Thursday, June 30, 2011

Sanctum

Pada kisaran tahun delapan puluhan, konsep bioskop multi layar belum banyak berkembang, dan The President adalah sebuah bioskop terbesar di Purwokerto. Halamannya luas, terdiri dari beberapa pulau taman dan sebuah jalur paving ditengahnya yang mengarah langsung menuju lobi gedung.

Gedungnya bercat putih-hitam dan dari luar terlihat banyak didominasi kaca hitam besar. Di bagian kanan kiri gedung, temboknya tidaklah tertutup rapat, melainkan memakai desain pilar-pilar beton yang berjajar rapat. Rasanya pilar-pilar tersebut memang dimaksudkan dalam memperlancar sirkulasi udara bagi para pengunjung. Tapi beberapa anak menemukan 'manfaat' lainnya. Dan saya adalah salah satunya...



President Theatre, Dulu....

Hari itu, ayah masih ada di antrian panjang penonton Saur Sepuh ketika saya berkejaran dengan beberapa teman masa kecil yang juga diajak menonton bersama oleh ayah ibu mereka yang bertetangga dengan kami. Lalu saya melihat pilar-pilar itu sebagai sebuah jalan pintas menuju halaman, lepas dari kejaran. Maka masuklah saya di sela-sela pilar tersebut tanpa berpikir panjang. Baru setelah berada di tengah-tengah pilar itu saya sadar, saya terjebak!!

Maka acara nonton itu pun berubah menjadi sedikit kepanikan. Saya setelah beberapa waktu mencoba dan gagal keluar mulai menangis. Pun ibu yang begitu khawatir bahwa jalan satu-satunya mungkin dengan membongkar sebagian pilar gedung itu. Sesuatu yang tentunya akan berimbas pada biaya tinggi bagi keluarga kami yang tidak kaya harta. Beruntung ayah dan beberapa tetangga tetap tenang mencari jalan keluar. Dan setelah mencoba menata sejumlah posisi tubuh anaknya, akhirnya ia berhasil mendorong saya keluar.

Pengalaman terjepit itu rasanya tidak lama, hanya sekitar lima belas menitan, dan saya tidak tahu seberapa banyak pengaruhnya. Yang jelas saya menghadapi masalah dengan ruangan sempit setelahnya, seperti ketika kemarin seorang teman meminta saya mengantarnya pulang melewati sebuah gang seukuran lebar motor.

Toh tidak dalam kesengajaan mengurangi Claustrophobia jika akhir-akhir ini saya banyak menonton film petualangan yang banyak menyuguhkan ketegangan di ruangan sempit seperti 127 Hours, Buried, dan terakhir Sanctum.

Dipasarkan dengan embel-embel James Cameron sebagai executive produser, jelas bahwa ekspektasi pasar terhadap jalan cerita Sanctum tersebut akan tinggi sebagaimana karyanya di Piranha Part II: The Spawning, The Abyss, Titanic dan Avatar.

Tapi berbeda dengan Titanic yang memanggungkan salah satu adegan cinta paling dikenang banyak orang - tidak termasuk saya - atau Avatar yang membawa pesan berat tentang manusia dan lingkungan, Sanctum mencoba menawarkan cerita tentang tensi yang terbangkitkan dalam sesuatu yang seharusnya membawa efek "suci" bagi penikmatnya.

Diluar tempat ibadah sebagai sebuah hal yang pasti, biasanya masing-masing orang memiliki tempat yang "disucikan" untuk menemukan ketenangan atau sekedar berdiam diri menikmati sekeliling. Ada teman saya bilang ia selalu merasa damai ketika berhasil mencapai puncak gunung yang didakinya. Mantan calon istri saya menyukai bau pasir dan bunyi ombak di pantai. Exist bisa jadi memang menemukan suci dalam debu. Sementara saya seringkali menikmati kesendirian di dalam toilet...

Bagi Frank, salah satu tokoh utama Sanctum, tempat suci itu adalah Gua. Begitu "suci" nya sehingga ia akhirnya tak mampu menjadi suami dan ayah yang baik. Hingga akhirnya tibalah sebuah kesempatan memperbaiki hubungan dengan anaknya, Josh. Kesempatan yang hadir ketika Carl, seorang miliuner ambisius memintanya menguak rahasia dibalik Esa'ala, sebuah gua di Papua Nugini yang dalam dialog pengantar diberi tag "mother of all cave". Lucunya, gambar gua yang dipakai di film ini bukanlah Esa'ala, tapi Sótano de las Golondrinas. Sebuah gua di San Luis, Mexico dengan lebar 160-205 kaki dan kedalam 1220 kaki dari permukaan tanah.


Gua yang dijadikan pembuka cerita

Dan yang menarik lagi, Sótano de las Golondrinas hanyalah ada di peringkat 11 soal kedalamannya. Adalah Gua Han Son Doong di Vietnam yang terdalam di dunia, pernah dieksplorasi oleh tim peneliti gua dari Inggris hingga kedalaman 4,5 kilometer sebelum akhirnya tim tersebut harus berhenti karena terhadang banjir di sungai bawah tanah.


Han Son Doong, The Real "Mother Of All Caves"

Kembali ke alur cerita. Setelah penelitian berbulan-bulan, tibalah saat eksplorasi yang dinanti itu. Segalanya berjalan lancar hingga akhirnya sebuah badai siklon terjadi dan Esa'ala pun dibanjiri air dengan tim pimpinan Frank terjebak didalamnya. Lalu dimulailah pertunjukkan tentang batas tegangan kemanusiaan ketika sejumlah manusia diuji pada situasi ekstrem didalam gua.


Ekspedisi Yang 'Menginspirasi' Sanctum

Selanjutnya adalah tentang bagaimana Frank, sang pemimpin ekspedisi yang berpengalaman namun sering ditentang oleh lainnya, termasuk sang anak, Josh yang nampaknya tidak pernah merasakan kehadiran Frank sebagai ayah yang baik. Egoisme dan kerjasama terus berbenturan setiap kali orang-orang yang terjebak itu dihadapkan pada pengambilan keputusan.

Sayang, pengenalan tentang karakter-karakter yang terlibat didalamnya terlalu minim. Lalu muncul pula pertanyaan akan tujuan dari film ini selain suguhan pemandangan manusia yang terjepit diantara batu dan air.

Terlebih jika anda telah menyaksikan 127 Hours. James Franco sungguh berhasil menghadirkan horor yang indah dan mampu berkembang seiring alur ketimbang Sanctum yang ketegangannya lama-lama terlihat seperti repetisi yang sulit ter-eskalasi dengan konflik ayah-anak yang kekurangan sejarah. Seperti masih ada yang mengganjal jika memang Sanctum ingin memenuhi makna yang saya tangkap dalam judul itu, Suci dalam Batu.

Toh sekali lagi positifnya, Sanctum cukup menghibur -jika tidak sesekali mencekam-. Dan tidak salah jika anda yang mengalami Claustrophobia seperti saya menikmati film ini sebagai sebuah terapi ringan... :D

****


Frank dan Josh, Dua Orang Yang Saling Mencari


gambar diambil dari:
banjoemas.co.cc, squidoo.com dan imdb

Tuesday, June 28, 2011

Menjaga Sejarah Untuk Masa Depan

Tersebutlah seorang perempuan yang memiliki seorang kakak laki-laki dengan catatan kriminal yang panjang. Lalu suatu ketika terjadilah pembunuhan brutal seorang wanita di lingkungan mereka. Mudah ditebak, sang kakak yang pemarah segera saja menjadi tersangka utamanya.

Sang adik, begitu yakin bahwa kakaknya, walaupun kasar bukanlah pembunuh. Ia berkeyakinan bahwa kakaknya hanya menjadi korban kegagalan polisi menemukan pembunuh sbenarnya. Namun ia hanya bisa pasrah ketika hukum memutuskan menghukum kakaknya seumur hidup. Dalam kepasrahannya itu ia bertekad untuk belajar banyak tentang hukum. Ia ingin suatu saat bisa membebaskan kakaknya. Setelah melalui berbagai lika-liku akhirnya dia pun berhasil menggapai cita-citanya menjadi pengacara dan lalu dimulailah perjuangan pembebasan itu.

Conviction memang bukan melulu soal apa yang terjadi di dalam ruang sidang layaknya Runaway Jury. Ia lebih banyak menyoroti bagaimana sebuah keputusan hukum yang diyakini keliru telah mempengaruhi kehidupan kakak beradik Waters. Pertentangan batin masing-masing dari mereka nyata banyak diekspos. Sang kakak yang harus menghadapi situasi putus asa, berharap, lalu dikecewakan kembali dengan sistem hukum yang ada. Sementara sang adik, juga harus menghabiskan begitu banyak waktu, mempertaruhkan kehidupan keluarganya yang sebenarnya berjalan harmonis demi membebaskan sang kakak.

Namun ada hal lain yang membuat saya tertarik. Salah satu kunci utama yang menentukan cerita adalah bahwa sang adik yang dimainkan dengan apik oleh Hillary Swank, harus menemukan arsip perkara kakaknya yang telah diputus belasan tahun lalu. Dan ya, walaupun harus mencari diantara tumpukan di kantor polisi, Arsip itu Masih Ada....!!

Memang benar setiap bidang memiliki tenggang waktu pengarsipan yang berbeda sesuai dengan tingkat kepentingannya. Tapi tetap saja, rasanya kita akan setuju bahwa penghargaan kita terhadap arsip tidaklah sebaik apa yang ditemui Betty di kampung kelahirannya. Saya masih ingat betul, ketika menjadi mahasiswa, bahkan mencari dokumen statistik sebuah daerah beberapa tahun lalu saja bukanlah sebuah hal yang mudah. Tak jauh berbeda, di kantor sekarang pun, mencari laporan tiga empat tahun lalu biasanya akan menghabiskan banyak waktu dan tak sering diakhiri dengan kesimpulan "its gone". Lihat pula betapa seringnya kita menghapus total - ctrl x + shredd + format hardisk - sesuatu yang bernama masa lalu seperti "mantan pacar", "kegagalan karir", atau "produk orde baru" hanya karena kita merasa tersakiti karenanya....

Padahal dengan ketidakmampuan manusia menerawang masa depan lewat dupa dan kembang tujuh rupa, keberadaan data series masa lalu sangat berguna untuk melakukan berbagai proyeksi situasi mendatang. Pertumbuhan penduduk, perkembangan kebutuhan lahan perumahan, proyeksi target capaian kinerja dan sebagainya. Bahkan Jose Mourinho dan Andre Villas Boas menggunakan statistik series setiap pemain untuk memprediksi strategi permainan lawan. Catatan masa lalu yang baik tentang kegagalan hidup pun seharusnya membuat kita mudah belajar dan menentukan ketika kembali dihadapkan pada momen pilihan hidup serupa...

Dalam perspektif lebih luas dan dekat dengan lingkungan kita, setiap bangunan bersejarah adalah juga arsip. Sebagian, seperti Kota Tua Jakarta dan Kota Tua Semarang adalah bukti nyata keberhasilan masyarakat Indonesia untuk peduli. Sekarang begitu banyak masyarakat yang bisa berkunjung dan menikmati sudut-sudut kota tua itu yang dahulu muram dan angker. Sebagian lagi, seperti yang setiap hari saya lihat di Jalan Ijen-Malang membuat sekali lagi saya harus berkata setuju jika ada yang menyatakan bahwa masih banyak yang harus kita benahi untuk mewujudkan harapan anak cucu kita bisa menyaksikan heritage itu dengan bangga.

Masih banyak warisan yang kita ratakan hanya untuk membangun satu dua blok apartemen atau butik. Ini bukan karena kita kekurangan orang yang mampu memberikan analisis nilai manfaat. Kita justru punya segudang teori. Biasanya juga bukan pula karena kita kurang memiliki pemahaman akan pentingnya apresiasi untuk preservasi. Muncul banyak undang – undang untuk melindungi kawasan kota tua itu. Salah satu undang – undang yang paling utama adalah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Tapi seperti halnya permasalahan berjubelnya kendaraan bermotor di jalan raya, kita juga hanya miskin kemauan untuk menginisiasi.

Tony Goldwin mungkin hanya ingin menceritakan kembali kisah kakak-beradik Waters. Nyatanya Conviction mengingatkan saya untuk lebih menghargai masa lalu. Setidaknya menjadikan diri kita mampu menyimpannya dengan baik. Karena kadang, yang telah menjadi sejarah tetaplah sesuatu yang akan menentukan masa depan sang pemilik sejarah pun orang-orang disekitarnya...

Bagaimana dengan sejarah anda? Sudah tersimpan baik? :D

Saturday, June 25, 2011

Spatially Right

My best buddy texted me....

He said, after all 'urban network-ish' relationship stories,
i finally brought some spatially credential plan.

A reviewed plan i presume.

Then I laughed a lot...

He's right.And oh how fool i am...

While i crave too hard for our meanings..

You seemed soo sure to believe that i'm an ordinary guy
with time perfectly sat on my side.

Had'nt crossed my mind that in return could just define you, as,
the one that really are Spatially Right..


^^

Wednesday, June 22, 2011

Menakar Batas Untuk Kebenaran

...Untuk sesuatu yang benar, bersediakah anda melampaui batas kepentingan keluarga? Mempertaruhkan pernikahan anda?....

Pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang Valerie Plame itu adalah salah satu sudut pandang yang bisa dipelajari dari Fair Game yang mengangkat kisah dibalik kebohongan terbesar yang dibuat pemerintahan George W Bush tentang alasan invasi ke Irak.

Valerie adalah agen intelijen yang karena kerahasiaannya, mampu menjalani hidup normal sebagai ibu dua orang anak dan istri dari seorang mantan duta besar yang memiliki jasa besar bagi negaranya. Sebagai salah satu agen terbaik ia lantas ditugaskan untuk menyelidiki isu pembelian uranium oleh Iraq dalam jumlah besar dari Nigeria. Dan ia akhirnya merekomendasikan Joe, suaminya, untuk pergi ke sana dan melakukan penyelidikan.

Yang tidak diketahui oleh Valerie adalah bahwa sesungguhnya dibalik semua pencarian itu, sebuah kesimpulan sebenarnya telah tersusun, apapun hasil yang nantinya ditemukan Joseph. Maka puncaknya adalah ketika George W Bush berpidato tentang rencana invasi Irak berdasar tuduhan pemerintahannya tentang senjata pemusnah massal. Joe Wilson, saat itu pula menyadari bahwa pemerintah membohongi dirinya, dan karenanya merasa perlu memberi tahu publik tentang apa yang diketahuinya. Ia pun menulis artikel kontroversial di New York Times yang bertajuk “What I Didn’t Find In Nigeria”.

Pihak Gedung Putih yang kebohongannya terancam terbongkar karena artikel Wilson menyerang balik sang diplomat dengan merilis artikel yang menyebut sang diplomat adalah pembohong. Dan kehidupan Valerie pun sontak berubah ketika didalam artikel tersebut pemerintahan Bush sengaja membocorkan identitasnya sebagai agen intelijen sebagai pengalih isu akan kebohongan politik penguasa.

Terdengar familiar?

Tunggu dulu. Lupakan atau setidaknya singkirkan dulu hasrat dan ketakutan bahwa film ini melulu seperti refleksi apa yang terjadi di negeri ini.

Sebagai sebuah premis politik, yang menarik, adalah bahwa bagian terbaik dari Fair Game akhirnya justru datang ketika film ini memanggungkan visualisasi konflik rumah tangga Joseph dan Valerie.

Bocornya identitas membuat Valerie harus berkali-kali mengganti nomor telponnya karena begitu banyak orang yang ingin menghubunginya dengan beragam maksud. Ia dan suaminya pun harus menghadapi berbagai cercaan kelompok yang menuduhnya sebagai pengkhianat bangsa. Yang terburuk, ia harus menghadapi pertentangan besar dengan suaminya.

Tak tahan dengan kebisuan, Joseph, sang pria yang menjunjung tinggi prinsip hidupnya sangat ingin istrinya berbicara kepada media. Persis seperti yang dilakukannya untuk meluruskan berbagai berita salah tentang mereka berdua. Persis seperti keyakinannya bahwa keteguhan hati adalah yang ia cintai dari istrinya. Sementara sebagai perempuan yang harus membesarkan dua anak kecil, Valerie tak bisa memungkiri keraguan yang menyeruak di benaknya. Ia mencintai keluarganya lebih dari apapun dan sebagai agen intelijen, ia tahu persis apa yang bisa dilakukan orang-orang berkuasa di Gedung Putih. Maka wajarlah kepalanya penuh dengan pertanyaan semampu apakah ia dan suaminya untuk melawan kekuatan besar itu.

Dan ya, tentang drama keDoug Liman, sang sutradara rasanya sangat terbantu oleh akting prima Seann Penn dan Naomi Watts, yang mampu menghadirkan sisi humanis yang kental diantara pergulatan politik tokoh-tokohnya.



Adalah chemistry antara Penn dan Naomi yang nyata membuat kita bisa menikmati Fair Game sebagai pertanyaan mudah tentang seberapa jauh anda berani mempertahankan sesuatu yang benar. Hal yang mungkin seringkali hadir dalam benak ketika harus memilih sejauh mana kita menggenggam idealisme di tengah desakan kepentingan di dunia pekerjaan. Bahwa ditengah memudarnya nilai-nilai karakter bangsa, kita masih bisa melakukan sesuatu di level keluarga. Sesuatu yang membuat kita bisa bereaksi ketika dihadapkan pada persoalan sehari-hari semacam...

"..Apa yang harus kita lakukan jika pimpinan di tempat kerja memerintahkan sesuatu yang salah dan tak adil?.."

"..Sudahkah kita mampu tetap mengantri tiket angkutan umum dengan tertib ketika hari panas menyengat?.."

"...Akankah kita mengajarkan anak-anak kita untuk tak pernah mencontek seperti yang mungkin kita sesali dulu..?"

"...dan Apakah jika mereka yang kuat mampu berteriak lebih keras dari kita, maka itu artinya mereka benar dan kita salah?.."

Monday, June 20, 2011

Mereka yang Menerka Kehidupan Setelah Kematian

"...Aku ingin hidup seribu tahun lagi..."


Saya tahu ada yang lebih dalam dari hal diatas. Tapi kata-kata yang digunakan Chairil Anwar ini secara harfiah seperti bercerita tentang mimpi banyak manusia. Sebagaimana diceritakan Al-Baqarah 96, bahwa (sementara) manusia memang menyimpan keinginan untuk hidup selama itu. Beragam alasannya, tapi umumnya dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian seringkali bukanlah sesuatu yang dianggap menyenangkan oleh manusia.

Manusia menyaksikan bagaimana kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kehadirannya sampai terpenuhi semua keinginan. Minggu lalu, kabar duka tentang seorang sahabat muncul di beranda facebook. Begitu mendadak kabarnya sehingga saya nyaris tak percaya. Rasanya baru kemarin dia menepuk pundak saya dari belakang lalu kami berbincang di sebuah taman hiburan....

Tak ada kabar sedikitpun tentang kesehatannya yang rupanya memburuk tak lama setelah pertemuan terakhir kami sehingga pasca berita duka, yang tersisa hanyalah doa dan sebersit keingintahuan yang dipicu kematian. Tentang penyakit jarang yang dideritanya. Tentang bagaimana sungguh dekatnya kematian dengan kehidupan yang sudah hampir tiga dekade saya jalani. Dan tentang beberapa ayat Al-Quran yang menceritakan apa akan saya hadapi ketika nanti setelah mati dan menunggu hari perhitungan.

Dan kebetulan saya memutar sebuah koleksi film yang ceritanya nggak jauh-jauh juga dari kematian...

The Lovely Bones....

Ketika membaca novel karangan Alice Sebold, Peter Jackson, pria New Zealand yang menelurkan mahakarya bernama Trilogi Lord Of The Ring mengaku ia sampai menangis. Tapi yang menarik ia akhirnya memilih menyadurnya dan menggambarkan kematian Susie, sang tokoh utama dalam The Lovely Bones, dalam nuansa yang berbeda. Masih tegang memang sebagai sebuah adegan bergenre thriller, namun miskin darah, bahkan tak ada visualisasi perkosaan yang mengawalinya dan pembunuhan itu.

The Lovely Bones akhirnya menjadi seperti surealisasi kehidupan pasca kematian yang 'diceritakan' indah. Peter Jackson dengan kegilaannya pada CGI berulang kali memperlihatkan bahwa situasi dimana ketika hati Susie gembira menyaksikan apa yang terjadi di keluarganya, maka penggambaran yang terlihat tentang sebuah dunia setelah kematian adalah seorang anak yang berlarian di padang hijau dengan langit cerah berwarna, dan berbagai ornamen bahagia nan menarik. Sebaliknya suasana bisa sontak berubah kelam dan susie seringkali terkepung ranting-ranting yang mengering atau hujan deras ketika amarah dan ketakutan mewarnai hatinya.



Dunia pasca-kematian di The Lovely Bones adalah tempat yang unik. Penghuninya yang notabene Arwah Gentayangan-nya Sussie, digambarkan masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang hidup dengan cara tertentu. Catat sebuah quotenya yang bagi saya lucu..

"....I was slipping away, that's what it felt like, life was leaving me, but I wasn't afraid; then I remembered: "There was something I was meant to do; somewhere I was meant to be...."

Disini kehidupan setelah kematian dimaknakan bahwa orang mati sebenarnya masih tinggal bersama kita, melihat apa yang kita lakukan seperti menonton televisi (meskipun runyam juga membayangkan orang-orang mati menonton kita sepanjang hari dan tidak bosan, wong kita saja kadang bosan dengan hidup kita sendiri). Bahkan ia bisa mengirimkan petunjuk dalam bentuk firasat-firasat yang bisa dirasakan orang-orang dekat yang diinginkannya. Dengan lembut, The Lovely Bones menampilkan argumen bahwa kematian bukanlah akhir melainkan hanya menjadi batas dua dunia berbeda penanda. Ia sama sekali tak bicara ganjaran seperti yang yang dilampiaskan dalam ceramah-ceramah agama semit.




Tentu saja lucu, karena sineas-sineas barat memang senang sekali memenuhi hasrat diri dan (pada dasarnya) manusia memang memiliki keingintahuan tentang sesuatu yang diluar nalar seperti kehidupan setelah kematian. Banyak yang menjadikan sesuatu yang niscaya ini sebagai misteri. Nyaris sama seperti pencarian kehidupan di luar angkasa, kemungkinan perjalanan antar waktu dan kematian itu sendiri. Memvisualisasikannya dalam berbagai nada, entah drama, komedi, horror, bahkan romantisme. Namun kadang, obsesi melampaui nalar membuat manusia lupa untuk mengacu pada apa yang telah diceritakan oleh Tuhan tentang kematian pada umatnya.

Sementara tentang alur cerita, rasanya bagi yang belum membaca novelnya tentunya sependapat bahwa film ini sangat menarik untuk dibahas sebagai sebuah drama-thriller. Namun visualisasi yang unik tersebut nampaknya akan membuat para penggemar novel aslinya berkerut dan kecewa. Mereka akan kesulitan menentukan apakah harus menghadapi film ini sebagai sebuah pelajaran yang mencerahkan kematian atau justru menghilangkan drama tragis yang menjadikannya sebuah buku laris.

Saya..??

Walaupun sedikit aneh, buat saya setidaknya seperti inilah seharusnya jika ada yang benar-benar merasa perlu menceritakan tentang arwah gentayangan. Tidak harus dengan efek hebat, tapi setidaknya memberi oleh-oleh pulang dari bioskop yang lebih bermanfaat ketimbang pengetahuan tentang macam-macam setan nusantara dan beberapa bentuk payudara indah yang diperlihatkan setengah-setengah.... :D

*****

"....Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup...." (Socrates)

Sunday, June 19, 2011

Salvation

Some birds aren't meant to be caged

Their feathers are just too bright

And when they fly away

The part of you,

that knows it was a sin to lock them up

does rejoice.

But still...

The place you live in,

is that much more drab and empty

that they're gone...


#Ellis Boy Redding

seperti tentangmu
aku bisa memutar cerita ini
lagi dan lagi setiap malam sejak hari itu
dan masih akan terasa sama

Sunday, June 12, 2011

Chitra, Ibu, dan Keluarga

Waktu SD dulu, Ibu saya selalu menyiapkan teh (kurang) manis di pagi hari, lalu memasukkan bekal dalam boks plastik warna biru ke dalam tas sekolah. Sepulang sekolah, ia selalu memaksa saya tidur siang dan melarang saya bermain dengan anak-anak lain sebelum sore. Baru setelah shalat asar saya diperbolehkannya berlarian atau bermain layang-layang di pematang sawah dekat rumah. Begitu terus seringkali sehingga dulu saya sesekali memprotesnya, terutama karena jam bermain saya yang terbatas.

Tapi itulah ibu saya. Ibu menyayangi saya dengan caranya. Perhatiannya mungkin membuat saya sesekali menjadi bahan olokan karena tidak banyak mahasiswa yang mendapat telepon setiap hari. Perhatiannya membuat ia selalu memberikan nasehat panjang di akhir setiap pembicaraan kami. Nasehat yang sama setiap waktu. Hampir sama persis kata-katanya sehingga saya hapal betul. Kadang terburu-buru kuliah atau bekerja, saya memotong nasihatnya sebelum selesai. Ibu sendiri pernah bercerita, ketika sesekali membaca nada bicara saya yang kadang tidak terlalu semangat ketika sampai pada urusan tradisi menasehati, ia menyadari sedang tinggal di persimpangan dua zaman. Seperti terperangkap di antara masa lalu dan sekarang, tradisi dan pengalaman baru. "..Tapi memang begitulah adanya ibu..", tuturnya...

Bagi saya, dari sejumlah cerita dalam "Kesalahan-Kesalahan yang Tidak 'Diketahui' Dalam Hidup Kita", ingatan itulah yang akhirnya melekat paling personal. Chitra menceritakan nilai-nilai keluarga dalam dunia yang seringkali menuntut kita bekerja dan bekerja. Bahwa ada hal-hal yang lebih krusial sebenarnya ketimbang pencapaian diri atau ketakutan terhadap kegagalan kita mencapainya. Bahwa seringkali kita tidak menyadarinya sampai akhirnya kita rindu dan terluka, lalu hanya bisa memandangi album nostalgia. Chitra, seperti sedang bertutur langsung, tentang betapa berharganya nasehat ibu yang selalu sama itu, bukan cuma bagi saya, tapi juga bagi ibu....






Siami, Kita dan Nurani

Beberapa hari lalu saya menuliskan sebuah status di fesbuk, "..memaafkan, mengakui kesalahan, mengiyakan, berkata tidak, memulai perubahan, dan menjaga lisan. Banyak hal yang sebenarnya mudah diwujudkan, tapi kita memperumitnya dengan beragam alasan...".

Saya menuliskannya setelah mengalami satu hari atau katakanlah serangkaian peristiwa di kantor yang membuat saya tidak habis pikir dengan 'keengganan' kita untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang walaupun tidak sepele, tapi secara kasat mata kita tahu jalan keluarnya.

Saya lalu menuduh alasan sebagai biang keladi yang memperumit penyelesaian permasalahan. Persis seperti pepatah jawa, "..sak ombo-ombone segoro, sik luwih ombo alesan.." (red: seluas luasnya lautan, masih lebih luas alasan). Sembari terdiam, saya lalu berusaha mencari pembenaran bahwa dengan sekedar tidak ikut campur itu cukup.

Sehari setelahnya saya jadi teringat tentang sesuatu yang ada dibalik banyak alasan. Freud mendefinisikannya sebagai "...Such mechanisms put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may re-emerge...". Kita biasa menyebutnya mekanisme pertahanan diri. Mekanisme yang karena kekhawatiran akan beban kesalahan lalu atau keraguan pada masa depan, seringkali membuat kita menyerahkan kekuasaan diri pada ego pribadi, ketika seharusnya kita berhenti 'menolak' kesalahan yang sudah terjadi. Sesuatu yang terlintas ketika membaca sebuah berita tentang mahalnya kejujuran di negeri ini.

Cuplikan satu paragraf berita itu saya tuliskan disini...

"...Teriakan “Usir, usir…tak punya hati nurani” terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. (surya.co.id)..."


Sekilas membaca berita itu dan banyak dari kita akan berpikir bahwa Nyonya Siami, sang penjahit, istri seorang buruh pasti telah melakukan sebuah kesalahan diluar hati nurani sehingga tuntutan hukuman moral berat dari warga harus diterimanya. Tapi ia bukanlah pezina, pencuri atau penipu.

Nyonya Siami dianggap 'berdosa' karena ia adalah individu, minoritas yang bersuara tentang sebuah ketidakadilan, ketidakjujuran yang telah terlebur dalam kehidupan sosial mayoritas disekitarnya sebagai sebuah hal yang wajar. Ia hanya ingin menolak pendidikan yang dimenangkan dengan contekan. Sama remehnya dengan antrian, urusan salip-salipan motor di jalan, dan buang plastik es teh di taman bukan?

Dan saya serasa tertampar...

Mengingat-ingat sejarah contek-contekan dalam masa sekolah saya dulu, saya mungkin adalah salah satu orang yang tidak layak dan naif jika menuliskan 'pembelaan' bagi sang minoritas. Maka saya menuliskan ini tanpa bermaksud memposisikan Nyonya Siami sebagai sosok sempurna hanya dengan kegigihannya tentang perkara remeh bernama contekan itu, lalu menganggap masyarakat tak punya nurani. Saya yakin kita semua masih punya itu. Hal-hal yang membuat hati kita sebenarnya bergetar dan mengakui bahwa sesuatu yang bathil itu memang bathil, dan yang haq itu memang haq.

Tuhan melahirkan manusia dalam fitrah yang sama. Tapi manusia adalah makhluk yang akhirnya ditentukan oleh segumpal daging didalam tubuhnya. Segumpal daging yang diberi makan lewat pengalaman hidup. Makanan itulah yang kemudian membuat kita berbeda dalam kebiasaan. Lalu hadirlah sejumlah tindakan yang berlawanan. Seperti ketika sebagian dari kita menganggap contekan itu adalah cara yang tepat untuk menghadapi kebijakan cacat bernama Ujian Nasional. Sementara sebagian lagi menganggap hal-hal sekecil perkara antrian adalah kunci mengembalikan karakter bangsa.

Bangsa ini memang tidak dibangun dengan Bushido. Tapi karakter bangsa ini juga seharusnya tinggi. Mana mungkin membuang sampah sembarangan adalah warisan leluhur kita? Mana mungkin berpangku tangan melihat orang kesusahan adalah ciri Indonesia? Mana mungkin kejujuran bukan bagian dari kehidupan di nusantara? Mana mungkin mencari jalan pintas menjadi identitas?

Nyonya Siami dan potret situasi di Balai RW Gadel adalah gambaran bagaimana individu-indivudu dalam masyarakat beradaptasi terhadap situasi mati surinya perangkat hukum yang seharusnya menjadi jawaban akan carut marut korupsi, inefisiensi pemerintahan dan lunturnya kepribadian.

Masyarakat melegitimasi contekan sebagai jalan keluar tekanan harus lulus ujian yang formatnya terus dipertanyakan. Masyarakat pun tak berhenti membeli kendaraan pribadi sebagai cara mereka beradaptasi terhadap sistem transportasi yang macet lagii.. macet lagi. Mereka harus bertahan menghadapi kehidupan dan akan secara beragam memberikan perlawanan ketika kesepakatan cara bertahan oleh mayoritas itu diusik oleh cara pertahanan diri yang berbeda seperti Nyonya Siami.

"..Wong (ing) kang sholeh kumpulono..", lihatlah betapa indahnya salah satu bait Tombo Ati tentang apa yang sebenarnya harus diwarisi bangsa ini. Bahwa kita adalah bangsa yang mengakui pentingnya sosok-sosok yang bisa di-gugu dan di-tiru disaat kita dihadapkan pada situasi seperti ini. Tapi dimanakah beliau-beliau yang kita rindu itu?

Entahlah, rasanya mereka masih ada, tapi kita yang mungkin telah terlalu lama tenggelam ditelan kebijakan pencitraan, sinetron dan kubangan informasi yang tak bermutu.

Ketika kita tak menemukan guru sebagai pegangan. Ketika kita lalu berusaha mencari jawaban sendiri dan akhirnya menemukan pembenaran untuk mempertahankan diri. Walau kita tahu kita tergetar, ketika pembelaan diri itu dikembalikan pada jawaban nurani....

Thursday, June 9, 2011

Memilih Cara

Kemarin adalah hari saya memproklamirkan "Choosing Way". Buku ini adalah tentang berbagai pertanyaan tentang dunia pekerjaan yang kadang membuat saya tidak habis pikir. Saya memang masih muda, masih ingin belajar banyak hal. Maka menjadi lucu ketika banyak hal terlalu cepat dianggap tabu kala ditemukan oleh seorang staf seperti saya. Sebagian diantaranya memicu respons yang berlebihan ketika dipertanyakan. Sesuatu yang absurd bagi saya yang sekedar ingin memahami, murni tanpa pretensi. Tapi ya sudahlah, mungkin sekarang semua yang belum saya mengerti ini adalah tantangan yang harus terlebih dulu dituliskan sebagai jawaban, bukan diajukan sebagai pertanyaan. Buku ini, ya katakanlah representasi saya memilih cara...



"...Ini buku saya, usianya dua hari, sudah lima poin yang saya tuliskan didalamnya. Menjadi pemimpin itu sungguh tidak mudah..."

Friday, June 3, 2011

Mudik, as Always

Pagi ini saya mendapat berita duka tentang ibunda seorang teman. Teman yang buat saya istimewa. Dalam setahunan kedekatan persahabatan kami, tak sekalipun rasanya saya melihat dia kesulitan mengeluarkan senyum. Bahkan dalam situasi terjepit keperluan pribadi pun ia selalu terlihat ceria dan sulit menolak permintaan tolong dari kawannya, termasuk saya.

Saya tidak mengenal ibunya selain tentang penyakit yang dideritanya cukup lama hingga 'kepulangannya' hari ini. Tapi saya yakin orang yang telah melahirkan dan mendidik anak sebaik teman saya itu pastilah ibu yang istimewa pula.

Maka saya lalu membalas pesan pendek berita duka itu dengan doa. Lalu kadang ada situasi dimana kalimat '..innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...' itu tidak semudah mengetiknya dan setelah tombol send tertekan, saya terdiam...

Saya sedang mudik dua hari. Tapi ketimbang mericuhkan perkara lain yang mencegah saya untuk tinggal di rumah lebih lama dalam long wiken kali ini, apa yang terjadi pagi ini membuat saya mencermati kembali tentang esensi mudik....

Bagian terbaik dari mudik adalah mencium tangan orang tua, yang ekspresi excited-nya selalu maksimal, tak terpengaruh oleh panjang pendeknya skala waktu kepergian kita. Dan saya sungguh bersyukur masih bisa merasakan suasana itu kemarin pagi. Bagian tentang bisa mencecap lagi kenikmatan soto terenak sedunia, gorengan tempe paling maknyus, dan manisnya gudeg jogja pada akhirnya hanyalah bonus.
..

Sementara bagian terburuknya adalah ketika dalam malam hujan deras, mereka melambaikan tangan ke kita yang kembali tersekat jendela kereta. Tangan yang baru kemarin mengusap kepala anaknya, sesaat lalu semakin samar sebelum akhirnya hilang tertinggal dibelakang ular besi yang kembali berlari.
Saya tahu mereka sebenarnya belum rela ritual mudik empat bulanan itu berakhir begitu cepat, begitu pula saya yang harus kembali merantau.

Merantau memang panggilan lelaki. Tapi untuk pulang pada mereka yang menjadi definisi terbaik tentang kata sayang, adalah juga sebuah kewajiban.

Kita, adalah anak-anak yang kadang memperumitnya dengan rasa malu pada pertanyaan kesuksesan di perantauan atau ledekan tentang kehidupan percintaan. Sementara ibu dan ayah hanya ingin melihat tangan kita, para perantau yang tak cukup waktu untuk bertemu disetiap pagimu.

Maka pulanglah teman, lakukanlah sesering sempatmu mereguk rizki Tuhan yang menetes dari tangan mereka, karena tak semua seberuntung kita, tak selamanya pula kita bisa....


sayur tempe buatan ibu, makanan nomer satu di dunia