Friday, September 18, 2009

Laskarku

Setahun yang lalu saya tidak pernah membayangkan akan mengalami satu lagi "perjalanan" yang menakjubkan. Ketika kini saya mencoba berpikir kembali, maka saya menemukan banyak hal, cerita tentang individu-individu yang saling mengingatkan atau bersama-sama mencoba.
Dan seperti saat pertama kita membuat origami sederhana, entah perahu atau pesawat kertas, maka semua dimulai dengan lipatan yang mempertemukan dua sisi yang tadinya berlawanan arah. Selanjutnya setiap kejadian, pahit, manis, aglomerasi dan friksi jelas adalah konsekuensi dari setiap pilihan kita yang memutuskan untuk terus melipat dan menekuk kertas kecil itu menjadi bentuk yang diinginkan.

"Seperti udara, aku mencintaimu, selalu terikat ruang. Seperti cuaca, aku menyayangimu selalu terikat waktu. Seperti hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu."

Lantas ketika semua lipatan yang dibutuhkan sudah dilakukan, maka yang tampak takkan lagi semua, walau kertas kita tak berkurang. Hanya tekukan takdir yang menentukan bahwa sebagian harus ada di sisi yang lain, memainkan peran lain yang menguatkan namun tak lagi mengizinkan eksistensi fisik. Sama persis seperti yang kita akan hadapi entah besok, beberapa bulan, setahun, sewindu, atau mungkin tak perlu. Dan kita hanya akan punya satu pilihan untuk menerima. Seperti hati yang akan berusaha selalu menyimpan walau mata terkadang miskin tatapanmu dan kering akan senyummu. Then, thats simply what i hope, the reason we've met for, coz it takes forever than the moment we share....

Taqabalallaahu Minna Wa Minkum
Minal Aidin Wal Faidzin

"...selamat melahap jamuan terakhir ramadhan tahun ini, selamat berhari raya esok nanti, dan maafkan saya teman, sahabat, saudara, adik, kakak, inspirasi hidup...."

Friday, September 11, 2009

Wartel Dewi dan Kejujuran

Tahukah bahwa dua hal itu ternyata memiliki persamaan?? Yepp... sama-sama makin susah dicari!!!. Wartel, yang dulu seolah menjadi entitas simbol kejayaan telekomunikasi era 2000-an memang sudah kena gusur sama outlet-outlet isi ulang pulsa seluler. Sebuah hal yang sama sebenernya ketika wartel-wartel itu "merubuhkan" kotak-kotak telepon umum yang dulu menjadi saksi bisu kisah cinta bermodal recehan gambar wayang jaman SMP/SMA. Jaman itu, ngantri setengah jam demi 10 menit didalam "kotak keramat" itu pun dibela-belain, hahaha..mengakulah kalian!!!.

Beberapa tahun lalu, ketika wartel makin menjamur, saya mengalami kesulitan mencari telepon umum yang berfungsi normal di Indonesia, i mean: pesing, suka nelen receh, dan ada iklannya semacam "...budi was here...", "...adi sayang arif...(lho?!*%)", ato "..telpon aq ya 64 73 80 (tomi)...". hehehe.... Dan ya, ternyata kemaren saya mengalami kesulitan yang identik pas nyari wartel!!! Lima wartel di Kerto-kertoan (daerah kosan mahasiswa brawijaya) yang di awal-awal kuliah menjadi tempat andalan saya mengadu nasib dengan jodoh, ternyata semuanya sudah berubah fungsi. Yang dua masih ada plang wartel tapi begitu saya deketin, eh lha koq ruangannya penuh dengan mesin cuci. Jangan-jangan ini inovasi baru box telepon yap?? wangi euy.. hehe...
Trus dua wartel selanjutnya yang saya datangi, baru dilihat dari kejauhan saja udah keliatan almarhum. Dan yang satunya lagi malah jadi kos-kosan.. (lho?!*%) hehehe, maksud saya wartel yang terakhir ada tulisannya "TERIMA KOS PUTRA". Yaa, masih mendingan lah daripada jadi WC umum kan?!. Beruntung, akhirnya, di ujung sebuah jalan saya menemukan guna lahan wartel yang belum mengalami deviasi dan masih berfungsi sebagaimana mestinya, namanya WARTEL DEWI...!!! *bukan anaknya pak haji*

Lantas kenapa saya kemaren repot-repot nyari wartel padahal ada HP?? Alasannya rumit dan panjang ceritanya, tapi intinya semua berawal dari masalah pulsa HP..!!! :D. Kenapa rumit, karena teman baik (dan sedikit aneh) yang ingin saya hubungi itu hanya punya telepon rumah dan HP yang beda operator dan dari yang sudah-sudah pembicaraan kami dijamin bakal ngelantur. Jadi nelpon lama ke HP-nya bakal jadi salah satu cara bunuh diri paling efektif.. Hehe, Penurunan tarif interkoneksi antar operator yang sempat heboh kapan hari itu memang masih belum terasa nyata dalam beberapa kondisi tertentu. Mungkin operator lebih fokus bikin macem-macem trik telpon dan sms murah tapi kadang ribet, plus promosi tarif gprs, nebeng kesuksesan fesbuk mobile dan messenger.

Nah, sama seperti nyari wartel, mencari kejujuran ternyata juga makin sulit. Yang lucu kadang orang seringkali yakin bahwa dirinya terpaksa berbohong karena itu demi kebaikan, Just like what Adam Sandler did against his meanmachine team in the longest yard movie. Dalam skala kejadian nyata, kebetulan temen saya belum lama ini sempat cerita mau bikin SP3 buat pegawainya. Entah sudah keberapa kalinya dia bikin SP3 sampe-sampe saya heran. Ketika saya tanya kenapa, dia bilang "...aku bisa ngajarin dia jadi lebih pinter, tapi aku ga bisa ngajarin orang jadi jujur...". Yepp, ada benarnya juga sih, kejujuran memang tidak bisa diajarkan semudah membuat orang mengerti bahwa se-relatif apapun cara pandang kita, 64 tetap tidak akan sama dengan 65 dan lampu merah itu artinya berhenti bukan?!.
*Uppss, yang terakhir agak sulit juga si diajarin buat sebagian orang hehe...*

Intinya, walaupun setiap orang saya yakin fitrahnya suka dengan kejujuran, tapi hal tersebut sebagaimana nilai-nilai penting lainnya harus ditumbuhkan dari awal. Kadang bahkan dengan cara-cara yang keras namun tetap penuh kasih sayang, terus menerus, dan tentunya dicontohkan dalam perbuatan yang mendidiknya. Memang, pendidikan dari awal toh juga belum tentu menjamin mereka ga bakal berubah menjadi figur yang 180 derajat berbeda ketika mereka dewasa. Figur polisi yang bersih tetap bisa lahir dari sebuah lingkungan masa kecil yang buruk. Sementara orang-orang yang lahir terdidik kemudian tumbuh menjadi pribadi yang terkenal, bahkan memegang amanah orang-orang disekitarnya atau memenangkan kontes kecantikan, lantas menafikan hati kecil mereka terhadap sesuatu yang benar dan berlindung dibalik logika yang mereka tempatkan dalam porsi yang terlalu besar. Tapi secara umum saya percaya akan jauh lebih sulit mendidik orang yang sudah ngerti "uang bisa memudahkan banyak hal" dibandingkan membangun fondasi sebuah rumah yang kokoh.

Jack Nicholson dalam Departed pun membentuk Matt Damon menjadi anteknya sejak kecil, dimulai pada detik ketika dia bilang pada si collie sullivan kecil, ".....A man decide who he'll be. No one will give it to you. So you have to take it....."

And the same thing, will do with honesty....

Walaupun mungkin tidak seratus persen sama, karena bibit kejujuran disemai bukan saat mereka sudah menjadi pria atau wanita, bukan pula ketika bayi sudah bisa memanggil ibunya, tapi saat setiap tetes rizki yang halal menyusun wujud kita dalam rahim mulia seorang ibu, lantas disambung dengan lantun "panggilan Tuhan" dari seorang ayah untuk pertama kalinya...


ini contoh, bukan wartel dewi yang sebenernya..

Sunday, September 6, 2009

Gudeg

Haruskah pintar memasak untuk menulis tentang masakan??

Uhmm... kalo iya, maka sepertinya tulisan saya yang satu ini bakal banyak salahnya karena saya memang tidak pintar memasak walaupun saya tidak asing dengan aroma dapur sejak saya mulai jatuh cinta dengan mixer dan oven roti. Ya saya, lebih tahu cara bikin brownies (eh, tapi jangan ragu-ragu untuk meragukan rasanya ya..hehe..) dibanding bikin sayur sawi dan telur bumbu yang enak banget seperti yang temen saya biasa bikin buat sahur . Intinya kalo soal masakan sampai saat ini saya lebih suka menjadi penikmatnya saja, entah itu karena rasanya atau suasananya. Dan kalo ditanya makanan apa yang paling saya pengen saat ini, maka jawabannya adalah GUDEG JOGJA!!!

Ya, ternyata selama apapun saya tinggal di Jawa Timur dan secinta apapun saya sama yang namanya rawon pasuruan, nasi goreng kediri, pecel madiun, atau bakso malang, rupanya lidah saya masih menyimpan kerinduan yang luar biasa pada setiap masakan yang manis, termasuk gudeg. Mungkin ini yang namanya pepatah "Lidah tak pernah lupa pada kulitnya" hehehe.... Dan entah kebetulan ato enggak, kemarin sore ada acara kuliner di tivi yang isinya cerita tentang warung gudeg di pinggir-pinggir jalan Malioboro. *Hummm..... ces.. ces.. ces...*
Pikiran saya pun langsung jalan-jalan ke tempat yang terakhir saya datangi beberapa waktu lalu. Waktu itu, dua tempat jual gudeg jogja yang sempat saya dan teman saya cicipi adalah Gudeg di Wijilan dan Gudeg kaki lima di Deket Pasar Beringharjo.

Menyandingkan keduanya ibarat membandingkan minum secangkir cappucino almond di cafe dengan meneguk kopi instan yang diseduh dalam potongan botol bekas air mineral sambil duduk di tepi pantai. Wijilan, kampung di sebelah timur Alun-alun Utara Keraton Yogya ini sudah bertransformasi menjadi kampung wisata kuliner. Oleh karenanya wajar jika penyajiannya gudeg disini sudah dikemas sedemikian rupa, termasuk harganya yang "dikemas" menjadi harga turis. Beda dengan gudeg kaki lima di deket pasar beringharjo, yang cenderung lebih "lepas aturan".

Nah, secara subjektif harus saya akui bahwa saya lebih suka makan gudeg yang di depan Pasar Beringharjo. Bukan semata karena harga gudeg-nya yang seakan menantang hukum ekonomi "ada uang ada barang", tapi saya menikmati interaksi yang terjadi antara saya dan mbok penjualnya yang terjalin lebih hangat dibanding saat saya ada di Wijilan. Saya memandangnya sebagai hasil sebuah sistem relasi sosial khas warung nasi gudeg "monggo kerso" (silahkan milih), yang tercipta secara dinamis melalui karakter khas masyarakat disana, penuh kolegialitas, hangat, akrab, dan tenang.
Walaupun ya, memang bagi sebagian orang makan makanan yang ga diatur posisi brokolinya, jamurnya, dagingnya, nasinya, dan segala tetek bengek table manner akan terasa ga gaul. Tapi bagi saya jauh lebih nikmat ketika kita bisa memilih lauk dan porsi sesuai yang kita inginkan dibanding membaca daftar menu bergambar yang dicetak diatas kertas-kertas mahal.

Overall, keberadaan gudeg dalam berbagai ragamnya di Jogja adalah satu bentuk keindahan budaya negeri. Butuh setidaknya dua hari untuk mengolah nangka muda agar mencapai rasa yang "pantas" untuk dijadikan Gudeg. Sebuah proses yang merefleksikan pandangan orang Jawa bahwa, kesempurnaan hidup bisa muncul lewat sebuah proses, muda menjadi dewasa, kuli menjadi bos, puasa ragawi menuju puasa ruhani. THATS BEAUTIFUL ISN'T IT... Lantas bandingkan dengan ayam goreng warisan kolonel sanders yang super gurih dan bisa matang hanya dalam waktu 5-10 menit dengan bantuan lemak trans. Sebuah cermin kenikmatan instan a'la ekonomi "kartu kredit" (red.kapitalis) yang seringkali mengaburkan ekses dibaliknya....

Lantas diakhir pagi ini pikiran saya pun kembali ke pertanyaan pas saya lagi ngiler-ngilernya gudeg di acara "Kamus Kuliner" itu.. ada ga ya gudeg jogja yang enak di Malang?? Yang bayarnya ga pake "kartu kredit" pastinya!!!"

Kalo emang ga ada..
Then, JOGJA, get ready, i'm comin soon yaa!!!
siapkan gudegmu...!!!
semoga kau masih seperti dulu..
kala tiap sudut menatapku bersahabat dan penuh selaksa makna....

Thursday, August 27, 2009

Jangan Dibaca!!! :D

Alkisah, dalam sebuah siang yang saya habiskan untuk survey lokasi reuni dengan teman seangkatan pas kuliah dulu, banyak sekali yang kami bicarakan. Sebagian diantaranya mengancam kualitas puasa kami hari itu sebenernya, biasaaa lah, gossip dan review TMO (saya nggak ikutan yang kedua ini lho.. hehe..). Naaah, untungnya sebagian lagi insyaallaah justru menambah makna puasa, seperti pembicaraan tentang desain masa depan, dan pertukaran ilmu baru yang menarik, termasuk ketika salah seorang temen baik saya yang sekarang jadi dosen muda "favorit" (masa sih??)memperkenalkan istilah ini, REVERSE PSICHOLOGY.

Nah, kebetulan waktu itu hanya dia yang tau sementara saya dan temen saya yang lain kompakan "ndang ndong". Dan eeh ternyata REVERSE PSICHOLOGY sangat sederhana, sesederhana terjemahannya sebagai PSIKOLOGI KEBALIKAN.
"Reverse psychology is defined as telling a person something that is the opposite of what you want them to do or actually believe."
Seni manipulasi ini dikembangkan oleh dua orang psikolog Jerman di tahun 70'an, Adorno dan Horkheimer. Aplikasinya bisa diwujudkan dalam kata-kata maupun tindakan. Sederhananya, hal ini berawal dari asumsi bahwa ada kecenderungan, orang itu kalo semakin dilarang, semakin menjadi. Disitulah gunanya teknik ini..

Paham kan??.....

Saya pikir teknik ini keren juga dan kalo kita pake dengan tepat dalam kehidupan kerja ato bersosialisasi, rasanya bakal bikin kita naik level. Merayu anak kecil yang males makan dengan menantangnya menggunakan kalimat.. "hayo, pasti kamu ndak bisa ngabisin semua rotinya??" bisa juga jadi contoh manfaat teknik ini. *sayang saya blum bisa nyoba ke anak sendiri, mamanya aja blum deal.. hehe..*
It even could turn into a classy joke i think.

Tapi ada yang perlu diperhatikan dlm penggunaanny, coz rasanya ada syaratnya: jangan keseringan pake, trus intonasi kita kudu pas dan pastinya lawan bicara kita lagi bagus moodnya dan juga ga telmi-telmi amatth.. Kalo orang lagi moodnya jelek kita ajak maen reverse psichology, bisa-bisa dia malah marah karena kita dianggap ga langsung to the point, mbulet, alias GEJE. Lebih parah lagi kalo yang kita ajak bicara kurang loading, bisa jadi malah kayak cerita "penembakan" si paijo pada si siyem di sebuah warung es teler...

Paijo : beib...
Siyem : heh?? apaan tuh beib.. beib?? (not responding)
Paijo : itu loh, panggilan sayang orang-orang di kota
Siyem : iihh... emang sejak kapan aku jadi beib mu
Paijo : sejak abis ini insyaallaah
Siyem : lho?? mau nembak aku sekarang ya??
Paijo : Enggak koq, sebulan lagi lah kira-kira... (reverse psichology)
Siyem : oo, ya udah, aku pulang dulu ya, nanti aja sebulan lagi kita ketemu... (completely not responding)
Paijo : ??????

[Siyem pulang beneran, paijo kleleran di pinggir jalan sendirian sama tukang es teler yang pasang tampang siap menggantikan siyem.. hihi.. ]

*tenang, ini contoh fiktip dan bukan based on kejadian tragis seseorang, jadi rasanya ga ada yang kesindiri kan??*

Banyak juga yang mempraktekkannya dalam bentuk seolah-olah tertarik pada pembicaraan lawan bicara, termasuk saya pas kadang ketemu orang yang gumedhe (red: kakehan cangkem). Seringnya, saya ga maksud menanggapi kalo ketemu orang beginian, hanya kadang iseng saya keluar juga, pengen liat dia sekali lagi berbicara hal yg sama dengan lebih bersemangat. Karena biasanya, seseorang akan lebih bersemangat dalam berbicara ketika lawan bicaranya memberi reaksi seperti: “masa?” atau “iya?” atau “eh, coba kamu ulangin kata2 yg tadi!”.
*Hehe... para jomblowan/wati yang lagi ngincer lawan jenis yang kelasnya diatas anda-anda juga harus aware kalo pas pedekate mereka ngomong gitu, belum tentu inceran anda emang tertarik beneran, jadi jangan keburu kebawa ngimpi yaa...*

So, in the end, teknik ini mungkin bisa dicoba supaya orang-orang tidak merokok di kendaraan dan tempat-tempat umum, harusnya dipasang papan yang bertanda "SILAHKAN MEROKOK”. Atau Supaya orang tidak membuang sampah sembarangan, mungkin seharusnya dipasang papan bertuliskan “Silahkan membuang sampah dimana-mana, Sakarepmu!!” ya...

Reverse psychology
Doesn't always work on me
It works my nerves
But I think logically
So don't rehearse what you're gonna say
I like it better the spontaneous way
You got an insecurity? I won't nurse it
I don't buy psyche - so why reverse it?
Games are good for attention (Mmm-yeah!)
But in the end they let you down
Hold me back or let me go
But no more middle ground

Monday, August 24, 2009

PARADOX OF CHOICES


[ ni bentuk cover bukunya ]
"When people have no choice, life is almost unbearable. But as the number of choices keeps growing, negative aspects of having a multitude of options begin to appear"

Kata diatas itu ada di bagian pengantar dari sebuah buku yang kapan itu direkomended sama temen, THE PARADOX OF CHOICE-nya Barry Schwartz, katanya:
[ Mai Pren: Dewi Lestari juga baca lho... ]
[ Saya: "dewi anaknya pak haji yang di iklan provider seluler itu??? ]
[ Mai Pren: Grrrrr...... *asah pisau dapur mode : on sepertinya* ]
[ Saya: guk.. guk... guk... ]
[ Anda: toing.. toing... grookk.. grookk... miaw.. miaw *hehehe* ]

Walaupun "pilihan" bukan lagi hal yang baru dan di tiga bagian pertama itu kesannya kebanyakan contoh yang sebagian sebenarnya identik,, tapi materi buku ini bagus koq. Berhubung temen saya itu blum ngasi ijin bukunya nginep di rumah saya, akhirnya kemaren itu ya saya baca aja sekenanya.

Buku ini terbagi menjadi 4 (empat) bagian. Tiga bagian pertama, isinya kira-kira ngasi gambaran tentang bagaimana orang sekarang menghadapi rentang pilihan dan bagaimana hal itu memunculkan tekanan seperti: adaptasi, penyesalan, kesempatan yang terlewatkan, harapan yang meningkat, dan perasaan ketidakpuasan saat membandingkan dengan orang lain.

Barry Schwartz menggambarkan pandangannya tentang pilihan demikian:
“When there are no options, what can you do? Disappointment? maybe; regret? No. When you have only a few options, you do the best you can, but the world may simply not allow you to do as well as you would like. When there are many options, the chances increase that there is a really good one out there, and you feel that you ought to be able to find it. When the option you actually settle on proves disappointing, you regret not having chosen wisely. And as the number of options continues to proliferate, making an exhaustive investigation of the possibilities impossible, concern that there may a better option out there may induce you to anticipate to regret you will feel later on, when that option is discovered, and thus prevent you from making a decision at all.”

Mungkin ini ya sebabnya kenapa sebagian orang yang keliatannya ideal - cakep, pinter, lucu, punya tujuan hidup yang jelas-, kadang juga susah pas milih jodoh. Sama susahnya dengan orang yang kesannya "biasa aja atau bahkan kekurangan". Bedanya kalo orang yang biasa ato kekurangan seperti saya, cenderung dibatasi pilihan, orang yang "berlebihan" malah kebanyakan pilihan, bingung, secara ga sadar kadang terdorong untuk menyeleksi semuanya, dan akhirnya justru malah dapet orang yang kesannya "biasa aja" ato "kekurangan". Perhaps in terms of keeping the world in balance too... hehehe....

*yang merasa biasa saja ato kekurangan segeralah ambil nada dasar C trus baca "amiiiiieeeennn" bersama-sama!!! :D*

Bagian Keempat jauh lebih menarik, soalnya menjelaskan tentang berbagai rekomendasi buat ngambil pilihan yang positif dalam berbagai keadaan. Quote menarik yang sempet kebaca di bagian keempat ini:

“The only way to find happiness and stability in the presence of seemingly attractive and tempting option to say, ‘I’m simply not going there. I’ve made my decision about a life partner, so this person’s empathy or that person’s looks really have nothing to do with me. End of story.’ … Knowing that you’ve made a choice that you will not reverse allows you to pour your energy into improving the relationship that you have rather than constantly second-guessing it.”

So kalo ingin menambah wawasan tentang bagaimana cara memetakan keputusan,then perhaps you need to see this book too...

Thursday, August 20, 2009

Banjarbaru (Setahun Yang Lalu)

Tahun ini memang berbeda dengan kemarin.....
Jika awal ramadhan tahun lalu saya "terpaksa" tarawih pertama di sebuah Masjid Agung di Kalimantan, merasakan aura semangat orang-orang disana kala itu, dan lantas Bingung DJ ketika mendengarkan khotbah tarawih dalam bahasa banjar tanpa menu bilingual, maka kali ini saya memulainya di tempat yang lebih familiar, masjid sebelah rumah di Malang.
Sebenernya tempat favorit saya selama di Malang kalo urusan tarawih adalah Masjid di daerah ITN, Sabilillah ya namanya??. Tempatnya "cozy" buat berdoa, sebuah paduan yang pas antara karpet yang hangat dan tata ventilasi ruangan yang memberikan cukup kesejukan khas angin di Kota Malang. Tapi yang lebih penting, menurut saya masjid itu menawarkan tarawih yang "pas". Ga terlalu panjang dan bikin pikiran jalan kemana-mana, juga ga serasa dikejar-kejar orang sekampung gara-gara nyuri kembang desa... hehe.. Khotbahnya juga seringkali cukup menarik buat saya, jadi sebenarnya sayang juga tadi malem saya ga sempet kesana. Gara-garanya aer di rumah abis dan baru idup menjelang adzan isya', hehe rodo ngeles iki sepertinya...

Perbedaan yang kedua, jika setahun yang lalu pas sahur pertama saya dibangunkan oleh suara salah satu wanita paling menyenangkan yang pernah saya kenal, maka tadi malem yang bangunin sahur perhaps an angel, dengan bantuan beberapa ekor nyamuk tak tahu diri...
Pas kecil dulu, saya sering males sahur, lidah rasanya belum siap makan jadi sering dipaksa sama orang rumah. Tapi akhir-akhir ini sepertinya sahur ga lagi jadi masalah, berasa nikmat aja, walaupun kadang cuma pake mie instan telor. Apalagi tahun ini ada ditemenin OVJ Sahur, Fesbuk, dan YM.. hehe.. ajjiiibbb....

Nah perbedaan yang ketiga, adalah puasa hari pertama ini saya tidak lagi melakukan "kebodohan yang enak" seperti setahun lalu, di Bandara Syamsudin Noor, Banjar Baru. Waktu itu, sekitar jam 12 siang waktu indonesia tengah, panas banget Banjar Baru waktu itu, jadi sambil nunggu boarding, saya duduk-duduk di sebuah cafe bandara yang "anehnya" koq sepi. Lantas saya pun disodori menu dan "secara ajaib" saya pesen secangkir kopi. Orang-orang sekitar cuek aja ngobrol dalam bahasa banjar yang ga saya pahami dengan baik...
Nah, saya mulai bingung pas orang-orang mulai ngeliat saya minum kopi itu, kenapa ya???... Refleks saya ngecek retsleting celana, karena biasanya bagian ini yang seringkali menarik perhatian orang kalo ga diamankan dengan baik, dan ternyata AMAN TERKENDALI!!!... jadi apa dong?? sambil nyeruput kopi lagi, saya mencoba ngecek bagian lain, muka saya, jangan-jangan 3 hari di Banjar bikin muka saya lebih ganteng dari sebelumnya sampe bikin orang-orang terpesona, dan ternyata ENGGAK JUGA!!!... Akhirnya saya nyerah, biarin aja orang-orang ngeliatin saya minum kopi itu, sampe akhirnya 5 menit kemudian ada telpon masuk dari temen saya, ngecekk.

Temen Saya: "Udah boarding??"
Saya: "Belum, masih sejam lagi, kecepetan soalnya salah naik ojek banjar yang 'obsessed ma gaya ngojeknya valentino rossi' .."
Temen Saya: "Trus ini lagi dimana??"
Saya: Lagi duduk aja di kafe
Temen Saya: "panas ya puasa di Banjar??"
Saya : "Deeeennggg.......... hyaaaa.... lha.... ups... "
Temen Saya: "Knapa??"
Saya : Hahaha....
Temen Saya: "Lho??"
Saya : Aq beli kopi...
Temen Saya: "???????????"

*saya langsung boarding sebelum waktunya, malu, tapi lumayan enak lahh, udah lama ga dapet rejeki lupa minum kopi hehe...*

SELAMAT PUASA, AYO MINTA YANG BESAR-BESAR, KESEMPATAN YANG PALING MENANTANG, JODOH YANG KELIATANNYA NGGA MUNGKIN, KESEHATAN, ILMU, DAN DUIT YANG BERMANFAAT BUAT ORANG LAIN, SEMUANYA DEH... MUMPUNG ADA "KHASIAT" RAMADHAN...

Wednesday, August 12, 2009

Mimpi Tentang Kematian

Walaupun memang mungkin pas momennya dengan beberapa peristiwa kematian figur yang berpengaruh akhir-akhir ini, tapi sebenarnya alasan utama saya menulis note tentang kematian adalah dari mimpi saya dua malam yang lalu...

Tentang mimpi, beberapa orang yang dekat dengan saya sering bilang kalo mimpi saya itu aneh-aneh. Ada benarnya, hehe.. saya pernah mimpi dikejar-kejar polisi karena dianggep teroris sampe akhirnya saya lari ke sebuah pernikahan yang ternyata kawinannya mantan saya (Tragiss..!!, mungkin perlu saya kasi judul "derita teroris di tenda biru"..). Saya juga pernah mimpi nikah sama alyssa subandono (lhe.. ini mimpi apa ngarep??? hehe...). Pokoknya macem-macem, dari yang lucu, berdarah-darah, sampe yang menguras keringat....

Kebetulan dua malem yang lalu saya mimpi bahwa temen deket saya meninggal dunia mendadak setelah pergi dengan saya. Nah, setelah saya bangun, pikiran saya masih nyantol di mimpi itu apalagi sisa-sisa keringat yang keluar pas saya tidur juga masih membekas di beberapa bagian bantal... hehe... (tenang, saya yakin itu keringat, bukan yang lain koq)...

Intinya kenapa saya masih saja mikirin mimpi tentang kematian itu karena dalam mimpi itu rasanya saya bener-bener seperti ditunjukkan seperti apa suasananya jika salah satu orang terdekat kita meninggal mendadak, emosi keluarganya, dan kebingungan saya menghadapi situasi tersebut. Agak serem ya?? tapi ga papa lah sekali-sekali kita bicara tentang kematian. Sigmund Freud, dalam teori “dreamworks”-nya bilang, kematian dalam mimpi sesorang adalah representasi dari kegagalan individu tersebut dalam menggapai satu harapan. Kegagalan tersebut ditekan (tidak dimunculkan) dalam kehidupan sehari-hari dan mengendap-endap dalam mimpi dan membawa pesan melalui kematian tentang kegagalan dalam kehidupan nyatanya. Saya sendiri penasaran, apa iya?? ada yang tau nggak sih arti mimpi ini dalam kacamata yang lain??

Kematian adalah keniscayaan, dan dalam ayat dalam kitab suci agama saya banyak dibahas tentang ini, salah satunya dalam sebuah ayat yang kira-kira artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57). Toh, kematian sendiri sepertinya selalu menjadi satu objek pemikiran yang menggelitik rasa penasaran manusia. Air mata, keluh, penyesalan hingga tawa dan canda selalu hadir mengekor pada satu peristiwa kematian. Kematian bahkan sangat sering dipanggungkan sebagai satu simbol atau bahkan pesan satu kejadian teatrikal. Sudah tak terhitung rasanya filem holywood yang pernah saya tonton dan didalamnya terdapat berbagai pencarian manusia tentang kematian dan bagaimana cara menghindarinya.

After all, Kematian memang sepertinya selalu baru meski sifatnya sebenarnya repetisis (berulang) bagi kita. Banyak orang bilang, kita tidak akan pernah sepenuhnya terbiasa dengan kematian meski telah menjadi saksi atasnya berulang kali dan respon-respon ekspresif pun akan dengan setia ada setiap maut beraksi. Semua mungkin karena perasaan ketidaksiapan kita untuk mati saat kita masih menjadi pribadi yang tidak ideal dalam persepsi agama kita masing-masing. Bahwa kita, bagaimanapun kita berubah dalam kehidupan, toh masih menyimpan fitrahnya untuk percaya bahwa pasca mati akan ada kehidupan lain yang memiliki beberapa skenario dan pilihannya ada ditangan kita saat hidup di dunia sekarang ini.

Semoga kita tidak lagi terbiasa mendangkalkan peristiwa kematian yang dirasakan, karena sesungguhnya disetiap kematian ada pelajaran untuk yang menunggu giliran mati...