Friday, December 3, 2010
Friday Night Effect
Just why we're here
Could it be fate
Or random circumstance
At the right place
At the right time
Two roads intertwine
And if the universe conspired
To meld our lives
To make us
Fuel and fire
Then know
Where ever you will be
So too shall I be
-rivermaya-
20/2003
"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."
Panjang banget yah, ga kebayang gimana mentransformasikannya ke dalam kurikulum, mengingatnya saja sudah susah...
Thursday, December 2, 2010
My Precious
Diluar yang semacam "..selamat anda mendapatkan uang tunai Rp.50 jt, bonus pulsa Rp.10jt. hubungi 081xxxxx...", kira-kira hadiah paling mengesankan apa yang pernah anda dapat selama ini..?? Pulpen, Sandal Jepit, MagicJar, Uang Tunai, atau Mobil mungkin...?
Bagi saya, ada sebuah hadiah paling mengesankan yang pernah saya dapatkan sebelum kemarin....
Adalah sebuah jam dinding, hasil iseng-iseng ibu mengajari saya surat menulis surat untuk presiden. Lima setengah tahun umur saya ketika sebuah kiriman kardus coklat berstempel pos khusus dari kantor presiden datang di sebuah pagi. Buru-buru saya robek pembungkus kardusnya, dan mata saya berbinar ketika melihat sepucuk surat terikat pita merah putih tergeletak diatas sebuah jam dinding, warna putih hitam, dengan tandatangan H. Soeharto dibalik kacanya.
"Terimakasih atas suratmu nak, jadilah anak yang berguna bagi bangsa.." , begitu rasanya penggalan surat yang entah ditulis oleh siapa di istana atas nama presiden. Tapi perhatian saya akhirnya banyak tertuju pada jam dindingnya. Saking senangnya, malamnya saya tidur memeluk benda yang seharusnya terpasang di dinding itu. Kalau mengingat-ingat hal itu saya sering tertawa sendiri, indah sekali rasanya jadi anak kecil, tak mengenal politik juga tak pandai mengkritik.
Jam dinding itu bertahan cukup lama, sepanjang usia sekolah dasar saya, walaupun akhirnya penunjuk waktu itu menyerah juga pada sang waktu. Dan walaupun setelah itu saya sempat beberapa kali memenangkan hadiah yang menyenangkan - paling istimewa adalah sebuah pin dan buku original tentang profil tim dari Manchester United - , tapi overall saya tidak pernah cukup beruntung memenangkan sesuatu hadiah yang mahal.
Semua berubah kemarin pagi...
Ketika saya mendapatkan sebuah benda yang nilainya sama dengan dua kehidupan. Sepucuk kejutan yang menyenangkan. Hadiah dari sebuah pompa bensin yang semoga menjadi contoh bagi manufaktur-manufaktur lain yang katanya memikirkan kelangsungan masa depan dunia namun masih saja berlomba-lomba memikat konsumen dengan hal-hal remeh semacam kendaraan, alat elektronik, dan lain-lain pengancam kehidupan...
Monday, November 29, 2010
Tentang Menjadi Dewasa 1"
Wednesday, November 24, 2010
INVICTUS
Pada tahun 1875 William Ernest Henley harus menjalani amputasi terhadap salah satu kakinya demi menyelamatkan hidupnya. Sebuah pilihan yang berat bagi seorang pemuda berbakat yang baru berumur 25 tahun itu. Namun ketimbang menyerah, dalam proses pemulihan di rumah sakit ia menulis sebuah puisi yang merefleksikan semangatnya untuk bangkit. Sebuah puisi yang seabad kemudian ‘menemani’ Madiba untuk bertahan 13 tahun dalam kungkungan penjara yang setiap sel sempitnya diisi oleh 40 orang di Pulau Robben, di lepas Samudera Atlantik.
Ketika pada tahun 1994 Madiba yang lebih kita kenal sebagai Nelson Mandela memenangkan pemilu dan terpilih sebagai Presiden Afsel, dirinya dihadapkan pada begitu banyak permasalahan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, transportasi dan yang paling utama integrasi kulit hitam dan kulit putih. Sebuah proses yang rupanya menemukan momentum lewat sesuatu diluar gedung parlemen, dari sebuah gelanggang berjuluk Ellis Park, ketika akhirnya 65.000 orang hitam, kuning, putih menjadi saksi, Springboks, tim Rugby yang dulu identik sebagai salah satu simbol kejayaan Apartheid kini menyatukan mereka, melawan All Black-Selandia Baru di Final Piala Dunia Rugby 1995.
Adalah sebuah pertemuan dengan kapten tim Springboks, Francois Pienaar yang menjadi titik awal transformasi tim tersebut. Pienaar yang putih, datang ke kantor kepresidenan dengan membawa sebagian kecemasan ras nya, hanya untuk kemudian menyadari bahwa visi dan perilaku Mandela jauh dari interpretasi negative mayoritas orang kulit putih. Sosok luar biasa, yang lantas menitipkan ‘misi mustahil’ agar Springboks menjadi juara dunia rugby bukan hanya atas nama prestasi, tapi demi integrasi negeri.
Pada saat itu Springboks dan All Black ibarat membandingkan Timnas Garuda dengan Korea Selatan. Ada bertingkat-tingkat perbedaan kualitas antara peserta Piala AFF dengan langganan Piala Dunia. Namun demikian, dalam serangkaian adegan film karya Clint Eastwood berjudul sama dengan tulisan ini, tergambar tingginya semangat mereka untuk merubah diri dalam masa persiapan yang kurang dari setahun itu. “..We may not have the best talent, but we can be the fittest..” adalah visi yang mereka canangkan. Sebuah semangat yang terpercik dari secarik kertas, yang diatasnya Mandela menulis puisi karangan Henley, yang ‘menjaga’ semangatnya saat pengasingan di Pulau Robben.
Maka membayangkan Pulau Robben tersebut, saya jadi teringat tentang Bandanaira dan sebuah catatan Gunawan Muhamad tentang tempat tersebut. Di Bandaneira ada sebuah monumen kecil dimana seregu samurai Jepang didatangkan Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC yang terkenal itu) ke Neira untuk menyembelih 40 orang pemuka masyarakat Banda yang menolak klaim Belanda dalam monopoli niaga pala. Di dinding di belakang perigi itu juga tertulis sederet nama orang dari pelbagai penjuru Nusantara yang dibuang ke pulau itu sejak abad ke-19: dari Pontianak, Yogya, Kutaraja, Cirebon, Serang, Blitar. Di abad ke-20 ada nama yang kini lebih dikenal: Cipto Mangunkusumo, Iwa Kusumasumantri, Hatta, Syahrir.
Dan jika Mandela kemudian bisa menunjukkan Pulau Robben pada lima belas orang yang diharapkannya menjadi invictus, tak terkalahkan, maka mungkin Riedl perlu mengajak 23 orang pilihannya pergi ke Bandanaira, tempat yang dikatakan "…disini bermula apa yang kemudian menjadikan Indonesia..."
Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.
Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.
It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.
Invictus, William Ernest Henley
Tuesday, November 16, 2010
WAJAH WAJAH GUNDAH
Kita adalah manusia-manusia modern, yang akan setengah lumpuh ketika fungsi push mail berhenti bekerja, ketika sensor infra red tetikus mati tanpa permisi, atau debu menyumbat karburator.
Sedang hari ini, adalah tentang sebuah truk gandeng yang terguling di depan fly over pada peak time arus pagi hari...
Dan seperti beberapa bapak yang mulai cemas anak-anaknya akan terlambat melewati satpam di gebang sekolah, bolak balik kupandangi jam di pergelangan kiriku.
#Jarum menunjuk angka 07.30.#
Kalkulasi kecepatan yang kubutuhkan setelah lepas dari kemacetan ini untuk sampai kantor tepat waktu berujung pada kesimpulan keharusan untuk meminggirkan sejenak gaya mengemudi yang biasanya tak lebih dari 60km/jam. Karena sekarang adalah Selasa, saatnya apel besar, dan tabu hukumnya terlambat....
Lima belas menit setelah kemacetan parah itu, diatas motor yang dipacu di angka 80 km/jam, entah siapa yang membawa, datang pertanyaan di kepala, "..apa sudah segundah ketika suara adzan memanggil dan aku masih terduduk di hadapan layar monitor..". Apakah memang terlambat check log, absen apel dan scan jari lebih intimidatif ketimbang iqomah... ?
#malang, ketika listrik mati seharian dan banyak pekerjaan tak terselesaikan#