Sunday, January 20, 2013

Langkah Pertama

Melihat tawa riang anak-anak dan ibu-ibu yang menikmati desir angin pelepas lelah, adalah bayaran lunas untuk jam-jam lembur lalu yang melelahkan.

Ya, ini memang hanyalah satu keping awal. Tapi semoga menjadi titik dimana kita akan mulai menemukan kembali cukup ruang untuk BERMAIN di kota yang indah ini. Lalu semoga, tak peduli sadar atau tidak, kita akan LESTARI bersama. Karena pada akhirnya, hanya dengan jalan inilah kita bisa BERKEMBANG....

Ayo, main ke Taman Merjosari :D
 



 
 
 

Saturday, January 19, 2013

Sang Pengantar

Sudah jalan hidupnya untuk menyusuri jalanan. Ia adalah pengantar segalanya, tak hanya kebahagiaan yang konon diaku bisa diantarkan botol-botol soda kaya glukosa. Ia antarkan ayam-ayam muda, ia sampaikan kardus-kardus beraneka rupa, dan ia pertemukan manusia dari segala ras dan strata, laki-laki dan perempuan, dengan tempat-tempat terindah pun termistis di negeri ini.

Di waktu-waktu antaranya, ia pulang dengan senyum bahagia dan beberapa lembar uang hasil keringatnya. Kadang, ia pulang dengan sebungkus ayam goreng dan tempe bacem. Di lain waktu kepulangannya, ia menenteng cerah sekotak mainan baru untuk anaknya. Diserahkannya semua bersama beberapa potong baju kotor, pada perempuan yang selalu menunggunya di depan pintu rumah. Lalu ia bersihkan diri dan tenggelam dalam dengkurnya yang panjang.

Di waktu senggangnya itu, rumah adalah surga baginya. Berdiam dan saling goda dengan istrinya ketika mereka bercerita pada anak-anaknya masa-masa muda mereka. Tentang siapa yang lebih dulu menabur cinta. Entahlah, keduanya selalu punya versi masing-masing. Begitulah kesukaannya. Sedang dengan kawannya, ia memang jarang bicara panjang lebar. Ia lebih sering memilih mendengar atau menjadi bagian koor tawa ketika salah satu kawannya melontarkan canda. Paling-paling ketika terpancing perdebatan kawan tentang mesin dan kutak-katik benda elektrik. Itupun tak lama. Kawan-kawannya rata-rata adalah perokok dan peminum kopi berat. Sedang ia tak pernah bersahabat dengan keduanya.

Maka biasanya, ia lalu memilih pulang ke surganya. Surga yang ia bangun dan tinggali puluhan tahun. Dimana air hujan kadang menyelusup bocor diantara atapnya dan pengerat menjadi musik pengantar tidurnya, adalah juga surga dimana ia dan istrinya mendesain cara untuk mengantarkan kebahagiaan tanpa soda bagi anak-anaknya.

Pada akhirnya butuh lima puluh enam tahun baginya untuk bisa menuntaskan tugas-tugas desain itu. Telah ia antarkan anak-anaknya sampai ke podium tempat mereka menyungging senyum dalam topi bertali dan jubah hitam. Telah ia antarkan anak-anaknya ke panggung penuh bunga yang jumlahnya jauh lebih banyak ketika ia menyunting kekasih hidupnya. Telah cukup ia bekali istrinya dengan tempat berlindung dan kuda untuk mengantar sang istri pergi. Semua rancangannya telah lengkap dan pikirnya, kini waktunya aku melihat bagaimana rencana itu berhasil. Hanya saja, ada satu yang ia tak bisa kendalikan. Bukan soal melihat atau tidak. Tapi soal dimana ia akan duduk dan melihatnya.

Ia berencana tinggal lebih lama di surga bocor miliknya, tapi rupanya, katanya, ada tempat yang lebih baik untuknya. Surga yang tak mungkin bocor. Maka setahun pasca rampungnya semua rencana miliknya, pulanglah ia kesana.

Sang pengantar sudah menuntaskan perjalanannya. Begitu banyak orang berterimakasih padanya di hari kepulangannya. Mereka semua berkata pada saya, ia adalah orang yang baik, yang tak pernah terlihat meluap dalam amarah, yang tak pernah runtuh dengan keluh kesah akan apa saja yang dilontarkan jalanan kehidupan padanya.

Dan saya beruntung bisa puluhan tahun memanggilnya BAPAK.

Bapak yang hanya sekali dalam lima puluh tujuh tahun, tujuh bulan dan tiga belas hari hidupnya memarahi anaknya..

Bapak yang tak pernah berkata tidak ketika saya meminta tambahan uang kuliah...

Bapak yang tak lepas dari senyum hingga saat anaknya memandikannya...

Sunggguh, engkau adalah Bapak yang tak sempurna namun tak ada tandingannya di dunia....



Selamat jalan pak, baik-baik ya disana....






In memoriam, Soepono
29 Mei 1955 - 11 Januari 2013

Tuesday, January 1, 2013

Flight

Sudah lama sejak terakhir kali Denzel Washington memerankan karakter yang memiliki implikasi lebih dari sekedar baku tembak.  Dan FLIGHT rupanya jawaban untuk kerinduan saya. 

Monday, December 17, 2012

Empat

Nak, genap sudah empat bulan kamu bertumbuh didalam tubuh ibumu.  Kemarin, telah kusambut jiwamu dengan Quran dan Shalawat Rasulmu.   Ingat baik-baik ya nak.... :)

Rider Jancuk!

Sebelum hari ini pun saya memang tidak terlalu suka dengan kumpulan rider, geng motor atau apalah namanya orang-orang yang berkelompok memenuhi jalan raya dengan motor berisik mereka. Saya tahu, off the road, ada kegiatan positif dr sebagian mereka. Tapi on the road they're just simply ARROGANTLY ANNOYING. Penilaian yang akhirnya semakin kuat setelah serempetan hari ini. Dunia lebih baik tanpa arogansi di jalanan...

Friday, November 23, 2012

Sore di Fried Chicken

Rumah makan cepat saji jalan kawi itu tak terlalu ramai. Kami mengantri tenang, hanya berjarak dua orang dari meja sang kasir. Ada dua alat pembayaran, namun hanya satu yang beroperasi.

Tak berapa lama antrian itu sedikit bertambah. Dua orang laki-laki paruh baya berdiri di belakang kami. Lalu pria paling belakang, seorang berperawakan ekstra tambun tinggi besar dan kemeja rapi menyalak sengak,...

"..Woy, buka dong kasir satunya, pegawai banyak, yang peka dong kalau banyak antrian..."

Tergopoh, terlihat sedikit kesal, seorang pelayan restoran yang sedang membersihkan lemari datang dan menyalakan mesin kasir satunya. Ia mempersilahkan kami maju dan membuat antrian baru, yang kini berisi dua orang, dengan laki-laki ekstra tambun itu kini persis dibelakang kami. Selepas membayar, istri saya yang tak begitu memperhatikan sosoknya, menggumam, "...sapa sih yang tadi ga sabaran banget...?"


Ah, barangkali dia memang terlalu lapar dan waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam antrian...

Saturday, November 17, 2012

Looper

Katakan, apa yang ingin kau lakukan pertama kali jika suatu saat perjalanan waktu bukan lagi sekedar dongeng dari laci nobita?

Mencegah pernikahan perempuan yang kau pikir seharusnya menjadi pendampingmu? Memilih hidup vegetarian untuk memperbaiki catatan kesehatan masa depan yang memvonis sisa umurmu? Mengubah kata "ya" menjadi "tidak"?

Semua orang akan punya jawaban yang menarik. Dan Joe, seorang mantan pembunuh bayaran yang di masa pensiunnya menemukan kedamaian di pedalaman Shanghai, memilih untuk memasuki mesin waktu dan kembali ke masa lalunya, demi mengubah jalan hidup yang tak bisa ia terima.  Maka kembalilah ia ke tahun 2044 dan perjumpaan dengan versi muda dirinya, yang justru ditugasi membunuhnya.

Yang terjadi selanjutnya, seperti halnya kisah-kisah pelintas waktu lainnya, benturan dua masa pun terjadi dan tentu saja bukan hanya tentang Joe muda dan Joe tua, tapi juga orang-orang lain yang ada disekitar mereka. Alih-alih menampilkan benturan itu dalam format adegan hancur-hancuran macam terminator, kisah Joe mengulas lebih dalam pada pergulatan intens sosok-sosok manusia yang terus mengalami perjuangan antara sisi positif dan negatif dalam dirinya.  Karenanya sulit menebak begitu saja siapa sebenarnya yang menjadi protagonis maupun antagonis dalam kisah ini.

Yang mungkin identik dengan kisah-kisah pelintas waktu sebelumnya, adalah bahwa dunia di masa depan digambarkan sebagai ruang yang dipenuhi teknologi, yang mempermudah aktivitas, namun menggiring manusianya menjadi semakin tersentral pada dirinya sendiri.  Institusi hukum serta pemerintahan tinggal simbol tanpa makna dan orang-orang, termasuk Joe tua, dalam pencariannya akan perubahan dunia, lantas rentan terjebak pada hasrat menumpahkan kesalahan pada orang lain dan lupa bahwa perjuangan terbesar dalam hidup sejatinya adalah ketika kita harus mengalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan akan muncul dan memberi kita kesempatan untuk memikirkan jawaban akan seberapa besar penghargaan kita akan persahabatan? Sejauh mana cinta layak diperjuangkan?  Apakah benar kasih sayang lingkungan sekitar bisa mengubah jalan hidup sebuah individu?  Bagaimana kita menghadapi kesalahan hidup?


Maka padamu, anakku akan kuceritakan bahwa, adam membuat kesalahan.  Ayah dan ibumu telah berkali-kali melakukannya.  Engkau juga kelak akan melakukan kesalahan dalam hidupmu nak.  Kadang kupikir malah engkau membutuhkannya.   Jadi, anakku, janganlah berlebihan memikirkannya, tak perlu kau menuntut diri menjadi manusia yang tak bercacat.  Jika suatu saat di masamu kelak, pelintas waktu bukan lagi mimpi, maka janganlah kau menaiki mesin waktu jika kau hanya berpikir kembali untuk menyalahkan masa lalu.

Jadilah saja kesatria yang berzirahkan pengendalian nafsu dalam dirimu, yang bertamengkan kemampuan untuk mengakui kesalahan dan bersenjatakan pedang yang kau tempa dari pelajaran-pelajaran terbaik dan terpahit dalam hidupmu.  Masa depanmu bukan terletak di masa lalumu....