, salah satu riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda menjelang kiamat adalah terlalu menjamurnya pertokoan dan perniagaan.
Dan lucunya, apa yang berusaha ditutup-tutupi Amerika saat ini sudah lama diramal oleh Thomas Jefferson, pendiri mereka sendiri, yang kata-kata ramalannya dua ratus tahun lalu kini terasa lebih hebat ketimbang bualan Nostradamus...
"..I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies. If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around will deprieve the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered.."
Ya, begitu banyak yang sudah merasakan krisis finansial. Bukti kegagalan ekonomi liberal yang tanpa sadar menjajah kebebasan hidup kita lewat beragam contoh, bahkan yang sesederhana kartu kredit dan diskon.
Pada akhirnya kiamat, bagaimanapun versi yang anda percayai, pada akhirnya adalah tentang memperbaiki diri di setiap sisa hari hidup. Dan beruntungya, tak seperti Claire dan Justine yang harus menata diri menghadapi kenyataan yang tak diinginkan, kita tak pernah akan tahu kapan itu terjadi. Kecuali bagi anda yang percaya kalender Maya 2012, maka sebaiknya bergegaslah menunaikan apa yang perlu ditunaikan. Waktu anda tak sampai 3 jam lagi akan berakhir....
Selamat Tahun Baru, Live Positively...
Di kasir, deretan pembeli, kebanyakan perempuan berpenampilan kelas menengah, menggenggam nota-nota pembelian yang membahagiakan. Sebagian mulai resah, dalam situasi riuh seperti ini, antrian dan kesabaran memang dua kutub yang sulit disatukan.
Ya, sore itu saya menemani istri mencari beberapa keperluan rumah tangga. Sedikit rizki lebih yang kami peroleh, akhirnya kami belikan pula beberapa potong pakaian dan beberapa keping DVD untuk menghabiskan malam hari.
Melancholia adalah salah satu judul keping DVD yang kami beli. Lars Von Trier sebenarnya bukan sosok sutradara yang 100% meyakinkan. Karyanya seperti The Antrichist mengundang kerut banyak orang. Tapi saya tertarik membeli karena ingin melihat akting Kirsten Dunst yang dihargai aktris terbaik di Cannes karena perannya sebagai Justine film ini.
Justine adalah kakak dari Claire, seorang wanita yang sukses secara finansial dan menjalani rumah tangga yang terlihat bahagia dengan seorang Astronom dan anak lelaki mereka. Sebaliknya, Justine adalah seorang perempuan yang mengalami depresi. Tersiksa dengan keadaan Justine, Claire dan suaminya pun merancang sebuah pesta pernikahan untuk kakaknya. Mereka pikir pernikahan akan membawakan Justine sebuah hidup yang lebih normal.
Dilatari dengan sebuah pemandangan tak normal sebuah bintang biru terang di langit, pernikahan itu pun terjadi. Tapi seperti halnya sang bintang yang kehadirannya menyimpan misteri, pernikahan yang dipaksakan itu pun lebih mirip tragedi ketimbang selebrasi.
Mungkin Lars Von Trier ingin mengkritik dunia barat yang terlihat hipokrit akhir-akhir ini seperti halnya pesta pernikahan yang berusaha mengubur luapan kepedihan. Atau Melancholia memang menyimpan misi untuk kita menjadi lebih awas akan hal-hal yang lebih luas ketimbang isi rak pakaian seukuran 1,5 x 2 meter yang berjajar didalam pertokoan.
Ya, sementara kita sibuk merencana selebrasi pergantian angka di tanggalan, di bagian dunia lain, dua kutub kekuatan politik dunia yang terlihat adem ayem rupanya juga sedang menguji kesabaran masing-masing.
Amerika Serikat dan Israel terus menerus mencari celah untuk 'menghalalkan' rencana mereka menyerang Iran. Cuma Iran, penghalang mereka dari kekayaan timur tengah yang mereka pikir sanggup untuk memberikan jawaban atas hutang ratusan triliun dollar sang polisi dunia.
Sama seperti Irak, tidak ada senjata pemusnah masal milik Iran. Secara militer, kedua negara itu tak punya apa-apa untuk melawan hulu ledak nuklir Amerika dan Israel, meriam EMP (Elektro Magnetik Pulse), bahkan rencana perang biologis keji Amerika dengan menyebarkan mutasi kelima virus Avian Influensa ke udara Iran.
Jika benar temuan Ron Fouchier, ahli virologi belanda, tentang pengembangan virus ini, maka ini berarti dunia barat sekali lagi ingin mengulangi tragedi Flu Spanyol yang disebarkan di akhir perang dunia I dan membunuh sekitar 50-100 juta orang, 3-6% populasi kala itu.
Terusik dengan perilaku Amerika Serikat dan sekutunya yang makin liar, Russia dan China belakangan telah menginstruksikan pasukan militernya untuk bersiaga penuh. Kasus penembakan duta besar Rusia untuk Syria yang diduga didalangi oleh CIA dan M16 menambah runyam situasi.
Mirip dengan cerita agen rahasia di film bukan? Hanya saja berkebalikan dengan propaganda Holywood, sang protagonis mungkin saja mereka yang ada di sisi lain dari sang tokoh utama.
Ada banyak versi tentang bagaimana dunia akan berakhir. Serangan makhluk luar angkasa berteknologi tinggi yang butuh sistem pendukung kehidupan baru bagi planet mereka yang mati. Merebaknya virus yang membuat semua orang terinfeksi dan menjadi zombie. Juga tumbukan bumi dengan meteor sebagaimana diyakini telah membuat dinosaurus punah dan divisualkan oleh banyak sineas asing. Armageddon, Deep Impact, The Happening, Knowing, dan terakhir adalah Melancholia.
Tapi jika kita mau melirik kenyataan yang lebih rasional, adalah kita dan tindak tanduk kita yang lebih mengkhawatirkan ketimbang faktor-faktor eksternal itu. Polusi yang kita timbun akan mematikan kehidupan pelan-pelan. Toh, keserakahan finansial yang potensial ujungnya akan memicu perang nuklir akhir zaman, tampak lebih nyata bukan?
Dalam islam, salah satu riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda menjelang kiamat adalah terlalu menjamurnya pertokoan dan perniagaan.
Dan lucunya, apa yang berusaha ditutup-tutupi Amerika saat ini sudah lama diramal oleh Thomas Jefferson, pendiri mereka sendiri, yang kata-kata ramalannya dua ratus tahun lalu kini terasa lebih hebat ketimbang bualan Nostradamus...
"..I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies. If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around will deprieve the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered.."
Ya, begitu banyak yang sudah merasakan krisis finansial. Bukti kegagalan ekonomi liberal yang tanpa sadar menjajah kebebasan hidup kita lewat beragam contoh, bahkan yang sesederhana kartu kredit dan diskon.
Pada akhirnya kiamat, bagaimanapun versi yang anda percayai, pada akhirnya adalah tentang memperbaiki diri di setiap sisa hari hidup. Dan beruntungya, tak seperti Claire dan Justine yang harus menata diri menghadapi kenyataan yang tak diinginkan, kita tak pernah akan tahu kapan itu terjadi. Kecuali bagi anda yang percaya kalender Maya 2012, maka sebaiknya bergegaslah menunaikan apa yang perlu ditunaikan. Waktu anda tak sampai 3 jam lagi akan berakhir....
Selamat Tahun Baru, Live Positively...
Saturday, November 19, 2011
Breaking Dawn, Bukti Sahih Tuhan Maha Adil
Usia pernikahan saya belum genap satu bulan. Perlahan saya mengerti bahwa ada jauh lebih banyak hal yang akan kita 'nikmati' ketimbang bayangan indah bercinta semata. Perbedaan yang mulai tak malu-malu menampakkan diri. Pun attitude demand yang mendorong masing-masing penyumbang saham dalam pernikahan itu untuk beradaptasi. Ya, pernikahan merubah banyak hal karena kami sama-sama tidak sempurna. Maka saya, tanpa pengalaman menjadi suami, mencoba memulainya dengan menjadi lebih communicatively decisive. Laki-laki pada akhirnya adalah imam, pemimpin, pelindung...
Maka menjadi lucu sebenarnya ketika hari kedua puluh pernikahan kami 'rayakan' dengan menonton sebuah film adaptasi novel laris yang ternyata memberi banyak pelajaran hal identik. Akan ada banyak orang, perempuan muda kebanyakan, yang menganggap film ini adalah tentang menikmati sajian fisik aktor-aktor yang bermain didalamnya. Sementara bagi kebanyakan pria, membaca novelnya saja sudah cukup untuk menjadi skeptikal terhadap film ini. Saya salah satunya....
Stephanie Meyer sebenarnya memberikan cukup banyak ruang untuk menjadikan film adaptasi ini mengambil porsi fantasi yang lebih galak. Tapi rupanya sang sutradara memilih untuk menyerahkan lebih dari dua puluh menit pertama hanya untuk memvisualkan romantisme Edward Cullen dan Bella Swan, sepasang pengantin baru. Mulai dari detil persiapan pernikahan hingga liputan live bulan madu mereka di sebuah pulau terpencil di Brazil.
Detilnya luar biasa (membosankan maksudnya), sampai-sampai saya berpikiran bahwa jangan-jangan sang sutradara dulunya adalah seorang wedding organizer atau kemungkinan lain, a lonely person dreaming of a great wedding, Tidak sering saya membaca blog via HP ketika sedang ada di dalam bioskop, tapi itulah yang terjadi kemarin. I'm bored and my wife thought so.
Tapi untunglah, adegan preparasi dan selebrasi itu lalu bergeser pada cerita bulan madu yang lama-lama membuat saya sedikit terhibur. Bukan karena tubuh telanjang pasangan vampir dan manusia itu, tapi lebih pada rasa syukur bahwa saya tidak sebodoh Edward. Dia adalah seorang laki-laki yang digambarkan hampir sempurna, kecuali fakta bahwa dia adalah pria bodoh. Edward seharusnya menjadi lebih laki-laki ketimbang mematung diam dan ketakukan kala seorang perempuan, istri sah-nya, setengah telanjang, harus sampai memohon-mohon untuk sebuah hak, nafkah batin yang dibutuhkannya....
Ketika cerita kemudian bergeser ke situasi kehamilan Bella, saya justru tak lagi berfokus pada alur scene pembangun eskalasi ketegangan setelahnya. Rentetan cerita yang melibatkan Edward, Bella dan Jacob, tiga orang yang berperan sebagai suami, istri dan mantan gebetan nan 'mbulet', akhirnya meyakinkan bahwa langkah saya, untuk memulai pernikahan dengan menjadi lebih communicatively decisive terasa benar. Edward, si vampir (hampir) sempurna itu rupanya bukan cuma bodoh, tapi juga tervisualisasikan lemah. Tak ada cerita seorang suami yang tegas dan bertanggung jawab, hanya berdiri, membiarkan mantan gebetan istrinya memeluk istrinya yang kesakitan dalam hamilnya. Di hadapannya pula. Sempat saya berpikir, ah mungkin ini efek kurang pengalamannya edward menghadapi situasi pasca menjomblo 100 tahun, walaupun akhirnya saya kembali pada kesimpulan awal. He's so lame....
Sementara di sisi lain, pada scene yang sama, saya menyadari bahwa karakter Jacob, bagi saya adalah visualisasi laki-laki bodoh. Dia adalah laki-laki yang tak lagi memiliki kesempatan bersama orang yang dicintainya, tapi masih saja, melakukan begitu banyak hal dan setengah berharap bahwa pernikahan orang yang dicintainya tak berhasil. Entahlah, bagi saya, seeorang serigala jadi-jadian seharusnya lebih bijak dan cerdas ketimbang apa yang dipertontonkan. Mungkin akan ada banyak yang membela, begitulah cinta. Bagi saya, cinta sekalipun, membutuhkan porsi logika yang cukup.
Maka dalam situasi sedikit menertawakan Bella yang 'terpaksa' harus memilih antara seorang vampir lemah dan seorang serigala bodoh, saya pun bersyukur dan semakin yakin, tidak ada manusia yang sempurna. Tidak Jacob, apalagi Edward. Dan ya, TUHAN ITU MAHA ADIL....
Maka pikiran skeptis perlahan saya buang. Karena toh dalam cerita yang tidak terpikirkan seperti Breaking Dawn - yang kemungkinan besar terpengaruh oleh konsep penyajian dua bagian ala edisi pungkasan Harry Potter, sehingga dilabeli Part 1 -, walaupun memang akhirnya tidak keluar dari khitahnya sebagai film fantasi perempuan, toh tetap ada beberapa lelucon dan pelajaran yang pantas disimak, khususnya untuk para lelaki yang 'wajib' menemani perempuannya menghabiskan waktu di bioskop. .
Tentang menetapkan batas-batas dan beradaptasi dengan tanggung jawab baru akan ikatan janji dihadapan Tuhan yang telah kami ucapkan. Tentang menjadi laki-laki yang decisive dan istri yang supportive. Tentang mengendalikan cinta dunia dengan logika agar kami tak melebihi kewajiban mencintai Dzat yang memang seharusnya mendapat prioritas pertama.
Atau sederhananya, pelajaran tentang Breaking Dawn, khususnya karakter utama Edward, Bella dan Jacob, naga-naganya bisa dirangkum dalam tag...
Maka menjadi lucu sebenarnya ketika hari kedua puluh pernikahan kami 'rayakan' dengan menonton sebuah film adaptasi novel laris yang ternyata memberi banyak pelajaran hal identik. Akan ada banyak orang, perempuan muda kebanyakan, yang menganggap film ini adalah tentang menikmati sajian fisik aktor-aktor yang bermain didalamnya. Sementara bagi kebanyakan pria, membaca novelnya saja sudah cukup untuk menjadi skeptikal terhadap film ini. Saya salah satunya....
Stephanie Meyer sebenarnya memberikan cukup banyak ruang untuk menjadikan film adaptasi ini mengambil porsi fantasi yang lebih galak. Tapi rupanya sang sutradara memilih untuk menyerahkan lebih dari dua puluh menit pertama hanya untuk memvisualkan romantisme Edward Cullen dan Bella Swan, sepasang pengantin baru. Mulai dari detil persiapan pernikahan hingga liputan live bulan madu mereka di sebuah pulau terpencil di Brazil.
Detilnya luar biasa (membosankan maksudnya), sampai-sampai saya berpikiran bahwa jangan-jangan sang sutradara dulunya adalah seorang wedding organizer atau kemungkinan lain, a lonely person dreaming of a great wedding, Tidak sering saya membaca blog via HP ketika sedang ada di dalam bioskop, tapi itulah yang terjadi kemarin. I'm bored and my wife thought so.
Tapi untunglah, adegan preparasi dan selebrasi itu lalu bergeser pada cerita bulan madu yang lama-lama membuat saya sedikit terhibur. Bukan karena tubuh telanjang pasangan vampir dan manusia itu, tapi lebih pada rasa syukur bahwa saya tidak sebodoh Edward. Dia adalah seorang laki-laki yang digambarkan hampir sempurna, kecuali fakta bahwa dia adalah pria bodoh. Edward seharusnya menjadi lebih laki-laki ketimbang mematung diam dan ketakukan kala seorang perempuan, istri sah-nya, setengah telanjang, harus sampai memohon-mohon untuk sebuah hak, nafkah batin yang dibutuhkannya....
Ketika cerita kemudian bergeser ke situasi kehamilan Bella, saya justru tak lagi berfokus pada alur scene pembangun eskalasi ketegangan setelahnya. Rentetan cerita yang melibatkan Edward, Bella dan Jacob, tiga orang yang berperan sebagai suami, istri dan mantan gebetan nan 'mbulet', akhirnya meyakinkan bahwa langkah saya, untuk memulai pernikahan dengan menjadi lebih communicatively decisive terasa benar. Edward, si vampir (hampir) sempurna itu rupanya bukan cuma bodoh, tapi juga tervisualisasikan lemah. Tak ada cerita seorang suami yang tegas dan bertanggung jawab, hanya berdiri, membiarkan mantan gebetan istrinya memeluk istrinya yang kesakitan dalam hamilnya. Di hadapannya pula. Sempat saya berpikir, ah mungkin ini efek kurang pengalamannya edward menghadapi situasi pasca menjomblo 100 tahun, walaupun akhirnya saya kembali pada kesimpulan awal. He's so lame....
Sementara di sisi lain, pada scene yang sama, saya menyadari bahwa karakter Jacob, bagi saya adalah visualisasi laki-laki bodoh. Dia adalah laki-laki yang tak lagi memiliki kesempatan bersama orang yang dicintainya, tapi masih saja, melakukan begitu banyak hal dan setengah berharap bahwa pernikahan orang yang dicintainya tak berhasil. Entahlah, bagi saya, seeorang serigala jadi-jadian seharusnya lebih bijak dan cerdas ketimbang apa yang dipertontonkan. Mungkin akan ada banyak yang membela, begitulah cinta. Bagi saya, cinta sekalipun, membutuhkan porsi logika yang cukup.
Maka dalam situasi sedikit menertawakan Bella yang 'terpaksa' harus memilih antara seorang vampir lemah dan seorang serigala bodoh, saya pun bersyukur dan semakin yakin, tidak ada manusia yang sempurna. Tidak Jacob, apalagi Edward. Dan ya, TUHAN ITU MAHA ADIL....
Maka pikiran skeptis perlahan saya buang. Karena toh dalam cerita yang tidak terpikirkan seperti Breaking Dawn - yang kemungkinan besar terpengaruh oleh konsep penyajian dua bagian ala edisi pungkasan Harry Potter, sehingga dilabeli Part 1 -, walaupun memang akhirnya tidak keluar dari khitahnya sebagai film fantasi perempuan, toh tetap ada beberapa lelucon dan pelajaran yang pantas disimak, khususnya untuk para lelaki yang 'wajib' menemani perempuannya menghabiskan waktu di bioskop. .
Tentang menetapkan batas-batas dan beradaptasi dengan tanggung jawab baru akan ikatan janji dihadapan Tuhan yang telah kami ucapkan. Tentang menjadi laki-laki yang decisive dan istri yang supportive. Tentang mengendalikan cinta dunia dengan logika agar kami tak melebihi kewajiban mencintai Dzat yang memang seharusnya mendapat prioritas pertama.
Atau sederhananya, pelajaran tentang Breaking Dawn, khususnya karakter utama Edward, Bella dan Jacob, naga-naganya bisa dirangkum dalam tag...
"DONT TRY THOSE AT HOME" ....:p
Tuesday, October 18, 2011
Mungkin Nanti...
Hidup saya menyenangkan sekali akhir-akhir ini. Bukan, bukan karena semua agenda berjalan sesuai rencana. Sebagian diantaranya malah jelas-jelas gagal terlaksana. Tapi lebih karena saya sibuk sekali. Berpikir cepat dalam kejaran jadwal demi jadwal nan padat. Merasakan tidur yang terasa lebih berharga diantaranya, dibanding hari-hari biasa. Menikmati bahagianya bisa menyempatkan seperempat jam sebelum magrib untuk mencuci sendiri kendaraan pribadi. Dan betapa beruntungnya Tuhan membangunkan saya hampir tiap dini hari akhir-akhir ini...
Hidup saya rasanya lebih bermakna...
Sayang, sepertinya si mama benar...
saya gagal menemukan waktu untuk menulis hari-hari indah itu,
membagi kebahagiaan dan keluhnya dengan dengan anda...
Mungkin nanti, sebentar lagi...
Hidup saya rasanya lebih bermakna...
Sayang, sepertinya si mama benar...
saya gagal menemukan waktu untuk menulis hari-hari indah itu,
membagi kebahagiaan dan keluhnya dengan dengan anda...
Mungkin nanti, sebentar lagi...
Friday, October 7, 2011
Suddenly Feeling Insecure
Kalo misalnya maling pulsa itu meninggalkan format "..ngaku-ngaku keluarga, ketik ini itu, ato hadiah tertentu..", lalu beralih ke metode yang lebih sederhana semacam "..mas/mba, apa kabar? masih inget sama saya nggak.." Rasanya akan banyak orang yang tertarik mengetik "..Sopo iki?, kenal dimana ya?.." And then, wow, how dangerous it'll be?
Friday, September 30, 2011
SEDJARAH
Nilai rapor saya dulu berwarna-warni. Pernah ada yang merah. Ajaibnya lagi saya tidak menyangka bahwa nilai sempurna juga boleh diberikan Guru untuk Murid. Sampai sekarang pun saya selalu berpikir bahwa nilai 9 sudah terlalu tinggi dan angka 10 hanya untuk Tuhan rasanya.
Tapi jika melihat perbandingan penguasaan materi Sejarah, rasanya mata pelajaran itu memang layak memperoleh nilai lebih tinggi ketimbang dengan ilmu lain yang diajarkan pada waktu itu. Saya suka sekali sejarah, sampai-sampai guru menyarankan saya untuk merubah cita-cita Arsitek menjadi Arkeolog. Sayang, tapi waktu itu saya tidak pandai menakar seberapa makmur saya dalam profesi pencari jejak masa lalu. Saya oportunis sekali waktu itu... :D
Dan kecintaan pada pelajaran sejarah secara langsung membawa saya pada keharusan menguasai Bahasa Daerah. Lalu mengingat-ingat masa kelas 2 dan 3 SMP di masa sekarang membuat saya sadar, tulisan Jawa yang sering kita sebut Hanacaraka, yang dulu saya kuasai penuh, sekarang menuliskannya lengkap pun saya buta. Saya lupa pada sesuatu yang pernah saya cintai. I became too goddamn english. Ini memalukan....
Tapi jika melihat perbandingan penguasaan materi Sejarah, rasanya mata pelajaran itu memang layak memperoleh nilai lebih tinggi ketimbang dengan ilmu lain yang diajarkan pada waktu itu. Saya suka sekali sejarah, sampai-sampai guru menyarankan saya untuk merubah cita-cita Arsitek menjadi Arkeolog. Sayang, tapi waktu itu saya tidak pandai menakar seberapa makmur saya dalam profesi pencari jejak masa lalu. Saya oportunis sekali waktu itu... :D
Dan kecintaan pada pelajaran sejarah secara langsung membawa saya pada keharusan menguasai Bahasa Daerah. Lalu mengingat-ingat masa kelas 2 dan 3 SMP di masa sekarang membuat saya sadar, tulisan Jawa yang sering kita sebut Hanacaraka, yang dulu saya kuasai penuh, sekarang menuliskannya lengkap pun saya buta. Saya lupa pada sesuatu yang pernah saya cintai. I became too goddamn english. Ini memalukan....
Saya mau belajar lagi 'membacanya'....!!
Tuesday, September 20, 2011
M I N I
Ada banyak hal yang akan selalu kita pandang berbeda dalam
hidup. Kita manusia biasa yang hidup
dalam relativitas. Para ulama masih tidak bisa menyatukan Hisab dan Rukyat. Para pejabat sering ragu memilih antara meningkatkan PAD atau memenuhi tanggungjawab RTH. Kita hampir setiap hari merasa terusik dengan sesuatu yang menjadikan kita obyek, sementara kita gampang terlena ketika menjadi subyek. Terlalu banyak, hingga kita terkadang sulit
memilih mana beda yang harus kita samakan persepsi dan mana yang seyogyanya
kita jadikan sebagai warna yang kaya.
Adam tertipu 'khuldi', lalu Qabil membunuh Habil juga karena hasratnya terhadap kecantikan Iqlima, sang adik kembarnya. Perkosaan hampir sama tuanya dengan pembunuhan, keduanya
berakar dari dorongan yang sama, nafsu. Sebuah
kenyataan yang karenanya tidak akan terselesaikan
dengan melarang perempuan mengenakan rok mini di tempat umum. Saya pun termasuk
salah satu yang meyakini hal tersebut.
Laki-laki yang kadung memiliki masalah mengendalikan nafsu bisa jadi
takkan memandang pakaian apapun yang dikenakan perempuan, entah terbuka atau
tertutup sekalipun. Bahkan di Arab Saudi
pun perkosaan – termasuk pelecehan seksual terhadap TKW – marak terjadi. Perempuan tetaplah korban dalam hal ini.
Tapi keyakinan saya ini bukan didasari pada persetujuan
saya pada keberadaan rok mini. Rok mini, semenarik apapun tampilan yang didasarkan pada perkembangan mode, bagi saya (pribadi) tetap tidak bisa mengalahkan keindahan makhluk yang terbungkus rapi dan lebih tertutup. Buat saya ini lebih pada persoalan menemukan
solusi yang tak setengah-setengah. Dan adalah penting untuk kita senantiasa terbuka
terhadapnya, sekaligus menghindari
pernyataan-pernyataan yang tidak memberikan ruang untuk berlangsungnya proses
komunikasi dua arah.
Bagi saya semata mengemukakan usul melarang perempuan
mengenakan rok mini tanpa memberikan solusi lain memang wajar jika akhirnya memicu
tendensi gender atau faktor diferensial lain dalam lingkungan yang terlanjur
plural ini. Komentar Neng Dara, Komisioner Komnas Perempuan nyata mengungkapkan fakta apa yang ada di pemikiran banyak perempuan .modern.
."Orang terbiasa memakai blazer dan rok pendek, apalagi di kota besar
yang heterogen seperti Jakarta. Melarang menggunakan rok pendek
menyelewengkan kebiasaan yang sudah menjadi kelaziman. Setiap orang
berhak memakai pakaian selama dalam batas kesopanan. Rok mini bukan
menjadi alasan atas terjadinya pemerkosaan. Karena tindak kejahatan
terjadi bukan karena rok mini, tetapi karena iklim dan mindset."
forumkompas
Jika benar apa yang saya baca, maka Neng Dara pun tidak menjelaskan apakah rok mini termasuk batas kesopanan karena ia banyak menggunakan kata rok pendek yang tentu saja berbeda dengan rok mini. Lagipula apa itu batas kesopanan? lakukan saja survey dan hasilnya pasti akan memunculkan minimal tiga prosentase pilihan responden yang sama sumirnya dengan pertanyaaan yang diajukan..
Saya pikir hal ini menjadi besar karena sang pencetus pun berstatus pemimpin Lain soal misalnya kalau saya yang
berbicara, rasa-rasanya maksimal teman debat saya hanya 628 orang. Iya,
cuma segitu teman fesbuk saya yang potensial meluangkan waktu membaca
tulisan ini. Yang kedua, tentu saja karena pemimpin itu berkelamin laki-laki. Laki-laki dalam strata apapun memang seringkali terjebak dalam ide logis simpel. Yang karenanya 'memancing' respons sensitif yang secara naluriah memang lebih banyak dimiliki perempuan. Saya lalu membandingkan situasi ini -maaf jika terlalu jauh- dengan ketidaknyamanan serupa ketika Harry Potter terakhir dan Transformer 3 terancam tak tayang di Indonesia, rasanya semua gender mengeluhkan hal serupa.
Saya yakin ada solusi kreatif lain
yang akan secara signifikan mereduksi perkosaan, semacam: menyeleksi benar tayangan televisi, merevitalisasi peran keluarga dalam
pendidikan seks, meng-endorse perempuan untuk menambah pengetahuan tentang
pertahanan diri dan memberikan ancaman hukuman “kreatif” yang berefek jera
seperti memandulkan/mengebiri para pelaku perkosaan juga patut dimunculkan. Jika disepakati bahwa perilaku kita, entah itu pria atau wanita, terlahir karena kelaziman, maka tentunya merubah sebuah kelaziman pun adalah sebuah pilihan yang tak bisa dikesampingkan..
Pada akhirnya, tentu saja, saya masih laki-laki dan tak pernah menjadi
perempuan atau memiliki kemampuan mengetahui apa yang ada di dalam benak
perempuan. Maka jika opini ini di mata
sahabat-sahabat perempuan akhirnya memang akan tetap terdengar seperti seorang
lelaki, mungkin memang begitulah adanya. Toh saya yakin penuh, saya menulis ini mencintai dan menghormati mereka sebagai makhluk
paling indah, interestingly complicated, dan tentu saja paling kuat yang pernah
diciptakan Tuhan. Tapi bahkan seorang
makhluk terkuat sekalipun perlu melindungi diri dan mendapat perlindungan. Menghindari rok mini bagi saya adalah sebuah anjuran,
pilihan yang baik untuk mereduksi kejahatan yang terbangkitkan kesempatan. Tapi ada banyak hal lain yang harus pula
ditindaklanjuti….
Untuk perempuan Indonesia…
Subscribe to:
Posts (Atom)




