Thursday, February 2, 2012

Moneyball, Ketika Hidup Tak Sekedar Memenangkan Persaingan

Pada tahun 2002, seorang General Manajer sebuah institusi dari kota kecil ‘terpaksa’ kehilangan tiga orang 'petugas' terbaiknya karena tawaran yang lebih menggiurkan dari para kompetitor dari kota-kota metropolitan.  Tak terelakkan memang jika melihat bujet institusinya yang hanya seperempatnya.  Sebuah tantangan pelik karena besarnya tuntutan publik akan perbaikan kinerja institusinya yang menjadi simbol kebanggaan lokal.   

Dalam kegalauannya, entah di kantor atau di rumah, tak jarang ia diam.  Pencarian solusinya terkadang berakhir pada cuplik-cuplik rekaman jalan hidup yang telah ia pilih sendiri sejak usia 18 tahun itu.  Cuplik itu ‘menawarkan’ penyesalan akan kegagalan berkelanjutan ketimbang keberhasilan.  Potensi yang dimilikinya  dan membuatnya mengesampingkan pilihan studi di Universitas ternama, ternyata tak berbuah manis.  Belum lagi kegagalan rumah tangga yang akhirnya membatasi interaksinya dengan sang putri.   

Masa muda pria itu, Billy Beane, adalah sebuah contoh afirmasi bahwa potensi pada akhirnya memang sebuah konsep samar-samar. Sebagian menyadarinya. Sebagian tidak. Bahwa potensi akan tergerus bersama waktu, entah berkembang atau menghilang. Bahwa bisa menjadi anugerah, beban, atau keduanya.   

Digadang-gadang sebagai anak muda dengan potensi besar sebagai salah satu pemain baseball paling komplit di generasinya, rupanya tekanan besar tak sanggup ia tanggung dan akhirnya Beane hanya tumbuh sebagai pemain medioker.   Beruntung bahwa ia bukanlah seorang yang pantang menyerah.  Sadar bahwa ia tak lagi mampu berkompetisi, ia meniti jenjang karir baru di bidang yang sama.  Ia terlanjur jatuh cinta pada baseball.  Dan akhirnya setelah beberapa tahun, jadilah ia General Manajer A’s, sebuah klub baseball berbujet kecil, namun juga salah satu institusi kebanggaan Oakland.

Setelah serangkaian kegagalan, tahun 2002 itu ia bertemu dengan seorang pria bernama Bill James.   Pria tambun berkacamata itu tak memiliki latar belakang sebagai pemain baseball.  Ia ‘hanyalah’ seorang sarjana ekonomi yang memiliki teori luar biasa unik tentang model statistik dan baseball (kala itu).  Keunikan cara pandang Bill James-lah akhirnya membuat Beane yakin bahwa ia telah menemukan cara untuk memperpendek jurang kesenjangan antara tim kecil semacam A’s dengan tim raksasa semacam Yankees dan Red Sox. 

Brad pitt memainkan peran sebagai Billy Beane dalam MoneyBall

Berdua, mereka meninggalkan patron tradisional.   Dicerabutnya segala romantisme tentang seleksi pemain berdasarkan pada kecepatan kaki atau otot besar, untuk secara sederhana berpulang menilik mekanika dasar tubuh seseorang.  Sesuatu yang beruntungnya dalam dunia baseball tercatat lengkap dalam statistik setiap pemain.  Sebuah paradigma yang lantas dikenal sebagai Moneyball.

Moneyball terdengar sederhana, tetapi pada saat itu memberikan tim Beane suatu jenis keuntungan yang selalu dicari pebisnis, efisiensi biaya.  Sementara klub lain mengincar pemain glamour, mereka justru mencari pemain gendut, pemain tua atau pemain cedera – tipe-tipe pemain berharga murah namun masih bisa melakukan fungsi yang konon terpenting penting dalam Baseball, yakni mencapai base pertama.  Taktik ini mentransformasi A’s dari sebuah tim papan bawah hingga menjadi kuda hitam liga.  Hingga pada suatu waktu, John W Henry, pemilik Boston Red Sox tertarik dan menyodorkan kontrak GM terbesar kepadanya.

Kelanjutan ceritanya sudah jelas dan lengkap terpublikasi.  Red Sox meraih dua gelar World Series semenjak 2003 dan Billy Beane masih saja berkutat dengan obsesinya untuk memenangkan pertandingan terakhir musim.

Kesuksesan Oakland A’s di musim 2002 membuktikan bahwa sains bisa menjadi jalan alternatif bagi institusi yang tak memiliki anggaran untuk membeli nama besar.  Dan implikasi metode Moneyball bukan hanya terasa di dunia baseball.

John W Henry, sang pemilik Red Sox, semenjak perhatiannya beralih ke sepak bola Inggris, mencoba meletakkan basis perekrutan pemain Liverpool pada teknik yang sama.  Downing, Henderson dan Adam, adalah 3 dari 12 gelandang dengan statistik tertinggi di Liga Primer.  Sementara Gareth Bale dan Luka Modric adalah beberapa transfer yang terjadi di era Damien Comolli, direktur olahraga Spurs waktu itu, yang bersahabat dan masih sepaham dengannya tentang analisis sibermetrik semacam moneyball.

Menilik lebih jauh, Arsene Wenger, the Professor, tidak mengejutkan, adalah salah satu manajer yang paling awal dan sering mengintegrasikan informasi statistik kedalam strateginya.  Pada awal 2000-an ia seringkali mengganti Dennis Bergkamp di atas menit ke-70 karena ia percaya data statistik yang memperlihatkan tren penurunan kecepatan sprint sang striker legendaris itu pada seperempat akhir pertandingan.  

"Jika saya tahu bahwa seorang pemain rata-rata membutuhkan waktu 3,2 detik untuk menerima bola dan lalu mengumpankannya, lalu secara tiba-tiba waktunya bertambah hingga 4.5 detik, maka saya bisa mengatakan padanya, 'Dengar, Anda terlalu banyak memegang bola'. " (Arsene Wenger)

Namun rasanya tak seorang pun di sepak bola Inggris keranjingan dan meletakkan prioritas tertinggi akan penggunaan teknologi dan informasi ilmiah seperti Sam Allardyce (kini melatih West Ham).  Tahun 2001 ia secara langsung menemui Billy Beane dan dibawanya pelajaran dari Amerika itu kedalam delapan tahun era kepelatihannya di Stadion Reebok.   

    Big Sam, Pelatih Penggemar Teknologi

Allardyce lantas membawa tim medioker itu menempati peringkat keenam, kedelapan dan dan ketujuh di Liga Premier. Mereka juga mencapai Final Piala Carling dan berlaga di Eropa.  Dan ia melakukannya dengan merekrut veteran. Youri Djorkaeff, Ivan Campo, Fernando Hierro, dan Jay-Jay Okocha, adalah contoh pemain-pemainnya yang dinilai rendah oleh pasar, namun secara statistik memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan tentu saja berada dalam bujet Bolton kala itu.  Persis seperti apa yang dilakukan Beane di Oakland A’s.

Tapi dengan semua kemiripan aplikasi tersebut, apakah statistik dalam sepakbola telah mampu memberikan dasar utama sebagaimana apa yang bisa disajikan data pemain bisbol?

Jawaban singkat terhadap pertanyaan di bagian atas pembicaraan ini adalah, Tidak..

Tidak sekarang.....

Pertama karena baseball adalah mimpi statistik.   Jumlah data untuk setiap pemain terekam begitu banyak, lengkap dan rapi tersusun.  Seorang General Manager klub Baseball seperti Beane, asisten atau para scout-nya bisa melihat juara potensial dari data yang diposting pemain sejak bermain di perguruan tinggi atau liga bisbol yang lebih rendah.

Dia tidak perlu melakukannya dengan pergi menonton mereka, seperti yang terjadi di masa lalu, namun dengan sekedar menghitung rasio langkah hingga data strikeout, atau angka-angka yang seringkali terpendam, kedalam model-model kalkulasi potensi.

Kedua, dibanding baseball, sepakbola adalah olahraga yang lebih rancu untuk dianalisis, walaupun tidak berarti hal tersebut tidak mungkin dilakukan.  

Di Liga Premier misalnya, pengenalan perangkat lunak pelacak pemain seperti Opta dan Prozone, terdengar seperti lonceng kematian untuk pemain Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne, yang secara statistik dapat diketahui bahwa keterampilan olah bolanya tidak diimbangi dengan etos kerja mereka.  

Sekarang, tersembunyi dalam setiap pertandingan, deretan kamera milik Prozone atau Opta yang disewa setiap klub melacak setiap unsur gerakan pemain, jarak yang ditempuh, bertenaga tinggi berjalan dan posisi defensif.  Jarak tempuh keseluruhan pemain tidak lagi menjadi statistik kunci untuk orang-orang yang mencoba menemukan beberapa persen tambahan peluang antara menang dan menjadi yang kedua.  Melihat data-data tersebut, anda mungkin akan terkejut tentang siapa-siapa saja pemain yang berstatistik tinggi dan sebaliknya kemahalan di liga primer inggris.  Saya mencari data serupa terkait pemain indonesia, namun rupanya tak ada yang ditemukan tertera di mesin pencari...

  
data pemain termahal dan pemain berstatistik terbaik ala prozone (dailymail.co.uk)
   

Baseball adalah permainan yang bagi saya tidak memiliki variasi perubahan strategi sebanyak sepakbola dan karenanya lebih mudah menetapkan cara untuk mencapai tujuan.  Pukul sejauh-jauhnya, atau Lempar secepat dan sesulit mungkin.  Itu saja rasanya.   Statistik sepakbola mungkin saja akan menjadi sangat efektif ketika suatu saat nanti, model analisis permainan telah mencapai level real time analisis dan bukannya pre/post match.  Ketika seorang asisten pelatih bisa membuka pc-tablet nya dan langsung melihat perubahan data pemain di bangku cadangan dari menit ke menit saat pertandingan dimainkan.

Dan lagi, tidak seperti baseball yang relatif ‘olahraga lokal’ amerika, sepakbola adalah permainan paling digemari di seluruh dunia.  Ia melintasi batas geografis yang karenanya lantas menciptakan perbedaan budaya, karakter individu pemain, dan tentu saja kemampuannya beradaptasi dengan gaya permainan di negara lain.  Ada batas-batas budaya yang bisa jadi mereduksi beberapa statistik menonjol seorang pemain impor.

Dukungan pengetahuan psikologis, insting talenta atau pelajaran pengalaman menghadapi situasi-situasi kritis yang tak semuanya terdokumentasi dalam angka akan menjadi luar biasa ketika disandingkan dengan statistik dan sains terapan.  




Beane dan moneyball-nya, dalam aspek kompetitif mungkin saja telah kehilangan keuntungannya sebagai pioneer.  Seperti halnya klub-klub sepakbola kecil yang harus bersaing dengan besarnya dana klub besar yang kini juga dialokasikan untuk pengembangan statistik pemain.   Dalam kacamata kemenangan di lapangan, Beane memang masih saja gagal mencapai gelar tertentu.  Tapi rasanya ia adalah salah satu stereotip persona sebagaimana kriteria quote ini...

“Innovation distinguishes between a leader and a follower.”  (Steve Jobs)

Dan terlepas dari keputusannya terhadap tawaran Red Sox, ia telah membuatnya memenangkan perjuangan lain.  Sebuah romantisme seorang bapak terhadap kerinduan akan suara indah sang putri...  

 After all, Life isn’t always about winning competition, right....??   


*****

Billy Beane, suatu ketika pemuda yang ambisius, 
kini ayah yang memilih anaknya atas uang dan pencapaian pribadi

gambar diambil dari wikipedia.com

No comments:

Post a Comment