Tuesday, December 22, 2009

I Love You Everyday

Penggalan celoteh konyol upin ipin mendadak terdengar dari telepon selulerku, ada sms baru..

”…Lagi apa mas? Jadi pulang kapan? take care ya, salam…”

Aku tersenyum. Walaupun layar telepon genggamku tak menampilkan identitas selain deretan angka tanpa nama, dari nada pesannya mudah sekali kukenali siapa pengirimnya. Sebuah pesan yang sederhana, persis seperti karakternya yang kukenali selama ini, walau dia bukan seorang pendiam, tidak sama sekali. Dia hanya tak suka berbasa basi tanpa isi. Dan tentang hal ini dia pernah berkata, “bahasamu adalah cerminan hidupmu, kalau kau boros maka boros pula hidupmu”. Saat mendengar itu aku terheran-heran, sejak kapan dia belajar filosofi? Bukankah dia cuma seorang mantan perawat lulusan sekolah kejuruan? Ah, sudahlah, toh sedari awal kisahku dengannya memang penuh dengan keheranan, keajaiban demi keajaiban yang ditunjukkannya.

Benar bahwa aku mungkin terlalu muda untuk mengingat apa saja yang dia perbuat kala interaksiku dengannya masih sebatas bahasa tangis dan tawa. Tapi aku masih ingat betul keajaiban yang diperbuatnya pada masa-masa dimana nasi dan garam adalah satu-satunya pilihan makanan yang tersedia diatas meja rumah kami. Waktu itu dia sangat pandai menambahkan semangkuk dongeng sebagai lauk istimewa yang lantas mendistorsikan rasa, membuatku lupa bahwa garam itu asin. Ia bahkan membuat cerita sendiri tentang seorang pangeran samudera yang berperang melawan raja daratan, lalu dalam kondisi terdesak di pantai, dia menemukan sejumput garam yang akhirnya membuatnya kuat dan mampu mengalahkan musuh-musuhnya. Aku sangat menyukai cerita itu sehingga akhirnya aku pun makan dengan lahap diantara temaram lampu minyak, satu-satunya alat penerangan rumah kami dulu.

Lalu, Salah satu keajaiban lainnya yang paling kuingat waktu itu adalah bagaimana dia selalu menyuruhku masuk ke kolong meja kala hujan badai dan petir terjadi. Diselimutinya sisi-sisi meja itu dengan seprei sehingga kami seperti berada di dalam gua buatan. Setelah itu biasanya dia tak banyak berkata, hanya memelukku erat, mengucap dzikir dan berbisik, “nah sekarang kita aman dari dewa petir”. Kami sering tertawa kala mengingat cara 'penyelamatan diri' yg aneh itu. Tapi lucunya perlakuan yang tak biasa itu justru menjadi salah satu momen dimana aku bisa merasa paling aman seumur hidupku, sampai sekarang.
Rasa aman ternyata bukan melulu bangunan kokoh, tubuh kekar, kendaraan lapis baja, atau fakta semata...

“Cogito ergo sum?” Well, untuk beberapa realitas sepertinya aku tak perlu mendengarkan logika Rene Descartes walaupun kadang rasa penasaranku bertanya-tanya,

“…Darimana dia belajar segala macam cara itu untuk membuatku nyaman? Bagaimana mungkin seseorang bisa mengerti orang lain sebegitu hebat? Atau jangan-jangan dia memang punya buku manualnya?..”.

Maka suatu hari sembari tertawa, dia menanggapi pertanyaanku,

“..Ada beberapa pengertian yang takkan kau mengerti sampai kau menjadi tua dan menjadi orang tua sepertiku..”.

Dan tentang ‘cerita persembunyian dibawah meja’ itu, saat itu dia takut atap rumah kami yang bocor disana sini akan jadi pintu masuk petir yang akan mengambilku. Sebagaimana sekarang dia mulai takut kalau suatu saat aku akan lupa pulang setelah sekian lama hidup jauh darinya. Bahwa aku, entah karena seorang anak gadis orang atau tumpukan pekerjaan, perlahan akan melupakan kalimat ini…

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!" - Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil." (Q.S. 17:23-24)

Semoga tidak, karena aku akan selalu pulang untuk dia, ibu terbaik sedunia, even for today All I do Is dreaming of you, holding you, through this words…

Selamat hari ibu, I love you everyday…


Monday, December 14, 2009

500 Days Of Summer

Alasan pertama yang membuat saya berniat menonton film ini lagi adalah fakta bahwa saya masih belum paham benar, kenapa "..this is not love story, but a story about love.." jadi tagline 500 Days of Summer. *Mungkin teman saya yang dulu menyarankan dan berniat meminjamkan film ini (walaupun ga jadi-jadi sampe saya dapet sendiri) sudah lebih paham maknanya.. haha..*

Alasan lain, cerita filem ini bisa membuat saya tertawa walaupun kadang saya pikir filem ini juga menertawakan penontonnya dengan cara yang sederhana tapi mengena. Kedalaman makna dari sebuah gagasan simpel mampu diceritakan dengan ringan, lucu, namun tetap berkelas sehingga tidak terasa bahwa kita sedang menonton sebuah film yang diputar premier di Sundance Film Festival. Sesaat, sensasinya mengingatkan saya pada apa yang ditawarkan Dewi Lestari dalam Perahu Kertas. Termasuk bagaimana keduanya membawa serta pengaruh cita-cita masing-masing tokoh utama terhadap hubungan mereka.

Jadi walaupun kita mungkin tidak asing dengan film yang bercerita tentang dua orang yang benar-benar berbeda karakter namun bersinggungan pada suatu waktu dan mencoba mencari cara untuk bersama, namun tidak seperti film komedi romantis lainnya yang cenderung berakhir klise, di akhir film ini ada ruang untuk mencerna beberapa hal tentang kehidupan, bahkan menawarkan tambahan harapan bagi mereka yang merasa "berhak" mengaku bahwa "ini adalah cerita nyata tentang mereka"... hahahaha...

Just watch it, its a scarily deep and funny romantic movie, one of the best this year..


Friday, December 11, 2009

" 100 "

ada saat dimana kita terhenti sejenak,

mengalami tapi miskin imajinasi,

mencintai tapi kering ekspresi,

sampai akhirnya hari itu kembali

Lama sebelum kutemukan apa yang ingin kutuliskan pada lembar kosong ini. Entah gara-gara terkooptasi ketertarikanku sendiri pada angka 100 atau sekedar bosan karena rutinitas yang membuatku terlihat sama. Atau mungkin waktu yang memang sedang bergerak cepat dan tak memberikan cukup ruang intim untukku dan lembar kosong bernomor spesial ini. Sampai akhirnya sebuah perjumpaan beberapa hari lalu, mendorongku untuk mengabadikan sebuah sosok, dengan sederhana, begitu saja.

Hari itu Jumat yang cerah. Perempuan berkerudung itu masih jelas kukenali dari jarak duapuluhan langkah darinya. Lalu sebuah pelukan dari wajah yang berkaca-kaca menyambutku pagi itu seolah pertanda bahwa kekesalanku akan buruknya pelayanan birokrasi rumah sakit yang kualami sehari sebelumnya akan terobati dengan pertemuan tak terduga ini.

Dan segera setelah kuselesaikan urusan administrasi yang membawaku kembali ke sekolah kampungku hari itu, ia mengajakku berkeliling kompleks, menyusuri selasar bangunan SD yang tak berubah banyak kecuali cat dinding yang berbeda dan lantai tegel yang kini berganti keramik berwarna cerah, sembari bertukar kabar dan mengurai memori yang merekam masa kecilku bersamanya. Tentang persinggungan hidup kami yang tak diisi legenda, hanya beberapa keping cerita sederhana yang dibungkus dengan cinta.

Sosoknya yang lembut, terlihat masih sama (jika tidak lebih kuat terpancar) dibanding dua dekade yang lalu. Sebuah stereotip guru ideal yang membuat dia dekat dengan sebagian besar muridnya. Toh, dibalik kelembutannya aku belum lupa akan ketegasan yang disimpannya seperti yang sering kualami saat siang sepulang sekolah di akhir Juli 1992. Waktu itu siang setelah bel pulang banyak dihabiskannya mengajariku tambahan jam pelajaran menjelang sebuah perlombaan cerdas cermat di Kabupaten. Jangan harap aku bisa pulang kalau soal belum terpecahkan. Maka hilang sudah sebagian besar jatah bermainku di sawah kala itu. Sungguh ia berubah menjadi seorang begitu disiplin dan keras, macam instruktur tentara negeri yang tak kenal kompromi. Lantas disetiap akhir sesi, seakan belum puas, dijejalkannya buku-buku pelajaran tebal dan perangkat keterampilan beraneka rupa ke dalam tas besar warna coklat milikku. "Yang ini dipelajari di rumah, besok harus selesai dan bisa", tuturnya. Kupikir seperti punya dua ibu yang berbeda tapi sama standar kedisiplinannya dan karena itu, aku ingat seringkali masam mukaku di sore sepulang sekolah. "Nanti, ketika kamu tersenyum dan berdiri menggenggam medali, kamu akan mengingat siang-siang ini", begitu ujarnya memotivasiku di suatu siang saat aku mengalami demotivasi. At that moment, I just dont know why, till the harvest time come.

Ia sendiri masih ingat benar, bahwa aku kecil sangat tidak tertarik pada dua hal, sepakbola dan teman wanita. ~ Right now, I myself couldn't believe that either ~. Saking malesnya main bola, terkadang aku bahkan sampai sengaja lupa membawa seragam olahraga agar diijinkan tinggal di kelas, dihukum merangkum buku pun oke asalkan tidak ikut berpanas di lapangan. Well, Time is a kind of friend they say, it makes us old and learn. Maka ia sungguh terkejut dan tertawa ketika kuceritakan bahwa kini aku banyak menghabiskan waktu untuk urusan sepakbola dan berharap punya anak laki-laki yang menjadi pemain bola. Tentang teman wanita yang membuatku phobia?? well, Some memories are best kept hidden...

Ia adalah salah satu guru yang paling antusias mengenalkanku pada Kepala Sekolah, membanggakanku sebagai murid dengan penilaian yang kupikir terlalu berlebihan. Ia pula yang mengenalkanku pada profesi insinyur walau aku lebih bermimpi menjadi pilot kala itu. Ia bilang, "kenapa tidak bercita-cita menjadi insinyur pertama di kampungmu??" Apakah itu doa atau kekuatan visi indera keenamnya, yang jelas aku memang terbukti gagal jadi pilot dan sepertinya berakhir tak jauh dari apa yang dituturkannya. Itu dan banyak hal lain lagi yang masih diingatnya tentangku sungguh mengejutkan. Lebih dari apa yang bisa kuingat tentangnya dan sesaat kupikir aku menua lebih cepat darinya.

Dan perjalanan riuh cerita disepanjang selasar itu pun akhirnya terhenti di depan ruang guru. Raut mukanya terlihat sedih ketika kuutarakan bahwa padatnya urusan birokrasi yang harus kuselesaikan dalam sempitnya waktu memaksaku berpamitan. Digenggamnya tanganku erat sambil dititipkannya petuah pendek, "..Doakan ibu sehat ya nak. Jangan lupakan guru-gurumu setiap kali ilmumu bertambah tinggi dan kesuksesan menghampirimu. Pulanglah kapanpun kamu mau, lalu sempatkanlah berbagi dengan adik-adikmu di sekolah ini agar mereka bisa mengerti cerita tentang kalian..."

Sebuah janji lantas kuucapkan, untuk kembali, untuk guruku...

Dedicated to Mrs Nangimah, a teacher for life...

Friday, November 6, 2009

Mimpi Yang (sebenarnya) Sederhana

Ia duduk tenang di bawah deretan pohon yang memagari sebuah sungai kecil di ujung jalan Akordion Utara. Tidak ada apa-apa sebenarnya di jalan lintas Malang-Karangploso itu. Hanya bunyi air sungai yang bergemericik tenang, angin yang berhembus tanpa terhalang struktur beton, burung-burung kecil yang terbang rendah, dan sebuah "lukisan" gunung Arjuno di belakang hamparan sawah yang warnanya selang seling, kuning dan hijau. Tapi menghabiskan sore di jalan itu selalu menghadirkan sensasi kontemplasi yang utuh baginya. Disana dia bisa memikirkan jawaban tentang pertanyaan hidup, sekedar terdiam dalam tanpa memaksakan diri mencari solusi instan tentang ketetapan takdir yang menghampirinya, atau seperti sore ini, ketika ia memilih untuk duduk dan menertawakan perjalanan mimpinya sendiri yang sepertinya makin jelas..

[ this dream is over ]

Memang benar bahwa dulu, ketika kecil, dia ingin sekali jadi SUPERMAN atau KAMEN RIDER. Bisa menyelamatkan dunia dalam kedipan mata, lalu terbang cepat ke belahan bumi lain untuk mengulurkan tangan pada yang tertindas. Atau betapa kerennya bisa berubah menjadi kesatria tangguh pembasmi monster dalam hitungan detik dan dengan penuh gaya pula. Tapi itu dulu, sebelum dia bisa berpikir terlalu konyol bagi seorang lelaki, superhero tepatnya, untuk mengenakan kostum berwarna ngejreng, dan tentunya celana dalam di luar sebagai syarat wajib superhero seluruh dunia.
Itu mimpi masa kecil, sebelum dia mengerti bahwa jika seseorang menjadi superhero, maka saat itu juga dia menandatangani kontrak seumur hidup yang memintanya mengorbankan banyak hal, kebebasan, orang tua, bahkan pendamping hidupnya. Semuanya ditukar dengan kebebasan dan cinta untuk mereka yang dia tolong. Mungkin memang disitu makna dari kata "SUPER" itu sebenarnya dan bukan dari bagaimana dia bisa TERBANG....

Lantas, beberapa tahun kemudian, anak itu "menemukan" mimpi baru, menjadi PILOT. Mimpi itu datang begitu saja melalui rekaman memori tentang sekuel TOP GUN dan siaran TVRI setiap upacara hari nasional yang membariskan deretan pria berseragam biru dengan wing penerbang di dada yang begitu memukau bagi seorang anak baru selesai kecil, berseragam putih biru. Dan saat itu, si anak berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa terbang melompati awan-awan, meliuk-liuk, sebelum melayang turun dengan tenang diantara bayangan surya yang menjelang senja. Tapi itu juga dulu. Jauh sebelum anak itu mengenal fast food, minuman bersoda, dan kebiasaan lain yang membuat badan atletis yang sempat mengantarnya menembus serangkaian seleksi Taruna Nusantara kini hilang tak berbekas.

Sejak kegagalan itu, si anak yang beranjak remaja semakin sadar, ia memang harus bermain lebih banyak dengan logika sembari menyadari bahwa fisik bukan lah kelebihan utamanya. Dan kalau kau bertanya apa mimpinya sekarang. Maka dia akan menjawab:

"Pilihan hidup telah menggiringku pada sebuah arus keinsinyuran. Telah kukubur dalam-dalam impian menjadi pahlawan penyelamat dunia, karena kini akan kuabdikan hidupku hanya untuk mereka yang membutuhkanku saja. Aku tahu muara masih jauh, pusaran sistem mengancam dimana-mana, tapi aku percaya dengan perahu kecilku. Perahu yang didalamnya kuangkut semua ilmu yang mengikatku dalam norma sekaligus membebaskanku dalam kreativitas.
Tak perlu lagi terbang tinggi, cukup langkah-langkah kecil tanpa riuh puja puji dan ingar bingar hormat. Karena mimpiku, hidupku ini memang (sebenarnya) sederhana, dan sungguh cukup dengan kamu didalamnya."

Atau apakah itu juga (masih) terlalu tinggi?? ... heu8x.... we'll see

for now i just wanna sing and keep workin on my little dream....

Every time I look in the mirror
All these lines on my face getting clearer
The past is gone, It went by, like dusk to dawn
Isn't that the way Everybody's got their dues in life to pay

Yeah, I know nobody knows
where it comes and where it goes
I know it's everybody's sin
You got to lose to know how to win

Half my life's in books' written pages
Lived and learned from fools and
from sages You know it's true
All the things come back to you

Sing with me, sing for the year
Sing for the laughter, sing for the tear
Sing with me, if it's just for today
Maybe tomorrow, the good lord will take you away

Dream On Dream On Dream On
Dream until your dream comes true
Dream On Dream On Dream On
Dream until your dream comes through
Dream On Dream On Dream On

Tuesday, October 27, 2009

Kloter 14

Hujan setelah magrib hari itu masih deras. Obat kerinduan kota ini pada kesejukan yang mulai hilang ditelan panas. Didalam rumah, dua orang pria dan seorang wanita muda duduk bersila di sudut kanan ruang tamu yang sudah beberapa malam dialasi karpet hijau. Ketiganya berbagi cerita sembari sesekali berganti fokus pada mangkuk bakso, toples-toples beraneka sajian, dan sekeranjang minuman buah yang malam itu rajin ditawarkan oleh sang empu rumah, yang kemudian ikut duduk dan bergabung dengan ketiganya. Sepertinya mengerti benar bahwa dua tamu muda mereka membawa serta dua perut yang sudah kosong hampir seharian. Tawaran yang akhirnya benar-benar tak disia-siakan oleh kedua pemuda itu.

Perut dua tamu muda itu mulai terisi dan pembicaraan pun makin lancar mengalir diantara kelima orang di ruangan itu. Dari cerita tentang perjalanan ke tanah suci esok hari, bergeser sampai ke obrolan tentang sebuah warung nasi goreng kediri di daerah Sanan, dan akhirnya kembali lagi ke persiapan bapak dan ibu temanku itu menuju Mekkah besok siang. Salah seorang tamu muda itu, aku, bisa melihat betapa wajah keduanya mengalahkan terang lampu malam itu. Berseri-seri layaknya musafir yang tak lagi sabar untuk segera bertandang ke rumah kekasih yang tak dijumpainya bertahun-tahun. Dan sejujurnya aku "iri....".

"...sampai juga engkau di hadapan kabah

bukan kata yang terucap, tapi air mata

kekasih yang lama bersemayam sepanjang usia,

kini cuma seayun mata.

labaik allaahumma labaik.

dari jauh beribu kilo di negeri rantau

kubertanya: kapan kiranya giliran hamba..."

Selamat jalan... Semoga 40 hari kedepan bisa jadi hari-hari yang paling indah sepanjang hidup bapak dan ibu. Menikmati jamuan yang sudah disiapkan Alloh bagi golongan yang terpilih sebagai tamu-NYA, lalu kembali sebagai pribadi yang telah ditingkatkan derajatnya, tapi bukan karena label pak haji dan bu haji.

Kalo memang cuma boleh titip satu doa, maka saya titip doa agar saya bisa melihat wanita yang melahirkanku duapuluh tujuh tahun lalu dan seorang pria yang mengajarkanku bagaimana menjadi lelaki, bisa segera menyusul bapak dan ibu mencium lantai Baitul Haram. Tapi kalo ternyata ada jatah titipan doa yang kedua buat saya, ya berarti saya minta didoakan "tentang yang satu itu" ya pak, bu.... :D


Friday, October 23, 2009

Inside Avanza

Kulirik casio beside di tangan kiriku, hampir setengah delapan malam ketika Avanza Silver yang kutumpangi melewati deretan ruko di pasar lawang, cepat sekali kupikir, terlalu cepat. Wanita paruh baya di depanku mungkin sedikit menyesali keputusannya memilih duduk di jok depan.
Seorang lelaki keturunan yang duduk di sampingku berusaha tidur sambil sesekali men-cek telepon selulernya. Sama sepertiku, keduanya memilih diam, tak menyangka bahwa bapak tua dibalik kemudi itu sering lupa bahwa mobil ini punya teknologi bernama "rem" selain pedal gas. Kacamata dan keriput di wajah pak tua seakan menjadi bonus ketegangan semalam. Masihkah penglihatan dan staminanya mampu mengimbangi jarum speedometer yang selalu tinggi.

Mungkin ia juga lupa kalau menumpangi mobil berbodi ringan ini akan terasa sama dengan roller coaster bagi penumpang di belakang sepertiku. Hampir tak ada lagi skor kenyamanan yang bisa kuberikan, tapi sudah terlanjur juga kupikir. Lantas kucoba membuang kecemasan dengan bernyanyi kecil, mengikuti lirik-lirik menghentak simple plan yang kemarin kujejalkan kedalam pemutar musik kecilku. Tapi tak lama, sebuah adegan salip menyalip dengan sebuah truk tronton, mendorong pak tua yang makin tak sabar itu mengambil lajur kiri yang sejatinya terlalu sempit, tanpa sadar di tepi persis jalan ada motor yang sedang menepi, pelan.... Crriiiiiiiitttttt.... Badanku terdorong cepat, hampir kucium jok depan. Ketenangan yang kubangun hilang tak bersisa, walau kupikir masih beruntung juga pak tua tak terlambat mengerem. Lalu lirih kudengar ia menggerutu, mengutuki motor yang terlalu pelan saat menepi dan posisi tronton yang menyulitkannya, entah apa lagi dan siapa lagi yang salah pikirnya....


Kita seringkali menghujat polisi yang tampak inkompeten dalam beberapa kasus. Tapi lucunya kecerdasan yang membuat kita bisa mengendus aroma konspirasi korupsi seringkali tak cukup banyak untuk membuat kita sadar untuk lebih bijak dalam perjalanan, bahwa jalan raya bukan hanya milik kita. Pak tua sopir travelku tadi malam hanya satu dari sekian banyak "keanehan" yang menghinggapi orang-orang di jalanan. Menyalip dari kiri, Asyik memencet HP sambil naik motor, Memacu kendaraan dengan kecepatan yang tak bisa dipertanggungjawabkan, Tak memakai lampu di malam hari, Tetap jalan ketika lampu persimpangan sudah merah, adalah sedikit dari contoh dosa yang mungkin kita anggap kecil.

MAAF, TAPI ANDA YANG SEPERTI ITU, SEKAYA DAN SETINGGI APAPUN GELAR ANDA, SUNGGUH MENYEDIHKAN.... Sungguh, semua perilaku itu adalah KEGOBLOKAN yang bersumber dari ketidakdewasaan mereka yang tak tahu susahnya mengumpulkan uang untuk beli kendaraan sendiri. Tinggal pakai hasil jerih payah orang tuanya. Dan, oh ya, Pelampiasan bodoh dari mereka yang berpura-pura menjadi seorang "valentino rossi" untuk lari dari kehidupan mereka yang sepi. Tak ada yang menanti saat pulang, sehingga rayuan maut di jalan pun mereka jadikan teman.

Yah, Logika memang seakan mudah sekali hilang, menguap bersama panas jalan yang menyengat, atau tenggelam bersama kantuk yang sering menjadi alasan. Dan semua kendaraan lain pun sontak jadi lawan yang harus dikalahkan. Aku memang bukan penganut kecepatan, dan mungkin sebagian kalian akan menertawakan. Tapi menjadi bertanggung jawab dan menghormati orang lain di jalan sungguh adalah sebuah parameter kedewasaan diri dan bagian refleksi karakter bangsa. jadi, JANGAN BIKIN MALU JADI ORANG INDONESIA....

Tuesday, October 20, 2009

surat yang (mungkin) tak sampai

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Bapak, pertama-tama, selamat atas hari ini. Prosesi yang lancar semoga menjadi pertanda baik bahwa lima tahun ke depan adalah masa-masa yang lebih baik dari kemarin.

Seperti yang Bapak sampaikan dalam pidato 18 menit tadi pagi, maka saya setuju bahwa tantangan ke depan akan semakin besar. Ekonomi, Birokrasi, dan Hukum adalah sektor yang akan membutuhkan perhatian terbesar, kerjasama dari semua elemen yang masih mengaku Indonesia dan tentu saja kepemimpinan yang kuat dari Bapak.

Saya bangga punya presiden yang pintar, dan orang bilang cermat dalam pengambilan keputusan. Tapi saya juga percaya bahwa setiap pemimpin akan selalu dihadapkan pada beragam momen yang mengharuskannya mengambil keputusan sulit dengan cepat. Itu pula kenapa saat pilpres kemarin saya jatuh hati pada Pak Jusuf Kalla, pendamping Bapak kemarin yang di mata saya sungguh figur yang menyegarkan. Dan terus terang tadi pagi, beberapa hari ini saya merasa kehilangan beliau.

Namun apapun perasaan itu, yakinlah Pak, saya juga terus berusaha menjaga keyakinan bahwa Bapak juga seorang yang kapabel menjadi pemimpin yang cermat dan cepat memutuskan. Bukan begitu Pak??? Karena sungguh, disitulah saya pikir salah satu parameter kebesaran sejati seorang pemimpin. Maka jadilah Pemimpin Besar Indonesia. Tak perlu sesempurna Muhammad jika itu terlalu muluk. Cukup menjadi sebesar Gandhi, Mandela, dan Sukarno dan itu akan sungguh membanggakan. Jadilah seperti mereka yang menjadi panutan dan kebanggaan bangsa. Masuklah kedalam golongan pemimpin besar yang melindungi jati diri, budaya, dan integritas ekonomi tanpa meninggalkan HAM, Lingk.hidup, dan nilai-nilai universal lainnya.

Saya yakin Bapak memiliki cukup pengalaman dan pengetahuan untuk menuju kesana. Lima tahun kedepan yang semoga tak lagi diwarnai dengan berita diinjak-injaknya teritori negara kita, melangitnya utang ke lembaga-lembaga "rentenir" dunia, dirampoknya karya-karya besar budaya bangsa, disakitinya para prajurit penyumbang devisa, dicabulinya moral bangsa oleh pengaruh global, digerusnya sumber daya alam kita, hutan kita. JANGAN LAGI..

Pilih pembantu-pembantu yang kredibel, jujur dan mendukung Bapak. Jangan jadikan balas budi sebagai kriteria dengan bobot tertinggi. Lantas pimpin mereka dengan tegas dan penuh wibawa. Jangan biarkan satu orang pun memanfaatkan kelembutan hati Bapak untuk kepentingan akal bulus mereka. Jangan, jangan sampai itu terjadi!!!! Bersihkan dan tata kembali birokrasi negeri yang masih berbelit-belit ini dengan keberanian layaknya seorang Jenderal Tertinggi. Hancurkan saja setiap antek korupsi, tikus-tikus yang menggerogoti kami sekian lama. Mereka tak pantas hidup disini, di negeri yang Bapak dan saya cintai ini. Lumpuhkan juga ideologi terorisme di negeri ini dan jangan hanya tembak mati orang-orang bodoh yang melakukannya.

Bapak, tolong pimpin kami dengan cinta, jangan hanya angka. Angka pertumbuhan ekonomi yang terus positif memang benar keberhasilan Bapak kemarin. Tapi jangan menutup mata dan hati akan deretan pengemis dan antrean pencari kerja yang bersliweran dimana-mana. Angka hanya berguna untuk elit. Terkadang angka juga hanya citra untuk mata dunia. Rakyat kebanyakan takkan tahu apa itu inflasi, sentimen pasar modal, atau tetek bengek istilah lainnya. Mereka rasanya tak peduli bagaimana apresiasi media-media asing terhadap keberhasilan kita menjaga angka pertumbuhan. Rakyat cuma tau makan cukup. Mereka cuma ingin bekerja dengan bahagia.

Perhatikan kami, lalu hasilkan keputusan-keputusan yang memihak kami. Mudahkan pendidikan, Mudahkan kesehatan, Buka lapangan pekerjaan, juga lindungi Petani dan Nelayan. Lakukan semuanya dengan kebijakan yang Bapak miliki agar jangan lagi ada teriak ketidakadilan dari saudara-saudara kami di daerah-daerah tertinggal. Seimbangkan timbangan kemajuan Timur dan Barat.

Saya percaya semua hal di dunia akan mudah jika diawali dengan cinta dan saya yakin Bapak tahu benar apa itu cinta. Lebih banyak dari saya yang hanya tahu bahwa cinta dimulai dan bertahan dengan kontinuitas pencarian kebahagiaan di dalam dan bukannya terjebak pada apa yang pihak luar pikirkan.

Bapak, maaf jika nantinya kami tidak sabar menagih janji. Maaf juga jika bukti cinta kami tak hanya berwujud kata setuju tapi juga teriak lantang dan (mungkin) sedikit caci maki. Bukankah cinta juga butuh perbedaan dan riak untuk membuatnya semakin kuat?? Bukankah bebek goreng takkan nikmat tanpa sambal?? Maka anggap saja setiap kritik sebagai cermin buat Bapak, bukti cinta kami pada Indonesia. Ya, begitulah kami. Rakyat yang Bapak pimpin ini sudah terlalu lama mendambakan cita-cita bangsa. Pembukaan UUD 1945 adalah mimpi kami, mimpi Bapak juga rasanya. Maka jangan biarkan kami kehilangan keyakinan ini.

Akhirnya selamat bekerja Bapak. Cintai kami lebih dari 5 tahun yang lalu dan kami pasti mencintai Bapak lebih besar lagi. Perjuangkan kami lebih kuat lagi dan kami pasti akan mencatat Bapak dalam memori-memori indah kami. Sekarang, besok, selamanya.

BISA KAN PAAKK???

Salam hangat dan doa dari saya, salah satu rakyat

Wassalam


Sang Saka