Saturday, January 23, 2010

PURSUIT of FORGIVENESS

1972, sejarah mencatat awal keruntuhan kekuasaan seorang presiden saat dirinya diduga menjadi aktor intelektual pencurian berkas penting, penyadapan, korupsi, dan “pengaturan” pemilihan presiden selanjutnya. Sebuah kejadian memalukan yang akhirnya terkenal dengan istilah “Skandal Watergate”. Dosanya semakin menjadi-jadi karena perang yang dikobarkannya di asia telah merenggut nyawa puluhan ribu tentara dan rakyat sipil.

Dan akhirnya setelah pergulatan panjang selama 2 tahun, pada Agustus 1974, sang presiden pun mengundurkan diri, tanpa sekalipun mengucapkan penyesalan dan permintaan maaf atas segala penyelewengan hukum dan kesalahannya. Keseluruhan teks pidato pengunduran dirinya adalah refleksi dari sebuah pencitraan diri yang dibanggakannya dan dia tetap berpendirian bahwa ia adalah korban dari sebuah konspirasi politik legislatif.

Beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu, dua orang duduk saling berhadapan di depan kamera televisi dalam sebuah interview yang kelak akan dikenang sebagai salah satu yang terpenting sepanjang sejarah. Sang narasumber, mantan presiden Nixon, ingin menjadikan wawancara ini sebagai jalan untuk memperbaiki citra dan meretas kembali jalur menuju kekuasaan. Sementara sang interviewer, David Frost, seorang presenter entertainment, ingin mencapai sesuatu yang tak pernah bisa dilakukan oleh hakim, legislatif, reporter, dan penyidik kasus Watergate sekalipun, yaitu sebuah pengakuan yang keluar dari mulut Nixon sendiri atas segala penyelewengan kekuasaan yang dilakukannya dan ironisnya saat itu telah “dihapuskan” atas nama kesehatan dan kemanusiaan oleh Ford, wakil presiden yang naik menggantikannya. Maka yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan intens kedua aktor yang mempertaruhkan segalanya, sebuah pertarungan hingga akhir batas ego.

Nixon, adalah sebuah perpaduan karakter antara kecerdasan akal yang terbungkus sikap angkuh nan oportunis, ia mampu membuat Frost merasa terintimidasi dan melakukan kesalahan-kesalahan dalam pembicaraannya sendiri, menguasai enam dari delapan jam perbincangan diantara mereka. Begitu tertekannya Frost sehingga ia hampir menyerah di malam terakhir pengejarannya terhadap sebuah kata maaf. Sampai akhirnya ia sadar bahwa mungkin sebelumnya ia terlalu mengandalkan pengejarannya pada pertanyaan yang sekedar berusaha memancing inisiatif tanpa “pemaksaan” bukti yang kuat. Maka malam-malam menjelang sesi terakhir wawancara pun diisinya dengan sebuah kerja keras menemukan fakta yang jauh lebih lengkap dan mentransformasikannya kedalam pertanyaan-pertanyaan yang menguji nurani.

Mengakui kesalahan dan meminta maaf memang tak selalu menjadi perkara mudah. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mengakui bahwa bau menyengat yang mendadak tercium di kantor adalah keluar dari pantat kita, bahkan sebagian lagi malah bangga dengan hal tersebut bukann???. Itu karena kentut bagi mereka tidak termasuk sebagai sebuah nilai yang jika terlanggar akan mencederai persepsi orang tentangnya. Tapi ketika begitu banyak “nilai diri” kita dipertaruhkan, maka disitulah pembuktian sebenarnya tentang mana yang lebih besar dalam diri kita, kepala atau hati?.

Tak usah jauh-jauh mencari contoh dalam sesosok pemimpin, secara jujur saya pun rasanya pernah menyerah kalah pada harga diri saat hati sudah memanggil-manggil untuk secara terbuka meminta maaf akan sebuah kekeliruan yang saya perbuat.
Hingga akhirnya saya terlambat bahkan untuk sekedar mempertahankan tali silaturahmi. Saya dan (mungkin) sebagian dari kita seringkali berusaha keras mencari-cari pembenaran harga diri yang terlalu tinggi atas nama mahzab yang berbeda, cara pandang dan subjektivitas kebenaran. Dan hanya karena “dipaksa” bukti yang memberatkan-lah kita seringkali baru bersedia meng-iya-kan sesuatu yang sebenarnya sudah ada jawabannya dalam hati kecil kita. Sebagian lagi, karena terlalu khawatir akan kehilangan apa yang sebelumnya dimiliki, akhirnya mengingkari bukti itu, rela menanggungnya seumur hidup dan “maling pun teriak maling”. Padahal selamanya “becik bakal kethithik, lan olo mesthi ketoro” dan sejatinya hanya kesepian dan mimpi buruklah teman di sisa hidup mereka.

Nixon, walaupun dipaksa, pada akhirnya memilih untuk mengikuti nuraninya dan menerima kenyataan bahwa segala yang terjadi akan tercatat dalam lembar hitam sejarah, bahwa karir politiknya tamat hari itu, bahwa nama baiknya sudah tercemar dan takkan bisa dikembalikan seperti semula, bahkan dengan permintaan maaf sekalipun. Bagaimanapun, saya yakin dalam benaknya ia rasanya bersyukur bahwa Frost sudah “mengejarnya” sedemikian jauh, menyelamatkan sisi baik yang tersisa darinya, sehingga setidaknya kasusnya bisa menjadi contoh bagi generasi setelahnya. Bahwa mengakui kesalahan dengan segala konsekuensinya, facts that those wrongdoings could be forgiven but wont always be forgotten, and then move on, akan membuat kita terbebas dari cekatan sesak dalam udara yang penuh oksigen.

Di akhir cerita, saat layar televisi saya berubah hitam dan menampilkan deretan casting Frost/Nixon, munculah pikiran konyol ini, “hei, kira-kira Ron Howard mau nggak ya bikin sequelnya berdasarkan “negeri antah berantah” yang punya modal sejarah identik. Dengan judul yang berbeda tentunya, “Tukul/Mr Ex.Leader” mungkin?? hehehe...

Frost/Nixon (2008)
Main Cast: Richard Nixon (Frank Langella), David Frost (Michael Sheen)
Director: Ron Howard


Monday, January 18, 2010

D R A M A

Ketika pagi tadi saya membuka-buka beberapa situs berita online yang mengangkat sebuah drama baru, fatwa haram rebounding dan foto pre wedding, yang dikeluarkan oleh Forum Bahtsul Masail Putri ke-12 di Pondok Pesantren Lirboyo, maka yang saya temukan adalah komentar-komentar yang begitu beragam. Ada yang lucu, ada yang menarik secara materi, ada yang terlihat emosional, dan yang menyedihkan bahkan ada pula yang akhirnya saya nilai berbau sara dan sungguh sayang belum disensor oleh pengelola situs tersebut (semoga segera disensor komen itu). Inilah kenyataan dalam dunia yang bagaikan jaring luas nyaris tanpa penghalang, semua bisa berekspresi walau saya tidak tahu apakah mereka yang mengutuki sebuah fatwa lebih paham tentang ilmu tentang hal tersebut dibanding pihak yang mengeluarkan fatwa. Atau mereka sekedar mendahulukan emosi untuk membentuk asumsi.

Adalah memang lebih mudah bagi orang yang tidak atau katakanlah belum berada dalam lingkaran pengaruh sebuah keputusan untuk berpendapat dengan lebih bijak atau mungkin terlihat abstrak bagi mereka yang mengalaminya. Persis dengan apa yang dilagukan SO7, Mudah saja bagimu/Mudah saja untukmu/Andai saja/Lukamu seperti Lukaku. Dan bagi saya yang tidak pernah (dan tidak berniat) rebounding dan belum punya rencana matang apakah pernikahan saya nanti akan menggunakan jasa pre-wedding atau tidak, maka sejauh ini pendapat saya terhadap fatwa tentang kedua hal ini adalah sebuah berkah dan ujian.

Menjadi berkah, karena hal ini akan memberikan tambahan alasan untuk memikirkan setiap tindakan dengan lebih hati-hati. Tuhan adalah satu-satunya kebenaran dan mencintai orang-orang yang bicara kebenaran. Kita dianugerahi dua telinga dan hanya satu mulut karena kita selayaknya lebih banyak mendengar terlebih dahulu sebelum berbicara. Maka memilih kata-kata yang tidak menyakiti hati orang lain, membuka aib, atau menimbulkan kesia-siaan ketika diposting kedalam status atau catatan dalam fesbuk dan blog adalah lebih bermanfaat bagi saya sekarang ini.

Menjadi ujian, karena hal ini menunjukkan bahwa perubahan-perubahan akan selalu terjadi dan mungkin saja hal itu akan menyentuh sisi kehidupan kita. Benar bahwa jika harus memilih, mungkin dibanding mendahulukan mempopulerkan fatwa haram kedua hal ini, saya lebih mendukung percepatan pengumuman fatwa haram bagi pemakaian hot pants di ruang public, fatwa haram bagi filem horror seks nggak penting, dan fatwa haram bagi acara-acara televisi yang menyebarkan fitnah.

But life is as unpredictable drama as ever, that we just have to accept it.

Bahwa sesuatu yang kita anggap benar, mungkin saja suatu saat akan kita ketahui sebaliknya. Sesuatu yang tadinya terkesan remeh dan bukan menjadi masalah, bisa saja berubah karena keesokan hari muncul fakta baru tentangnya. Dan kita tidak perlu seperti Hiro Nakamura, pergi kembali ke masa lalu hanya untuk menyelamatkan apa yang menurut kita benar dan meluruskan apa yang salah. Meminjam kata-kata Dee, Apapun persepsi kita atas cinta, tak ada salahnya bersiap untuk senantiasa berubah. Jika hidup ini cair maka wadah hanyalah cara kita untuk memahami yang tak terpahami. Jadi ini adalah ujian apakah saya siap menghadapi perubahan itu..

Sukar memang menetapkan neraca dari segala pertimbangan kita: apakah ini urusan salah dan benar, atau sebetulnya cocok dan tak cocok? Jika urusannya yang pertama, selamanya kita terjebak dalam debat kusir karena setiap orang akan merasa yang paling benar. Jika urusannya yang kedua, masalah akan lebih cepat selesai. Kecocokan saya bukan berarti kecocokan Anda, dan sebaliknya. Dan seperti yang kita amati dan alami, lebih sering kita memilih yang pertama agar berputar dalam seri-seri drama yang tak kunjung selesai.

Jadi sekali lagi, terlepas dari segala persepsi saya tentang fatwa prewed, adalah lebih penting dalam benak saya sekarang ini untuk memikirkan bagaimana caranya saya bisa sampe kesana (red.: siap kawin sama dia). Itu dulu, sembari selalu berdoa ihdinasshiraatal mustaqim, sebelum saya memikirkan apa yang perlu dilakukan ketika sudah ada disana, yang semoga juga akan saya dasarkan pada kebenaran yang saya percayai. Toh kalo saya dan dia pada akhirnya memilih untuk melakukan akad nikah terlebih dahulu, lantas baru berfoto untuk dipajang di acara resepsi yang diselenggarakan selanjutnya, maka tidak haram bukan fotonya? Eh tapi secara bahasa itu bukan lagi pre-wedding ya..?? :D

Kebenaran hanya milik DIA, dan kesalahan adalah semata dalam diri saya…

Jazakallaah Khairan Katsira..


[ logo halal sekedar gambar dalam konteks ini, bukan untuk menjustifikasi apakah note saya ini halal atau haram ]

Tuesday, January 5, 2010

Taman Catur

Pemanasan global yang masih saja sulit disepakati penanganannya dalam Konferensi Iklim Dunia beberapa minggu lalu memang tampak semakin nyata membuat cuaca tak karuan di seluruh belahan dunia, termasuk juga di kota kami. Entah harus bukti perubahan iklim apa lagi yang bisa menggerakkan setiap pemimpin negara, terutama mereka yang jadi juara tukang buang emisi karbon untuk lebih peduli daripada sekedar mempermasalahkan pemulihan krisis pasca kekacauan kredit dari sistem ekonomi yang mereka bangga-banggakan itu.

Siang itu suhu udara di kota turun drastis, bulir-bulir salju turun perlahan dari langit, dan daun-daun pepohonan di taman catur yang biasanya segar menghijau itu, kini tampak kusam, beku. Tak pernah kami merasakan musim sedingin ini sebelumnya. Maka beberapa orang pun mulai beranjak pergi, mengemasi barang-barangnya dan menyudahi aktivitas mereka. Tapi tidak dengan apa yang terjadi meja tengah taman itu.

Disana, seorang pria tua duduk di bangku taman dalam balutan jaket wool tebal berwarna gelap. Wajahnya berkerut, beberapa kali dibetulkannya letak kacamata yang dipakainya. Nyata sekali konsentrasinya terpusat pada sebuah papan catur dan bidak-bidak yang tergelar di hadapannya. Sang lawan yang lebih muda darinya, duduk penuh percaya diri di bangku seberang, menanti langkah apa yang akan dilakukan si pria tua.

Sementara aku dan belasan penonton yang berdiri mengitari meja itu pun terlihat antusias menanti siapa yang akan memenangkan “duel” siang itu. Apakah itu sang pria tua yang kami kenal sebagai veteran perang berpangkat jenderal dengan deretan tanda jasa yang memenuhi dadanya? atau justru si pria muda, seorang insinyur yang tengah berada di puncak usia produktifnya dengan beberapa proyek ambisius kota dalam genggamannya.

Sudah dua jam, korban pun telah berjatuhan, tapi duel siang itu tampak baru “setengah” jalan. Sang pria tua punya keunggulan jumlah menteri dan kuda, tapi kehilangan ratunya. Sementara sang insinyur, masih menyimpan ratunya selain memiliki keunggulan jumlah benteng dan prajurit yang tersebar cukup strategis. Bidak-bidak si pria tua itu menguasai berbagai sisi serangan, tapi pertahanan Sisilia yang dimodifikasi oleh sang insinyur sungguh sulit ditembus dan memberikannya keyakinan besar akan hadirnya kemenangan di penghujung siang. Sebuah pertarungan yang alot antara pengalaman melawan gairah. Dan itu selalu menarik bagi kami, sama menariknya seperti halnya pertarungan antar penegak hukum di negeri kami yang menjanjikan intrik dan kejutan sepanjang hari, mengalahkan trik beragam reality show di televisi.

Saking alotnya, beberapa orang penonton bahkan mulai berpikir, sepertinya akan “remis”. Sebuah pemikiran yang logis jika melihat lamanya mereka bertanding. Tapi remis bukan pilihan bagi kedua petarung berkarakter pemenang itu.
Si pria tua sudah terkenal reputasinya, sementara kami pun sudah mendengar tentang keahlian catur insinyur berumur empat puluhan itu meski ia masih tergolong anggota baru dalam komunitas penikmat taman catur. Begitu kami menyebut orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk sekedar bersantai, memancing, bercengkerama dengan keluarga, atau bertarung mempertaruhkan harga diri diatas puluhan meja catur yang tertata rapi di tengah taman ini. Satu dari dua taman terindah yang dibuat pemerintah kota ini.

Pria tua itu, dengan segudang pengalamannya tahu bahwa bidak-bidak miliknya yang tersisa sebenarnya lebih dari cukup untuk memenangkan pertandingan. Sudah berkali-kali ia membuat lawannya takluk walau sebenarnya ia berada dalam situasi terdesak atau kalah jumlah bidak. Bahkan nama besarnya sebagai ahli strategi ulung diantara sesama penikmat ruang terbuka kota itu pun terbangun gara-gara kemampuannya membalikkan situasi.

Aku ingat, dua puluh tahun yang lalu, kemenangan pertamanya diraih hanya dengan sebuah menteri dan seekor kuda, walau memang harus diakui lawannya kala itu hanya seorang pria paruh baya yang lebih menggemari pacuan kuda dibanding bermain catur. Setelah itu berkali-kali ia taklukkan lawannya, entah darimana saja mereka datang, tukang becak, eksekutif muda, sesama kakek, dan bahkan seorang mantan atlit catur terkenal sekalipun ia libas tanpa ampun. Adalah ambisi dan kemampuannya berevolusi menghadapi berbagai tipe lawan yang membuatnya bertahan dan dihormati di taman catur itu hingga kini, sementara teman-teman seusianya mulai meninggalkan papan catur dan memilih memancing atau sekedar bersantai di taman.

Tapi usia sama halnya rasa, tak pernah bisa bohong. Penampilannya segarnya mungkin bisa “mengkhianati usia” yang sudah di akhir enampuluhan, tapi bertambahnya umur tak hanya menumbuhkan keriput, karena umur juga menggerogoti kendali emosi psikologis. Bahkan kulihat sudah tiga kali dia memaki siang itu, menyalahkan orang-orang yang dinilainya terlalu berisik kala menonton, mengganggu konsentrasi hingga akhirnya ia menggerakan bidak yang salah, membuatnya kehilangan ratu dan seekor kudanya. Ia sendiri sadar bahwa ia telah menjadi semakin sensitif akhir-akhir ini. Dan bagi seorang petarung meja catur, itu adalah problem yang jauh lebih serius ketimbang kehilangan ratu atau satu set benteng sekalipun, terlebih dengan beban permasalahan ekonomi yang sedang membelit keluarganya. Sesuatu yang kukhawatirkan akan menjadi celah bagi seorang lawannya yang memahami itu, suatu hari.

Dan sepertinya hari ini sang lawan mulai mencium aroma kegalauan pria tua itu, idolaku, sang legenda taman catur….


Tuesday, December 22, 2009

I Love You Everyday

Penggalan celoteh konyol upin ipin mendadak terdengar dari telepon selulerku, ada sms baru..

”…Lagi apa mas? Jadi pulang kapan? take care ya, salam…”

Aku tersenyum. Walaupun layar telepon genggamku tak menampilkan identitas selain deretan angka tanpa nama, dari nada pesannya mudah sekali kukenali siapa pengirimnya. Sebuah pesan yang sederhana, persis seperti karakternya yang kukenali selama ini, walau dia bukan seorang pendiam, tidak sama sekali. Dia hanya tak suka berbasa basi tanpa isi. Dan tentang hal ini dia pernah berkata, “bahasamu adalah cerminan hidupmu, kalau kau boros maka boros pula hidupmu”. Saat mendengar itu aku terheran-heran, sejak kapan dia belajar filosofi? Bukankah dia cuma seorang mantan perawat lulusan sekolah kejuruan? Ah, sudahlah, toh sedari awal kisahku dengannya memang penuh dengan keheranan, keajaiban demi keajaiban yang ditunjukkannya.

Benar bahwa aku mungkin terlalu muda untuk mengingat apa saja yang dia perbuat kala interaksiku dengannya masih sebatas bahasa tangis dan tawa. Tapi aku masih ingat betul keajaiban yang diperbuatnya pada masa-masa dimana nasi dan garam adalah satu-satunya pilihan makanan yang tersedia diatas meja rumah kami. Waktu itu dia sangat pandai menambahkan semangkuk dongeng sebagai lauk istimewa yang lantas mendistorsikan rasa, membuatku lupa bahwa garam itu asin. Ia bahkan membuat cerita sendiri tentang seorang pangeran samudera yang berperang melawan raja daratan, lalu dalam kondisi terdesak di pantai, dia menemukan sejumput garam yang akhirnya membuatnya kuat dan mampu mengalahkan musuh-musuhnya. Aku sangat menyukai cerita itu sehingga akhirnya aku pun makan dengan lahap diantara temaram lampu minyak, satu-satunya alat penerangan rumah kami dulu.

Lalu, Salah satu keajaiban lainnya yang paling kuingat waktu itu adalah bagaimana dia selalu menyuruhku masuk ke kolong meja kala hujan badai dan petir terjadi. Diselimutinya sisi-sisi meja itu dengan seprei sehingga kami seperti berada di dalam gua buatan. Setelah itu biasanya dia tak banyak berkata, hanya memelukku erat, mengucap dzikir dan berbisik, “nah sekarang kita aman dari dewa petir”. Kami sering tertawa kala mengingat cara 'penyelamatan diri' yg aneh itu. Tapi lucunya perlakuan yang tak biasa itu justru menjadi salah satu momen dimana aku bisa merasa paling aman seumur hidupku, sampai sekarang.
Rasa aman ternyata bukan melulu bangunan kokoh, tubuh kekar, kendaraan lapis baja, atau fakta semata...

“Cogito ergo sum?” Well, untuk beberapa realitas sepertinya aku tak perlu mendengarkan logika Rene Descartes walaupun kadang rasa penasaranku bertanya-tanya,

“…Darimana dia belajar segala macam cara itu untuk membuatku nyaman? Bagaimana mungkin seseorang bisa mengerti orang lain sebegitu hebat? Atau jangan-jangan dia memang punya buku manualnya?..”.

Maka suatu hari sembari tertawa, dia menanggapi pertanyaanku,

“..Ada beberapa pengertian yang takkan kau mengerti sampai kau menjadi tua dan menjadi orang tua sepertiku..”.

Dan tentang ‘cerita persembunyian dibawah meja’ itu, saat itu dia takut atap rumah kami yang bocor disana sini akan jadi pintu masuk petir yang akan mengambilku. Sebagaimana sekarang dia mulai takut kalau suatu saat aku akan lupa pulang setelah sekian lama hidup jauh darinya. Bahwa aku, entah karena seorang anak gadis orang atau tumpukan pekerjaan, perlahan akan melupakan kalimat ini…

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!" - Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil." (Q.S. 17:23-24)

Semoga tidak, karena aku akan selalu pulang untuk dia, ibu terbaik sedunia, even for today All I do Is dreaming of you, holding you, through this words…

Selamat hari ibu, I love you everyday…


Monday, December 14, 2009

500 Days Of Summer

Alasan pertama yang membuat saya berniat menonton film ini lagi adalah fakta bahwa saya masih belum paham benar, kenapa "..this is not love story, but a story about love.." jadi tagline 500 Days of Summer. *Mungkin teman saya yang dulu menyarankan dan berniat meminjamkan film ini (walaupun ga jadi-jadi sampe saya dapet sendiri) sudah lebih paham maknanya.. haha..*

Alasan lain, cerita filem ini bisa membuat saya tertawa walaupun kadang saya pikir filem ini juga menertawakan penontonnya dengan cara yang sederhana tapi mengena. Kedalaman makna dari sebuah gagasan simpel mampu diceritakan dengan ringan, lucu, namun tetap berkelas sehingga tidak terasa bahwa kita sedang menonton sebuah film yang diputar premier di Sundance Film Festival. Sesaat, sensasinya mengingatkan saya pada apa yang ditawarkan Dewi Lestari dalam Perahu Kertas. Termasuk bagaimana keduanya membawa serta pengaruh cita-cita masing-masing tokoh utama terhadap hubungan mereka.

Jadi walaupun kita mungkin tidak asing dengan film yang bercerita tentang dua orang yang benar-benar berbeda karakter namun bersinggungan pada suatu waktu dan mencoba mencari cara untuk bersama, namun tidak seperti film komedi romantis lainnya yang cenderung berakhir klise, di akhir film ini ada ruang untuk mencerna beberapa hal tentang kehidupan, bahkan menawarkan tambahan harapan bagi mereka yang merasa "berhak" mengaku bahwa "ini adalah cerita nyata tentang mereka"... hahahaha...

Just watch it, its a scarily deep and funny romantic movie, one of the best this year..


Friday, December 11, 2009

" 100 "

ada saat dimana kita terhenti sejenak,

mengalami tapi miskin imajinasi,

mencintai tapi kering ekspresi,

sampai akhirnya hari itu kembali

Lama sebelum kutemukan apa yang ingin kutuliskan pada lembar kosong ini. Entah gara-gara terkooptasi ketertarikanku sendiri pada angka 100 atau sekedar bosan karena rutinitas yang membuatku terlihat sama. Atau mungkin waktu yang memang sedang bergerak cepat dan tak memberikan cukup ruang intim untukku dan lembar kosong bernomor spesial ini. Sampai akhirnya sebuah perjumpaan beberapa hari lalu, mendorongku untuk mengabadikan sebuah sosok, dengan sederhana, begitu saja.

Hari itu Jumat yang cerah. Perempuan berkerudung itu masih jelas kukenali dari jarak duapuluhan langkah darinya. Lalu sebuah pelukan dari wajah yang berkaca-kaca menyambutku pagi itu seolah pertanda bahwa kekesalanku akan buruknya pelayanan birokrasi rumah sakit yang kualami sehari sebelumnya akan terobati dengan pertemuan tak terduga ini.

Dan segera setelah kuselesaikan urusan administrasi yang membawaku kembali ke sekolah kampungku hari itu, ia mengajakku berkeliling kompleks, menyusuri selasar bangunan SD yang tak berubah banyak kecuali cat dinding yang berbeda dan lantai tegel yang kini berganti keramik berwarna cerah, sembari bertukar kabar dan mengurai memori yang merekam masa kecilku bersamanya. Tentang persinggungan hidup kami yang tak diisi legenda, hanya beberapa keping cerita sederhana yang dibungkus dengan cinta.

Sosoknya yang lembut, terlihat masih sama (jika tidak lebih kuat terpancar) dibanding dua dekade yang lalu. Sebuah stereotip guru ideal yang membuat dia dekat dengan sebagian besar muridnya. Toh, dibalik kelembutannya aku belum lupa akan ketegasan yang disimpannya seperti yang sering kualami saat siang sepulang sekolah di akhir Juli 1992. Waktu itu siang setelah bel pulang banyak dihabiskannya mengajariku tambahan jam pelajaran menjelang sebuah perlombaan cerdas cermat di Kabupaten. Jangan harap aku bisa pulang kalau soal belum terpecahkan. Maka hilang sudah sebagian besar jatah bermainku di sawah kala itu. Sungguh ia berubah menjadi seorang begitu disiplin dan keras, macam instruktur tentara negeri yang tak kenal kompromi. Lantas disetiap akhir sesi, seakan belum puas, dijejalkannya buku-buku pelajaran tebal dan perangkat keterampilan beraneka rupa ke dalam tas besar warna coklat milikku. "Yang ini dipelajari di rumah, besok harus selesai dan bisa", tuturnya. Kupikir seperti punya dua ibu yang berbeda tapi sama standar kedisiplinannya dan karena itu, aku ingat seringkali masam mukaku di sore sepulang sekolah. "Nanti, ketika kamu tersenyum dan berdiri menggenggam medali, kamu akan mengingat siang-siang ini", begitu ujarnya memotivasiku di suatu siang saat aku mengalami demotivasi. At that moment, I just dont know why, till the harvest time come.

Ia sendiri masih ingat benar, bahwa aku kecil sangat tidak tertarik pada dua hal, sepakbola dan teman wanita. ~ Right now, I myself couldn't believe that either ~. Saking malesnya main bola, terkadang aku bahkan sampai sengaja lupa membawa seragam olahraga agar diijinkan tinggal di kelas, dihukum merangkum buku pun oke asalkan tidak ikut berpanas di lapangan. Well, Time is a kind of friend they say, it makes us old and learn. Maka ia sungguh terkejut dan tertawa ketika kuceritakan bahwa kini aku banyak menghabiskan waktu untuk urusan sepakbola dan berharap punya anak laki-laki yang menjadi pemain bola. Tentang teman wanita yang membuatku phobia?? well, Some memories are best kept hidden...

Ia adalah salah satu guru yang paling antusias mengenalkanku pada Kepala Sekolah, membanggakanku sebagai murid dengan penilaian yang kupikir terlalu berlebihan. Ia pula yang mengenalkanku pada profesi insinyur walau aku lebih bermimpi menjadi pilot kala itu. Ia bilang, "kenapa tidak bercita-cita menjadi insinyur pertama di kampungmu??" Apakah itu doa atau kekuatan visi indera keenamnya, yang jelas aku memang terbukti gagal jadi pilot dan sepertinya berakhir tak jauh dari apa yang dituturkannya. Itu dan banyak hal lain lagi yang masih diingatnya tentangku sungguh mengejutkan. Lebih dari apa yang bisa kuingat tentangnya dan sesaat kupikir aku menua lebih cepat darinya.

Dan perjalanan riuh cerita disepanjang selasar itu pun akhirnya terhenti di depan ruang guru. Raut mukanya terlihat sedih ketika kuutarakan bahwa padatnya urusan birokrasi yang harus kuselesaikan dalam sempitnya waktu memaksaku berpamitan. Digenggamnya tanganku erat sambil dititipkannya petuah pendek, "..Doakan ibu sehat ya nak. Jangan lupakan guru-gurumu setiap kali ilmumu bertambah tinggi dan kesuksesan menghampirimu. Pulanglah kapanpun kamu mau, lalu sempatkanlah berbagi dengan adik-adikmu di sekolah ini agar mereka bisa mengerti cerita tentang kalian..."

Sebuah janji lantas kuucapkan, untuk kembali, untuk guruku...

Dedicated to Mrs Nangimah, a teacher for life...

Friday, November 6, 2009

Mimpi Yang (sebenarnya) Sederhana

Ia duduk tenang di bawah deretan pohon yang memagari sebuah sungai kecil di ujung jalan Akordion Utara. Tidak ada apa-apa sebenarnya di jalan lintas Malang-Karangploso itu. Hanya bunyi air sungai yang bergemericik tenang, angin yang berhembus tanpa terhalang struktur beton, burung-burung kecil yang terbang rendah, dan sebuah "lukisan" gunung Arjuno di belakang hamparan sawah yang warnanya selang seling, kuning dan hijau. Tapi menghabiskan sore di jalan itu selalu menghadirkan sensasi kontemplasi yang utuh baginya. Disana dia bisa memikirkan jawaban tentang pertanyaan hidup, sekedar terdiam dalam tanpa memaksakan diri mencari solusi instan tentang ketetapan takdir yang menghampirinya, atau seperti sore ini, ketika ia memilih untuk duduk dan menertawakan perjalanan mimpinya sendiri yang sepertinya makin jelas..

[ this dream is over ]

Memang benar bahwa dulu, ketika kecil, dia ingin sekali jadi SUPERMAN atau KAMEN RIDER. Bisa menyelamatkan dunia dalam kedipan mata, lalu terbang cepat ke belahan bumi lain untuk mengulurkan tangan pada yang tertindas. Atau betapa kerennya bisa berubah menjadi kesatria tangguh pembasmi monster dalam hitungan detik dan dengan penuh gaya pula. Tapi itu dulu, sebelum dia bisa berpikir terlalu konyol bagi seorang lelaki, superhero tepatnya, untuk mengenakan kostum berwarna ngejreng, dan tentunya celana dalam di luar sebagai syarat wajib superhero seluruh dunia.
Itu mimpi masa kecil, sebelum dia mengerti bahwa jika seseorang menjadi superhero, maka saat itu juga dia menandatangani kontrak seumur hidup yang memintanya mengorbankan banyak hal, kebebasan, orang tua, bahkan pendamping hidupnya. Semuanya ditukar dengan kebebasan dan cinta untuk mereka yang dia tolong. Mungkin memang disitu makna dari kata "SUPER" itu sebenarnya dan bukan dari bagaimana dia bisa TERBANG....

Lantas, beberapa tahun kemudian, anak itu "menemukan" mimpi baru, menjadi PILOT. Mimpi itu datang begitu saja melalui rekaman memori tentang sekuel TOP GUN dan siaran TVRI setiap upacara hari nasional yang membariskan deretan pria berseragam biru dengan wing penerbang di dada yang begitu memukau bagi seorang anak baru selesai kecil, berseragam putih biru. Dan saat itu, si anak berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa terbang melompati awan-awan, meliuk-liuk, sebelum melayang turun dengan tenang diantara bayangan surya yang menjelang senja. Tapi itu juga dulu. Jauh sebelum anak itu mengenal fast food, minuman bersoda, dan kebiasaan lain yang membuat badan atletis yang sempat mengantarnya menembus serangkaian seleksi Taruna Nusantara kini hilang tak berbekas.

Sejak kegagalan itu, si anak yang beranjak remaja semakin sadar, ia memang harus bermain lebih banyak dengan logika sembari menyadari bahwa fisik bukan lah kelebihan utamanya. Dan kalau kau bertanya apa mimpinya sekarang. Maka dia akan menjawab:

"Pilihan hidup telah menggiringku pada sebuah arus keinsinyuran. Telah kukubur dalam-dalam impian menjadi pahlawan penyelamat dunia, karena kini akan kuabdikan hidupku hanya untuk mereka yang membutuhkanku saja. Aku tahu muara masih jauh, pusaran sistem mengancam dimana-mana, tapi aku percaya dengan perahu kecilku. Perahu yang didalamnya kuangkut semua ilmu yang mengikatku dalam norma sekaligus membebaskanku dalam kreativitas.
Tak perlu lagi terbang tinggi, cukup langkah-langkah kecil tanpa riuh puja puji dan ingar bingar hormat. Karena mimpiku, hidupku ini memang (sebenarnya) sederhana, dan sungguh cukup dengan kamu didalamnya."

Atau apakah itu juga (masih) terlalu tinggi?? ... heu8x.... we'll see

for now i just wanna sing and keep workin on my little dream....

Every time I look in the mirror
All these lines on my face getting clearer
The past is gone, It went by, like dusk to dawn
Isn't that the way Everybody's got their dues in life to pay

Yeah, I know nobody knows
where it comes and where it goes
I know it's everybody's sin
You got to lose to know how to win

Half my life's in books' written pages
Lived and learned from fools and
from sages You know it's true
All the things come back to you

Sing with me, sing for the year
Sing for the laughter, sing for the tear
Sing with me, if it's just for today
Maybe tomorrow, the good lord will take you away

Dream On Dream On Dream On
Dream until your dream comes true
Dream On Dream On Dream On
Dream until your dream comes through
Dream On Dream On Dream On