Wednesday, December 28, 2011

MELANCHOLIA

Akhir tahun sedang menjelang.  Pertokoan besar dan kecil berlomba merebut hati pelanggan yang datang. 20%, 50%, 50+20, "Beli 1 Dapat 2", atau 70%.  Label-label 'menggiurkan' itu melekat erat di setiap rak dagangan, layaknya seorang gadis yang menggoda kekasih pujaan. 

Di kasir, deretan pembeli, kebanyakan perempuan berpenampilan kelas menengah, menggenggam nota-nota pembelian yang membahagiakan.  Sebagian mulai resah, dalam situasi riuh seperti ini, antrian dan kesabaran memang dua kutub yang sulit disatukan.

Ya, sore itu saya menemani istri mencari beberapa keperluan rumah tangga.  Sedikit rizki lebih yang kami peroleh, akhirnya kami belikan pula beberapa potong pakaian dan beberapa keping DVD untuk menghabiskan malam hari.

Melancholia adalah salah satu judul keping DVD yang kami beli.  Lars Von Trier sebenarnya bukan sosok sutradara yang 100% meyakinkan.  Karyanya seperti The Antrichist mengundang kerut banyak orang.  Tapi saya tertarik membeli karena ingin melihat akting Kirsten Dunst yang dihargai aktris terbaik di Cannes karena perannya sebagai Justine film ini.

Justine adalah kakak dari Claire, seorang wanita yang sukses secara finansial dan menjalani rumah tangga yang terlihat bahagia dengan seorang Astronom dan anak lelaki mereka.  Sebaliknya, Justine adalah seorang perempuan yang mengalami depresi.  Tersiksa dengan keadaan Justine, Claire dan suaminya pun merancang sebuah pesta pernikahan untuk kakaknya.  Mereka pikir pernikahan akan membawakan Justine sebuah hidup yang lebih normal.

Dilatari dengan sebuah pemandangan tak normal sebuah bintang biru terang di langit, pernikahan itu pun terjadi.  Tapi seperti halnya sang bintang yang kehadirannya menyimpan misteri, pernikahan yang dipaksakan itu pun lebih mirip tragedi ketimbang selebrasi.


Mungkin Lars Von Trier ingin mengkritik dunia barat yang terlihat hipokrit akhir-akhir ini seperti halnya pesta pernikahan yang berusaha mengubur luapan kepedihan.  Atau Melancholia memang menyimpan misi untuk kita menjadi lebih awas akan hal-hal yang lebih luas ketimbang isi rak pakaian seukuran 1,5 x 2 meter yang berjajar didalam pertokoan. 

Ya, sementara kita sibuk merencana selebrasi pergantian angka di tanggalan, di bagian dunia lain, dua kutub kekuatan politik dunia yang terlihat adem ayem rupanya juga sedang menguji kesabaran masing-masing. 

Amerika Serikat dan Israel terus menerus mencari celah untuk 'menghalalkan' rencana mereka menyerang Iran.  Cuma Iran, penghalang mereka dari kekayaan timur tengah yang mereka pikir sanggup  untuk memberikan jawaban atas hutang ratusan triliun dollar sang polisi dunia.

Sama seperti Irak, tidak ada senjata pemusnah masal milik Iran.  Secara militer, kedua negara itu tak punya apa-apa untuk melawan hulu ledak nuklir Amerika dan Israel, meriam EMP (Elektro Magnetik Pulse), bahkan rencana perang biologis keji Amerika dengan menyebarkan mutasi kelima virus Avian Influensa ke udara Iran. 

Jika benar temuan Ron Fouchier, ahli virologi belanda, tentang pengembangan virus ini, maka ini berarti dunia barat sekali lagi ingin mengulangi tragedi Flu Spanyol yang disebarkan di akhir perang dunia I dan membunuh sekitar 50-100 juta orang, 3-6% populasi kala itu.

Terusik dengan perilaku Amerika Serikat dan sekutunya yang makin liar, Russia dan China belakangan telah menginstruksikan pasukan militernya untuk bersiaga penuh.  Kasus penembakan duta besar Rusia untuk Syria yang diduga didalangi oleh CIA dan M16 menambah runyam situasi.

Mirip dengan cerita agen rahasia di film bukan? Hanya saja berkebalikan dengan propaganda Holywood, sang protagonis mungkin saja mereka yang ada di sisi lain dari sang tokoh utama.

Ada banyak versi tentang bagaimana dunia akan berakhir.  Serangan makhluk luar angkasa berteknologi tinggi yang butuh sistem pendukung kehidupan baru bagi planet mereka yang mati.  Merebaknya virus yang membuat semua orang terinfeksi dan menjadi zombie.  Juga tumbukan bumi dengan meteor sebagaimana diyakini telah membuat dinosaurus punah dan divisualkan oleh banyak sineas asing.  Armageddon, Deep Impact, The Happening, Knowing, dan terakhir adalah Melancholia.     

Tapi jika kita mau melirik kenyataan yang lebih rasional, adalah kita dan tindak tanduk kita yang lebih mengkhawatirkan ketimbang faktor-faktor eksternal itu.  Polusi yang kita timbun akan mematikan kehidupan pelan-pelan.  Toh, keserakahan finansial yang potensial ujungnya akan memicu perang nuklir akhir zaman, tampak lebih nyata bukan? 

Dalam islam, salah satu riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda menjelang kiamat adalah terlalu menjamurnya pertokoan dan perniagaan.
Dan lucunya, apa yang berusaha ditutup-tutupi Amerika saat ini sudah lama diramal oleh Thomas Jefferson, pendiri mereka sendiri, yang kata-kata ramalannya dua ratus tahun lalu kini terasa lebih hebat ketimbang bualan Nostradamus... 

"..I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies.  If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around will deprieve the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered.."

Ya, begitu banyak yang sudah merasakan krisis finansial.  Bukti kegagalan ekonomi liberal yang tanpa sadar menjajah kebebasan hidup kita lewat beragam contoh, bahkan yang sesederhana kartu kredit dan diskon. 

Pada akhirnya kiamat, bagaimanapun versi yang anda percayai, pada akhirnya adalah tentang memperbaiki diri di setiap sisa hari hidup.  Dan beruntungya, tak seperti Claire dan Justine yang harus menata diri menghadapi kenyataan yang tak diinginkan, kita tak pernah akan tahu kapan itu terjadi.  Kecuali bagi anda yang percaya kalender Maya 2012, maka sebaiknya bergegaslah menunaikan apa yang perlu ditunaikan.  Waktu anda tak sampai 3 jam lagi akan berakhir....

Selamat Tahun Baru, Live Positively... 







Thursday, December 22, 2011

Kesantunan

Hampir pukul delapan. Seorang pekerja berbaju necis tergesa melarikan mobilnya. Waktu adalah uang baginya, sementara hak pengguna jalan lain bukan urusannya. Di pinggir jalan, seorang tukang becak, memanggil-manggil seorang pengendara motor yang gelisah mencari tambal ban. Lalu diantarnya sang pemuda ke tambal ban terdekat. Kesantunan, (lucunya) makin tak ada hubungan dengan pendidikan. Apalagi kendaraan...

Wednesday, December 21, 2011

Ghost Protocol

Walaupun belum lama ini Rusia merilis rencana pengembangan rudal balistik baru -oleh NATO diberi nama sandi rudal "Satan" (setan). R-36M2- yang mampu membawa hingga 10 hulu ledak nuklir dengan jarak jelajah maksimum 11.000 kilometer, namun tetap saja, memunculkan teori krisis nuklir antara Rusia dan Amerika sejatinya terasa sedikit 'over-imaginated'.   

Kuba sudah tak penting lagi, Vietnam sudah memilih jalannya sendiri, Tembok Berlin sudah runtuh, Soviet sudah tercerai.  Rambo, Chuck Norris dan rekan-rekannya tak punya lahan lagi di masa kini.  Masa ketika Amerika Serikat (dan Israel bangsat!) itu sudah menciptakan 'musuh' baru dalam wujud Saddam, Osama dan Ahmadinejad.

Tapi mungkin seperti kata John F. Kennedy, “A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on. Ideas have endurance without death.”   Maka ide tentang krisis nuklir kini berani kembali diangkat Bird dalam sekuel agen rahasia amerika milik Tom Cruise.  Beruntungnya, kue krisis nuklir ini berhasil dibalut dengan bumbu drama yang jauh lebih baik ketimbang tiga sekuel pendahulunya.


Mission Impossible adalah sebuah produk atau katakanlah obsesi Tom Cruise untuk 'menjawab' James Bond milik Ian Flemming.   Dan sampai sekuel ketiganya lalu, memang masih sulit untuk mengatakan bahwa MI lebih baik ketimbang James Bond.  Lalu kehadiran trilogi Jason Bourne yang terasa begitu kelam dan tajam semakin menghimpit lakon Ethan Hunt, sang agen rahasia dengan gadget dan kemampuan yang 'almost impossible' itu.


Dan untuk sebuah film yang empat sekuelnya kini terentang dalam usia 16 tahun semenjak edisi perdananya, muncul tanda tanya baru yang dimunculkan di scene-scene awal Ghost Protocol.

Adalah sebuah kewajaran ketika kita memiliki ekspektasi akan sebuah kontinuitas cerita dalam film yang membawa embel-embel sekuel.   Dan ketika J.J Abrams menyisakan rasa penasaran tentang 'Rabbit Foot' di akhir Mission Impossible III, maka menjadi logis jika penonton akan mengernyitkan wajah kala mengikuti alur awal di Ghost Protocol.

Ya,pasca MI-III pertanyaan terbesar yang awalnya ingin saya temukan jawabannya adalah bagaimana akhirnya Ethan menjalani fase kehidupan rumah tangga setelah rahasianya sebagai agen IMF dibuka terus terang pada sang istri.  Apakah mereka bisa hidup normal layaknya keluarga superhero dalam Incredibles, atau mereka harus menghilangkan diri agar tidak berakhir seperti kisah cinta Jason Bourne dan istrinya.


Namun rupanya sekuel keempat Mission Impossible ini samasekali tak memberikan tanda-tanda akan keberlanjutan cerita sebelumnya.  Termasuk tanda tanya besar tentang hilangnya penceritaan tentang istri Ethan Hunt.


Maka jelas sebagai kompensasinya, Ethan butuh lebih dari sekadar BMW i8, aksi lompat di gedung tinggi dengan sarung tangan ala spiderman, dan cerita (sedikit usang) tentang potensi konflik nuklir antara Blok Barat-(Eks) Timur.   Beruntungnya, Cruise kali ini memilih sosok yang tidak keliru.

Mobil Ethan Hunt di Ghost Protocol (ganbar diambil dari www.bmw-i.com)

Ghost Protocol boleh jadi film aksi pertama karya Brad Bird yang lebih terkenal sebagai sosok dibalik film animasi istimewa macam Ratatouille dan Incredibles , toh nyatanya pria itu sanggup memadukan sebuah aksi nyata manusia yang terus menerus memacu adrenalin dengan jalinan cerita yang membuat penontonnya sering bertanya-tanya.   Dan sebagai bonus, sisipan lelucon terasa pas diantara para tokohnya dengan sejumlah dialog yang mampu sedikit mencairkan wajah kaku Cruise.

Catat salah satu dialog sindiran berbau politis yang disisipkan Bird dalam adegan pembicaraan Ethan dengan seorang pedagang senjata gelap.   Sang pedagang yang kala itu diminta membantu gerak agen rahasia paling hebat milik amerika itu lantas bertutur sedikit menolak pada Ethan, "For your country, a potential terrorist, is a terrorist".   Sedikit saja, namun jelas mengindikasikan kenyataan yang disadari dunia tentang kelakukan Amerika Serikat dan sekali lagi, Israel bangsat itu...

diambil dari filmcritic.com

Jadi, jika dulu saya dan teman saya masih sering beradu argumen tentang kualitas tiga sekuel MI terdahulu, maka seharusnya kehadiran Ghost Protocol bisa membuat kami tak terlalu sulit menentukan mana sekuel terbaik diantara keempatnya, sejauh ini.  Dan personally, saya suka sekali gadget contact lens yang punya kemampuan photo, transfer data dan rekognisi wajah itu... :D







Thursday, December 8, 2011

K O S T

Dulu hidup kost rasanya begitu dekat sebagai salah satu esensi perjuangan para perantau.   Kamar kost ukuran 2 x 3 meter yang dengan mudah akan terasa penuh ketika kita masukkan kedalamnya sebuah kasur, lemari berhias 'catatan sejarah' penghuni sebelum kita, sebuah meja kayu kecil, dan bidang kecil tempat sajadah tergelar seakan menjadi representasi sahih perjuangan penghuninya membagi-bagi anggaran bulanan dan kebutuhan hidup perkuliahan.   


Sore tadi, memandangi deretan hunian mahasiswa masa kini di sekitaran sebuah kampus negeri, saya merasa takjub,  Alih-alih 'dihiasi' jejeran celana dalam dan kaos kutang seperti jaman saya kuliah dulu, atap-atap hunian bergaya minimalis dan gothic itu kini makin dipenuhi payung-payung televisi berbayar.   

Saya bisa mengerti, kenyamanan memang berkorelasi dengan banyak hal, mungkin diantaranya kenikmatan belajar,  Pun halnya dunia yang memang sudah berubah begitu jauh sehingga argumentasi tentang tinggi rendahnya perjuangan memang tak bisa dinilai hanya dari 'inflasi' persyaratan fasilitas kost-kost an yang dicari seorang mahasiswa.  

Toh saya sore tadi sempat membagi kegundahan pada istri, tentang seberapa banyak sebenarnya rasa 'nyaman' yang kita perlu belanjakan untuk berhasil keluar dari kampus sebagai alumni yang nantinya, meminjam istilah populer masa kini, "sesuatuuu banget...". 

Lalu setelahnya saya berkata kembali pada istri...

"...besok, aku tak ingin melihat anak kita menderita, walau itu bukan berarti ia tak perlu berjuang untuk sekedar uang kost sekalipun..."

Friday, December 2, 2011

The Other Side

Mendengar beragam berita buruk di televisi, koran, atau bahkan menyaksikan nyata di depan mata.  Rasanya kita akan mudah bertanya, bagaimana bisa kita melewatinya, sepuluh dua puluh tahun nantinya ketika uang semakin meraja dan kebutuhan-kebutuhan sekunder-tersier terus mendesak pengakuan sebagai bagian primer hidup manusia seperti kita.  

Tapi lalu suatu saat kita bisa melihat sisi lain tentang dunia.   Semisal tiga orang yang setiap malam tidur berkeliling lantai pedestrian kota, begitu mudahnya memutuskan membagi jatah sebungkus nasi campur sederhana mereka menjadi empat.  Ya, tiga bagian untuk mereka, satu bagian untuk kucing yang menatap kelaparan  didekat mereka.   

Ketika suguhan pemandangan mereka yang masih berbagi dikala kekurangan itu masih ada, bagaimana bisa kita menyerah begitu saja melawan nafsu dunia...? 








*untuk tiga orang gelandangan di depan pasar blimbing, malang*

Saturday, November 26, 2011

Ah Sudahlah

Katamu bisa bilang semua definisi tentang cinta...

Kataku....

Ah, sudahlah...

Kembalilah dan ceritakan saja padaku setelah kau menikah nanti..






Saturday, November 19, 2011

Breaking Dawn, Bukti Sahih Tuhan Maha Adil

Usia pernikahan saya belum genap satu bulan.  Perlahan saya mengerti bahwa ada jauh lebih banyak hal yang akan kita 'nikmati' ketimbang bayangan indah bercinta semata.  Perbedaan yang mulai tak malu-malu menampakkan diri.  Pun attitude demand yang mendorong masing-masing penyumbang saham dalam pernikahan itu untuk beradaptasi.  Ya, pernikahan merubah banyak hal karena kami sama-sama tidak sempurna.  Maka saya, tanpa pengalaman menjadi suami, mencoba memulainya dengan menjadi lebih communicatively decisive.  Laki-laki pada akhirnya adalah imam, pemimpin, pelindung...


Maka menjadi lucu sebenarnya ketika hari kedua puluh pernikahan kami 'rayakan' dengan menonton sebuah film adaptasi novel laris yang ternyata memberi banyak pelajaran hal identik.  Akan ada banyak orang, perempuan muda kebanyakan, yang menganggap film ini adalah tentang menikmati sajian fisik aktor-aktor yang bermain didalamnya.  Sementara bagi kebanyakan pria, membaca novelnya saja sudah cukup untuk menjadi skeptikal terhadap film ini.  Saya salah satunya....

Stephanie Meyer sebenarnya memberikan cukup banyak ruang untuk menjadikan film adaptasi ini mengambil porsi fantasi yang lebih galak.  Tapi rupanya sang sutradara memilih untuk menyerahkan lebih dari dua puluh menit pertama hanya untuk memvisualkan romantisme Edward Cullen dan Bella Swan, sepasang pengantin baru.  Mulai dari detil persiapan pernikahan hingga liputan live bulan madu mereka di sebuah pulau terpencil di Brazil.

Detilnya luar biasa (membosankan maksudnya), sampai-sampai saya berpikiran bahwa jangan-jangan sang sutradara dulunya adalah seorang wedding organizer atau kemungkinan lain, a lonely person dreaming of a great wedding,  Tidak sering saya membaca blog via HP ketika sedang ada di dalam bioskop, tapi itulah yang terjadi kemarin.  I'm bored and my wife thought so.

Tapi untunglah, adegan preparasi dan selebrasi itu lalu bergeser pada cerita bulan madu yang lama-lama membuat saya sedikit terhibur.  Bukan karena tubuh telanjang pasangan vampir dan manusia itu, tapi lebih pada rasa syukur bahwa saya tidak sebodoh Edward.  Dia adalah seorang laki-laki yang digambarkan hampir sempurna, kecuali fakta bahwa dia adalah pria bodoh.   Edward seharusnya menjadi lebih laki-laki ketimbang mematung diam dan ketakukan kala seorang perempuan, istri sah-nya, setengah telanjang, harus sampai memohon-mohon untuk sebuah hak, nafkah batin yang dibutuhkannya....

Ketika cerita kemudian bergeser ke situasi kehamilan Bella, saya justru tak lagi berfokus pada alur scene pembangun eskalasi ketegangan setelahnya.  Rentetan cerita yang melibatkan Edward, Bella dan Jacob, tiga orang yang berperan sebagai suami, istri dan mantan gebetan nan 'mbulet', akhirnya meyakinkan bahwa langkah saya, untuk memulai pernikahan dengan menjadi lebih communicatively decisive terasa benar.  Edward, si vampir (hampir) sempurna itu rupanya bukan cuma bodoh, tapi juga tervisualisasikan lemah.  Tak ada cerita seorang suami yang tegas dan bertanggung jawab, hanya berdiri, membiarkan mantan gebetan istrinya memeluk istrinya yang kesakitan dalam hamilnya.  Di hadapannya pula.  Sempat saya berpikir, ah mungkin ini efek kurang pengalamannya edward menghadapi situasi pasca menjomblo 100 tahun, walaupun akhirnya saya kembali pada kesimpulan awal.  He's so lame....

Sementara di sisi lain, pada scene yang sama, saya menyadari bahwa karakter Jacob, bagi saya adalah visualisasi laki-laki bodoh.  Dia adalah laki-laki yang tak lagi memiliki kesempatan bersama orang yang dicintainya, tapi masih saja, melakukan begitu banyak hal dan setengah berharap bahwa pernikahan orang yang dicintainya tak berhasil.   Entahlah, bagi saya, seeorang serigala jadi-jadian seharusnya lebih bijak dan cerdas ketimbang apa yang dipertontonkan.  Mungkin akan ada banyak yang membela, begitulah cinta.  Bagi saya, cinta sekalipun, membutuhkan porsi logika yang cukup.

Maka dalam situasi sedikit menertawakan Bella yang 'terpaksa' harus memilih antara seorang vampir lemah dan seorang serigala bodoh, saya pun bersyukur dan semakin yakin, tidak ada manusia yang sempurna.  Tidak Jacob, apalagi Edward.  Dan ya, TUHAN ITU MAHA ADIL....

Maka pikiran skeptis perlahan saya buang.  Karena toh dalam cerita yang tidak terpikirkan seperti Breaking Dawn  - yang kemungkinan besar terpengaruh oleh konsep penyajian dua bagian ala edisi pungkasan Harry Potter, sehingga dilabeli Part 1 -, walaupun memang akhirnya tidak keluar dari khitahnya sebagai film fantasi perempuan, toh tetap ada beberapa lelucon dan pelajaran yang pantas disimak, khususnya untuk para lelaki yang 'wajib' menemani perempuannya menghabiskan waktu di bioskop. .

Tentang menetapkan batas-batas dan beradaptasi dengan tanggung jawab baru akan ikatan janji dihadapan Tuhan yang telah kami ucapkan.  Tentang menjadi laki-laki yang decisive dan istri yang supportive.  Tentang mengendalikan cinta dunia dengan logika agar kami tak melebihi kewajiban mencintai Dzat yang memang seharusnya mendapat prioritas pertama.

Atau sederhananya, pelajaran tentang Breaking Dawn, khususnya karakter utama Edward, Bella dan Jacob, naga-naganya bisa dirangkum dalam tag...

"DONT TRY THOSE AT HOME" ....:p




   


Saturday, October 22, 2011

[ 17 ]

"...Where Have I Been, All Your Life*..." 

*tulisan yang melekat di kaos seorang gadis pengamen kecil di perempatan arjosari, malang




[sabtu, 22 Oktober 2011, 17.30 wib ]

Tuesday, October 18, 2011

Mungkin Nanti...

Hidup saya menyenangkan sekali akhir-akhir ini.  Bukan, bukan karena semua agenda berjalan sesuai rencana.   Sebagian diantaranya malah jelas-jelas gagal terlaksana.  Tapi lebih karena saya sibuk sekali.  Berpikir cepat dalam kejaran jadwal demi jadwal nan padat.  Merasakan tidur yang terasa lebih berharga diantaranya, dibanding hari-hari biasa.  Menikmati bahagianya bisa menyempatkan seperempat jam sebelum magrib untuk mencuci sendiri kendaraan pribadi.  Dan betapa beruntungnya Tuhan membangunkan saya hampir tiap dini hari akhir-akhir ini...

Hidup saya rasanya lebih bermakna... 

Sayang, sepertinya si mama benar...
saya gagal menemukan waktu untuk menulis hari-hari indah itu,
membagi kebahagiaan dan keluhnya dengan dengan anda...

Mungkin nanti, sebentar lagi...





Friday, October 7, 2011

Suddenly Feeling Insecure

Kalo misalnya maling pulsa itu meninggalkan format "..ngaku-ngaku keluarga, ketik ini itu, ato hadiah tertentu..", lalu beralih ke metode yang lebih sederhana semacam "..mas/mba, apa kabar? masih inget sama saya nggak.." Rasanya akan banyak orang yang tertarik mengetik "..Sopo iki?, kenal dimana ya?.." And then, wow, how dangerous it'll be?

Tuesday, October 4, 2011

THE PROPOSAL (1)

Baik dan buruk.  Kadang, repetisi pengalaman buruk masa lalu yang masif itu mengendap menjadi memori, untuk tanpa sadar kita menyusun definisi.   Laki-laki itu begini.  Perempuan itu begitu.  Kita semua memilikinya.  Tak hanya kamu.  Tak hanya aku.  Dan karenanya sungguh tak pantas aku menggugat apapun tentangnya, siapapun karenanya... 

Lihat bahwa aku menemuimu dalam diriku yang kau lihat sekarang.  Kamu ingat bukan, sejak awal pun, aku tidak banyak menjanjikan untuk membelikanmu pakaian setiap bulan, karena itu akan terasa berat bagiku.  Pun mengajakmu memuaskan hasrat mencicipi ragam rasa penganan, tak akan mungkin terjadi setiap hari.  Belum lagi rumah indah.  Setidaknya sekarang, entah nanti....  

Lebih buruk lagi dari soal materi, aku juga dingin (mungkin), Not too good looking? jelas.  Posesif?  Mungkin aku memang sudah terlalu banyak kehilangan...  

"...Lalu apa hak-ku menilai diri lebih baik darimu?.."


Pertanyaan itu yang terus terngiang di kepalaku pada pagi setelah malam panjang kita itu.  Pagi itu menyesal.  Menyesal bahwa aku harus menunggu sampai pagi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu dan segala tentangmu adalah sama.  

Tak ada yang berhak menilai dirinya lebih baik, tidak aku, tidak kamu, tidak siapapun di dunia.  Dan karena itu pula aku meyakinkan diri untuk menyodorkan proposal ini.

Aku sudah mengenal perempuan yang (dianggap) sempurna, pun dia yang menafikan semua definisi kesempurnaan.  Denganmu, aku merasa, aku percaya bisa kita saling memberi untuk membuat masing-masing dari kita lebih baik...

Pada akhirnya memenuhi kriteria pria sempurna, a prince charming, jelas tidak akan ada dalam proposal ini.  Menjadi lebih bersih diri dan wangi? itu aku bisa.  Menguras keringatku untuk mencoba menafkahimu dan anak-anak kita? itu pun tak usah kau ragu.  Mengurangi dengkur di tidurku? akan kucoba.  Menjadi tak terlalu posesif? yakinlah bahwa, kita selalu bisa bersama menetapkan batas-batasnya...

Menjadi lelaki yang lebih baik, lelaki yang berbeda dari semua lelaki yang kau kenal sebelumnya, itu saja yang aku bisa janjikan.... 

"...Selain tentunya menjadi lucu, hangat dan mempesona seperti biasanya..."

With all my kind and my bad, this is who i am,

equal, as i accept you for what you are...


And the sole purpose of this proposal is you..


as a friend, as a lover, as the mother of our childs...


So, Would you put your trust on me...?


Saturday, October 1, 2011

Son, This is Probably How I Met Your Mother


There's a thing about stupid decision, the one that doesn't make sense at all, We all make them. We all carry baggages, fully loaded with mistakes we should stop comparing.  And you couldn't give up your dream just because of it.  Cause our relationship with time is funny, sometimes even a little magical. It can take that stupid decision into something else entirely. Sometimes even turns out into our best... 

Friday, September 30, 2011

SEDJARAH

Nilai rapor saya dulu berwarna-warni.  Pernah ada yang merah.  Ajaibnya lagi saya tidak menyangka bahwa nilai sempurna juga boleh diberikan Guru untuk Murid.  Sampai sekarang pun saya selalu berpikir bahwa nilai 9 sudah terlalu tinggi dan angka 10 hanya untuk Tuhan rasanya.  

Tapi jika melihat perbandingan penguasaan materi Sejarah, rasanya mata pelajaran itu memang layak memperoleh nilai lebih tinggi ketimbang dengan ilmu lain yang diajarkan pada waktu itu.  Saya suka sekali sejarah, sampai-sampai guru menyarankan saya untuk merubah cita-cita Arsitek menjadi Arkeolog.  Sayang, tapi waktu itu saya tidak pandai menakar seberapa makmur saya dalam profesi pencari jejak masa lalu.  Saya oportunis sekali waktu itu... :D

Dan kecintaan pada pelajaran sejarah secara langsung membawa saya pada keharusan menguasai Bahasa Daerah.  Lalu mengingat-ingat masa kelas 2 dan 3 SMP di masa sekarang membuat saya sadar, tulisan Jawa yang sering kita sebut Hanacaraka, yang dulu saya kuasai penuh, sekarang menuliskannya lengkap pun saya buta.  Saya lupa pada sesuatu yang pernah saya cintai.  I became too goddamn english.  Ini memalukan....  

Saya mau belajar lagi 'membacanya'....!!



Thursday, September 29, 2011

Iridescent



 ....We tend to try really hard to turn the table on every wrongdoings, every problems in life.  Even sometimes try to fix it all at once.  And suddenly the chicken got burned.   Perhaps we became too proud to our fighting-self and couldn't understand there are times when all we need to do is just let it go...

****

When you were standing in the wake of devastation
when you were waiting on the edge of the unknown
with the cataclysm raining down,
insides crying save me now
you were there and possibly alone.

Do you feel cold and lost in desperation
you build up hope, but failure's all you've known
remember all the sadness and frustration
and let it go, let it go.

And in the burst of light that blinded every angel
as if the sky had blown the heavens into stars
you felt the gravity of temper grace falling into empty space
no one there to catch you in their arms

Do you feel cold and lost in desperation
you build up hope, but failure's all you've known
remember all the sadness and frustration
and let it go, let it go.

Wednesday, September 28, 2011

What You Give, You Get Back

atas nama tanggung jawab kolektif, aku mempercayakanmu tentang detil. maka menjadi mengecewakan ketika kita telah sejauh ini, dan akhirnya harus kembali, menakar ulang tentang detilmu. Dan tak kusangkal, aku kini meragukanmu lebih dari sekedar detil.  Pada detik yang tak jauh berbeda, aku juga mengerti bahwa ada bagian masa laluku yang membawamu dan segalanya tentangmu.  Karena sekali lagi aku tak menyangkal, kita pernah berada pada posisi yang sama dalam waktu yang berbeda.  Respon kita setelah kesalahan itu yang akan menyelamatkan masa depan kita....

Tuesday, September 20, 2011

M I N I

Ada banyak hal yang akan selalu kita pandang berbeda dalam hidup.  Kita manusia biasa yang hidup dalam relativitas.  Para ulama masih tidak bisa menyatukan Hisab dan Rukyat.  Para pejabat sering ragu memilih antara meningkatkan PAD atau memenuhi tanggungjawab RTH.   Kita hampir setiap hari merasa terusik dengan sesuatu yang menjadikan kita obyek, sementara kita gampang terlena ketika menjadi subyek.  Terlalu banyak, hingga kita terkadang sulit memilih mana beda yang harus kita samakan persepsi dan mana yang seyogyanya kita jadikan sebagai warna yang kaya.

Adam tertipu 'khuldi', lalu Qabil membunuh Habil juga karena hasratnya terhadap kecantikan Iqlima, sang adik kembarnya.   Perkosaan hampir sama tuanya dengan pembunuhan, keduanya berakar dari dorongan yang sama, nafsu.   Sebuah kenyataan yang karenanya tidak akan terselesaikan dengan melarang perempuan mengenakan rok mini di tempat umum.  Saya pun termasuk salah satu yang meyakini hal tersebut.   Laki-laki yang kadung memiliki masalah mengendalikan nafsu bisa jadi takkan memandang pakaian apapun yang dikenakan perempuan, entah terbuka atau tertutup sekalipun.  Bahkan di Arab Saudi pun perkosaan – termasuk pelecehan seksual terhadap TKW – marak terjadi.    Perempuan tetaplah korban dalam hal ini.

Tapi keyakinan saya ini bukan didasari pada persetujuan saya pada keberadaan rok mini.   Rok mini, semenarik apapun tampilan yang didasarkan pada perkembangan mode, bagi saya (pribadi) tetap tidak bisa mengalahkan keindahan makhluk yang terbungkus rapi dan lebih tertutup.   Buat saya ini lebih pada persoalan menemukan solusi yang tak setengah-setengah.  Dan adalah penting untuk kita senantiasa terbuka terhadapnya,  sekaligus menghindari pernyataan-pernyataan yang tidak memberikan ruang untuk berlangsungnya proses komunikasi dua arah. 

Bagi saya semata mengemukakan usul melarang perempuan mengenakan rok mini tanpa memberikan solusi lain memang wajar jika akhirnya memicu tendensi gender atau faktor diferensial lain dalam lingkungan yang terlanjur plural ini.   Komentar Neng Dara, Komisioner Komnas Perempuan nyata mengungkapkan fakta apa yang ada di pemikiran banyak perempuan .modern.

."Orang terbiasa memakai blazer dan rok pendek, apalagi di kota besar yang heterogen seperti Jakarta. Melarang menggunakan rok pendek menyelewengkan kebiasaan yang sudah menjadi kelaziman. Setiap orang berhak memakai pakaian selama dalam batas kesopanan. Rok mini bukan menjadi alasan atas terjadinya pemerkosaan. Karena tindak kejahatan terjadi bukan karena rok mini, tetapi karena iklim dan mindset."

forumkompas

Jika benar apa yang saya baca, maka Neng Dara pun tidak menjelaskan apakah rok mini termasuk batas kesopanan karena ia banyak menggunakan kata rok pendek yang tentu saja berbeda dengan rok mini.  Lagipula apa itu batas kesopanan? lakukan saja survey dan hasilnya pasti akan memunculkan minimal tiga prosentase pilihan responden yang sama sumirnya dengan pertanyaaan yang diajukan.. 

Saya pikir hal ini menjadi besar karena sang pencetus pun berstatus pemimpin Lain soal misalnya kalau saya yang berbicara, rasa-rasanya maksimal teman debat saya hanya 628 orang.  Iya, cuma segitu teman fesbuk saya yang potensial meluangkan waktu membaca tulisan ini.  Yang kedua, tentu saja karena pemimpin itu berkelamin laki-laki.  Laki-laki dalam strata apapun memang seringkali terjebak dalam ide logis simpel.  Yang karenanya 'memancing' respons sensitif yang secara naluriah memang lebih banyak dimiliki perempuan.   Saya lalu membandingkan situasi ini -maaf jika terlalu jauh- dengan ketidaknyamanan serupa ketika Harry Potter terakhir dan Transformer 3 terancam tak tayang di Indonesia, rasanya semua gender mengeluhkan hal serupa.

Saya yakin ada solusi kreatif lain yang akan secara signifikan mereduksi perkosaan, semacam: menyeleksi benar tayangan televisi, merevitalisasi peran keluarga dalam pendidikan seks, meng-endorse perempuan untuk menambah pengetahuan tentang pertahanan diri dan memberikan ancaman hukuman “kreatif” yang berefek jera seperti memandulkan/mengebiri para pelaku perkosaan juga patut dimunculkan.  Jika disepakati bahwa perilaku kita, entah itu pria atau wanita, terlahir karena kelaziman, maka tentunya merubah sebuah kelaziman pun adalah sebuah pilihan yang tak bisa dikesampingkan..  

Pada akhirnya, tentu saja, saya masih laki-laki dan tak pernah menjadi perempuan atau memiliki kemampuan mengetahui apa yang ada di dalam benak perempuan.  Maka jika opini ini di mata sahabat-sahabat perempuan akhirnya memang akan tetap terdengar seperti seorang lelaki, mungkin memang begitulah adanya.    Toh saya yakin penuh, saya menulis ini mencintai dan menghormati mereka sebagai makhluk paling indah, interestingly complicated, dan tentu saja paling kuat yang pernah diciptakan Tuhan.   Tapi bahkan seorang makhluk terkuat sekalipun perlu melindungi diri dan mendapat perlindungan.  Menghindari rok mini bagi saya adalah sebuah anjuran, pilihan yang baik untuk mereduksi kejahatan yang terbangkitkan kesempatan.  Tapi ada banyak hal lain yang harus pula ditindaklanjuti….

Untuk perempuan Indonesia…  

Saturday, September 17, 2011

Everything Must Go



Mata lelahnya menatap kosong ke kaca depan.  Antrian panjang sore ini terasa seperti tamparan ringan saja baginya.   Kaleng Budweiser yang tinggal setengah ada di genggamannya.  Baginya, isi kaleng itulah yang sekarang ini paling bisa menemaninya mengingat pahitnya pemecatan mendadak oleh direksi kantor pemasaran tempat ia enambelas tahun terakhir ini mengais rejeki.  Dan tentang isi kaleng itu pula yang mengikis habis kesabaran mereka yang mempekerjakannya.  Ia tak peduli, sama seperti ketidakpeduliannya akan kemacetan yang menjebaknya itu.  Ia telah terlalu lama berteman dengan sang kaleng....  

Kemacetan pun menyerah dan akhirnya melepaskannya pergi....

Ford Taurus itu kembali ia kemudikan pelan, sampai akhirnya mobil pinjaman kantor itu diparkirnya di depan rumah.  Lalu, setengah tak percaya ia menatap pemandangan baru di halaman rumahnya.  Begitu banyak barang berserakan di halaman, semuanya barang-barang pribadinya.  Dalam pikirannya yang setengah mabuk, ia masih bisa mencerna, harinya baru saja bertambah buruk.

Dengan gontai ia berjalan menuju pintu rumah.  Sepucuk surat di daun pintu mengafirmasi apa yang sudah diperkirakannya.  Dan sepucuk surat itu saja yang ditinggalkan sang istri.  Kunci rumah telah diganti, demikian pula sandi pintu samping rumah.  Ia tertolak di rumahnya sendiri.

Ia akhirnya berjalan kembali ke halaman, menemui benda-benda yang dikenalnya dan dipahaminya betul sebagai bagian sejarah hidupnya.    Diraihnya sebuah bola baseball yang penuh tandatangan pemain tim favoritnya, lalu dipandanginya setumpuk Piringan Hitam milik sang ayah sebelum ia melangkah menuju kursi malasnya.  Tiga benda itu adalah hal-hal yang paling menarik perhatiannya.   Benda-benda yang sedikit banyak telah dan nantinya akan menentukan kehidupannya. 


Menyerah dengan apa yang dihadapinya hari ini, dihempaskannya tubuh lelah itu ke kursi malas kesayangannya.  Kaleng budweiser baru diletakkannya dekat.  Tak ingin rasanya ia jauh sedetikpun dari benda yang dipikirnya memainkan peran sebagi sahabat terbaiknya.  Ia pun terlelap begitu saja bersamanya, berharap esok akan membangunkannya dari hal-hal yang dipikirnya sekedar mimpi buruk ini...

Harapannya tidak terwujud.  Semprotan air dari kran otomatis di taman rumah  membangunkannya di hari berikutnya.  Ia masih di halaman, jobless, dan tak lama kemudian mendapati telepon dan kartu kreditnya telah diblokir oleh sang istri.   Hal yang berbeda adalah bahwa hari itu ia dipertemukan dengan dua orang baru.  Pertama, seorang tetangga baru, perempuan yang tengah hamil muda dan baru saja pindah dari sebuah kota metropolitan.  Yang kedua, adalah seorang anak kulit hitam tambun yang ingin sekali bisa bermain baseball.  Dua orang itulah yang rupanya akan terlibat banyak dalam hidupnya tiga hari ke depan. 


Ya, tiga hari kedepan itu saja yang dimilikinya untuk 'menyelesaikan' masalah ia dan barang-barangnya yang berserakan.  Hukum di kotanya memang menilai ketidak mampuan mengelola barang pribadi sebagai sebuah gangguan ketertiban umum.    Sebuah puncak kekacauan hidup yang menghampirinya, semenjak tujuh tahun lalu ia menerima sang kaleng sebagai pasangannya.


Walaupun bukan berasal dari keluarga santri, ayah dan ibu berhasil mendidik saya untuk menjauhkan diri dari setetespun minuman yang tidak hanya akan membuat Shalat seorang muslim tidak diterima hingga 40 hari setelahnya, namun juga mendorong banyak cerita tersesatnya orang-orang dalam hidup.  Lingkaran pertemanan saya pun tidak cukup jauh menjangkau hingga dunia mereka yang menderita karena salah mempercayakan hidupnya pada gelas-gelas berisi air bening atau merah.   Maka bisa dikatakan bahwa saya sejauh ini tidak pernah memiliki cukup pengalaman personal terhadap situasi ketergantungan alkohol seperti apa yang dialami Nick Halsey itu. 

Tapi pelajaran yang saya bawa dari Nick Halsey akhirnya menuntun saya pada refleksi yang lebih luas.  Refleksi yang seperti biasa, sebagian diantaranya terpikirkan di kamar mandi.  Bahwa banyak hal yang sama memabukkannya di dunia selain khammr.   Saya telah melihat bagaimana game online mempengaruhi hidup teman saya, konsumsi rokok yang berlebihan membuat sejumlah orang yang saya kenal mengalami kesulitan finansial, dan riuh rendah media sosial seringkali menjebak saya dan banyak kawan untuk berdiam terlalu lama didalamnya. Saya masih sering lupa aplikasi bahwa sesungguhnya manusia akan berada dalam aktivitas merugikan kecuali mereka yang memahami pesan-pesan kebenaran dan bersabar didalamnya..

Tentang Nick, ia pada akhirnya ia masih beruntung.... 

"....Even lost is tend to be a good place to find ourself.... "

Pertemuannya dengan kedua orang baru dalam hidupnya adalah katalis yang membuatnya mengingat masa-masa kecilnya yang bahagia.  Kecerian bersama kedua orang tuanya yang bisa dipandanginya lagi lewat sebuah proyektor tua yang ia temukan diantara tumpukan barang di halaman rumahnya.  Ia juga beruntung, ia hidup sebagai seorang lelaki bermasalah namun sejatinya tidak kehilangan modal kebaikan dalam dirinya.  Kebaikan yang terlihat nyata dari bagaimana ia mengerti makna setiap barang yang dipunyainya.  Ia menghargai benar setiap sejarah pencapaiannya.  Dan ketika tiba saatnya, barang-barang itu rupanya akan memberikan imbal balik yang tak ternilai baginya.   ..

Saya jadi ingat bahwa kadang saya terlalu malas mencuci motor, membersihkan rumah ~ kontrakan tentu saja :D ~, dan merawat benda-benda lain yang bisa saya dapatkan baik dari keringat sendiri ataupun pemberian orang lain.   Hal-hal yang seringkali baru saya sadari ketika benda-benda itu rusak ketika dibutuhkan, atau bahkan lepas karena mungkin Tuhan tidak lagi menganggap saya sebagai yang paling laik untuk memilikinya...

Memang benar pepatah, don't get too attached to things, tapi selama hal-hal titipan itu ada di kamar, di badan atau di rumah, maka sudah seharusnya saya memperlakukannya lebih baik. 

Because when Everything Must Go, It might save my life someday...   


   

*****

Wednesday, September 14, 2011

Traffic

Sabtu malam lalu, sebuah acara halal bihalal dan safari pengajian sebuah ormas/jamaah berlangsung begitu meriah.  Berlokasi di jalan arteri Surabaya-Malang yang masuk wilayah Singosari, acara tersebut dihadiri sekitar 5.000 orang dari berbagai daerah di Malang Raya.  Yang menarik, keramaian yang menutup satu sisi jalan poros tersebut rupanya berdampak pada antrian panjang kendaraan, lebih dari 10 kilometer.  Saya dan teman saya adalah salah satu diantaranya.  Malang-Singosari normalnya bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam 25 menit, malam itu saya butuh waktu hampir 2 jam.   Teman saya yang lain naik mobil dan ia menempuh jarak yang sama dalam waktu 3,5 jam.

Lalu, kemarin sore, sebuah truk gandeng bermuatan tebu mogok di jalan yang sama.  Sang truk yang terlihat mulai renta tak kuasa mengusung muatannya.   Skala situasinya jelas lebih kecil ketimbang keramaian pengajian sabtu malam.  Toh hasilnya  hampir sama, jalan arteri Surabaya-Malang macet lebih dari 5 kilometer di kedua sisinya.   Kali ini saya butuh satu jam untuk menembus kemacetan itu.

Sempat terbersit dalam benak, bagaimana seandainya diantara antrian itu ada ambulans atau kepentingan mendesak lainnya diantara kemacetan itu.  Saya tidak yakin, apakah harus menyodorkan tanggung jawab pada salah satu pihak.  Apa yang salah dengan sebuah forum mulia semacam pengajian? Mana mungkin sang sopir truk sengaja membuat kendaraannya mogok? Bagaimana bisa menyalahkan keterlambatan hadirnya polantas yang dalam keterbatasan jumlahnya harus mengurusi begitu banyak problematika lalu lintas?
Atau mungkin ini salah para perencana yang tak cukup berusaha? Ah, tidak, mereka toh hanya produk pendidikan tanpa kekuasaan untuk mengeksekusi strategi.


Yep, it's increasingly hard to solve transportation problem, harder than us to decide who came first, egg or chicken.   Multi vehicles ownership becoming culture, now it gettin harder to shift people believe for good public transport.
 
Atau mungkin memang jawabannya seperti makna liontin yang diberikan Napoleon pada Josephine, yang didalamnya ada tulisan, "DESTINY"?

Kok saya masih yakin ya, kita seharusnya mampu melakukan sesuatu yang lebih baik, starting from ourselves, trusting, finding the joy within our existing public transport, while relentlessly find a way to improve it...



* menghambat penggunan sepeda motor bagi anak sekolah dan mobil bagi mahasiswa

* menghentikan kepemilikan kendaraan pribadi yang tidak wajar lewat prosedur perijinan, pajak progresif atau lainnya...

* membuat aturan penggunaan kendaraan pribadi yang lebih ketat seperti three in one, jalur khusus angkutan umum, aturan hari penggunaan berdasarkan plat nomer, car free day....

* menyederhanakan trayek, mengurangi waktu tunggu dan waktu tempuh serta meningkatkan kenyamanan angkutan kota

* membuat aturan lalu lintas kendaraan besar di dalam kota yang lebih tepat 

* membuat program studi kemacetan? :D






Thursday, September 8, 2011

Forgotten

Si ravi tadi malem minta saran mixtape 'autis' ke saya.  Suddenly saya tertawa.  Privilese sebenarnya ketika seorang dengan selera musik yang 'sedikit berbeda' dengan saya meminta masukan tentang nada yang mungkin perlu didengar.  Untuk sebuah kompetisi pula.  Tapi sebenarnya saya cenderung tertawa karena lebih menertawakan diri sendiri.

Saya (sedang) terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menonton film dan melupakan dunia musik.  Alasannya simpel saja sebenarnya, musik terasa dekat ketika saya sering 'mengaji' dengan teman-teman.  Sesuatu yang 'terkekang' selama bulan puasa.  Sementara film tidak menemui halangan semacamnya.  Maka jadilah semalam, setelah kekenyangan Grill Beef yang mengkompensasi harga miringnya lewat kuantitas paprika, saya memilih memutar playlist yang sangat acak dan bukannya bukan film sebagai teman tidur. 

Paginya saya tetap belum menemukan satu yang akan saya sodorkan ke si ravi.  Tapi suddenly saya suka (lagi) salah satu lagu lamanya Nidji.  Sedikit terpengaruh playlist karaoke kami semalam mungkin, tapi toh terdengar comforting, saya melayang sedikit dan bisa tidur enak karenanya.....

Dia ku lihat dia
Slalu menutup mata
Dia adalah malam
Aku dan dia

Terbanglah kepadaku
Manusia sempurna untukku
ku lihat, ku rasa, ku cium dan ku dengar

Dia haa.. naa..

Angel ..wants ..
Angel .. touch ..
Angel .. sees .. and brings..
Angel .. wants.. Angel .. touch ..
Angel .. sees

(Manusia Sempurna)

****


Tuesday, September 6, 2011

Genre

There were many great stories we've seen.  I was having fun with The Transformers, thoughtfull about Inception, laughed a lot along with Panda.  In the end,  there's a thing stood out.  And its 'Viktor Novorski' which sums it up.  True, it might not be the best.  Perhaps, it's just our genre, Amelia... 

Monday, August 29, 2011

Insyaallaah, We'll Find A Way

Pada seminggu terakhir ramadhan tahun ini saya beruntung banyak mendapat kesempatan bertanya dan berdiskusi dengan sejumlah ustadz. Pembicaraan mengenai zakat adalah salah satu yang saya perdalam. Tapi yang paling menarik tetap saja tentang pandangan para ustadz tersebut terhadap kemungkinan perbedaan penetapan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1432 H.

Ini memang bukan kali pertama perbedaan terjadi. Sudah berkali-kali saya alami dan sejauh ini salah satu pertanyaan terbesarnya adalah, mengapa setelah bertahun-tahun tetap saja tidak ditemukan kesepakatan mengenai cara pandang terhadap beragam ayat dan hadits yang menjelaskan tentang idul fitri tersebut. bukankah Islam tidak sama dengan ketentuan dalam peraturan pusat-daerah yang acapkali tumpang tindih? :D

Seorang ustadz berkata pada saya bahwa rukyah memang diterjemahkan melihat bulan, literally, dengan alat apapun. Lebih lanjut lagi, kewajiban untuk mengikuti ulil amri (pemerintah) adalah juga dikarenakan hari raya merupakan sesuatu yang lebih bersifat kebersamaan, persatuan umat, maka janganlah kita berbeda karenanya.

Pada hari lain, ustadz lain memberi contoh menarik tentang bagaimana apakah rukyah/melihat itu benar hanya didefinisikan dengan pandangan mata? Bukankah kita juga tidak lagi memasuki waktu shalat dengan melihat tanda alam, melainkan jam dinding? Apakah Iqro juga berarti kita hanya disuruh membaca ayat demi ayat dalam Al-Quran. Wallahua'lam bisshowab.

Tetapi kedua ustadz tersebut sepakat, bahwa yang terpenting lagi adalah apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan momentum sebulan ramadhan yang akan segera berlalu itu dengan semaksimal mungkin. Bagaimana mungkin kita akan merayakan hari kemenangan jika dalam 'kawah candradimuka' saja kita tidak lulus dan terlahir sebagai pribadi yang lebih baik. Bukankah itu artinya sama saja meletakkan hari raya sebagai simbol? Persis seperti ketika kita mengkritik kebiasaan sementara orang untuk menghabiskan banyak waktu berbelanja di akhir ramadhan. Kita sering bilang mereka 'kedunyan', tapi sudahkah kita juga memanfaatkan akhir ramadhan seperti orang yang tak akan bertemu kembali?

"...Hari itu, malu-malu dalam hati saya mengakui bahwa ramadhan ini saya memperbaiki beberapa hal, namun juga melemah dalam sejumlah hal lain..."

Pada akhirnya saya memilih berlebaran esok hari, bukan karena saya muhammadiyah, bukan pula karena tidak taat pada pemerintah yang memfasilitasi rakyat menggaji saya setahun ini. Tapi lebih karena sejauh ini demikianlah keyakinan pemahaman saya.

Pemahaman yang berbeda dengan sebagian keluarga saya yang memilih mengikuti pemerintah dan berlebaran di hari rabu. Sungguh walaupun sempat terjadi diskusi hingga penghujung malam tadi, toh tidak ada yang berubah kecuali jadwal memasak Opor dan ketupat. Itu adalah bagian dimana saya dan beberapa anggota keluarga yang mendahului harus memberikan toleransi. Selebihnya, kami masih keluarga yang sangat berbahagia bisa sekali lagi berkumpul bersama dalam momen istimewa. Tak lama lagi kami akan saling bermaafan, mencium tangan orang tua, mengajak nenek berziarah di taman makam pahlawan tempat kakek dimakamkan, beranjangsana kesana kemari menguatkan silaturahmi, dan segala hal indah lain di idul fitri. Sungguh, saya merasa beruntung karenanya dan berdoa semua saudara seiman bisa merasakan situasi kebahagiaan yang setara...

Maka saya makin yakin bahwa ini bukanlah perbedaan yang tidak bisa disikapi sebagai rahmat sampai akhirnya kita mencapai persamaan. Ya, saya masih menyimpan keyakinan bahwa para ulama dan ulil amri yang setiap tahun bersidang isbat, suatu saat akan menemukan kesepakatan. Meminjam keyakinan yang disyiarkan dalam lirik Maher Zain...

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan

Kita adalah bangsa yang katanya terlahir dalam Bhinneka Tunggal Ika...

Begitu lantang kita meneriakkan NKRI harga mati...

Maka tidak seharusnyalah pula perbedaan ini memecah ukhuwah.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

Laailaahaillallaahu Allaahu Akbar

Allaahu Akbar Walillaahilhaamd

Taqabalallaahu Minna Wa Minkum..

Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin...





*Panda dan Keluarga*