Wednesday, February 24, 2010

LIKE THIS??

Suatu pagi di hari senin, saya meraih HP yang tergeletak di samping tempat tidur. Setelah membalas dua pesan yang masuk setelah subuh, saya berselancar sejenak, ngecek imel dan akun fesbuk tentunya sebelum menggosok gigi dan membersihkan tempat tidur... hehhee… Dan wow, ternyata dunia (maya sihh :D) berubah cepat juga. 54 status baru dalam sehari minggu kemarin, hari yang masuk kategori “mendekati haram fesbukan” bagi saya yang walaupun yes, you might say I’m a bit addicted wit it, but I do have my filter, my own real life though….

Beberapa dari 54 status itu lucu juga dan mendorong saya buat komen, seperti status temen saya yang bilang “Wanita cantik boleh menolak, tapi Tuhan yang menjodohkan!!” atau “Pesan kakak pada adiknya: dek, laki-laki, apalagi yang seumuran kamu itu dimana-mana kalo pacaran ya mendefinisikan cinta cuma lewat bibir dan dada” ..Hag3x.… But eniway, yang menarik lagi buat saya pagi itu ya sebuah fenomena.. Sekitar 20an dari status baru itu dikasi jempol sendiri oleh si pemilik. Okelah, kadang saya mengerti kalo mereka memajang quotes dari orang lain sehingga mereka (katakanlah) menyukai apa yang mereka pahami dari kata-kata bijak itu, tapi jadi lucu ketika status yang mereka jempolin sendiri itu sebenarnya banyak yang bernada susah dan atau misuh. Do they really like their misery?? Or is it as simple as ??...

Jadilah saya penasaran.........

“Kenapa banyak orang pada ngasi jempol, like this, ke statusnya sendiri???”…


Tuesday, February 16, 2010

RENDEZVOUS

Kemarin siang, saya “dikejutkan” dengan sebuah film keluarga yang menyenangkan dan sedikit membuat saya heran, “why on earth I’ve never watch this movie before?”. Dan seperti kebanyakan film keluarga yang layak tonton (menurut saya), maka Little Manhattan yang bercerita tentang dua anak belasan tahun yang mengalami pengalaman pertama dihadapkan pada situasi “pergathelan” (red: cinta) pada lawan jenis ini pun menghadirkan banyak momen yang lucu dan pantas diingat. Salah satunya adalah rangkaian kata dari Gabe, sang bocah laki-laki dalam film ini yang bertutur...
“….Love is an ugly, terrible business practiced by fools. It’ll trample your heart and leave you bleeding on the floor. And what does it really get you in the end? Nothing but a few incredible memories that you can’t ever shake. The truth is, there’s gonna be other girls out there. I mean, I hope. But I’m never gonna get another first love. That one is always gonna be her…”
Ya, setiap orang pasti mengenal cinta pertama, namun tidak semua orang -termasuk saya-, beruntung mengalami cinta pertama yang bisa membuat mereka tak perlu mencari cinta lain dalam hidupnya. Saya masih ingat ketika guru TK saya, sambil menahan air mata, berpamitan pada keluarga kami sebelum pindah ke kota lain, mengikuti calon suaminya. Saat itu saya merengek pada ibu saya untuk menyusul pindah, mengikuti kemana guru muda itu pergi. Bahkan kata ibu, saya sempat bertanya kenapa bu guru harus menikah. Permintaan yang waktu itu membuat keluarga kami tertawa habis-habisan membaca gelagat kecemburuan itu. Cinta (panda) pertama?? Entahlah, waktu itu saya jelas terlalu kecil untuk mengerti tentang cinta, tapi yang jelas bu upih, guru TK-ku itu adalah sosok wanita pertama diluar keluargaku yang bisa membuat saya nyaman. Ibu saya sempat bilang, “kelembutannya dan kebiasaannya menjemput dan mengantarkan saya setiap hari sekolah itulah yang mendorong timbulnya “cinta pertama” itu dan sepertinya tipe seperti itulah yang akan terus kau cari dalam hidupmu”. Perkara bagaimana selanjutnya perjalanan hidup membawa saya justru lebih dekat pada jenis keindahan yang “cenderung galak” sepertinya masih menjadi misteri hehhee…

Di panggung sepakbola, Maldini dan Milan atau Giggs dan United adalah dua dari sedikit “pasangan” yang termasuk beruntung mendapatkan kesempatan terus bersama dengan cinta pertama mereka. Sementara cinta pertama tidak seindah itu bagi Beckham. Cinta Pertama?? Well, Jauh sebelum mengenal Victoria Adams (probably his true love), Beckham muda telah lebih dulu jatuh cinta pada Manchester United. Tumbuh bersama rekan-rekan seangkatan generasi emas tahun 1992, secara perlahan stadion, fans, pelatih, manajer, rekan setim setiap dan bagian lain dari klub besar tersebut mengambil tempat di hatinya. Tapi sebagaimana hukum alam, tak pernah ada kebersamaan yang abadi. Popularitas dan cintanya pada Victoria perlahan membawa konsekuensi terhadap “cinta pertama”-nya, setidaknya begitulah pemikiran sang manajer yang meyakini penurunan performa pemain paling terkenal sejagat itu bersumber dari gaya hidupnya diluar lapangan. Friksi-friksi kecil dalam hubungan cinta antara seorang figur ayah dan anak itu pun terus terjadi. Sampai akhirnya sebuah sepatu yang melayang deras ke dahi sang anak menjadi kulminasi dari perbedaan-perbedaan yang tak lagi menyatukan mereka dan Beckham pun harus mengubur impiannya untuk mengakhiri karir dalam seragam merah kota Manchester yang dicintainya sampai sekarang. Beckham lantas merapat ke Madrid sementara Manchester United “pergi” ke Lisbon untuk mencari sosok bernomor tujuh yang baru. Tapi cinta pertama memang selalu tertinggal dalam memori, dan sudah berulang kali beckham menyatakan kerinduannya pada Manchester United.

Adalah memang wajar untuk membayangkan bisa bertemu kembali dengan sesuatu yang pernah kita cintai dahulu. Saya pun telah lama mendambakan sebuah pertemuan sejak perpisahan pada tahun 1986 itu, namun rupanya hingga sekarang belum ada tanda-tanda kapan saya bisa menjabat kembali tangan Bu Upih. Jadi apa yang didapatkan David Beckham, sebuah perjumpaan dengan “cinta pertamanya” dalam sebuah pertandingan sarat gengsi adalah sebuah kesempatan yang indah dan pastinya takkan dilewatkannya begitu saja. Dan walaupun aktor utama di panggung laga Milan versus Manchester United boleh jadi sudah menjadi milik Rooney dan Pato sementara Beckham mungkin hanya semata memainkan supporting role dalam taktik permainan. Tapi sejarah selalu mencatat, bahwa permainan ini menjadi besar dan indah bukan hanya karena peragaan skill semata, tapi juga takdir emosional yang tak terduga. Dan malam nanti, apapun hasilnya, adalah Beckham yang mungkin paling bahagia setelah tujuh tahun penantian akan sebuah perjumpaan dengan “cinta pertama”.....

Enjoy your nite Becks, i believe you'll be not too downhearted if Manchester United, as expected, turns out to be the WINNER...!!!

Tuesday, February 9, 2010

ARUS

Dulu. Di sebuah acara tanpa rencana, sebuah uluran tangan dan mimik muka bersahabat menjadi pengantar perkenalan mereka. Pria itu, tersenyum geli ketika wanita muda itu menyebutkan namanya. Mirip orang luar negeri kedengarannya, sedikit kontras dengan mata dan lekuk wajah yang lebih mirip dengan orang sunda pikirnya, sebelum akhirnya pria itu tahu sang wanita tidak punya hubungan apapun dengan keduanya.

Kesempatan memang mempertemukan tapi pilihanlah yang akan mengikatkan. Dan keduanya, entah siapa yang memulai, rupanya memutuskan untuk mengikatkan diri pada pilihan yang sama dan tak lagi sekedar merekam wajah masing-masing sebagai pengenal.

Satu demi satu, dalam sederet kesempatan, mereka mulai bertutur tentang perjalanan hidup. Pria itu, teman baikku, kadang berpikir bahwa dia wanita yang aneh. Dari warna dan lirik lagu favorit, juga tidurnya yang tak boleh diganggu cahaya, sampai pembicaraan menguras otak tentang norma kejujuran, manner, atau cita-cita yang kadang terlihat begitu utopis dalam dunia yang semakin materialis. Belum lagi jika sudah menyeret-nyeret persoalan komitmen dua manusia dan tetek bengek hubungan yang logis (menurutnya), bisa panjang urusannya. Sangat berbeda dengan sahabatku yang begitu ringan memandang cinta dan takdir sebagai sesuatu yang mudah dan memudahkan. Mereka banyak menemukan kesamaan tapi juga menemukan lebih banyak perbedaan.

Kemudian teman baikku berkata, "Tapi dalam berbagai warna itu, kami memang banyak tertawa bersama." Terkadang membungkusnya dengan sekotak perhatian sederhana seperti "take care", "buruan tidur kalo capek", "dasar jelek weekk...", or "have a good nite". Kata-kata mudah yang menurut sang wanita sangat menenangkan saat keluar dari bibir mereka yang tak terbiasa melakukannya. Jauh lebih romantis dibandingkan sekotak cokelat atau sederet kata-kata puitis yang melemahkan.

Lantas datang saat dimana mereka merasakan menyebalkannya kebersamaan dan pahitnya ketika melakukan kesalahan. Ketika semakin lama wanita muda itu makin paham dengan keburukan sang pria. Teman baikku itu memang terkadang tampak sebagai sosok yang begitu dingin, acuh pada perasaan yang menurutnya berlebihan, walaupun aku tahu di benaknya dia selalu berusaha keras memikirkan jalan keluar. Ekspresi adalah sesuatu yang premium baginya.

Sementara sahabatku bercerita bahwa akhirnya dia mengerti rahasia-rahasia kecil dibalik sosok yang sesaat dipikirnya hampir sempurna. Ada ruang kosong yang tersembunyi dibalik ketegaran wajah itu, luka yang masih terseret hingga kini. Penantian akan genggaman dari sosok yang tak lagi ada. Begitu dalam hingga suatu saat wanita itu mendaratkan tamparan hebat di wajah sahabatku yang dengan bodoh berusaha menyelesaikannya dengan logika. Lalu butuh waktu tak kurang dari seminggu untuk mereka sekedar bicara lagi setelah kejadian itu.

Wanita itu pergi kemarin. Satu hari sebelum sahabatku menceritakan semua kisah ini di sebuah warung kopi. Kulirik wajah dihadapanku yang kali ini tak bisa menyembunyikan kehilangan itu. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya mendengar sambil menemaninya menghabiskan coklat almond hangat dan berbatang rokok mild yang tergeletak diatas meja. Tak ada yang perlu dibahas waktu itu, karena setiap kehilangan hanya bisa dinikmati sebelum kita memutuskan menjawabnya dengan pencarian, bukan diskusi panjang lebar. Hanya dia yang bisa menyembuhkan kekosongan.

Sekarang, ketika bagian-bagian cerita mulai tersusun rapi dalam buku kecil, kadang aku berpikir, mungkin bagian terakhir itu, pertengkaran dan perbedaan telah "menyempurnakan" apapun yang terjadi diantara mereka berdua. Dan persinggungan mereka dengan kekurangan masing-masing itulah yang justru membuat kehilangan itu terasa begitu panjang. Seperti secangkir coklat hangat yang kehilangan pahitnya, atau arus yang merindukan riak.

Dan cerita pencarian kembali itu pun dimulai... ^^

No matter how much time i've left, i must be blessed to have you in this life

Tuesday, February 2, 2010

Memaknai Sampah Kota

Farhan sedang duduk di depan tembok yang berhadapan langsung dengan Galeria Mal. Awalnya ia hanya duduk saja, membedakan situasi di sekitarnya pada siang hari dan malam hari. Ternyata ada perbedaan realitas di kawasan tersebut pada siang dan malam hari. Di siang hari, kawasan itu adalah arena orang lalu-lalang, warung makanan dan rokok serta tempat nongkrong para pengamen yang mencari rejeki di lampu merah. Sementara di malam hari, kawasan ini berubah total dengan orang-orang yang menyandarkan nasibnya pada dunia totohan/tombokan (taruhan). Lalu di malam hari, ia menjumpai orang-orang yang kalah taruhan dengan segala keluh kesanya di warung-warung makan bertenda. Komunitas malam hari adalah para tukang parkir, tukang becak, dan para petaruh. Hal ini sangat kontras ketika persis di depannya berdiri sebuah gedung mal yang begitu megah dan mewah. Ternyata hanya dibutuhkan jarak 50 meter untuk melihat sebuah kesenjangan sosial dan ekonomi. Dari obrolan dengan orang-orang yang memang mencari penghidupan di sekitar tembok tersebut, akhirnya Farhan, si seniman itu mulai membuat konsep muralnya. Ia mengambil tema membeli mimpi?. Artinya di atas meja perjudian itulah sebuah mimpi sedang dipertaruhkan. Kalau kini kalah, maka harapan akan kemenangan masih bisa diraihnya di hari esok. Lalu Ia gambarkan kartu-kartu ceki dan tulisan-tulisan berbahasa Jawa, “Urip Waton Nggelinding” (Red. Hidup itu mengalir berputar saja).

Demikianlah sepotong cerita tentang mural, yang menarik perhatian saya lagi ketika kapan hari itu sebuah acara talkshow di televisi swasta mengangkat kembali cerita tentang perkembangannya, dengan setting di Yogyakarta, salah satu kota barometer seni dan industry kreatif di Indonesia. Diceritakan bahwa mural yang muncul karena terbatasnya ruang seni telah menjadi interaksi antara pelaku seni dan masyarakat. Digambarkan dalam talkshow tersebut ketika sekelompok anak-anak bersama dengan seorang seniman beramai-ramai menumpahkan cat beragam warna ke sebuah tembok di tepi jalan. Layaknya kanvas, tembok yang oleh Marco Kusumawijaya dituturkan sebagai “sampah” kota itu pun berubah dari sebuah benda polos berwarna abu-abu menjadi penuh warna.

Tapi mural bukan sekadar membentuk tembok-tembok yang tadinya terkesan membatasi menjadi ruang-ruang publik baru di perkotaan, sesuatu yang semakin sulit ditemukan dengan begitu banyaknya demand lahan untuk aktivitas keekonomian. Pesan sosial yang disampaikan dalam mural pun bisa mencapai salah satu tujuan ruang publik sebagaimana dikatakan Habermas, yakni untuk membentuk opini dan kehendak (opinion and will formation) yang mengandung kemungkinan generalisasi, mewakili kepentingan umum.

Singkatnya, mural memberikan makna pada tembok-tembok itu, sebuah lompatan nilai dari sesuatu yang awalnya tak berarti apapun selain “sampah” ruang menjadi sesuatu yang memiliki kehadirannya sendiri. Membuat kondisi urbanitas dapat disalurkan menjadi sebuah kepadatan yang tidak menyesakkan, kedekatan yang tidak mengimpit, kemudahan yang tidak memanjakan dan perhitungan akal yang makin memuliakan rasa.

Lalu muncullah pertanyaan dalam benak saya, jika benar bahwa seni bisa membuat kota menjadi bahagia, maka bisakah konsep seni ruang public seperti ini direplikasi dan bertahan di kota yang tanpa akar seni budaya sekuat Jogja?

Toh adalah Athena yang melahirkan Perikles, Socrates, Plato dan bukan sebaliknya. Mereka lahir karena ruang tempat mereka hidup memberikan kesempatan untuk itu. Maka demikian pula keyakinan saya bahwa apa yang dibutuhkan seni ruang publik, adalah sebuah wadah untuk tumbuh dan bukan semata bakat. Karena bakat tanpa motivasi, leadership, perencanaan dan eksekusi yang “nggenah” pun akan berakhir tanpa prestasi. Layaknya timnas sepakbola kita yang kalah melulu karena salah urus itu.

Atau jangan-jangan bukan masalah bakat, tapi potensi kritik yang bisa muncul lewat seni itulah yang akan menjadi halangan besar (bagi pihak yang anti kena sindir) terhadap keinginan sederhana untuk mengubah beberapa “sampah” kota menjadi lebih bermakna dalam bentuk seni ruang publik di kota kita?


Saturday, January 23, 2010

PURSUIT of FORGIVENESS

1972, sejarah mencatat awal keruntuhan kekuasaan seorang presiden saat dirinya diduga menjadi aktor intelektual pencurian berkas penting, penyadapan, korupsi, dan “pengaturan” pemilihan presiden selanjutnya. Sebuah kejadian memalukan yang akhirnya terkenal dengan istilah “Skandal Watergate”. Dosanya semakin menjadi-jadi karena perang yang dikobarkannya di asia telah merenggut nyawa puluhan ribu tentara dan rakyat sipil.

Dan akhirnya setelah pergulatan panjang selama 2 tahun, pada Agustus 1974, sang presiden pun mengundurkan diri, tanpa sekalipun mengucapkan penyesalan dan permintaan maaf atas segala penyelewengan hukum dan kesalahannya. Keseluruhan teks pidato pengunduran dirinya adalah refleksi dari sebuah pencitraan diri yang dibanggakannya dan dia tetap berpendirian bahwa ia adalah korban dari sebuah konspirasi politik legislatif.

Beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu, dua orang duduk saling berhadapan di depan kamera televisi dalam sebuah interview yang kelak akan dikenang sebagai salah satu yang terpenting sepanjang sejarah. Sang narasumber, mantan presiden Nixon, ingin menjadikan wawancara ini sebagai jalan untuk memperbaiki citra dan meretas kembali jalur menuju kekuasaan. Sementara sang interviewer, David Frost, seorang presenter entertainment, ingin mencapai sesuatu yang tak pernah bisa dilakukan oleh hakim, legislatif, reporter, dan penyidik kasus Watergate sekalipun, yaitu sebuah pengakuan yang keluar dari mulut Nixon sendiri atas segala penyelewengan kekuasaan yang dilakukannya dan ironisnya saat itu telah “dihapuskan” atas nama kesehatan dan kemanusiaan oleh Ford, wakil presiden yang naik menggantikannya. Maka yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan intens kedua aktor yang mempertaruhkan segalanya, sebuah pertarungan hingga akhir batas ego.

Nixon, adalah sebuah perpaduan karakter antara kecerdasan akal yang terbungkus sikap angkuh nan oportunis, ia mampu membuat Frost merasa terintimidasi dan melakukan kesalahan-kesalahan dalam pembicaraannya sendiri, menguasai enam dari delapan jam perbincangan diantara mereka. Begitu tertekannya Frost sehingga ia hampir menyerah di malam terakhir pengejarannya terhadap sebuah kata maaf. Sampai akhirnya ia sadar bahwa mungkin sebelumnya ia terlalu mengandalkan pengejarannya pada pertanyaan yang sekedar berusaha memancing inisiatif tanpa “pemaksaan” bukti yang kuat. Maka malam-malam menjelang sesi terakhir wawancara pun diisinya dengan sebuah kerja keras menemukan fakta yang jauh lebih lengkap dan mentransformasikannya kedalam pertanyaan-pertanyaan yang menguji nurani.

Mengakui kesalahan dan meminta maaf memang tak selalu menjadi perkara mudah. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mengakui bahwa bau menyengat yang mendadak tercium di kantor adalah keluar dari pantat kita, bahkan sebagian lagi malah bangga dengan hal tersebut bukann???. Itu karena kentut bagi mereka tidak termasuk sebagai sebuah nilai yang jika terlanggar akan mencederai persepsi orang tentangnya. Tapi ketika begitu banyak “nilai diri” kita dipertaruhkan, maka disitulah pembuktian sebenarnya tentang mana yang lebih besar dalam diri kita, kepala atau hati?.

Tak usah jauh-jauh mencari contoh dalam sesosok pemimpin, secara jujur saya pun rasanya pernah menyerah kalah pada harga diri saat hati sudah memanggil-manggil untuk secara terbuka meminta maaf akan sebuah kekeliruan yang saya perbuat.
Hingga akhirnya saya terlambat bahkan untuk sekedar mempertahankan tali silaturahmi. Saya dan (mungkin) sebagian dari kita seringkali berusaha keras mencari-cari pembenaran harga diri yang terlalu tinggi atas nama mahzab yang berbeda, cara pandang dan subjektivitas kebenaran. Dan hanya karena “dipaksa” bukti yang memberatkan-lah kita seringkali baru bersedia meng-iya-kan sesuatu yang sebenarnya sudah ada jawabannya dalam hati kecil kita. Sebagian lagi, karena terlalu khawatir akan kehilangan apa yang sebelumnya dimiliki, akhirnya mengingkari bukti itu, rela menanggungnya seumur hidup dan “maling pun teriak maling”. Padahal selamanya “becik bakal kethithik, lan olo mesthi ketoro” dan sejatinya hanya kesepian dan mimpi buruklah teman di sisa hidup mereka.

Nixon, walaupun dipaksa, pada akhirnya memilih untuk mengikuti nuraninya dan menerima kenyataan bahwa segala yang terjadi akan tercatat dalam lembar hitam sejarah, bahwa karir politiknya tamat hari itu, bahwa nama baiknya sudah tercemar dan takkan bisa dikembalikan seperti semula, bahkan dengan permintaan maaf sekalipun. Bagaimanapun, saya yakin dalam benaknya ia rasanya bersyukur bahwa Frost sudah “mengejarnya” sedemikian jauh, menyelamatkan sisi baik yang tersisa darinya, sehingga setidaknya kasusnya bisa menjadi contoh bagi generasi setelahnya. Bahwa mengakui kesalahan dengan segala konsekuensinya, facts that those wrongdoings could be forgiven but wont always be forgotten, and then move on, akan membuat kita terbebas dari cekatan sesak dalam udara yang penuh oksigen.

Di akhir cerita, saat layar televisi saya berubah hitam dan menampilkan deretan casting Frost/Nixon, munculah pikiran konyol ini, “hei, kira-kira Ron Howard mau nggak ya bikin sequelnya berdasarkan “negeri antah berantah” yang punya modal sejarah identik. Dengan judul yang berbeda tentunya, “Tukul/Mr Ex.Leader” mungkin?? hehehe...

Frost/Nixon (2008)
Main Cast: Richard Nixon (Frank Langella), David Frost (Michael Sheen)
Director: Ron Howard


Monday, January 18, 2010

D R A M A

Ketika pagi tadi saya membuka-buka beberapa situs berita online yang mengangkat sebuah drama baru, fatwa haram rebounding dan foto pre wedding, yang dikeluarkan oleh Forum Bahtsul Masail Putri ke-12 di Pondok Pesantren Lirboyo, maka yang saya temukan adalah komentar-komentar yang begitu beragam. Ada yang lucu, ada yang menarik secara materi, ada yang terlihat emosional, dan yang menyedihkan bahkan ada pula yang akhirnya saya nilai berbau sara dan sungguh sayang belum disensor oleh pengelola situs tersebut (semoga segera disensor komen itu). Inilah kenyataan dalam dunia yang bagaikan jaring luas nyaris tanpa penghalang, semua bisa berekspresi walau saya tidak tahu apakah mereka yang mengutuki sebuah fatwa lebih paham tentang ilmu tentang hal tersebut dibanding pihak yang mengeluarkan fatwa. Atau mereka sekedar mendahulukan emosi untuk membentuk asumsi.

Adalah memang lebih mudah bagi orang yang tidak atau katakanlah belum berada dalam lingkaran pengaruh sebuah keputusan untuk berpendapat dengan lebih bijak atau mungkin terlihat abstrak bagi mereka yang mengalaminya. Persis dengan apa yang dilagukan SO7, Mudah saja bagimu/Mudah saja untukmu/Andai saja/Lukamu seperti Lukaku. Dan bagi saya yang tidak pernah (dan tidak berniat) rebounding dan belum punya rencana matang apakah pernikahan saya nanti akan menggunakan jasa pre-wedding atau tidak, maka sejauh ini pendapat saya terhadap fatwa tentang kedua hal ini adalah sebuah berkah dan ujian.

Menjadi berkah, karena hal ini akan memberikan tambahan alasan untuk memikirkan setiap tindakan dengan lebih hati-hati. Tuhan adalah satu-satunya kebenaran dan mencintai orang-orang yang bicara kebenaran. Kita dianugerahi dua telinga dan hanya satu mulut karena kita selayaknya lebih banyak mendengar terlebih dahulu sebelum berbicara. Maka memilih kata-kata yang tidak menyakiti hati orang lain, membuka aib, atau menimbulkan kesia-siaan ketika diposting kedalam status atau catatan dalam fesbuk dan blog adalah lebih bermanfaat bagi saya sekarang ini.

Menjadi ujian, karena hal ini menunjukkan bahwa perubahan-perubahan akan selalu terjadi dan mungkin saja hal itu akan menyentuh sisi kehidupan kita. Benar bahwa jika harus memilih, mungkin dibanding mendahulukan mempopulerkan fatwa haram kedua hal ini, saya lebih mendukung percepatan pengumuman fatwa haram bagi pemakaian hot pants di ruang public, fatwa haram bagi filem horror seks nggak penting, dan fatwa haram bagi acara-acara televisi yang menyebarkan fitnah.

But life is as unpredictable drama as ever, that we just have to accept it.

Bahwa sesuatu yang kita anggap benar, mungkin saja suatu saat akan kita ketahui sebaliknya. Sesuatu yang tadinya terkesan remeh dan bukan menjadi masalah, bisa saja berubah karena keesokan hari muncul fakta baru tentangnya. Dan kita tidak perlu seperti Hiro Nakamura, pergi kembali ke masa lalu hanya untuk menyelamatkan apa yang menurut kita benar dan meluruskan apa yang salah. Meminjam kata-kata Dee, Apapun persepsi kita atas cinta, tak ada salahnya bersiap untuk senantiasa berubah. Jika hidup ini cair maka wadah hanyalah cara kita untuk memahami yang tak terpahami. Jadi ini adalah ujian apakah saya siap menghadapi perubahan itu..

Sukar memang menetapkan neraca dari segala pertimbangan kita: apakah ini urusan salah dan benar, atau sebetulnya cocok dan tak cocok? Jika urusannya yang pertama, selamanya kita terjebak dalam debat kusir karena setiap orang akan merasa yang paling benar. Jika urusannya yang kedua, masalah akan lebih cepat selesai. Kecocokan saya bukan berarti kecocokan Anda, dan sebaliknya. Dan seperti yang kita amati dan alami, lebih sering kita memilih yang pertama agar berputar dalam seri-seri drama yang tak kunjung selesai.

Jadi sekali lagi, terlepas dari segala persepsi saya tentang fatwa prewed, adalah lebih penting dalam benak saya sekarang ini untuk memikirkan bagaimana caranya saya bisa sampe kesana (red.: siap kawin sama dia). Itu dulu, sembari selalu berdoa ihdinasshiraatal mustaqim, sebelum saya memikirkan apa yang perlu dilakukan ketika sudah ada disana, yang semoga juga akan saya dasarkan pada kebenaran yang saya percayai. Toh kalo saya dan dia pada akhirnya memilih untuk melakukan akad nikah terlebih dahulu, lantas baru berfoto untuk dipajang di acara resepsi yang diselenggarakan selanjutnya, maka tidak haram bukan fotonya? Eh tapi secara bahasa itu bukan lagi pre-wedding ya..?? :D

Kebenaran hanya milik DIA, dan kesalahan adalah semata dalam diri saya…

Jazakallaah Khairan Katsira..


[ logo halal sekedar gambar dalam konteks ini, bukan untuk menjustifikasi apakah note saya ini halal atau haram ]

Tuesday, January 5, 2010

Taman Catur

Pemanasan global yang masih saja sulit disepakati penanganannya dalam Konferensi Iklim Dunia beberapa minggu lalu memang tampak semakin nyata membuat cuaca tak karuan di seluruh belahan dunia, termasuk juga di kota kami. Entah harus bukti perubahan iklim apa lagi yang bisa menggerakkan setiap pemimpin negara, terutama mereka yang jadi juara tukang buang emisi karbon untuk lebih peduli daripada sekedar mempermasalahkan pemulihan krisis pasca kekacauan kredit dari sistem ekonomi yang mereka bangga-banggakan itu.

Siang itu suhu udara di kota turun drastis, bulir-bulir salju turun perlahan dari langit, dan daun-daun pepohonan di taman catur yang biasanya segar menghijau itu, kini tampak kusam, beku. Tak pernah kami merasakan musim sedingin ini sebelumnya. Maka beberapa orang pun mulai beranjak pergi, mengemasi barang-barangnya dan menyudahi aktivitas mereka. Tapi tidak dengan apa yang terjadi meja tengah taman itu.

Disana, seorang pria tua duduk di bangku taman dalam balutan jaket wool tebal berwarna gelap. Wajahnya berkerut, beberapa kali dibetulkannya letak kacamata yang dipakainya. Nyata sekali konsentrasinya terpusat pada sebuah papan catur dan bidak-bidak yang tergelar di hadapannya. Sang lawan yang lebih muda darinya, duduk penuh percaya diri di bangku seberang, menanti langkah apa yang akan dilakukan si pria tua.

Sementara aku dan belasan penonton yang berdiri mengitari meja itu pun terlihat antusias menanti siapa yang akan memenangkan “duel” siang itu. Apakah itu sang pria tua yang kami kenal sebagai veteran perang berpangkat jenderal dengan deretan tanda jasa yang memenuhi dadanya? atau justru si pria muda, seorang insinyur yang tengah berada di puncak usia produktifnya dengan beberapa proyek ambisius kota dalam genggamannya.

Sudah dua jam, korban pun telah berjatuhan, tapi duel siang itu tampak baru “setengah” jalan. Sang pria tua punya keunggulan jumlah menteri dan kuda, tapi kehilangan ratunya. Sementara sang insinyur, masih menyimpan ratunya selain memiliki keunggulan jumlah benteng dan prajurit yang tersebar cukup strategis. Bidak-bidak si pria tua itu menguasai berbagai sisi serangan, tapi pertahanan Sisilia yang dimodifikasi oleh sang insinyur sungguh sulit ditembus dan memberikannya keyakinan besar akan hadirnya kemenangan di penghujung siang. Sebuah pertarungan yang alot antara pengalaman melawan gairah. Dan itu selalu menarik bagi kami, sama menariknya seperti halnya pertarungan antar penegak hukum di negeri kami yang menjanjikan intrik dan kejutan sepanjang hari, mengalahkan trik beragam reality show di televisi.

Saking alotnya, beberapa orang penonton bahkan mulai berpikir, sepertinya akan “remis”. Sebuah pemikiran yang logis jika melihat lamanya mereka bertanding. Tapi remis bukan pilihan bagi kedua petarung berkarakter pemenang itu.
Si pria tua sudah terkenal reputasinya, sementara kami pun sudah mendengar tentang keahlian catur insinyur berumur empat puluhan itu meski ia masih tergolong anggota baru dalam komunitas penikmat taman catur. Begitu kami menyebut orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk sekedar bersantai, memancing, bercengkerama dengan keluarga, atau bertarung mempertaruhkan harga diri diatas puluhan meja catur yang tertata rapi di tengah taman ini. Satu dari dua taman terindah yang dibuat pemerintah kota ini.

Pria tua itu, dengan segudang pengalamannya tahu bahwa bidak-bidak miliknya yang tersisa sebenarnya lebih dari cukup untuk memenangkan pertandingan. Sudah berkali-kali ia membuat lawannya takluk walau sebenarnya ia berada dalam situasi terdesak atau kalah jumlah bidak. Bahkan nama besarnya sebagai ahli strategi ulung diantara sesama penikmat ruang terbuka kota itu pun terbangun gara-gara kemampuannya membalikkan situasi.

Aku ingat, dua puluh tahun yang lalu, kemenangan pertamanya diraih hanya dengan sebuah menteri dan seekor kuda, walau memang harus diakui lawannya kala itu hanya seorang pria paruh baya yang lebih menggemari pacuan kuda dibanding bermain catur. Setelah itu berkali-kali ia taklukkan lawannya, entah darimana saja mereka datang, tukang becak, eksekutif muda, sesama kakek, dan bahkan seorang mantan atlit catur terkenal sekalipun ia libas tanpa ampun. Adalah ambisi dan kemampuannya berevolusi menghadapi berbagai tipe lawan yang membuatnya bertahan dan dihormati di taman catur itu hingga kini, sementara teman-teman seusianya mulai meninggalkan papan catur dan memilih memancing atau sekedar bersantai di taman.

Tapi usia sama halnya rasa, tak pernah bisa bohong. Penampilannya segarnya mungkin bisa “mengkhianati usia” yang sudah di akhir enampuluhan, tapi bertambahnya umur tak hanya menumbuhkan keriput, karena umur juga menggerogoti kendali emosi psikologis. Bahkan kulihat sudah tiga kali dia memaki siang itu, menyalahkan orang-orang yang dinilainya terlalu berisik kala menonton, mengganggu konsentrasi hingga akhirnya ia menggerakan bidak yang salah, membuatnya kehilangan ratu dan seekor kudanya. Ia sendiri sadar bahwa ia telah menjadi semakin sensitif akhir-akhir ini. Dan bagi seorang petarung meja catur, itu adalah problem yang jauh lebih serius ketimbang kehilangan ratu atau satu set benteng sekalipun, terlebih dengan beban permasalahan ekonomi yang sedang membelit keluarganya. Sesuatu yang kukhawatirkan akan menjadi celah bagi seorang lawannya yang memahami itu, suatu hari.

Dan sepertinya hari ini sang lawan mulai mencium aroma kegalauan pria tua itu, idolaku, sang legenda taman catur….