Saturday, January 19, 2013

Sang Pengantar

Sudah jalan hidupnya untuk menyusuri jalanan. Ia adalah pengantar segalanya, tak hanya kebahagiaan yang konon diaku bisa diantarkan botol-botol soda kaya glukosa. Ia antarkan ayam-ayam muda, ia sampaikan kardus-kardus beraneka rupa, dan ia pertemukan manusia dari segala ras dan strata, laki-laki dan perempuan, dengan tempat-tempat terindah pun termistis di negeri ini.

Di waktu-waktu antaranya, ia pulang dengan senyum bahagia dan beberapa lembar uang hasil keringatnya. Kadang, ia pulang dengan sebungkus ayam goreng dan tempe bacem. Di lain waktu kepulangannya, ia menenteng cerah sekotak mainan baru untuk anaknya. Diserahkannya semua bersama beberapa potong baju kotor, pada perempuan yang selalu menunggunya di depan pintu rumah. Lalu ia bersihkan diri dan tenggelam dalam dengkurnya yang panjang.

Di waktu senggangnya itu, rumah adalah surga baginya. Berdiam dan saling goda dengan istrinya ketika mereka bercerita pada anak-anaknya masa-masa muda mereka. Tentang siapa yang lebih dulu menabur cinta. Entahlah, keduanya selalu punya versi masing-masing. Begitulah kesukaannya. Sedang dengan kawannya, ia memang jarang bicara panjang lebar. Ia lebih sering memilih mendengar atau menjadi bagian koor tawa ketika salah satu kawannya melontarkan canda. Paling-paling ketika terpancing perdebatan kawan tentang mesin dan kutak-katik benda elektrik. Itupun tak lama. Kawan-kawannya rata-rata adalah perokok dan peminum kopi berat. Sedang ia tak pernah bersahabat dengan keduanya.

Maka biasanya, ia lalu memilih pulang ke surganya. Surga yang ia bangun dan tinggali puluhan tahun. Dimana air hujan kadang menyelusup bocor diantara atapnya dan pengerat menjadi musik pengantar tidurnya, adalah juga surga dimana ia dan istrinya mendesain cara untuk mengantarkan kebahagiaan tanpa soda bagi anak-anaknya.

Pada akhirnya butuh lima puluh enam tahun baginya untuk bisa menuntaskan tugas-tugas desain itu. Telah ia antarkan anak-anaknya sampai ke podium tempat mereka menyungging senyum dalam topi bertali dan jubah hitam. Telah ia antarkan anak-anaknya ke panggung penuh bunga yang jumlahnya jauh lebih banyak ketika ia menyunting kekasih hidupnya. Telah cukup ia bekali istrinya dengan tempat berlindung dan kuda untuk mengantar sang istri pergi. Semua rancangannya telah lengkap dan pikirnya, kini waktunya aku melihat bagaimana rencana itu berhasil. Hanya saja, ada satu yang ia tak bisa kendalikan. Bukan soal melihat atau tidak. Tapi soal dimana ia akan duduk dan melihatnya.

Ia berencana tinggal lebih lama di surga bocor miliknya, tapi rupanya, katanya, ada tempat yang lebih baik untuknya. Surga yang tak mungkin bocor. Maka setahun pasca rampungnya semua rencana miliknya, pulanglah ia kesana.

Sang pengantar sudah menuntaskan perjalanannya. Begitu banyak orang berterimakasih padanya di hari kepulangannya. Mereka semua berkata pada saya, ia adalah orang yang baik, yang tak pernah terlihat meluap dalam amarah, yang tak pernah runtuh dengan keluh kesah akan apa saja yang dilontarkan jalanan kehidupan padanya.

Dan saya beruntung bisa puluhan tahun memanggilnya BAPAK.

Bapak yang hanya sekali dalam lima puluh tujuh tahun, tujuh bulan dan tiga belas hari hidupnya memarahi anaknya..

Bapak yang tak pernah berkata tidak ketika saya meminta tambahan uang kuliah...

Bapak yang tak lepas dari senyum hingga saat anaknya memandikannya...

Sunggguh, engkau adalah Bapak yang tak sempurna namun tak ada tandingannya di dunia....



Selamat jalan pak, baik-baik ya disana....






In memoriam, Soepono
29 Mei 1955 - 11 Januari 2013

No comments:

Post a Comment