Tahun lalu dan tahun sebelumnya, ketika kutanya hadiah apa yang kauharapkan di pagi tanggal sebelas bulan dua, aku bisa membaca satu dua hal yang terlintas diantara raut senyumanmu. Malam tadi, bahkan sore sebelum semalam kamu hanya tertawa atau malah menggeleng pada beberapa pilihan yang kutawarkan. Aku geli sendiri ketika merasa sampai perlu memaksa......
Apa ini efek dari kita menjadi lebih tua? atau memang waktunya saja yang belum tepat? atau barangkali kamu (dan aku) memang sudah cukup senang seandainya nanti pulang dan mendapati Ksatria Bayam Kecil kita berhasil menaklukkan dahak yang menyerangnya habis-habisan sepanjang malam? Lalu dengan gagah berani merebut kembali gembil-gembil pipi yang tergerus virus itu......
Anyway, selamat menikmati usia kepala dua terakhirmu ratu bersih-bersihku, karena tahun depan kamu sudah kepala tiga. 29 your age...
Less said for wishes, i believe, you know what to grow anjing lautku.
Happy birthday momy, Nike Poerbyanti......
PS :
tawaran-tawaran kemarin masih berlaku kok...
termasuk resolusi akhir tahun untuk memulai keliling dunia tahun ini...
#superpanda & #ksatriabayam
Showing posts with label Some Walk To Remember. Show all posts
Showing posts with label Some Walk To Remember. Show all posts
Tuesday, February 11, 2014
Monday, April 1, 2013
Dengar Kami Malang
Empat belas tahun yang lalu saya jatuh cinta
dengan kota ini, yang dinginnya membuat saya tidak harus mandi sebelum
kuliah pagi. Sesuatu yang sekarang sulit terjadi. Suhu bumi meningkat
dan yang kita lakukan setiap harinya di Kota ini bisa jadi berkontribusi
terhadapnya. Barangkali suatu hari saya akan menjadi apatis, tapi
untuk sekarang, berpikir positif dan berbuat nyata untuk kota ini masih yang
terbaik. Berada di lingkaran pemerintahan, walau di level bawah, saya
bisa melihat masih banyak birokrat yang menjadikan perubahan sebagai
tekad. Sementara di luar, saya tahu ada banyak kekuatan dalam ragam
komunitas hijau yang ingin menyelamatkan ruang hidup yang layak. Malang
yang lestari itu memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin....
Dirgahayu Kotaku, semoga engkau segera mendapatkan transportasi publik
yang layak, RTH yang memberi nilai tambah kehidupan, dan kemajuan
ekonomi yang bersahabat dengan bumi...
Sunday, February 17, 2013
Different Saturday
"Hari yang baik adalah hari dimana kita mendapat ilmu yang menyadarkan akan kekurangan pengetahuan yang kita miliki kemarin"
Beberapa waktu lalu saya bercerita pada seseorang, teman yang meminta saran tentang kehidupan pernikahan. Salah satu hal yang saya singgung adalah tentang berkurangnya frekuensi saya melakukan perjalanan panjang keluar kota. Hal itu sebenarnya samasekali tidak saya rencanakan, karena justru travelling bersama pendamping justru menjadi salah satu resolusi saya menjelang menikah dulu. Tak jelas bagaimana awalnya, kehidupan rumah tangga dan padatnya aktivitas kantor (cari kambing hitam) memang akhirnya menguras waktu. Tapi saya lantas berkata pada teman tersebut, bahwa pernikahan tidak seharusnya terhalangi oleh kekhawatiran akan kehilangan momen-momen perjalanan atau tergerusnya porsi hobi di masa-masa sendiri. Marriage is much more than that. Bagi saya, frasa tersebut semakin akrab di masa-masa kehamilan istri saya yang sudah memasuki pekan ke 26 (semoga setiap pasangan dikaruniai kebahagiaan yang sama).
Kami 'merayakannya' dengan melakukan sesuatu yang berbeda di akhir pekan ini. Bukan perjalanan jarak jauh, tapi hanya beberapa trip singkat ke beberapa tempat di kota malang. Dan ini sebenarnya lebih seperti pemenuhan janji yang tertunda untuk istri saya.
Pagi itu kami bergegas bangun pagi untuk menuju rumah sakit islam dekat kantor yang menawarkan senam hamil gratis. Ya, hari ini adalah hari olahraga pertama untuk si panda kecil. Istri saya kelihatan menikmati benar senam yang berlangsung satu setengah jam, terlihat dari antusiasnya cara dia bercerita. Well, actually, she always did. hehe... Pada intinya, dia gembira karena telah diajari beberapa cara relaksasi untuk mengatasi pegal-pegal dan lelah yang sering dirasakannya di trimester kedua ini. Salah satu caranya, katanya adalah dengan sering-sering meluruskan kaki hingga punggung telapak kaki. Saya mendorongnya untuk mencatat semua gerakan itu di buku catatan dan ia pun menyetujui untuk melakukannya setelah sarapan.
Kami memang lupa (kesiangan, actually) dan tak sempat mengecap beberapa suap nasi sebelum berangkat pagi ini. Maka jadilah kami meluncur ke Warung Pecel Madiun di daerah belakang sardo. Ini memang salah satu tempat makan favorit saya dan istri. Bahkan jauh sebelum menikah, saya rutin makan disini setidaknya seminggu sekali dengan salah seorang sahabat saya, my fellow jombloers, that time... Nasinya pulen dan hangat, pecelnya enak, dan tentu saja murah meriah!.
Jam menunjukkan pukul 9.30 ketika kami selesai sarapan dan beranjak menuju tempat 'sasaran' berikutnya, PPPA Daarul Quran. Tujuannya cuma satu, memenuhi janji kami pada Alloh untuk mengajak si tole, panda kecil, amanah dari-Nya ini mengaji pertama kalinya. Kami ingin ia menjadi manusia yang lebih baik dari bapak ibunya. Dan untuk itu kami telah sepakat bahwa mengenalkannya pada Al-Quran semenjak dalam kandungan adalah salah satu prasyarat terpenting. Maka jadilah kami menemui Ust. Habib Mustofa, pria muda dengan bacaan Al-Quran yang indah (subhanallaah).
Di ruangan musholla kecil ukuran 2x2 itu, dalam iringian murottal Quran yang mengalun lembut dari speaker yang digantung di sudut langit-langit ruangan, kami dijelaskan bahwa sesi pertama adalah pengenalan tentang apa yang akan dilakukan untuk membuat si tole menjadi ahli Quran. Ust. Habib Mustofa menganalogikannya dengan upaya kita kala ingin membeli mobil, butuh kerja keras untuk mengumpulkan dananya. Maka apalagi jika yang kita ingin 'beli' adalah seorang anak yang mudah menghafal dan mengamalkan Al-Quran. Setelah sesi taushiyah yang berjalan selama 45 menit, kami disodori buku panduan riyadhoh dan dzikir, dua mata uang untuk 'pembelian' itu yang harus kami lakukan setiap hari. Buku itu akan bermanfaat untuk satu bulan ke depan sebelum digantikan dengan buku lain yang berisi panduan berikutnya. Rasanya ingin menangis ketika menyadari bahwa apa yang sebelumnya saya pikir sudah cukup untuk mempersiapkan si panda kecil, ternyata masih jauh. Masih banyak yang harus dikejar dan hari itu adalah hari yang baik. Hari dimana kita mendapat ilmu yang menyadarkan akan kekurangan pengetahuan yang kita miliki kemarin. Dan untungnya, di PPPA Daarul Quran, kami diberi ceklist yang harus kami lakukan setiap harinya. Maka kami pun menutup sesi dengan janji dalam hati untuk saling mengingatkan pasangan akan janji kita pada si panda kecil....
Bahwa diantara alunan mozart dan cerita-cerita inspiratif yang kami bagikan padanya setiap malam, dan diantara kesibukan pekerjaan yang menekan, ada porsi lebih besar yang perlu kami sediakan untuk cerita tentang Tuhan dan Al-Qurannya yang perlu ia dapatkan.
And suddenly, it has been a different saturday....
Alhamdulillah...
Monday, December 17, 2012
Empat
Nak, genap sudah empat bulan kamu bertumbuh didalam tubuh ibumu. Kemarin, telah kusambut jiwamu dengan Quran dan Shalawat Rasulmu. Ingat baik-baik ya nak.... :)
Friday, November 23, 2012
Sore di Fried Chicken
Rumah
makan cepat saji jalan kawi itu tak terlalu ramai. Kami mengantri
tenang, hanya berjarak dua orang dari meja sang kasir. Ada dua alat
pembayaran, namun hanya satu yang beroperasi.
Tak berapa lama antrian itu sedikit bertambah. Dua orang laki-laki paruh baya berdiri di belakang kami. Lalu pria paling belakang, seorang berperawakan ekstra tambun tinggi besar dan kemeja rapi menyalak sengak,...
"..Woy, buka dong kasir satunya, pegawai banyak, yang peka dong kalau banyak antrian..."
Tak berapa lama antrian itu sedikit bertambah. Dua orang laki-laki paruh baya berdiri di belakang kami. Lalu pria paling belakang, seorang berperawakan ekstra tambun tinggi besar dan kemeja rapi menyalak sengak,...
"..Woy, buka dong kasir satunya, pegawai banyak, yang peka dong kalau banyak antrian..."
Tergopoh, terlihat sedikit kesal, seorang pelayan restoran yang sedang membersihkan lemari datang dan menyalakan mesin kasir satunya. Ia mempersilahkan kami maju dan membuat antrian baru, yang kini berisi dua orang, dengan laki-laki ekstra tambun itu kini persis dibelakang kami. Selepas membayar, istri saya yang tak begitu memperhatikan sosoknya, menggumam, "...sapa sih yang tadi ga sabaran banget...?"
Ah, barangkali dia memang terlalu lapar dan waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam antrian...
Tuesday, October 2, 2012
A Picture That Doesn't Need Aperture
Friday, June 29, 2012
Kekayaan
Sore selepas lembur proposal CSR. Saya sedang memacu pelan kendaraan
meninggalkan gerbang kantor ketika seorang nenek berkebaya kuning lusuh
yang berjalan perlahan, tiba-tiba berhenti di depan seonggok kotak bekas
rokok di bibir aspal jalan....
Pengumpul barang bekas, pikir saya ketika sang nenek membungkuk pelan memungut kotak rokok itu. Saya tercekat sesaat kemudian, tergetar hati ini ketika menyaksikan sang nenek bergerak mendekati tong sampah karet pinggir jalan dan membuang kotak itu kedalamnya.
KEKAYAAN MEMANG TERBUKTI SOAL HATI. Alloh, nenek ini, semoga layak mengisi surgamu....
Pengumpul barang bekas, pikir saya ketika sang nenek membungkuk pelan memungut kotak rokok itu. Saya tercekat sesaat kemudian, tergetar hati ini ketika menyaksikan sang nenek bergerak mendekati tong sampah karet pinggir jalan dan membuang kotak itu kedalamnya.
KEKAYAAN MEMANG TERBUKTI SOAL HATI. Alloh, nenek ini, semoga layak mengisi surgamu....
Saturday, October 22, 2011
[ 17 ]
"...Where Have I Been, All Your Life*..."
*tulisan yang melekat di kaos seorang gadis pengamen kecil di perempatan arjosari, malang
[sabtu, 22 Oktober 2011, 17.30 wib ]
[sabtu, 22 Oktober 2011, 17.30 wib ]
Tuesday, September 6, 2011
Genre
There were many great stories we've seen. I was having fun with The Transformers, thoughtfull about Inception, laughed a lot along with Panda. In the end, there's a thing stood out. And its 'Viktor Novorski' which sums it up. True, it might not be the best. Perhaps, it's just our genre, Amelia...
Wednesday, August 17, 2011
Paskibra
Sejak saya kecil ibu selalu senang mengajak saya menonton upacara pengibaran bendera pusaka di Istana Negara setiap tanggal 17 Agustus. Sepertinya, para anak muda hebat itulah salah satu stereotip ganteng dan membanggakan versi ibu. Karenanya ibu pernah cerita ingin sekali melihat anaknya jadi pengibar bendera seperti di tipi. Sayang, kombinasi antara faktor ketinggian tubuh dan keberuntungan akhirnya menunda mimpi ibu itu. Sampai akhirnya 17 Agustus 2011, penantian itu berakhir...
Ibu, saya jadi paskibra, versi lokal memang, tapi yang penting paskibra bukan...?!
Dan oh ya, uang lelah paskibra lokal itu 20.000 perak dan emblem garudanya ternyata dibalikin... siall...
Ibu, saya jadi paskibra, versi lokal memang, tapi yang penting paskibra bukan...?!
Dan oh ya, uang lelah paskibra lokal itu 20.000 perak dan emblem garudanya ternyata dibalikin... siall...
Saturday, July 2, 2011
CRASH!
Biyen tau ndelok CRASH ga? Lek durung, nonton'o...
Iku CRASH.. film'e Paul Haggis sing kiro-kiro maksude ate ngirim pesen Each different life is in some way personally affected, changed, damaged, or victimized by something which then connect through coincidence, feeding one into another, crashing into each other’s lives... Tapi intine film iki abot tur apik, dikongkon memahami banyak hal sing terkoneksi ndek ndunyo iki.
Aku dhewe moro-moro eling goro-goro uripku dino iki...
Sak umur-umur urip sing lek tak pikir-pikir lumayan akeh entek nang ndalan, alhamdulillah aku jarang pwol sampek tibo-tibo ngono. Lek tak eling-eling sih mek ping telu....
Pertama iku pas aku kelas siji SMP...
Lagi penak-penak mulih sepedaan moro-moro mak-grobyakkk ditabrak becak tekok mburi. Anjrit tenan, tapi mergo krasaku ra enek sing luka, yo wes ra perlu urusan suwe. Lah nyampe omah iku tas sadar lek'e tangan kiriku bengkok lumayan. Akhire yo dikon pijet ndek kenalane tonggoku. Sek ping pindo paling, trus tak pikir-pikir tukang pijete rodok mencurigakan tur ganok nduduhi sertifikat. Yowes, akhire dipijet dhewe ambek ibukku, alhamdulillah waras masio ga mbalik 100 persen.
Kecelakaan sing nomer loro iku ora loro blas, tapi justru ngisin-isini....
Iku critane pas kuliah aku goncengan ate survey nang kelurahan ambek koncoku, sing sepurane ae ancen rodo pengalaman soal tibo-tiboan. Dadi mulai pertama digonceng wis moco dungo ping sewidhak jaran aku jes. Tapi yo dasar nasib, sampek ndek dalan ngarepe kampus STAIN Malang sing rame wong nyebrang, koncoku ucul kontrol.
Koyoke awal-awale koncoku iku kesengsem ambek mahasiswa jilbaban sing ndek pinggir ndalan. Ancen ayu areke, aku yo ndelok, kiro-kiro koyok wedok sing gelem-geleme moco tulisan iki lah... hehe.... Nah, untunge koncoku sik sempet banting stir kiri pas ngindari angkot ambek wong nyebrang iku. Motore mlintir, koncoku tibo, aku mencolot nang urugan pasir sing dinggo mbangun ruko pinggir ndalan iku. Akhire yo ditulungi karo mbak-mas mahasiswa kono, karo enek sing mesam-mesem nulungine.
Lorone ga blas, Isine nemen bro...!! Ga iso kenalan pisan... Tapi tetep, Alhamdulillaah...
Sing nomer telu iki sing paling nemen...
Critane Ate budal PKL ndek suroboyo bareng koncoku loro. Biasane iku kene mesti numpak patas, tapi mbuh dino iku koyoke lagi kere kabeh akhire numpak Bis ekonomi jenenge Tentrem sing tekok budal gak nggarai Tentrem blas... Jyann, LIAAAR....!! pokoke supire. Yo, koyoke pancen ngene iki terus transportasi massal kelas murah ndek indonesia lek e modele kejar setoran ambek kakehan persaingan operator. Opo ojok-ojok iki salahe sing nggawe istilah TIME IS MONEY?
lak luwih enak lek TIME IS OPPORTUNITY hare...?!
Oh yo, tak terusno critane, sak tekane iku bis ndek daerah Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan ndilalah kok yo enek wong lanang wedok goncengan banter trus kepleset ndek tengah ndalan. Supir bisku - jare koncoku jenenge Joni, aku ga sempet croscek - mbanting kanan, metu jalur, melbu jalure bis teko arah Surabaya. Yo wes, akhire iku enek Bis Medali Mas, patas jeh, disruduk sampe nyempung sawah. Bis ku dewe malang ndek tengah dalan.
Mari tabrakan aku kroso raiku akeh kocone, tapi mbuh sing kepikiran pertama aku wedi bis'e mbledhug koyok ndek film-film india-ne ibukku. Akhire yo jenggirat mlayu balapan mudun. Ga mikir luka tah opo, pokok sadar sik urip ae..
Koncoku loro akhir-akhiree iku bengeb, tapi pas iku ga sadar, ganok luka luar dadi yo akeh nulungi aku sing sirahe bocor sampek entek koran telung lembar tambah tisu sak bungkus wek'e Asongan apikan sing nulungi ngelapi getihku.
Yo iku tabrakan sing paling medeni tak alami sak umur-umur. Ngono iku yo sik onok untunge. Tekok budal feeling elek nggarai kene wong telu pindah lungguhan tekok ngarep dhewe dadi lungguhan nomer telu. Ga mbayangno lek e kene dadi sing kejepit ndek deretan kursi pertama ambek kedua. Dadi tetep... Alhamdulillaahh...
Yo wes iku seh catatan tabrakan ndek uripku. Enek sing podo diantara ketiga kejadian iku, aku ga tau ndek posisi setir....
Mbuh yo, mergo aku lek pas dadi supir ga tau tabrakan ngono, nggarai aku ancen sering ga percoyoan lek e digonceng opo disupiri sembarang konco kecuali sing wis jelas gaya setirane podo ambek aku. Jare wong bule, Seeing is Believing...
Mangkane pas iki mau awan aku nyetir nggonceng konco ate ndek Waduk Selorejo trus keprusut goro-goro oli ndek tengah dalan sekitar Pujon, rodo shock sediluk ngono. Mlayu mek 40 km/jam, sepeda gress teko servisan, ambek fisik fit, tapi lek jenengane apes yo akhire tibo pisan.
"..Sepandai-pandai Panda berguling, akhire nggeblak pisan..."
Sing tak pikir pertama mau koncoku. Alhamdulillah waras. Trus ndelok tas kameraku, wadooohh kejepit sepeda tapi mari tak bukak ga popo yo wes, ora sido stress iki... hehe... Trus sepeda motorku yo mek lecet-lecet ringan. Alhamdulillah maning...!!!
Kesimpulane 'kenang-kenangane' mek hape ku mbeset kabeh ambek dengkulku mlocot siji.. iki tak duduhi fotone....
Mbalike iki sore mau alhamdulillah wes iso normal nyetirku. Ora tegang neh malah semangat ate nulis ndek blog... pamer kok tabrakan yo...?? hehe... Masio ngono yo pancet mikir seh. Everything jare happen for a reason. And i think i know what the reason was, selain yo sebab langsunge oli pick-up asemm iku mau...
Dadi akhire, Sabtu, 2 Juli 2011 bakal tak eling-eling, iki pertama kali'e dan mugo-mugo terakhir kaline aku ngalami tabrakan...
Di-Amiiinn-in bukan sodara-sodara..???
Suwun yo wis moco dhuuoowwooo, ora niat pamer mutlak..
Tapi yo mugo" dadi peng-eling"-e awakku ben luwih ati-ati ndek ndalan....
Lek sing moco melu terinspirasi yo alhamdulillah....
Trus lek enek sing urun komen opo jempol yo wis sewajarnya...
Ate Melu mijeti opo maneh, langsung di-call ae iku nomerku lek enek ndek hapene sampeyan...
Wes yoo... aku tak nerusno mikir iki piye carane sikil ga iso ditekuk tapi kudu Ngising ndek jeding model ndodhok....
*****
NB:
Oh iyo, siji maneh alhamdulillah'o sing akeh rek, mumpung sya'ban pisan...
urip iku masio kadang soro, akeh sing sering lali disyukuri..
*****
*maaf pake bahasa jawa mostly, translate ke bahasa indonesia tersedia di penulis...
Iku CRASH.. film'e Paul Haggis sing kiro-kiro maksude ate ngirim pesen Each different life is in some way personally affected, changed, damaged, or victimized by something which then connect through coincidence, feeding one into another, crashing into each other’s lives... Tapi intine film iki abot tur apik, dikongkon memahami banyak hal sing terkoneksi ndek ndunyo iki.
Aku dhewe moro-moro eling goro-goro uripku dino iki...
Sak umur-umur urip sing lek tak pikir-pikir lumayan akeh entek nang ndalan, alhamdulillah aku jarang pwol sampek tibo-tibo ngono. Lek tak eling-eling sih mek ping telu....
Pertama iku pas aku kelas siji SMP...
Lagi penak-penak mulih sepedaan moro-moro mak-grobyakkk ditabrak becak tekok mburi. Anjrit tenan, tapi mergo krasaku ra enek sing luka, yo wes ra perlu urusan suwe. Lah nyampe omah iku tas sadar lek'e tangan kiriku bengkok lumayan. Akhire yo dikon pijet ndek kenalane tonggoku. Sek ping pindo paling, trus tak pikir-pikir tukang pijete rodok mencurigakan tur ganok nduduhi sertifikat. Yowes, akhire dipijet dhewe ambek ibukku, alhamdulillah waras masio ga mbalik 100 persen.
Kecelakaan sing nomer loro iku ora loro blas, tapi justru ngisin-isini....
Iku critane pas kuliah aku goncengan ate survey nang kelurahan ambek koncoku, sing sepurane ae ancen rodo pengalaman soal tibo-tiboan. Dadi mulai pertama digonceng wis moco dungo ping sewidhak jaran aku jes. Tapi yo dasar nasib, sampek ndek dalan ngarepe kampus STAIN Malang sing rame wong nyebrang, koncoku ucul kontrol.
Koyoke awal-awale koncoku iku kesengsem ambek mahasiswa jilbaban sing ndek pinggir ndalan. Ancen ayu areke, aku yo ndelok, kiro-kiro koyok wedok sing gelem-geleme moco tulisan iki lah... hehe.... Nah, untunge koncoku sik sempet banting stir kiri pas ngindari angkot ambek wong nyebrang iku. Motore mlintir, koncoku tibo, aku mencolot nang urugan pasir sing dinggo mbangun ruko pinggir ndalan iku. Akhire yo ditulungi karo mbak-mas mahasiswa kono, karo enek sing mesam-mesem nulungine.
Lorone ga blas, Isine nemen bro...!! Ga iso kenalan pisan... Tapi tetep, Alhamdulillaah...
Sing nomer telu iki sing paling nemen...
Critane Ate budal PKL ndek suroboyo bareng koncoku loro. Biasane iku kene mesti numpak patas, tapi mbuh dino iku koyoke lagi kere kabeh akhire numpak Bis ekonomi jenenge Tentrem sing tekok budal gak nggarai Tentrem blas... Jyann, LIAAAR....!! pokoke supire. Yo, koyoke pancen ngene iki terus transportasi massal kelas murah ndek indonesia lek e modele kejar setoran ambek kakehan persaingan operator. Opo ojok-ojok iki salahe sing nggawe istilah TIME IS MONEY?
lak luwih enak lek TIME IS OPPORTUNITY hare...?!
Oh yo, tak terusno critane, sak tekane iku bis ndek daerah Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan ndilalah kok yo enek wong lanang wedok goncengan banter trus kepleset ndek tengah ndalan. Supir bisku - jare koncoku jenenge Joni, aku ga sempet croscek - mbanting kanan, metu jalur, melbu jalure bis teko arah Surabaya. Yo wes, akhire iku enek Bis Medali Mas, patas jeh, disruduk sampe nyempung sawah. Bis ku dewe malang ndek tengah dalan.
Mari tabrakan aku kroso raiku akeh kocone, tapi mbuh sing kepikiran pertama aku wedi bis'e mbledhug koyok ndek film-film india-ne ibukku. Akhire yo jenggirat mlayu balapan mudun. Ga mikir luka tah opo, pokok sadar sik urip ae..
Koncoku loro akhir-akhiree iku bengeb, tapi pas iku ga sadar, ganok luka luar dadi yo akeh nulungi aku sing sirahe bocor sampek entek koran telung lembar tambah tisu sak bungkus wek'e Asongan apikan sing nulungi ngelapi getihku.
Yo iku tabrakan sing paling medeni tak alami sak umur-umur. Ngono iku yo sik onok untunge. Tekok budal feeling elek nggarai kene wong telu pindah lungguhan tekok ngarep dhewe dadi lungguhan nomer telu. Ga mbayangno lek e kene dadi sing kejepit ndek deretan kursi pertama ambek kedua. Dadi tetep... Alhamdulillaahh...
Yo wes iku seh catatan tabrakan ndek uripku. Enek sing podo diantara ketiga kejadian iku, aku ga tau ndek posisi setir....
Mbuh yo, mergo aku lek pas dadi supir ga tau tabrakan ngono, nggarai aku ancen sering ga percoyoan lek e digonceng opo disupiri sembarang konco kecuali sing wis jelas gaya setirane podo ambek aku. Jare wong bule, Seeing is Believing...
Mangkane pas iki mau awan aku nyetir nggonceng konco ate ndek Waduk Selorejo trus keprusut goro-goro oli ndek tengah dalan sekitar Pujon, rodo shock sediluk ngono. Mlayu mek 40 km/jam, sepeda gress teko servisan, ambek fisik fit, tapi lek jenengane apes yo akhire tibo pisan.
"..Sepandai-pandai Panda berguling, akhire nggeblak pisan..."
Sing tak pikir pertama mau koncoku. Alhamdulillah waras. Trus ndelok tas kameraku, wadooohh kejepit sepeda tapi mari tak bukak ga popo yo wes, ora sido stress iki... hehe... Trus sepeda motorku yo mek lecet-lecet ringan. Alhamdulillah maning...!!!
Kesimpulane 'kenang-kenangane' mek hape ku mbeset kabeh ambek dengkulku mlocot siji.. iki tak duduhi fotone....
"..hapeku mbese kabehh..."
"..dengkulku sing mlocot.."
Mbalike iki sore mau alhamdulillah wes iso normal nyetirku. Ora tegang neh malah semangat ate nulis ndek blog... pamer kok tabrakan yo...?? hehe... Masio ngono yo pancet mikir seh. Everything jare happen for a reason. And i think i know what the reason was, selain yo sebab langsunge oli pick-up asemm iku mau...
Dadi akhire, Sabtu, 2 Juli 2011 bakal tak eling-eling, iki pertama kali'e dan mugo-mugo terakhir kaline aku ngalami tabrakan...
Di-Amiiinn-in bukan sodara-sodara..???
Suwun yo wis moco dhuuoowwooo, ora niat pamer mutlak..
Tapi yo mugo" dadi peng-eling"-e awakku ben luwih ati-ati ndek ndalan....
Lek sing moco melu terinspirasi yo alhamdulillah....
Trus lek enek sing urun komen opo jempol yo wis sewajarnya...
Ate Melu mijeti opo maneh, langsung di-call ae iku nomerku lek enek ndek hapene sampeyan...
Wes yoo... aku tak nerusno mikir iki piye carane sikil ga iso ditekuk tapi kudu Ngising ndek jeding model ndodhok....
*****
NB:
Oh iyo, siji maneh alhamdulillah'o sing akeh rek, mumpung sya'ban pisan...
urip iku masio kadang soro, akeh sing sering lali disyukuri..
*****
*maaf pake bahasa jawa mostly, translate ke bahasa indonesia tersedia di penulis...
Friday, June 3, 2011
Mudik, as Always
Pagi ini saya mendapat berita duka tentang ibunda seorang teman. Teman yang buat saya istimewa. Dalam setahunan kedekatan persahabatan kami, tak sekalipun rasanya saya melihat dia kesulitan mengeluarkan senyum. Bahkan dalam situasi terjepit keperluan pribadi pun ia selalu terlihat ceria dan sulit menolak permintaan tolong dari kawannya, termasuk saya.
Saya tidak mengenal ibunya selain tentang penyakit yang dideritanya cukup lama hingga 'kepulangannya' hari ini. Tapi saya yakin orang yang telah melahirkan dan mendidik anak sebaik teman saya itu pastilah ibu yang istimewa pula.
Maka saya lalu membalas pesan pendek berita duka itu dengan doa. Lalu kadang ada situasi dimana kalimat '..innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...' itu tidak semudah mengetiknya dan setelah tombol send tertekan, saya terdiam...
Saya sedang mudik dua hari. Tapi ketimbang mericuhkan perkara lain yang mencegah saya untuk tinggal di rumah lebih lama dalam long wiken kali ini, apa yang terjadi pagi ini membuat saya mencermati kembali tentang esensi mudik....
Bagian terbaik dari mudik adalah mencium tangan orang tua, yang ekspresi excited-nya selalu maksimal, tak terpengaruh oleh panjang pendeknya skala waktu kepergian kita. Dan saya sungguh bersyukur masih bisa merasakan suasana itu kemarin pagi. Bagian tentang bisa mencecap lagi kenikmatan soto terenak sedunia, gorengan tempe paling maknyus, dan manisnya gudeg jogja pada akhirnya hanyalah bonus.
..
Sementara bagian terburuknya adalah ketika dalam malam hujan deras, mereka melambaikan tangan ke kita yang kembali tersekat jendela kereta. Tangan yang baru kemarin mengusap kepala anaknya, sesaat lalu semakin samar sebelum akhirnya hilang tertinggal dibelakang ular besi yang kembali berlari.
Saya tahu mereka sebenarnya belum rela ritual mudik empat bulanan itu berakhir begitu cepat, begitu pula saya yang harus kembali merantau.
Merantau memang panggilan lelaki. Tapi untuk pulang pada mereka yang menjadi definisi terbaik tentang kata sayang, adalah juga sebuah kewajiban.
Kita, adalah anak-anak yang kadang memperumitnya dengan rasa malu pada pertanyaan kesuksesan di perantauan atau ledekan tentang kehidupan percintaan. Sementara ibu dan ayah hanya ingin melihat tangan kita, para perantau yang tak cukup waktu untuk bertemu disetiap pagimu.
Maka pulanglah teman, lakukanlah sesering sempatmu mereguk rizki Tuhan yang menetes dari tangan mereka, karena tak semua seberuntung kita, tak selamanya pula kita bisa....

sayur tempe buatan ibu, makanan nomer satu di dunia
Saya tidak mengenal ibunya selain tentang penyakit yang dideritanya cukup lama hingga 'kepulangannya' hari ini. Tapi saya yakin orang yang telah melahirkan dan mendidik anak sebaik teman saya itu pastilah ibu yang istimewa pula.
Maka saya lalu membalas pesan pendek berita duka itu dengan doa. Lalu kadang ada situasi dimana kalimat '..innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...' itu tidak semudah mengetiknya dan setelah tombol send tertekan, saya terdiam...
Saya sedang mudik dua hari. Tapi ketimbang mericuhkan perkara lain yang mencegah saya untuk tinggal di rumah lebih lama dalam long wiken kali ini, apa yang terjadi pagi ini membuat saya mencermati kembali tentang esensi mudik....
Bagian terbaik dari mudik adalah mencium tangan orang tua, yang ekspresi excited-nya selalu maksimal, tak terpengaruh oleh panjang pendeknya skala waktu kepergian kita. Dan saya sungguh bersyukur masih bisa merasakan suasana itu kemarin pagi. Bagian tentang bisa mencecap lagi kenikmatan soto terenak sedunia, gorengan tempe paling maknyus, dan manisnya gudeg jogja pada akhirnya hanyalah bonus.
..
Sementara bagian terburuknya adalah ketika dalam malam hujan deras, mereka melambaikan tangan ke kita yang kembali tersekat jendela kereta. Tangan yang baru kemarin mengusap kepala anaknya, sesaat lalu semakin samar sebelum akhirnya hilang tertinggal dibelakang ular besi yang kembali berlari.
Saya tahu mereka sebenarnya belum rela ritual mudik empat bulanan itu berakhir begitu cepat, begitu pula saya yang harus kembali merantau.
Merantau memang panggilan lelaki. Tapi untuk pulang pada mereka yang menjadi definisi terbaik tentang kata sayang, adalah juga sebuah kewajiban.
Kita, adalah anak-anak yang kadang memperumitnya dengan rasa malu pada pertanyaan kesuksesan di perantauan atau ledekan tentang kehidupan percintaan. Sementara ibu dan ayah hanya ingin melihat tangan kita, para perantau yang tak cukup waktu untuk bertemu disetiap pagimu.
Maka pulanglah teman, lakukanlah sesering sempatmu mereguk rizki Tuhan yang menetes dari tangan mereka, karena tak semua seberuntung kita, tak selamanya pula kita bisa....
sayur tempe buatan ibu, makanan nomer satu di dunia
Saturday, May 21, 2011
MTD
Saya pikir seharusnya malang tempo doeloe lebih dari sekedar memilih diantara jejeran makanan yang sebenarnya sama saja cuma tertata berselang-seling, dengan lapak beratap rumbia. Saya sebenarnya ingin tau tentang asal muasal sejumlah penganan, tapi tidak ada cukup penjelasan. Makanan itu jadi hanya jualan, belum menjadi sebuah pengalaman penemuan warisan. Kata teman saya, "..coba materinya ditata berdasarkan perkembangan malang..". Atau memang materi zoningnya emang gitu-gitu aja? Tanya siapa?
Subscribe to:
Posts (Atom)