Ibu, saya jadi paskibra, versi lokal memang, tapi yang penting paskibra bukan...?!
Dan oh ya, uang lelah paskibra lokal itu 20.000 perak dan emblem garudanya ternyata dibalikin... siall...
Setibanya di London, Harvey harus menghadapi kekecewaan berat, menghadapi kenyataan pahit bahwa setelah peluk cium sambutan selamat datang yang hangat, Susan nyatanya mengutarakan keputusan memilih Brian sebagai wali nikah dan orang pertama yang memberikan sambutan dalam acara resepsi pernikahannya. Plot pernikahan putrinya yang sempat terbayang indah, buyar dalam satu bagian awal saja.
Di sudut London yang lain, di sebuah bar, seorang perempuan single berumur empat puluhan sedang berurusan dengan tekanan lingkungan yang mendorongnya untuk menjalin rumah tangga. Selalu ada rasa canggung ketika seseorang yang sudah terlalu lama hidup mandiri mendadak harus berkomunikasi dengan tujuan yang jelas mengarah pada hubungan percintaan. Kate pun tidak jauh berbeda. Lalu acara kencan dengan teman pria sahabatnya makin kacau dengan telpon berkali-kali dari sang ibu yang begitu yakin bahwa tetangga mereka adalah seorang pembunuh berantai dari Ceko.
Lalu takdir pun bekerja. Harvey, yang sekuat tenaga berusaha menyembunyikan kekecewaannya, akhirnya memutuskan untuk kembali ke New York lebih awal agar bisa mengikuti rapat penting di perusahaan tempat ia bekerja. Tapi ia ketinggalan pesawat dan diberhentikan saat itu juga ketika ia berusaha menjelaskan duduk permasalahannya pada sang boss. Sementara Kate yang tidak lagi merasa nyaman dengan acara kencan memilih kembali ke Heathrow, bandara tempatnya bekerja.
Wajah kusut keduanya akhirnya bertemu di sebuah kantin bandara. Dan itu adalah pertemuan kedua mereka. Ya, Harvey ingat betul perempuan dihadapannya adalah sosok yang sama yang dimakinya di Bandara kemarin.
Setelahnya adalah tentang rentetan dialog dan pencocokan diri yang menarik antar dua orang yang sudah tak muda lagi itu, tak saling kenal, namun sekali lagi menunjukkan betapa menyenangkannya menjadi pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik. Tidak sebaik Before Sunrise memang, tapi dialog cerdas di Last Chance Harvey memang memberinya kekuatan tersendiri. Ada banyak dialog dalam film ini, tapi memang favorit saya adalah dialog di kantin bandara itu walaupun dialog dalam acara resepsi pernikahan Susan rasanya sama menariknya.
Dalam kekuatan dialognya, toh Last Chance Harvey mau tidak mau memang terlihat lebih cocok untuk segmentasi kelompok 'pasca muda'. Sebagian besar dipengaruhi oleh setting usia tokoh utamanya. Lain soal jika kita mengesampingkan faktor tersebut dan hanya murni menilik jalan ceritanya dan bagaimana ia diceritakan, maka sebenarnya kita akan bisa melihat fenomena replikasi layaknya cerita romantis yang tersegmentasi untuk kelompok usia lebih muda.2008, Dustin Hoffmann, Emma Thompson
Picture taken from:media.theiapolis.com
1 jam mendengarkan tausiyah = 1000 rakaat shalat sunnah
1 rakaat shalat sunnah di bulan ramadhan = 700 kali lipat shalat sunnah di bulan lain
1 rakaat shalat sunnah = 3 menit
1 jam mendengarkan tausiyah di bulan ramadhan = 1000 x 700 = 700.000 rakaat
dan atau....
ibadah 60 menit = ibadah 2.100.000 menit
Why is it so difficult to do what we say we're going to do?The lizard brain.
Or as Steven Pressfield describes it, the resistance. The resistance is the voice in the back of our head telling us to back off, be careful, go slow, compromise. The resistance is writer's block and putting jitters and every project that ever shipped late because people couldn't stay on the same page long enough to get something out the door.
The resistance grows in strength as we get closer to shipping, as we get closer to an insight, as we get closer to the truth of what we really want. That's because the lizard hates change and achievement and risk.
The lizard is a physical part of your brain, the pre-historic lump near the brain stem that is responsible for fear and rage and reproductive drive. Why did the chicken cross the road? Because her lizard brain told her to.
Want to know why so many companies can't keep up with Apple? It's because they compromise, have meetings, work to fit in, fear the critics and generally work to appease the lizard. Meetings are just one symptom of an organization run by the lizard brain. Late launches, middle of the road products and the rationalization that goes with them are others.
The amygdala isn't going away. Your lizard brain is here to stay, and your job is to figure out how to quiet it and ignore it. This is so important, I wanted to put it on the cover of my new book. We realized, though, that the lizard brain is freaked out by a picture of itself, and if you want to sell books to someone struggling with the resistance (that would be all of us) best to keep it a little more on the down low.
Now you've seen the icon and you know its name. What are you going to do about it?
(Seth Godin)